
My love is sillie
Episode 64
•
"Tidurin dong kalo bisa," ucap Aurora yang malah menantang dan menggoda Willy.
"Ohh, kamu nantang aku nih?" ujar Willy.
"Eh eh eh, enggak Wil enggak. Lu jangan begitu lah! Ini kan di rumah lu sendiri tau, ada nyokap sama bokap lu juga. Gimana kalau mereka lihat atau dengar nanti?" ucap Aurora.
"Hahaha, panik kan kamu? Makanya kamu tidur sekarang sana, jangan begadang!" tegas Willy.
"Iya Willy, tapi lepasin gue dulu dong!" ucap Aurora.
Willy justru tersenyum dan malah mengeratkan dekapannya, ia pun langsung melumatt bibir Aurora sembari mendorong tubuhnya hingga terbaring di atas ranjang.
Mereka terus saling memagut dengan Willy yang saat ini menindih tubuh Aurora, tak ada penolakan dari gadis itu karena ia pun turut menikmatinya.
Tak lama kemudian, Willy melepas pagutannya saat dirasa Aurora sudah mulai kehabisan nafas. Tentu ia tidak mau membuat gadisnya meninggal karena berciuman dengannya.
"Wil, lu kenapa malah cium gue? Terus ngapain juga lu tindih gue begini?" tanya Aurora.
"Aku penasaran sama tubuh kamu, boleh ya aku sentuh kamu malam ini?" ucap Willy tanpa ragu.
"Hah? Maksudnya apa?" ujar Aurora terkejut.
"Iya sayang, ayo kita lakukan apa yang suami-istri lakukan saat malam pertama!" ucap Willy.
"Lu udah gila ya Wil? Gue gak mau!" tolak Aurora.
"Kenapa? Itu enak loh. Kamu tenang aja, kita gak mungkin ketahuan kok sama ibu atau bapak! Mereka udah pada tidur, jadi gak mungkin mereka bisa pergokin kita." ucap Willy.
"Tetap aja gue gak mau, sekarang lu bangun berat tau!" ucap Aurora.
"Iya iya..." Willy terpaksa menurut dan tidak lagi menindih gadis itu.
"Tapi, seriusan nih kamu gak mau? Padahal ini kesempatan loh buat kita sayang," ucap Willy.
"Dua rius, udah deh lu gausah ngada-ngada!" ucap Aurora tegas.
Disaat Willy hendak pergi keluar dari kamar itu, tiba-tiba saja Bu Ani muncul dan memergoki mereka yang sedang berduaan di kamar.
"Loh Willy? Kamu ngapain ada di kamar ini sama nak Aurora?" ujar Bu Ani tampak syok.
"Eee ibu? Ibu kok masih bangun sih?" ucap Willy langsung panik.
"Iya, ibu tadi kebangun karena kebelet. Terus kamu ngapain disini, ha? Pantas aja tadi kamu maksa banget buat ibu bolehin Aurora nginep disini, jadi karena kamu mau berbuat yang enggak-enggak ya?" ucap Bu Ani.
"Hah? Gak gitu lah Bu, orang aku sama Aurora cuma ngobrol-ngobrol kok. Buktinya pintu kamar juga gak aku tutup kan? Kalau aku mau berbuat hal yang tidak senonoh, harusnya aku tutup itu pintunya biar gak ketahuan." ujar Willy.
"Iya Bu, kita gak ada berbuat apa-apa kok. Ibu jangan salah paham ya!" ucap Aurora.
"Ya okelah, ibu percaya sama kalian. Tapi, sekarang kamu keluar dari kamar ini Willy! Kalian berdua harus cepat-cepat tidur, nanti besok kesiangan loh!" ucap Bu Ani.
"Iya iya Bu," ucap Willy patuh.
"Sayang, aku tidur duluan ya? Kamu jangan lupa tidur juga! Besok kita ngobrol lagi, good night cantik!" ucap Willy pada Aurora.
"I-i-iya, night too.." balas Aurora.
Setelahnya, Willy pun keluar dari kamar itu dan pergi menuju kamarnya.
