My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 36. Gak sengaja



My love is sillie


Episode 36



Sasha sudah masuk ke rumah sakit, ia menemui Randi dan Thoriq yang masih setia menunggu disana tanpa pergi walau sebentar.


Terlihat kedua pria itu langsung bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap ke arah Sasha yang baru datang itu.


"Guys, kalian kok cuma berdua? Yang lainnya pada kemana?" tanya Sasha keheranan.


"Eee anak-anak lagi pada keluar sebentar, tapi mereka mungkin balik lagi kesini nanti." jawab Randi.


"Ohh terus om Gunawan sama tante Ani masih ada di dalam gak?" tanya Sasha.


"Kebetulan mereka juga lagi keluar, makanya Willy dititipin ke kita." jawab Randi.


"Oh ya, lu kesini pasti mau jenguk Willy kan?" tanya Thoriq kepada Sasha.


"Bener banget! Tadi pagi kan gue gak sempat jenguk dia karena takut telat, nah makanya sekarang gue datang lagi buat ketemu sama Willy sekalian kasih makanan ini." jawab Sasha.


"Wih enak banget si Willy dibawain makanan terus, kita jadi kepengen juga nih!" ucap Thoriq.


"Heh jangan celamitan gitu!" tegur Randi.


"Hehe bercanda Ran.." ujar Thoriq nyengir.


"Yaudah, gue boleh kan masuk ke dalam?" tanya Sasha pada keduanya.


"Iya, boleh kok. Lu masuk aja gih!" jawab Thoriq.


"Oke thanks!" ucap Sasha tersenyum.


Sasha pun melangkah masuk ke dalam ruangan itu untuk menjenguk Willy, sedangkan Thoriq dan Randi kembali duduk disana.


Thoriq menatap wajah Randi yang seperti sedang bersedih, ia tersenyum renyah seakan meledek Randi karena pria itu terlihat sedih ketika Sasha hanya perduli dengan Willy.


"Ahaha, ini yang lu bilang gak suka? Masa sampe sedih begitu sih?" goda Thoriq.


Randi pun menoleh ke arah Thoriq dengan tatapan sinisnya, membuat Thoriq kaget dan hanya bisa mengelus dada.


Tak lama kemudian, giliran Aurora yang muncul disana dan membuat Randi serta Thoriq merasa kebingungan saat ini.


"Halo guys!" ucap Aurora menyapa mereka.


"Halo Aurora! Baru pulang sekolah ya?" ucap Thoriq sambil tersenyum.


"Iya nih, gue langsung kesini soalnya mau jenguk Willy. Dia masih boleh dijenguk kan?" ucap Aurora.


"Boleh kok, tapi..." ucap Thoriq menggantung.


"Tapi apa?" tanya Aurora kebingungan.


"Eee gimana ya ceritanya...??" Thoriq tampak bingung dan ragu untuk berbicara pada Aurora kalau ada Sasha di dalam sana.


"Eh Rora, itu muka lu kenapa? Kok merah begitu? Kayak bekas ditampar orang," tanya Randi mengalihkan pembicaraan.


"Oh ini, iya tadi mungkin gara-gara kepanasan kali. Makanya jadi merah begini," jawab Aurora berbohong.


"Ohh kirain abis ditampar orang, syukur deh kalo cuma karena kepanasan!" ucap Randi tersenyum.


"Cewek cantik mah begitu ya, kena panas dikit aja langsung merah tuh kulit." ujar Thoriq nyengir.


"Ah bisa aja lu!" ucap Aurora tersipu.


Thoriq pun melirik ke arah Randi, meminta saran dari Randi bagaimana caranya untuk mengatakan pada Aurora mengenai Sasha.


***


Sementara itu, Sasha sudah berada di dalam dan tengah berbicara dengan Willy yang tentunya masih terbaring di atas ranjang.


Terlihat Willy hanya menanggapi Sasha dengan dingin tidak seperti ketika ia bersama Aurora.


Entah mengapa dari dulu hingga sekarang, Willy belum bisa menerima Sasha walau ia tahu betul bahwa Sasha menyukai dirinya.


"Wil, mau gue suapin gak?" tanya Sasha.


