My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 30. Aku yang bayar



My love is sillie


Episode 30



"Hai! Boleh kita bicara sebentar?" ucap Kiara.


Sasha masih terdiam, ia menatap seluruh tubuh Kiara mulai dari atas sampai bawah, berusaha mengenali siapa sosok gadis tersebut.


Akhirnya Sasha teringat siapa gadis yang ada di hadapannya saat ini, tentu saja Sasha langsung merasa geram karena tahu bahwa Kiara adalah penyebab Willy menjadi sakit hati.


"Mau ngapain lagi lu kesini? Gak puas udah nyakitin Willy, ha?" geram Sasha.


"Kamu tolong tenang dulu, jangan emosi begitu! Aku kesini justru mau bantu cari Willy, aku pengen ketemu sama dia!" ucap Kiara.


"Heh! Lu itu gak punya malu apa gimana sih! Masih berani lu pengen ketemu Willy, setelah apa yang lu lakuin ke dia. Dengar ya, gue gak akan biarin lu ketemu sama Willy walau sebentar karena gue gak mau dia sakit hati lagi!" bentak Sasha.


"Ayolah Sasha, aku mohon sama kamu! Aku yakin kamu tahu dimana Willy sekarang, tolong kasih tahu aku dimana dia! Aku cuma mau mastiin dia baik-baik aja!" ucap Kiara.


"Gak perlu! Lu gausah repot-repot mastiin begitu, biar gue aja yang temuin dia! Jadi, mending lu pergi sekarang dan jangan balik lagi! Gue juga yakin, Willy gak akan mau ketemu sama lu!" ujar Sasha menghalangi Kiara.


"Kamu jangan begini dong Sasha! Aku itu gak ada niatan buat sakitin Willy, justru aku mau bantu dia sekarang!" ucap Kiara.


"Willy gak perlu bantuan lu! Sekarang lu minggir, gue mau lewat!" ujar Sasha.


"Aku gak akan minggir, sebelum kamu kasih tahu ke aku dimana Willy!" ucap Kiara.


"Ohh lu maksa? Oke, kalo gitu jangan salahin gue kalo lu kenapa-napa!" ucap Sasha.


"Maksud kamu?" tanya Kiara tak mengerti.


Sasha tersenyum smirk, kemudian melangkah maju sembari mendorong sedikit tubuh Kiara hingga terhuyung dan jatuh ke belakang dengan posisi duduk.


"Awhh!" pekik Kiara kesakitan.


Sasha memanfaatkan itu untuk pergi dari sana, ia bergegas menuju motornya dan melaju ke rumah sakit yang diberitahu oleh warga tadi.


"Aduh! Gimana dong caranya aku bisa ketemu sama Willy sekarang?" gumam Kiara.


***


Aziz dan Ratih yang tengah kebingungan mencari Willy, tak sengaja melihat Sasha berlari melangkah menuju motornya dan melaju pergi.


"Eh eh, itu si Sasha kok main pergi gitu aja sih? Apa dia udah tahu dimana Willy?" ujar Aziz bingung.


"Lah iya tuh, dia mau kemana ya Ziz? Kok dia ninggalin kita sih?" ujar Ratih.


"Gak tahu, udah kita kejar aja dia biar gak penasaran!" ucap Aziz.


"Iya iya..."


Ratih dan Aziz bergegas menuju mobil, lalu mengejar Sasha dengan cepat karena khawatir akan kehilangan jejak.


"Duh Sasha Sasha, kenapa sih lu pergi gitu aja gak bilang-bilang!" geram Aziz.


"Sabar Ziz! Lu fokus aja nyetirnya, jangan ngomel kayak gitu gak ada gunanya!" ucap Ratih mengingatkan Aziz.


"Iya, gue cuma kesel aja sama tuh cewek! Dikiranya dia doang apa yang panik, padahal kita kan juga sama kayak dia!" ujar Aziz.


"Udah Ziz, fokus aja!" ucap Ratih.


Akhirnya Aziz menambah kecepatan mobilnya, mengikuti kemana Sasha pergi.


***


Aurora telah menyelesaikan pembayaran biaya administrasi pengobatan rumah sakit Willy.