Sementara Bu Ani tetap disana, menatap ke arah Aurora sambil tersenyum.
"Nak Rora, ibu mau tanya deh sama kamu. Daritadi sebenarnya ibu udah penasaran banget pengen tau soal ini," ucap Bu Ani.
"Eee tanya apa ya Bu?" ucap Aurora penasaran.
"Iya sayang, kamu sama Willy itu ada hubungan apa sih? Daritadi kok Willy selalu panggil kamu sayang?" tanya Bu Ani sambil tersenyum renyah.
"Ah eee kita..." Aurora bingung harus menjawab apa, ia tampak menggaruk-garuk kepalanya berpikir keras.
"Kalian udah pacaran ya? Benar kan?" ucap Bu Ani kembali.
*******
Keesokan harinya, Aurora membantu Bu Ani menyiapkan sarapan untuk mereka semua disana.
Tak lama, pak Gunawan beserta Willy muncul secara bersamaan lalu duduk di kursi yang tersedia.
Keduanya tampak senyum-senyum saja melihat Aurora dan Bu Ani yang sudah semakin akrab.
"Ehem ehem, wah kayaknya ada yang udah cocok nih buat jadi anggota keluarga disini. Masih pagi aja udah rajin begitu bantuin calon mertuanya," ujar pak Gunawan terkekeh kecil.
Sontak Aurora merasa malu saat mendengar ucapan pak Gunawan, ia hanya bisa menunduk sembari mengusap rambutnya ke belakang.
"Iya dong pak, toh sebentar lagi juga Willy bakal bersanding di pelaminan bareng Aurora. Jadi, wajar aja kalau Aurora sekarang belajar buat bantu-bantu ibu yang akan jadi mertuanya nanti." sahut Willy.
"Hah?" Aurora reflek melotot ke arah Willy karena terkejut dengan ucapan pria itu.
"Kamu ini ada-ada aja Willy! Mending urus dulu sekolah kamu yang benar, jangan langsung mikirin buat nikahin anak gadis orang!" ujar Bu Ani.
"Ahaha, benar itu. Lagian belum tentu juga nak Aurora mau nikah sama kamu, orang kamu aja modelan begini." cibir pak Gunawan.
"Yeh si bapak sama ibu bukannya dukung anak sendiri, kok malah ngejatuhin gitu sih?" ujar Willy geleng-geleng kepala.
"Hahaha..." Bu Ani dan pak Gunawan kompak tertawa puas di meja makan itu.
Sementara Aurora hanya senyum-senyum sendiri sambil terus menundukkan kepalanya, belum pernah ia merasakan suasana seperti ini saat berada di rumahnya.
"Ini yang aku pengen dari dulu," batin Aurora.
"Eh yaudah, ayo kita makan sama-sama aja! Ini yang masak nak Aurora loh bareng sama ibu, pasti rasanya enak deh!" ucap Bu Ani.
"Ah ibu bisa aja, padahal aku kan cuma bantu dikit. Lagian aku juga gak bisa masak, mana mungkin masakan aku enak?" ujar Aurora.
"Yeh jangan salah sayang! Siapapun itu kalau masaknya diajarin sama ibu, pasti bakal enak tau!" ucap Bu Ani.
"Nah benar tuh, masakan ibu itu emang paling enak sejagat raya!" sahut Willy.
"Halah mulai dah kamu lebay!" ujar Bu Ani.
Setelahnya, Aurora pun tampak mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi serta lauk yang ada disana.
Tanpa diduga, gadis itu memberikan piring tersebut kepada Willy dan membuat ketiga orang disana syok sekaligus terkejut.
"Wil, ini!" ucap Aurora sambil tersenyum.
Willy terbengong saja menatap wajah Aurora, begitupun dengan Bu Ani serta pak Gunawan yang kompak saling pandang.
"Eee Willy? Buruan ini ambil, udah aku tuangin juga." kata Aurora.
"Ah iya iya, makasih ya Aurora!" ucap Willy.
"Sama-sama," ucap Aurora tersenyum singkat.
