My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 123. Willy cemburu



My love is sillie


Episode 123



Aurora tiba di sekolahnya bersama Fabio yang mengantarnya kesana dengan mobilnya.


Mereka terlihat berbincang sejenak di dalam mobil dan saling menatap sambil tersenyum renyah.


"Kita udah sampai, aku jadi keinget dulu sewaktu kita masih pacaran. Waktu itu kan aku sering banget anterin kamu ke sekolah kayak gini," ucap Fabio.


"Hahaha, iya sih bener dulu kan hampir setiap pagi kamu selalu antar aku. Tapi, semuanya udah beda sekarang. Kalau dulu kamu antar aku sebagai pacar, sekarang kamu antar aku sebagai seorang sahabat yang baik," ucap Aurora.


"Ya gapapa, yang penting aku masih bisa kenal dan dekat sama kamu. Aku udah senang banget kalau kamu masih anggap aku sahabat," ucap Fabio.


"Jelas dong, kita kan gak boleh musuhan walau udah gak pacaran lagi. Hubungan silaturahmi kita harus tetap terjaga, apalagi dulu kita pacaran gak cuma setahun dua tahun," ucap Aurora.


"Iya Aurora, terimakasih ya ternyata kamu baik banget sama aku! Aku jadi nyesel udah putus dari kamu," ucap Fabio.


"Udah lah Bio, yang dulu gausah diingat-ingat lagi! Semua itu kan masa lalu, kita sekarang fokus aja jalani yang ada!" ucap Aurora.


Fabio mengangguk, ia memberanikan diri mengusap puncak kepala Aurora dengan lembut. Tak ada penolakan dari Aurora, karena ia merasa tidak mengapa Fabio melakukan itu.


"Masih boleh kan aku pegang-pegang kamu kayak begini?" tanya Fabio.


"Buat apa kamu nanya kalau kamu udah lakuin?" ucap Aurora sambil geleng-geleng kepala.


"Hahaha, formalitas aja. Tapi, kalau kamu gak suka, aku berhenti deh elus kamu," ucap Fabio.


"Gapapa, santai aja!" ucap Aurora singkat.


"Thanks!" Fabio kini beralih mengusap wajah mulus Aurora yang sudah lumayan lama tak ia jumpai itu.


"Masih sama seperti dulu, halus dan enak buat dielus. Pasti pacar kamu suka begini juga kan sama kamu?" ucap Fabio.


"Ya gitu deh, namanya orang pacaran. Kayak kita dulu aja," jawab Aurora.


"Iya benar. Omong-omong, aku boleh gak ketemu sama pacar kamu?" tanya Fabio.


"Umm, mau apa?" Aurora terlihat bingung dan ragu.


"Kenalan aja, sekalian aku mau tau seperti apa pacar kamu yang sekarang. Boleh kan?" ucap Fabio.


"Boleh aja sih, kebetulan dia juga sekolah disini dan malah satu kelas sama aku. Jadi, kalau kamu mau ketemu dia ya bisa aja," ucap Aurora.


"Oh ya? Terus, kok dia gak anterin kamu ke sekolah sih? Apa dia emang gak pernah jemput kamu?" tanya Fabio terheran-heran.


"Sering kok, malahan hampir setiap hari. Tapi, ini aku aja yang minta sama dia buat gak jemput. Soalnya aku lagi mau ke sekolah sendiri," jawab Aurora.


"Oh gitu, kirain kamu sama dia lagi berantem gitu. Syukurlah kalau kalian baik-baik aja!" ucap Fabio.


"Iya, yaudah kita turun aja yuk! Barangkali dia juga udah sampai, kamu jadi kan mau ketemu dan kenalan sama dia?" ucap Aurora.


"Jadi dong, aku penasaran banget," ujar Fabio.


Aurora terkekeh kecil sembari melepas sabuk pengamannya, lalu keduanya pun sama-sama turun dari mobil untuk mencari Willy.


Tanpa diduga, mereka berpapasan dengan Willy yang baru datang ke sekolah itu mengenakan motornya.


Sontak saja Aurora langsung tersenyum menatap ke arah Willy di hadapannya, sedangkan Willy terlihat heran karena Aurora datang bersama Fabio.


