My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 21. Mau hijrah



My love is sillie


Episode 21.



Willy dicegat oleh seorang pengendara motor.


"Woi, mau mati lu..??!!" teriak Willy.


Orang itu membuka helmnya dan ternyata ia adalah seorang perempuan. Ia pun menghampiri Willy.


"Hehe, sorry yaa.. Gua cuma mau ngobrol aja sama lu." kata perempuan itu.


Willy terdiam memandangi wajah perempuan itu tanpa berkedip dan mulutnya sedikit terbuka.


"Lu siapa? Mau apa cegat gue begitu?" tanya Willy pada perempuan di depannya.


Wanita itu berambut panjang itu turun dari motornya, melangkah ke dekat Willy dengan permen karet di mulutnya.


"Gue kagum sama lu!" ucapnya.


"Hah? Kenapa lu bisa kagum sama gue? Emangnya apa kelebihan gue sampe bikin lu kagum begitu?" tanya Willy terkejut terheran-heran.


"Tadi gue lihat waktu lu hajar si penjual warung, gue salut karena lu gak punya rasa takut sama siapapun! Padahal disana rame banyak orang, tapi lu berani banget hajar dia!" ucapnya.


"Masa begituan aja dikagumi? Emangnya lu siapa sih, ha?" Willy masih penasaran pada wanita itu.


"Nama gue Aurora, lu bisa panggil gue Rora atau Ra aja." jawab gadis itu mengenalkan dirinya.


"Oh," ucap Willy singkat.


"Dih oh doang, orang mah kenalin diri juga gitu. Masa lu gak ngerti sih begitu doang?" ucap gadis bernama Aurora itu agak kesal.


"Iya iya.. nama gue Willy, puas kan?" ucap Willy dingin.


Gadis itu tersenyum kemudian mengulurkan tangannya ke arah Willy.


"Ngapain?" Willy tak mengerti dengan maksud gadis itu.


"Salaman lah," jawab Aurora sambil tersenyum.


"Kalo gue gak mau gimana?" ujar Willy.


"Dih sombong amat sih lu! Tapi, gue suka sih sama sikap lu yang begini, lumayanlah bisa buat inspirasi gue ke depannya." kata gadis itu masih sambil mengunyah permen karetnya.


"Au amat ah!" Willy sangat geram dan malas meladeni wanita itu.


Willy pun hendak pergi dari sana, namun ditahan oleh Aurora yang mencekal lengannya dari belakang.


"Tunggu Willy!" pinta gadis itu.


"Jangan pegang-pegang gue!" bentak Willy.


"I-i-iya iya..." Aurora gugup dan melepas genggaman tangannya dari Willy.


******


Kiara beserta Martin tiba di PT. Martin Bersahaja. Yang merupakan kantor cabang dari Martin sendiri.


Pria itu keluar dari mobil dengan perasaan cemasnya, ia tak sabar ingin segera masuk menemui sekretarisnya dan membahas mengenai masalah yang terjadi pada perusahaannya.


Kiara yang penasaran pun ikut turun dari mobil, ia mengikuti kemana Martin pergi.


Namun, Martin tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Kiara dengan tatapan tajamnya.


"Kiara, kamu disini aja!" pinta Martin pada Nadira.


"Loh, kenapa tuan? Saya juga mau bantu tuan, tolong bolehin saya masuk ya tuan!" ucap Kiara.


"Tidak Kiara. Biarkan ini menjadi urusan saya!" tegas Martin.


"Baiklah tuan!" ucap Kiara akhirnya menurut.


Martin pun berbicara dengan security yang berjaga di luar sana, meminta padanya untuk menjaga Kiara agar tidak ikut masuk ke dalam.


"Pak, tolong jaga istri saya ya!" ucap Martin.


"Siap pak bos!" ucap satpam itu dengan lantang.


"Terimakasih!" ucap Martin singkat. "Kiara, kamu jangan kemana-mana ya! Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja sama satpam-satpam disana! Gak perlu ragu ya!" sambungnya berbicara pada Kiara dengan serius.


"Iya tuan," ucap Kiara menurut.


Cupp!


"Semoga semuanya baik-baik saja!" batin Kiara.


Kiara pun menunggu disana bersama dua orang security yang sedang berjaga, walau sebenarnya ia sangat penasaran dengan masalah di kantor Martin.