"Iya tuh pak, kayaknya sih emang mereka juga udah jadian deh." sahut Bu Ani.
"Yang bener Bu?" tanya pak Gunawan.
"Iyalah pak, lihat aja sendiri mereka romantis banget kayak gitu. Ya emang sih semalam pas ibu tanya langsung ke nak Aurora, bilangnya gak ada hubungan apa-apa. Tapi, ibu gak percaya." jawab Bu Ani.
"Emang bener kok Bu, pak. Aku sama Aurora itu udah pacaran, malahan dari lama. Ya kan sayang?" ucap Willy menaikkan kedua alisnya.
Aurora tampak syok mendengar ucapan Willy, lagi-lagi wajahnya dibuat memerah.
******
Disisi lain, Martin datang ke rumah Johan di pagi hari yang cerah ini. Sebelumnya Johan memang sudah menghubungi Martin dan memintanya untuk datang kesana menemuinya.
Baru saja Martin hendak mengetuk pintu, namun tiba-tiba Johan sudah keluar lebih dulu dan langsung terlihat panik seraya menarik dua tangan Martin menjauh dari pintu.
"Eh eh, ini ada apa sih om? Kenapa om tarik-tarik tangan saya begini?" tanya Martin heran.
"Sudah, kamu diam saja dulu! Ini om lagi panik tau!" ucap Johan ngos-ngosan.
"Hah? Memangnya kenapa om?" tanya Martin.
"Begini loh Martin, dari semalam Aurora gak pulang ke rumah. Bahkan sampai sekarang hp nya juga gak bisa dihubungi, om khawatir banget terjadi sesuatu sama dia. Tolong kamu bantu om dong buat cari Aurora!" jelas Johan.
"Apa? Aurora gak pulang om? Kok bisa sih? Emang bodyguard yang om tugasin buat jaga Aurora kemana? Dia gak jagain Aurora?" tanya Martin.
"Om udah pecat bodyguard gak becus itu, dia selalu aja kalah sama Willy!" jawab Johan.
"Ya ampun! Ini pasti ulah si Willy nih om, jangan-jangan dia yang udah bawa Aurora dan sembunyiin Aurora!" ucap Martin.
"Nah itu dia, om juga berpikir begitu." kata Johan.
"Kalo gitu berarti kita harus cari si Willy, om!" usul Martin.
"Iya, tapi masalahnya om gak tahu harus cari Willy kemana. Kira-kira kamu tahu gak Willy tinggalnya dimana?" ucap Johan.
"Eee kalau itu sih saya gak tahu om, tapi kayaknya sih Kiara pacar saya tau deh." jawab Martin.
"Oh ya? Terus, dia dimana sekarang? Kenapa gak kamu ajak kesini sekalian?" tanya Johan.
"Tenang dulu om! Sekarang kan Kiara harus sekolah, nanti biar sekalian saya cek deh ke sekolah siapa tahu Aurora ada disana. Jadi, saya bisa langsung paksa dia buat pulang." jawab Martin.
"Iya iya, tapi kayaknya mustahil deh dia berangkat sekolah. Soalnya semua seragam sama buku-buku sekolah dia tuh ada disini," ujar Johan.
"Bisa aja Aurora tetap berangkat ke sekolah om, kan kita gak ada yang tahu. Jadi, biar nanti saya coba cek aja dulu di sekolah buat mastiin Aurora ada disana apa enggak." kata Martin.
"Iya deh, om setuju sama kamu!" ujar Johan.
"Tapi, kalaupun Aurora juga gak ada disana kan saya bisa langsung temui Willy. Saya yakin Willy pasti bakal datang ke sekolah!" ucap Martin.
"Boleh tuh, sekalian aja kamu paksa dia buat serahin Aurora sama kamu ya!" pinta Johan.
"Iya om, tenang aja ya! Om serahin aja ini semua ke saya, semoga Aurora bisa segera saya temui dan saya bawa pulang kesini!" ucap Martin.
"Ya ya ya, aamiin aamiin!" ucap Johan.