"Hai sayang!" sapa Aurora dengan senyum khasnya yang bisa membuat setiap lelaki melayang.


Willy menganggukkan kepalanya, melepas helm lalu menatap bingung ke arah Fabio.


"Dia siapa?" tanya Willy ketus.


"Eee kenalin, ini teman aku namanya Fabio! Nah Bio, dia ini pacar aku yang tadi aku ceritain ke kamu," jelas Aurora.


"Ohh, jadi ini pacar kamu?" perlahan Fabio maju mendekati Willy dan mengulurkan tangannya. "Saya Fabio, sahabat sekaligus mantan Aurora. Salam kenal ya!" lanjutnya.


"Gue Willy, pacarnya Aurora. Salam kenal juga!" balas Willy seraya meraih tangan Fabio.


Mereka bersalaman selama beberapa detik, sampai akhirnya Willy melepas tangannya lebih dulu lalu beralih menatap Aurora.


"Sayang, kamu kenapa bisa sama dia? Katanya mau bareng supir, apa dia sekarang jadi supir kamu?" tanya Willy sinis.


"Eee bu-bukan, tadi kita gak sengaja ketemu di jalan. Awalnya aku emang diantar supir, tapi tiba-tiba mobil aku dicegat sama Max dan dia maksa aku buat ikut sama dia. Untung aja Fabio datang, dia tolongin aku terus anterin aku kesini," jelas Aurora.


"Ohh, kirain kamu emang sengaja pengen diantar sama cowok ini," cibir Willy.


"Enggak lah sayang, aku aja baru ketemu sama Fabio tadi di jalan. Gimana caranya coba aku janjian sama dia?" ucap Aurora.


Willy turun dari motornya, menarik tangan Aurora ke dekatnya dengan posesif.


"Ih kamu apa-apaan sih Willy?!" ujar Aurora.


"Aku cuma gak mau kamu dekat-dekat sama cowok lain, kamu itu kan punya aku," tegas Willy.


"I-i-iya, tapi kan gak perlu begini juga kali. Nanti kalau Fabio sakit hati gimana?" ucap Aurora.


"Ya biarin aja, itu hak dia mau sakit hati atau apa kek! Intinya aku gak mau kamu dekat sama dia, apalagi dia mantan kamu," ucap Willy.


"Kan cuma mantan, udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Aku setia kali sama kamu, gak mungkin aku berpaling ke lain hati," ucap Aurora sambil tersenyum dan mengusap wajah Willy.


Willy pun ikut tersenyum, meraih tangan Aurora di wajahnya lalu mengecupnya.


"Aku percaya, tapi tetap aja aku gak suka kamu dekat sama dia. Demi aku, kamu harus menjauh dari pria itu!" pinta Willy.


Aurora terlihat bingung, ia menatap wajah Fabio dengan perasaan tidak tega.


"Gapapa Aurora, wajar aja Willy posesif banget soal kedekatan kita. Itu artinya dia sayang banget sama kamu dan dia gak mau kehilangan kamu, kamu harus bersyukur punya kekasih seperti dia!" ucap Fabio sambil tersenyum.


"Nah, baguslah kalau lu ngerti. Sekarang lo pergi dan jangan pernah deketin Aurora lagi! Termasuk kirim pesan apalagi telpon," ucap Willy.


"Hahaha, iya Willy siap! Saya akan usahakan untuk menjauh dari Aurora dan tidak mengganggu dia lagi, semoga hubungan kalian berdua langgeng terus ya!" ucap Fabio.


"Oh pasti, kita mah bakal langgeng kok!" ucap Willy dengan pede sembari merangkul Aurora.


"Ih Willy gak boleh gitu!" tegur Aurora.


"Apa sih sayang?! Emang kamu gak mau langgeng sama aku, ha?" heran Willy.


"Bukan gitu ayang, tapi kamu harusnya bilang aamiin sewaktu Fabio doain kita tadi! Bukannya malah kamu jawab kita mah bakal langgeng kok, gimana sih kamu?!" jelas Aurora.


"Ah ribet! Sama aja kan intinya, pokoknya kita bakalan langgeng sayang!" ujar Willy.