"Gausah, gue udah kenyang kok. Harusnya lu gak perlu repot-repot bawain makanan kayak gini! Gue disini kan udah dirawat sama orang tua gue, ada teman-teman gue juga dan pihak rumah sakit. Jadi, gue gak mungkin kekurangan makanan kok." jawab Willy menolak tawaran Sasha.


"Oh gitu, iya deh sorry ya! Tapi, kenapa lu selalu terima kalau Aurora yang bawain makanan buat lu? Sedangkan gue, malah lu tolak mentah-mentah kayak gitu! Apa salah gue sih Wil? Kenapa lu selalu begitu sama gue?" ucap Sasha keheranan.


"Eee lu gak salah Sya, mungkin emang gue aja yang gak terlalu suka sama lu." kata Willy.


Sasha sungguh sakit mendengar ucapan Willy barusan, perkataan pria itu benar-benar menusuk ke jantungnya dan seketika Sasha hendak menangis disana.


"Willy..."


Mereka kompak menoleh ke asal suara, mata Sasha terbuka lebar saat melihat Aurora muncul membuka pintu dan menghampiri mereka.


Sementara Willy justru tersenyum menatap Aurora dan nampak senang dengan kehadiran Aurora disana.


Sasha menyadari itu, ia pun emosi dan bangkit dari duduknya.


"Lu mau ngapain lagi sih, ha? Gue kan tadi udah peringati lu waktu di parkiran, apa lu lupa? Atau pura-pura gak dengar?!" bentak Sasha kesal.


"Loh lu kenapa sih Sasha? Gue kesini kan mau jenguk Willy juga kayak lu, emang salah ya?" ucap Aurora mencoba santai.


"Halah gausah cari muka deh lu!" geram Sasha.


"Hey, Sasha, Aurora sudah hentikan jangan ribut! Kalian ini apa-apaan sih, ini kan di rumah sakit bukan pasar!" ucap Willy menegur keduanya.


"Bukan aku yang mulai loh Wil, aku juga heran kenapa dia gak suka banget sama aku!" ucap Aurora.


"Ya jelaslah, karena lu itu cuma cari muka disini! Dan lu gak bener-bener tulus mau bantu Willy, pasti ada sesuatu kan!" ucap Sasha.


"Sesuatu apa coba?" ujar Aurora tak mengerti.


"Halah pake pura-pura lagi lu, ngaku aja kali gue udah tahu kok maksud lu!" ucap Sasha.


"Apaan sih Sasha!" elak Aurora.


"Sasha cukup! Lu jangan bikin keributan dong disini! Biarin aja Aurora gabung sama kita, atau kalo lu gak mau Aurora ada disini yaudah lu aja yang keluar sana!" ujar Willy kesal.


"Hah? Kok lu gitu sih Wil? Lu ngusir gue gitu? Lu lebih pilih dia dibanding gue?" ujar Sasha.


"Gue pilih orang yang gak suka bikin keributan, jadi kalo lu mau disini ya lu harus bisa ikutin peraturan disini!" tegas Willy.


Sasha terdiam menatap Aurora dengan sinis, sedangkan Aurora hanya menunduk sambil senyum-senyum merasa puas.


Willy pun beralih menatap Aurora, meminta gadis itu mendekatinya sambil tersenyum.


"Rora, sini dong deketan jangan jauh-jauh kayak gitu!" ucap Willy.


Sasha pun terkejut mendengarnya, matanya terbelalak lebar tak percaya dengan apa yang barusan diucapkan Willy.


Sementara Aurora maju mendekat ke arah Willy sesuai perintah pria itu, tangannya langsung digenggam oleh Willy dan dielus lembut.


"Gimana sekolahnya tadi?" tanya Willy pada Aurora.


"Eee lancar kok kayak biasa, cuma ya rada pusing dikit pas pelajaran MTK tadi." jawab Aurora gugup.


"Bagus deh! Terus, tadi pagi gak telat kan?" ucap Willy bertanya lagi pada gadis itu.


"Enggak kok, aman." jawab Aurora sambil tersenyum.


"Syukurlah!" ucap Willy.