Gadis itu sekarang kembali menuju ruangan Willy dengan perasaan senang karena sudah berhasil menolong Willy, ia berharap dengan begitu ia akan semakin dekat dengan pria itu.


Namun, Aurora malah bertemu dengan Thoriq disana dan mereka pun sama-sama berhenti sejenak untuk saling berbincang.


"Hey Rora! Gimana? Kamu udah bayar biaya rumah sakit Willy kan?" tanya Thoriq tersenyum.


"Udah kok, ini barusan gue selesai bayarnya. Eh ya, lu ngapain malah kesini? Willy gimana kondisinya? Udah boleh pulang?" ucap Aurora.


"Belum, dia masih harus dirawat inap disini sampai kondisinya membaik. Btw, makasih ya Rora karena kamu udah mau bantu Willy!" ucap Thoriq.


"Sama-sama," ucap Aurora tersenyum.


"Duh manis banget! Bisa kena diabetes nih gue lama-lama!" gumam Thoriq sambil menunduk.


"Hah? Kenapa?" ujar Aurora.


"Eh eee... gapapa kok, gak ada apa-apa." jawab Thoriq sambil nyengir.


"Oh yaudah, gue mau balik ketemu Willy. Masih boleh kan ya jenguk sekarang?" ucap Aurora.


"Boleh dong, khusus buat wanita secantik kamu mah boleh-boleh aja. Yuk aku antar!" ujar Thoriq.


"Lu itu kenapa sih? Kalo cuma kesana aja mah gue bisa sendiri kali," ucap Aurora.


"Ya maksud gue, sekalian aja kita bareng gitu kesana nya. Kebetulan gue juga mau balik kesana temuin Willy," ucap Thoriq.


"Loh, bukannya lu tadi tuh mau jalan keluar ya?" tanya Aurora heran.


"Eee iya sih, gue mau pulang. Eh maksud gue, tadi gue pengen nyusulin lu kesini biar kita bisa bareng ke ruangan Willy nya." jawab Thoriq.


"Terserah lu aja deh!" ucap Aurora.


Thoriq tersenyum senang sembari merapihkan rambutnya, sedangkan Aurora melangkah lebih dulu meninggalkan Thoriq disana.


***


Sasha tiba di Martin hospital, rumah sakit yang diduga tempat Willy berada saat ini.


Gadis itu langsung melepas helmnya dan turun dari motor, ia hendak melangkah masuk ke dalam rumah sakit tersebut dengan terburu-buru.


Akan tetapi, lengannya dicekal dari belakang oleh Aziz yang juga sampai disana.


"Heh tunggu!" ucap Aziz tegas menahan Sasha.


"Ish, lu ngapain sih tahan gue! Gue tuh mau masuk ke dalam, jangan halangin gue!" bentak Sasha.


"Tunggu dulu! Gue bingung deh sama lu, kenapa lu tinggalin gue sama Ratih di jalan tadi? Kan kita datang barengan, masa lu pergi sendirian? Terus kenapa lu kesini? Emang Willy ada disini?" ucap Aziz.


"Haish, iya si Willy ada disini, puas lu!" ujar Sasha.


"Serius lu?" tanya Aziz tampak senang.


"Ya serius lah! Udah, sekarang lepasin tangan gue! Gue harus cek ke dalam dan temuin Willy sebelum terlambat!" ucap Sasha.


Aziz pun melepaskan tangan Sasha, dengan cepat Sasha melangkah ke dalam rumah sakit untuk mencari Willy.


"Ziz, kenapa lu diem aja? Ayo kita ikut masuk ke dalam!" ucap Ratih.


"Bentar Tih, kayaknya gue harus kabarin pak Gunawan dulu deh selaku ayahnya Willy. Dia kan juga berhak tau dimana Willy sekarang ini," ucap Aziz.


"Nanti aja Ziz! Kita pastiin dulu benar apa enggak Willy ada di dalam, kalau dia gak ada disana gimana?" ucap Ratih.


"Iya sih," ujar Aziz.


"Yaudah, yuk kita masuk!" ucap Ratih.


***


"Willy..." Aurora menemui Willy di kamarnya, terlihat kalau pria itu tengah terpejam menghadap ke samping.