******


Sasha dan juga Aziz masih berusaha menemukan Willy yang hingga kini tak tahu ada dimana, mereka berdua melakukan itu karena khawatir terjadi sesuatu pada Willy saat ini.


"Ziz, kita cari kemana lagi ya? Gue gak tahu lagi dimana tempat Willy biasa kumpul, semua tempat kan udah kita datangin." kata Sasha.


"Kalo lu aja gak tahu, apalagi gue Sas." kata Aziz.


"Ah lu mah payah Ziz! Gak guna banget sih! Minimal kalau lu gak punya kendaraan, bantu mikir kek gitu! Ini udah gue boncengin, terus lu juga gak bisa mikir, sia-sia dah gue ajak lu buat cari Willy!" ujar Sasha emosi.


"Yeh jangan marah-marah kali Sas! Kan emang bener, gue gak tahu Willy ada dimana." kata Aziz.


"Yaudah, sekarang lu mending turun deh! Gue mau coba telpon teman-temannya lagi, siapa tahu mereka bisa bantu kita." perintah Sasha.


"Iya iya..." Aziz menurut lalu turun dari motor Sasha.


"Hadeh Wil Wil... lu itu kemana sih Wil? Lu yang ilang, eh jadi gue sama Sasha yang ribet!" gumam Aziz.


"Berisik lu Ziz!" bentak Sasha kesal.


Sasha pun mengambil ponselnya, menelpon Thoriq yang merupakan sahabat Willy.


📞


Sasha : Halo Riq! Lu lagi dimana sekarang?


Thoriq : Iya halo Sas, ini gue di rumah. Emang kenapa?


Sasha : Lu lagi sama Willy gak?


Thoriq : Enggak tuh, emangnya ada apa?


Sasha : Duh, Willy kemana ya..?? Gue bingung banget nih nyari Willy kemana lagi, soalnya bokap nyokap nya tuh khawatir sama dia!


Thoriq : Waduh! Yaudah, gue coba telpon Willy dulu deh. Nanti gue kabarin lu lagi oke!


Sasha : Iya iya, thanks ya Riq!


Thoriq : Sama-sama.


Tuuutttt...


Telpon dimatikan oleh Sasha, ia bisa sedikit bernafas lagi saat ini walau belum tahu dimana keberadaan Willy.


"Gimana Sas? Willy ada sama si Thoriq?" tanya Aziz penasaran.


Sasha hanya melirik sekilas ke arah Aziz, lalu kembali membuang muka.


******


Willy sekarang berada di sebuah cafe bersama Aurora, gadis yang baru dikenalnya itu.


Mereka sengaja datang kesana karena Aurora hendak mencari tahu lebih lanjut tentang Willy, entah kenapa Aurora begitu tertarik pada Willy sejak pertama kali melihatnya.


"Lu mau tanya apa lagi sama gue? Kenapa daritadi cuma senyum-senyum sambil ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Willy heran.


"Iya Wil, gue itu masih kagum sama lu! Gue gak nyangka akhirnya gue bisa ketemu sama orang kayak lu, sekian lama loh gue cari-cari." kata Aurora.


"Oh ya? Kenapa sih lu nyari cowok badung kayak gue? Apa faedahnya coba?" tanya Willy.


"Kan tadi gue udah bilang, gue tuh mau cari orang buat dijadiin panutan. Soalnya gue lagi hijrah, gue pengen mengenal lebih jauh dunia jalanan. Gue bosan jadi cewek baik-baik, makanya gue minta bokap beliin gue motor sport." jelas Aurora.


"Oh gitu, cakep dah!" ucap Willy singkat.


"Lu mau kan jadi panutan gue?" tanya Aurora.


"Umm... kalo emang lu niat mau jadi anak jalanan, gue bisa bantu lu! Tapi, banyak resiko yang harus lu hadapi!" ucap Willy.


"Tenang aja! Gue pasti siap kok hadapin semua resikonya, apapun itu!" ucap Aurora serius.


"Oke! Kalo gitu nanti sore ikut gue, kita sama-sama datang ke markas geng gue! Disana gue bakal ajarin lu banyak hal tentang jalanan, supaya lu bisa jadi anak jalanan yang baik!" ucap Willy.


"Wah! Jadi, lu itu anak geng motor?" tanya Aurora.


Willy mengangguk pelan, kemudian tersenyum smirk tanpa memalingkan wajahnya dari Aurora.


"Perfect!" batin Willy.


Bersambung....