Sasha semakin tak tahan dengan sikap Willy, ia pun pergi dari sana meninggalkan Willy dan Aurora dengan perasaan jengkelnya.


"Gapapa, gue sengaja biar dia keluar. Jadi, gue bisa leluasa berduaan sama lu." jawab Willy santai.


"Hah? Kenapa lu pengen berduaan sama gue? Alasannya apa?" tanya Aurora tak mengerti.


"Entahlah, gue suka aja kalo berduaan sama lu. Dibanding sama Sasha, gue lebih suka kalo ditemenin sama lu." jelas Willy.


"Ada-ada aja lu ah!" ujar Aurora tersipu.


***


Pak Gunawan dan Bu Ani kembali ke rumah sakit membawa perlengkapan Willy dari rumahnya.


Mereka langsung disambut oleh Thoriq serta Randi yang tetap berada disana sedari tadi.


"Eh om sama tante udah balik," ucap Thoriq.


"Iya Thoriq, di dalam ada siapa aja?" tanya Bu Ani.


"Eee ada..." ucap Thoriq menggantung karena tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.


Ceklek...


Terlihat Sasha keluar dengan wajah murung, membuat keempat orang yang ada disana merasa heran sekaligus bingung.


"Loh nak Sasha? Kamu udah selesai jenguk Willy nya?" tanya Bu Ani terheran-heran.


"Eh tante, om, iya nih aku baru selesai." jawab Sasha sembari mencium tangan mereka.


"Cepet amat dah, perasaan baru beberapa menit lalu lu masuk ke dalam. Apa jangan-jangan lu keluar gara-gara ada Aurora ya?" celetuk Thoriq.


"Eee enggak kok, ini gue emang pengen pulang aja dulu. Mau mandi terus ganti baju, baru deh nanti gue kesini lagi." jelas Sasha.


"Oh gitu, kirain.." ujar Thoriq.


Sasha hanya tersenyum dan coba menahan emosi di dalam hatinya.


"Yaudah ya om, tante, kalian berdua. Aku mau pulang dulu, udah gerah juga." ucap Sasha pamit kepada mereka semua.


"Iya Sasha, hati-hati ya! Kamu pulang sama siapa sayang?" tanya Bu Ani.


"Umm kebetulan aku bawa motor, jadi aku pulang sendiri tante." jawab Sasha.


"Oh gitu, yaudah kamu hati-hati ya cantik!" ucap Bu Ani mengusap rambut Sasha.


"Iya tante," ucap Sasha singkat.


Sasha pun pergi dari sana setelah berpamitan pada mereka semua, sedangkan Gunawan serta Ani masuk ke dalam meninggalkan Thoriq dan Randi berdua di depan sana.


"Thoriq, Randi, om sama tante masuk ke dalam dulu mau lihat Willy?" ucap Bu Ani.


"Iya tante, siap!" ucap Randi tersenyum.


Kedua orang tua Willy itu melangkah masuk ke dalam, mereka sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Willy yang saat ini bersama Aurora.


"Ran, gue yakin tadi si Sasha keluar karena dia gak suka lihat Willy sama Aurora. Pasti dia cemburu tuh, kelihatan loh dari mukanya tadi kalau dia agak bete gitu." ujar Thoriq pada Randi.


"Ah udah lah, gausah ngomongin orang! Biar Sasha sendiri aja yang urus!" ucap Randi.


"Yeh lu mah begitu mulu sih Ran, gak asik lu orangnya!" cibir Thoriq.


"Biarin aja, abisnya lu kerjaannya ngomongin orang mulu!" ujar Randi.


"Gapapa dong bro, gue kan gabut cuma diem disini doang daritadi. Sesekali kita ngomongin orang kan gapapa," ucap Thoriq.


"Yaudah, lu ajak aja tuh tembok buat ngomongin orang!" perintah Randi.


"Yeh tar gue dikira orang gila sama perawat disini, terus gue malah dibawa ke RSJ!" ujar Thoriq.


"Kan lu emang gila bro," ucap Randi terkekeh.


"Hmm gak asik lu!" ujar Thoriq membuang muka.


Randi masih terus terkekeh sembari menutup mulutnya.