Mendengar ada suara yang muncul, Willy langsung menoleh ke asal suara lalu tersenyum saat tahu Aurora yang datang.


"Eh, lu balik lagi ternyata. Gue pikir lu udah pulang," ucap Willy.


"Enggak lah, yakali gue pulang tanpa pamitan sama lu. Gue tuh abis dari toilet tadi, terus balik lagi deh kesini temuin lu. Sorry ya, gue gak tahu kalo lu lagi tidur tadi!" ucap Aurora.


"Santai aja! Gue bukan tidur kok, gue cuma pusing aja mikirin gimana cara gue bisa lunasi biaya rumah sakit ini." ujar Willy.


"Eee lu gak perlu mikirin itu lagi!" ucap Aurora.


"Lah kenapa? Kalo gue gak mikirin itu, terus gimana caranya gue bisa keluar dari sini coba? Masa iya gue mau terus-terusan tidur disini? Yang ada biayanya makin mahal," ucap Willy.


"Bukan gitu, tapi barusan gue udah lunasi semua biaya rumah sakit lu kok." kata Aurora.


"Hah? Duh, lu kenapa maksa banget buat bayarin biayanya sih Aurora? Gue kan udah bilang jangan, sekarang gue jadi gak enak nih sama lu!" ujar Willy.


"Gapapa Wil, gue ikhlas kok." kata Aurora.


"Tetap aja gue ngerasa gak enak, yaudah thanks ya Aurora! Tapi, gue janji gue bakal balikin semua uang lu itu begitu gue keluar dari rumah sakit ini!" ucap Willy.


"Gak perlu Wil! Gue kan bantu lu ikhlas, gue bukan mau pinjamin uang buat lu. Jadi, lu gausah pusing mikirin buat bayar uang gue!" ucap Aurora.


"Enggak Aurora, gue tetap bakal bayar itu. Gue gak mau punya hutang sama siapapun!" ucap Willy.


"Ya ampun Willy! Ternyata lu orangnya keras juga ya, yaudah deh terserah lu aja mau bayar atau enggak. Tapi, bukan gue yang minta loh ya, ini lu sendiri yang mau bayar ke gue." kata Aurora.


"Iya Aurora, sekali lagi thanks ya!" ucap Willy.


"Sama-sama Wil, cepat sembuh ya!" ucap Aurora tersenyum.


Willy mengangguk dan mengusap punggung tangan Aurora yang ada di dekatnya.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Aurora merasa terkejut dan makin terpesona pada Willy.


***


Sasha yang kelimpungan mencari tempat Willy dirawat, pada akhirnya tak sengaja bertemu dengan Randi yang baru saja keluar dari toilet.


Sontak Sasha segera memanggil Randi dan menghampiri pria tersebut untuk menanyakan mengenai kondisi Willy.


"Randi!" teriaknya cukup keras.


Randi pun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Sasha dengan tatapan herannya.


"Sasha? Lu kok bisa disini?" tanya Randi heran.


"Iya, gue mau jenguk Willy." jawab Sasha.


"Jenguk Willy? Lu tahu darimana kalau Willy dirawat disini?" tanya Randi bingung.


"Dari Ilham, dia ngaku kalau dia yang udah keroyok Willy dan bikin Willy babak belur sampai masuk rumah sakit. Makanya gue langsung kesini buat pastiin kalau kondisi Willy baik-baik aja," jelas Sasha.


"Iya Sya, emang betul kalau Willy abis dipukulin sama Ilham dan teman-temannya. Kondisi dia sempat kritis, tapi Alhamdulillah sekarang dia udah membaik kok." ucap Randi.


"Huh syukurlah! Terus, sekarang Willy ada dimana? Eee gue boleh kan ketemu sama dia?" ucap Sasha.


Randi terdiam bingung, ia tak tahu apakah harus memberi izin Sasha menemui Willy atau tidak.


"Waduh mampus gue! Gimana nih kalau Sasha maksa ketemu Willy dan lihat ada Aurora juga disana? Secara Sasha ini kan suka banget sama Willy, yang ada bisa terjadi perang dunia keempat nih." gumam Randi dalam hati.


Tiba-tiba saja Aziz dan Ratih muncul, mereka langsung mendekati Sasha dengan nafas terengah-engah.