"Eee yaudah ya om, kalo gitu saya mau izin pamit dulu! Sekolah sebentar lagi dimulai, saya harus cepat-cepat kesana buat cari Aurora dan temui Willy!" ucap Martin.
"Oke! Kamu kabarin om nanti ya, ada atau tidak ada Aurora disana!" ujar Johan.
"Siap om!" ucap Martin menurut.
Martin pun mencium tangan pamannya itu, lalu pergi dari sana dan kembali ke mobilnya.
"Kamu lihat saja Willy, kali ini saya pasti bisa tangkap kamu dan hajar kamu!" batin Martin.
******
Kiara baru sampai di sekolahnya diantar oleh sang supir suruhan Martin, ya kali ini ia memang tidak diantar Martin karena pria itu sedang memenuhi panggilan pamannya.
Kiara pun turun dari mobilnya, melangkah ke area sekolah dengan perlahan sambil terus tersenyum memandang ke sekeliling. Entah mengapa pagi ini ia merasa cukup senang dan bahagia.
"Kiara!" tiba-tiba saja ada yang memanggilnya.
Sontak gadis itu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang mencari seseorang yang meneriakkan namanya itu.
"Willy?" ucap Kiara terkejut sekaligus heran.
"Hai! Kamu kok gak diantar sama si Martin itu sih? Kemana dia?" tanya Willy bingung.
"Eee iya, tuan Martin lagi ada urusan." jawab Kiara.
"Ohh, kirain dia udah mulai gak perduli lagi sama kamu." kata Willy asal.
"Bicara apa sih kamu? Mana mungkin tuan Martin kayak gitu?" ujar Kiara.
"Kenapa gak mungkin?" tanya Willy.
"Ya karena tuan Martin itu sayang dan perduli sama aku, jadi dia gak mungkin lah begitu." jawab Kiara yakin.
"Waw berarti kamu yakin banget ya kalau dia itu udah sayang sama kamu!" ucap Willy.
"Begitu deh, yaudah ya aku harus masuk ke dalam sekarang." kata Kiara.
"Eh tunggu tunggu!" ucap Willy menahan Kiara dan mencekal lengan gadis itu.
"Ada apa lagi?" tanya Kiara malas.
"Karena kamu gak diantar Martin, jadinya aku gak bisa ngobrol sama dia. Nah, makanya aku mau ngomong sama kamu aja. Bisa kan?" jawab Willy.
"Ngomong soal apa?" tanya Kiara penasaran.
"Aku curiga, kayaknya orang yang ada dibalik pengeroyokan anggota the darks itu Martin. Karena kan selama ini dia selalu gak suka sama geng the darks, termasuk aku." jelas Willy.
"Kamu kenapa nuduh begitu ke tuan Martin? Belum tentu loh dia pelakunya, kamu jangan asal deh!" ucap Kiara tampak tak suka.
"Aku gak bicara asal kok, aku bicara sesuai fakta yang ada. Martin itu emang gak suka sama aku dan geng the darks, jadi pasti dia yang udah suruh orang-orang buat ngeroyok anak-anak the darks sampai masuk UGD." ucap Willy.
"Apa sih Willy? Tuan Martin gak mungkin begitu, kamu salah tuduh!" ujar Kiara.
"Kok kamu jadi belain dia terus sih? Oh, udah mulai jatuh cinta ya sama tuan kamu itu? Ya ampun Kiara, berarti dulu aku salah ya udah bebasin kamu dari tempat itu." kata Willy.
"Yang dulu itu gausah diungkit-ungkit lagi, sekarang semuanya udah berubah!" ucap Kiara.
"Ya ya ya, emang susah bicara sama kamu. Okelah, aku gak akan bahas ini lagi." kata Willy.
"Oh ya, kamu kok sendirian aja nih? Aurora si pacar kamu mana?" tanya Kiara terheran-heran.
"Kamu gak perlu tau, itu bukan urusan kamu. Yaudah ya Kiara, terimakasih atas waktunya!" ucap Willy melepas tangan Kiara dengan kasar.
Willy pun pergi dari sana meninggalkan Kiara.
Bersambung....