***


Pak Gunawan dan Bu Ani masuk ke dalam, mereka tak sengaja melihat Willy serta Aurora sedang berpegangan tangan disana.


Sontak saja Aurora langsung menarik tangannya lepas dari genggaman Willy saat menyadari ada orang tua Willy yang masuk ke dalam.


"Loh loh, kenapa dilepas sayang? Udah bagus kalian pegangan tangan," ujar Bu Ani.


"Iya benar tuh, gausah takut kalo sama kita mah." sahut pak Gunawan sambil nyengir.


"Apaan sih pah, mah! Tadi aku gak sengaja doang kok pegang tangan Aurora, bukan maksud aku buat begitu." elak Willy.


"Oh gitu, padahal mah ngaku aja kali Wil kalo emang suka pegang tangan Aurora!" goda pak Gunawan.


"Ahaha, udah ah pah kasihan tuh Willy wajahnya sampe merah gitu!" ujar Bu Ani.


"Iya juga ya Bu, berarti kalo gitu bener dong apa yang bapak duga tadi. Willy emang suka tuh pegang-pegang tangannya Aurora," ujar Gunawan.


"Pak, Bu, udah lah jangan begitu! Gak enak tau sama Aurora!" ucap Willy.


"Kenapa gak enak? Bukannya enak ya kalo kamu elus-elus tangan Aurora?" goda pak Gunawan.


"Apaan sih pak! Aku gak kayak gitu kok, kan udah dibilang aku gak sengaja pegang tangan Aurora. Kalau bapak kayak gitu terus, nanti yang ada Aurora malah gak suka!" ucap Willy.


"Yaudah iya, tapi kamu gausah malu-malu gitu kali! Kalau emang gak sengaja, ya biasa aja ekspresinya dong!" ucap pak Gunawan.


"Siapa yang malu? Aku biasa aja kok," ujar Willy.


"Ah masa? Kelihatan banget loh itu kalau kamu malu, dan malu itu tandanya kamu ngerasa apa yang bapak bilang tuh benar!" ucap pak Gunawan.


"Pak, udah udah cukup! Kita kan kesini bawa makanan dan baju-baju Willy, bukan mau godain dia terus." kata Bu Ani.


"Hehe, iya Bu." ucap pak Gunawan nyengir.


"Eee om, tante. Selamat siang!" ucap Aurora yang baru berbicara sembari mencium tangan kedua orang tua Willy itu.


"Iya Aurora, siang juga! Kamu baru pulang sekolah langsung kesini ya?" ucap pak Gunawan.


"Eee iya om, benar! Sesuai yang tadi aku bilang pas pagi, begitu pulang sekolah aku bakal langsung datang kesini. Dan aku juga bawain kue buat Willy supaya bisa dimakan sehabis dia makan siang nanti," jawab Aurora.


"Waduh enak banget tuh pasti! Makasih ya cantik!" ucap pak Gunawan tersenyum.


"Iya Aurora, makasih ya kamu udah perduli sekali dengan Willy!" sahut Bu Ani.


"Sama-sama om, tante. Aku kan udah anggap Willy sebagai sahabat aku, jadi aku mau bantu Willy sampai dia bisa keluar dari sini." kata Aurora.


"Nah, terus nanti kalau Willy udah keluar giliran dia yang nanti kamu ya!" ucap pak Gunawan.


"Boleh tuh pak, itung-itung aku balas budi sama Aurora. Dia ini kan banyak banget bantu aku," ucap Willy tersenyum ke arah Aurora.


"Ah gak perlu begitu lah Wil! Aku bantu kamu ikhlas kok, aku gak ngarepin balasan apa-apa." ucap Aurora menolak.


"Gapapa Aurora," ucap Willy.


Willy terus menatap wajah Aurora hingga gadis itu merasa gugup dan hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya.


Sementara pak Gunawan terlihat senyum-senyum sembari menyenggol lengan Bu Ani ketika melihat putranya bertatapan dengan Aurora.


"Lihat tuh Bu, itu yang dibilang gak suka katanya?" bisik pak Gunawan di telinga Bu Ani.


Bersambung....