"Woi Sya, tunggu dong! Lu jalannya cepet banget sih!" ujar Aziz ngos-ngosan.


"Loh loh, kalian berdua juga ada disini?" ujar Randi terheran-heran.


"Eh ada my friend Randi, berarti bener dong kalau Willy dirawat di rumah sakit ini? Soalnya lu juga ada disini," ucap Aziz tersenyum.


"Iya benar kok Ziz, lu pada mau jenguk Willy juga kesini?" tanya Randi.


"Iya dong, kamarnya Willy dimana Ran? Kita mau langsung jengukin dia," kata Aziz.


"Yaudah, ayo gue anterin kalian ke tempat Willy!" ucap Randi.


Aziz, Sasha dan Ratih kompak mengangguk. Mereka sama-sama melangkah mengikuti Randi untuk menuju tempat Willy dirawat.


***


Aurora keluar dari kamar Willy dirawat, ia memberi waktu bagi Willy untuk beristirahat karena sedari tadi Willy terus saja dikunjungi olehnya ataupun kedua temannya.


Thoriq yang setia menunggu di depan pun langsung menghampiri Aurora dan mendekatinya, Thoriq penasaran dengan kondisi Willy saat ini.


"Rora, si Willy gimana?" tanya Thoriq cemas.


"Tenang aja! Willy udah membaik kok, tapi sekarang dia lagi istirahat di dalam. Makanya gue keluar karena gue gak mau ganggu Willy," jawab Aurora menjelaskan.


"Ohh syukurlah! Terus, dia udah tahu kalau lu yang bayarin biaya rumah sakit ini?" tanya Thoriq lagi.


"Udah kok," jawab Aurora sambil tersenyum.


"Reaksi dia gimana?" tanya Thoriq penasaran.


"Awalnya sih dia gak terima dan sempat ngomel juga ke gue, tapi untungnya dia bisa ngerti kok. Ya cuma dia tetap maksa buat balikin uang gue begitu dia keluar dari rumah sakit nanti," jelas Aurora.


"Hahaha... si Willy emang gak pernah berubah, dia selalu aja gak enakan sama orang lain. Padahal gue tahu dia itu butuh, tapi entah kenapa dia selalu gak mau dibantu atau dikasihani." ujar Thoriq.


"Berarti Willy keren dong, dia anak yang mandiri dan gak mau bergantung sama orang lain." kata Aurora.


"Iya sih, lu bener!" ucap Thoriq.


"Oh ya, orang tua Willy pada kemana ya? Kok mereka gak kelihatan sih? Padahal Willy lagi sakit begini, pasti dia butuh support dari orangtuanya!" tanya Aurora penasaran.


"Eee sebenarnya Willy itu lagi kabur dari rumah, dia ngerasa gak enak sama orangtuanya karena dia udah dikeluarin dari sekolah. Nah, makanya dia juga gak mau libatin orangtuanya dalam masalah dia sekarang." jawab Thoriq.


"Hah? Willy dikeluarin dari sekolah? Kok bisa?" ucap Aurora terkejut.


"Bisa, dia ketahuan pernah masuk penjara gara-gara terlibat dalam pertarungan antar geng motor. Itu sebabnya Willy, gue sama Randi dikeluarin secara bersamaan." jelas Thoriq.


"Duh, berat juga ya resikonya jadi anak jalanan. Gue kok mendadak ciut ya?" ujar Aurora.


"Hahaha... makanya mending lu jadi anak baik-baik aja, gausah lah ikutan begajulan kayak kita! Nanti lu nyesel loh!" ucap Thoriq.


"Tapi, gue bosen tau!" ujar Aurora.


Thoriq terkekeh sembari menggelengkan kepalanya saat melihat ekspresi gadis itu.


Tak lama kemudian, Sasha bersama Randi dan yang lainnya muncul disana mendekati mereka.


"Riq," ucap Randi memanggil Thoriq.


Sontak Thoriq terkejut melihat kehadiran Sasha beserta dua temannya disana, begitupun dengan Aurora yang tak mengenal siapa mereka.


Sasha juga menatap heran ke arah Aurora, ia berpikir keras siapakah gadis itu dan untuk apa dia ada disana.


Bersambung....