Aurora menggeleng saja, sedangkan Willy sibuk mencubit pipinya dengan gemas.


"Yaudah, saya permisi dulu ya? Aurora, sampai ketemu lain waktu! Semoga bahagia selalu!" ucap Fabio dengan ramah.


"Iya Bio, hati-hati ya kamu!" ujar Aurora.


"Pasti." Fabio mengangguk pelan, lalu kembali ke mobilnya dan segera pergi.


Kini Willy menatap Aurora dengan wajah tak suka, pasalnya wanita itu masih terus memandangi mobil Fabio sambil tersenyum renyah.


"Hah? Enggak sayang, aku tuh—"


"Alah alasan aja kamu! Ngaku aja, bener kan yang aku bilang tadi?!" potong Willy.


"Enggak Willy, kamu kenapa sih jadi cemburuan begitu?" elak Aurora.


"Ah yaudah, ikut aku ke parkiran dulu!" ajak Willy.


"Iya iya.." Aurora menurut dan mengikuti Willy menuju parkiran sekolah.


******


Randi dan Ayna tiba di sebuah warung kopi, Randi sengaja membawa gadis itu kesana karena ingin menunjukkan seperti apa rasanya menikmati sarapan di tempat itu.


Ayna merasa bingung saat Randi mengajaknya kesana, jujur ia baru pertama kali ini pergi ke tempat seperti itu dan ia pun tak tahu apa saja yang ada disana.


"Ran, kamu kok ajak aku kesini? Kita mau apa disini?" tanya Ayna terheran-heran.


"Hahaha, kamu belum tahu ya ini tempat apa?" ujar Randi disertai tawa tipisnya.


Ayna menggeleng cepat.


"Yaudah, berarti pas banget aku bawa kamu kesini. Aku emang niat kenalin kamu sama tempat ini, supaya kamu kalau nongkrong gak di cafe terus," ucap Randi.


"Eee emangnya disini aku bisa pesan kopi juga kayak di cafe?" tanya Ayna dengan polosnya. Sungguh itu amat membuat Randi gemas.


"Iya dong, tapi disini kopinya lebih ke kopi sederhana sih. Jadi gimana, kamu mau kan sarapan bareng aku disini?" jelas Randi.


"Mau-mau aja sih, tapi kenapa kita enggak ke cafe kamu aja? Disana kan lebih enak tau, terus tempatnya juga bersih dan asyik. Emangnya kamu bisa jamin kalau disini itu tempatnya higienis?" ujar Ayna.


"Duh, kamu kok gemesin banget sih? Ya jelaslah disini pasti bersih, kamu gausah khawatir!" ucap Randi sembari membelai rambut gadis itu.


"Oke, aku percaya sama kamu!" ucap Ayna.


Randi tersenyum, kemudian merangkul Ayna dan mengajak gadis itu masuk ke dalam warung.


Mereka duduk berdampingan tanpa melepas rangkulan.


"Nah, sekarang kamu mau pesan apa?" tanya Randi menatap Ayna sambil mengusap wajah serta punggung gadis itu.


"Aku gak tahu, bingung. Aku ngikut kamu aja deh," jawab Ayna.


Randi menggeleng pelan disertai senyum tipis, dia benar-benar gemas dengan sikap polos Ayna yang memang baru pertama kali datang kesana.


"Yaudah, kita pesan roti bakar aja gimana? Kamu mau gak?" usul Randi.


"Ah boleh tuh, kebetulan kalau roti bakar aku mah udah sering coba," ucap Ayna.


"Okay! Minumnya jeruk hangat aja mau?" tanya Randi.


Ayna mengangguk dengan yakin. Randi pun mengusap puncak kepala gadis itu, membuat Ayna tersipu dan jantungnya semakin berdebar-debar.


"Duh, kok aku jadi salah tingkah gini sih?" batin Ayna.


Disaat Randi sedang memesan, Ayna terlihat memalingkan wajahnya ke arah lain berusaha menutupi rona merah yang mulai timbul.


Randi pun kembali menatap Ayna, dia amat heran karena gadisnya terus menutupi wajahnya dan tak mau melihat ke arahnya.


