
My love is sillie
Episode 138
•
"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.
"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.
"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.
"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.
"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.
"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.
"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.
"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.
Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.
Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.
"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.
"Oke!" Ayna mengangguk singkat.
Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.
"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.
"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.
Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.
"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.
"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.
"Ih kamu bilang tadi gak akan mau macam-macam ya sayang! Malu tau banyak orang!" sentak Ayna.
"Banyak darimana? Enggak ada tuh," ujar Randi.
"Tetap aja aku malu, kamu gausah kayak gini dong Randi sayang!" ucap Ayna dengan gugup.
Pria itu justru tersenyum dan menaruh tangannya di atas paha sang kekasih, mengusapnya lembut membuat Ayna merasa geli.
"Eemhh, Randi jangan nakal!" ucap Ayna berusaha menyingkirkan tangan Randi, tetapi gagal.
"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.
"Gak nyaman, yang ada aku malah deg-degan takut ada yang lihat kita. Udah lah Randi, cepet lepasin tangan kamu!" sentak Ayna.
"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Randi yang kini malah mengecup ceruk leher Ayna.
"Ahh.." de-sah Ayna tak tertahankan saat pria itu mengendus lehernya dengan mesra.
Tangan Randi bergerak semakin dalam, menyentuh bagian intim wanitanya dengan lembut yang membuat sang empu makin gelisah.
"Akh Ran, please!" lirih Ayna.
"Kamu suka kan? Nanti abis dari sini, kamu ke rumah aku ya? Supaya kita berdua bisa bebas ngapain aja," ucap Randi.
"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.
"Gak ngapa-ngapain kok sayang, aku cuma pengen kenalin kamu sama rumah aku. Emang salah ya kalau aku bawa pacar aku ini ke rumah aku?" jawab Randi sambil tersenyum miring.
"Ya enggak sih, tapi beneran kan gak mau ngapa-ngapain? Awas loh ya kalau kamu mesum lagi disana!" ancam Ayna.
"Iya iya, gak bakal kok sayang," ucap Randi seraya mencubit hidung gadisnya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut.
"Ehem ehem, misi pak bos!" sapanya.
******
"Yah berarti percuma dong gue datang kesini, karena gak ada si Martin?" ujar Rimba.
"Sabar bro! Mungkin sebentar lagi bang Martin bakal datang kesini," ucap Ilham menenangkan.
"Iya bro, lo tunggu aja dulu sambil minum!" sahut Billy.
Rimba mengangguk-angguk saja, lalu meminum minuman yang sudah disediakan oleh anggota black jack untuknya.
"Gue mau tanya deh sama lo, sebenarnya masalah lo sama anak the darks tuh apa?" tanya Rimba.
"Hah? Lo nanya begitu ke gue bro? Asal lu tahu ya, black jack dan the darks itu musuh bebuyutan! Kita gak akan pernah damai sama mereka sampai kapanpun, karena Willy udah bikin kita sengsara!" jelas Ilham dengan keras.
"Oh begitu, pantas aja lo kelihatan emosi banget. Gue suka nih yang begini, anak-anak the darks emang harus dikasih pelajaran supaya mereka gak semena-mena terus sama kita!" ucap Rimba.
"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.
"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.
"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.
"Ya iyalah, semakin banyak orang yang kita kumpulin, semakin besar juga kemungkinan kita buat abisin anak-anak the darks! Mereka itu punya Willy, jadi kita harus waspada!" ucap Rimba.
"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.
Braakkk...
"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.
"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.
Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.
"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.
"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.
"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.
"Ya iyalah Ham, dia kan cuma sendiri disini. Kalau dia ngelawan, bisa jadi ayam geprek dia!" timpal Billy.
"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.
"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.
"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.
"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.
"Oke kita maafin, tapi awas ya kalo lain kali lu begitu lagi!" ucap Ilham.
Rimba menunduk saja tanpa bicara apapun.
******
"Hah bapak??!" Aurora tersentak kaget, ia coba melepas pelukan Willy tetapi gagal karena pria itu malah menahannya.
"Ih Willy lepas, malu tau ada bapak kamu!" ujar Aurora coba berontak.
"Kamu kenapa sih? Bapak aku perasaan biasa-biasa aja gak marah, ya kan pak?" ucap Willy dengan santai.
"Iya, udah gapapa nak Aurora namanya juga anak muda. Dulu bapak sama ibunya Willy juga begitu kok," ucap pak Gunawan.
Aurora terbelalak mendengarnya.
"Pantas aja anaknya begini," batin Aurora.
Melihat Aurora terdiam, Willy malah dengan santainya mengecup pipi gadis itu di hadapan sang ayah.
Cup!
"Ih Willy!" protes Aurora.
"Willy, kamu jangan kayak gini di depan bapak kamu! Aku gak enak tau!" bisik Aurora.
"Iya iya, aku bicara sama bapak dulu ya?" ucap Willy kemudian beralih menatap pak Gunawan. Aurora yang mendengar itu dibuat sangat kaget.
"Wil, kamu mau ap—"
"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.
Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.
"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.
"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.
"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.
Willy tersenyum dan kembali menatap gadisnya.
"Sayang, sekarang kan bapak udah ke depan. Jadi, kamu gak perlu malu lagi! Cium aku dong!" ucap Willy dengan manja.
"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.
"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.
"Ih gak mau!" tolak Aurora.
"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.
"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.
Perlahan Willy mulai mendorong tubuh Aurora hingga menempel di tembok, memperdalam ciumannya sambil terus memaksa lidahnya untuk masuk.
Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.
Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.
"Haaahhh haaahhh.."
"Kamu benar-benar gak waras ya Willy!" kesal Aurora pada kekasihnya.
"Hahaha..."
******
"Halo Sasha, selamat pagi! Om gak nyangka ternyata ada kamu disini," ucap pak Gunawan.
"Iya om, pagi juga! Aku emang udah datang daritadi kok disini," ucap Sasha.
"Mau ketemu Willy ya pasti? Dia lagi di meja makan tuh, udah duluan tadi sama Aurora. Bu, ajak dong nak Sasha masuk ke dalam!" ujar pak Gunawan.
"Bawel ih bapak! Daritadi ibu juga udah bawa nak Sasha masuk, bahkan itu sarapan yang dimakan bapak juga dibawa sama nak Sasha. Tapi, ini nak Sasha barusan keluar dulu," ucap Bu Ani.
"Oalah gitu toh, yowes silahkan aja ke dalam! Bapak mau ke luar dulu ya Bu?" ucap pak Gunawan.
"Iya pak iya," ucap Bu Ani singkat.
Bu Ani pun mencium tangan pak Gunawan sebagai seorang istri, lalu pak Gunawan bergegas pergi ke luar meninggalkan mereka disana.
"Eee tante, om Gunawan sekarang udah mulai kerja lagi ya?" tanya Sasha.
"Hah? Enggak tuh, dia mah paling cuma mau luntang-lantung di luar. Ibu juga gak tahu sampai kapan dia bisa bertahan kayak gini terus," jawab Bu Ani sambil menggeleng pelan.
"Sabar ya tante, rezeki pasti gak tertukar kok! Aku bakal usaha buat bantu om sama tante supaya om Gunawan bisa dapat kerja!" ucap Sasha.
"Duh, gausah lah nak Sasha nanti malah ngerepotin kamu! Ini kan urusan tante sama om Gunawan, jadi biar kami aja yang selesaikan. Tante gak mau ngerepotin siapa-siapa, termasuk kamu!" ucap Bu Ani menolak tawaran Sasha.
"Gapapa kok Bu, aku bisa minta bantuan papaku buat kasih kerjaan ke om Gunawan. Tante sama om gak perlu ngerasa gak enak gitu sama aku, aku ikhlas kok bantunya," ucap Sasha.
"Oh ya? Kalau gitu terimakasih banyak ya nak Sasha!" ucap Bu Ani.
"Sama-sama tante," ucap Sasha singkat.
"Kamu itu emang baik sekali ya nak Sasha? Kamu selalu bersikap baik sama keluarga tante, Willy beruntung punya teman seperti kamu!" ucap Bu Ani sembari memeluk Sasha.
"Ah tante terlalu berlebihan, padahal mah aku biasa aja kok. Aku cuma mau saling bantu aja sama keluarga Willy, dia itu kan sahabat dekat aku. Aku juga udah anggap tante dan om Gunawan seperti orang tua aku sendiri," ucap Sasha.
"Sekali lagi terimakasih ya nak Sasha! Yaudah, yuk masuk!" ujar Bu Ani.
"Iya tante," singkatnya.
Mereka berdua mulai kembali melangkah, tanpa sengaja mereka melihat Willy dan Aurora yang asyik bermesraan di dekat meja makan.
"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.
Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.
******
"Ya mana aku tahu! Mungkin karena kita lagi ada di hutan kayak gini, jadi susah sinyal. Coba aja kamu cek hp kamu barangkali ada!" ujar Mia.
"Aku gak bawa handphone sayang, tadi hp nya aku tinggal di tempat kuda. Aku pikir lebih baik aku gak bawa hp, supaya fokus sama kamu. Eh ternyata malah kayak gini," ucap Thoriq.
"Yah terus gimana dong sayang?" tanya Mia.
"Kita turun dulu yuk sayang! Supaya kudanya juga bisa istirahat," jawab Thoriq.
Mia mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari kuda dan duduk bersandar di bawah pohon besar setelah mengikat kuda itu.
"Sabar ya sayang!" ucap Thoriq lirih.
"Aku sabar kok sayang, tapi aku gak mau kita terus terjebak disini sampai malam. Kita harus cepat-cepat keluar, sebelum hari mulai gelap!" ucap Mia dengan sangat panik.
"Iya iya, aku bakal pikirin cara supaya kita bisa keluar disini. Sekarang kamu tenang dulu, jangan panik ya sayang!" ucap Thoriq.
Mia mengangguk lesu, membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih. Thoriq tersenyum merasakan wajah Mia di bahunya, ia pun mengusap wajah Mia dengan lembut dan sesekali mengecupnya.
Cup!
"Kamu tenang ya cantikku! Aku disini bakal jagain kamu, kita berdua juga pasti bisa kok keluar dari hutan ini!" ucap Thoriq.
"Iya sayang, aku percaya kamu!" ucap Mia.
"WOI!!!"
Mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang datang secara tiba-tiba.
"Ngapain lo berdua disini? Mau mesum ya?!" tegur pria tersebut.
"Hah??" Thoriq dan Mia reflek berdiri.
"Siapa kalian? Ngapain berduaan di hutan kayak gini? Kalau mau mesum itu di hotel, yang modal dikit lah bro!" tegur si pria.
"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.
"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.
"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.
"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.
"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.
"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.
"Iya juga ya.."
"Yaudah kita percaya sama alasan kalian, tapi emang kalian ini siapa dan tinggal dimana?" tanya pria itu pada Thoriq.
"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.
"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.
"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.
Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.
Bersambung....