"Cantik, kamu kok buang muka sih? Aku disini loh, lihatin wajah kamu ke aku dong!" tegur Willy.


"Eh eee i-i-iya Ran..." Ayna tampak gugup dan perlahan melihat ke arah Randi.


"Kamu itu kenapa sih? Perasaan tadi gak kayak gini deh, apa aku ada salah sama kamu?" tanya Randi.


"Hah? Enggak Ran, kamu gak salah apa-apa kok," jawab Ayna.


"Terus, kamu kenapa buang muka dan gak mau lihat aku? Pasti kamu marah kan sama aku karena aku ajak kamu kesini bukan ke cafe?" tanya Randi merasa bersalah.


"Ih gak gitu Randi, aku tuh malu aja karena sikap kamu tadi seolah-olah kita ini pacaran. Gak tahu kenapa aku malah jadi baper," jelas Ayna.


"Oalah, ya kalo gitu mulai sekarang kita pacaran aja. Supaya kamu gak perlu baper dan bisa santai tiap kali aku bersikap seperti tadi. Gimana? Kamu setuju gak?" usul Randi.


"Ka-kamu beneran bilang begitu sama aku? Emang kamu suka sama aku?" tanya Ayna.


"Iyalah, cowok mana sih yang gak suka sama kamu? Kamu itu sempurna banget tau, aku aja sampai terkagum-kagum lihatnya," jawab Randi.


"Ah bisa aja kamu!" ujar Ayna.


"Tuh kan, kamu kalo lagi kayak gini tambah imut deh. Rasanya aku mau gigit tuh pipi kamu, soalnya gemesin banget," ucap Randi.


"Gigit aja nih, tapi kasih aku uang satu juta dulu!" ucap Ayna.


"Yeh kalo gitu mah mending aku beli cincin buat kita tunangan nanti," ujar Randi.


"Apaan sih ih?! Pacaran aja belum, masa udah mau tunangan aja?" ucap Ayna.


Randi tersenyum, lalu meraih dua tangan Ayna dan menggenggamnya erat. Perlahan ia mengecup punggung tangan gadis itu sambil mengusapnya lembut.


"Yaudah, gimana kalau kita langsung pacaran aja sekarang? Aku suka sama kamu Ayna, aku mau kamu jadi pacar aku!" tanya Randi.


"Apa??" Ayna terkejut mendengarnya.


"Iya Ayna, aku cinta kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?" tegas Randi.


Ayna terdiam beberapa saat memikirkan itu.


"Eee aku sebenarnya mau banget pacaran sama kamu, malahan dari awal kita ketemu. Tapi, aku cuma takut kalau kak Geri tahu tentang hubungan kita nantinya. Dia pasti bakal marah besar dan bisa lukain kamu," ucap Ayna.


"Kamu tenang aja! Aku gak takut sama Geri! Kita sama-sama berjuang demi cinta kita, aku yakin kita pasti bisa hadapi semuanya selama kita bersatu!" ucap Randi meyakinkan Ayna.


Ayna menatap wajah Randi dengan senyum manisnya.


"Iya Randi, aku percaya sama kamu! Aku mau jadi pacar kamu dan jadi pendamping hidup kamu," ucap Ayna penuh yakin.


"Itu jawaban yang aku inginkan," ucap Randi.


Mereka saling berbalas senyum dan akhirnya berpelukan disana, membuat seisi warkop bersorak gembira melihatnya.


Tentu Randi maupun Ayna terlihat malu karena cukup banyak orang yang menyaksikan momen romantis mereka tadi.


"Aku malu banget tau," lirih Ayna.


"Gak perlu malu, mereka aja senang dan support kita kok sayang!" ujar Randi.


"Iya sayang," ucap Ayna singkat.


Lagi dan lagi semua orang disana bersorak sorai, membuat Ayna semakin memerah.


Sementara di luar sana, Tedy tampak memperhatikan keduanya dengan tatapan jengah.


"Aaarrgghh kurang ajar emang si Randi! Sahabat macam apa yang tega nikung sohibnya sendiri? Awas aja lu ya!" geram Tedy.


Bersambung....