
My love is sillie
Episode 110
•
"Ish, apaan sih lu?! Lepasin gak tangan gue!!" bentak Sasha emosi.
"Aku akan lepasin, asal kamu bolehin aku buat masuk ke dalam!" ujar Ilham.
"Lu kenapa maksa-maksa gitu sih? Gue udah bilang gak boleh, ya gak boleh. Lu gak bisa maksa main ke rumah orang gitu aja dong!" kesal Sasha.
"Aku cuma mau ngobrol-ngobrol sama kamu Sya, aku janji gak akan macam-macam!" paksa Ilham.
"Tetep aja gak boleh, jangan maksa!" tegas Sasha.
"Please lah Sasha, kali ini aja kok! Lain kali aku gak akan datang lagi ke rumah kamu, aku janji! Kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Ilham.
"Gue gak percaya, lu itu cuma besar omongan doang! Udah ah sana pergi!" ujar Sasha kesal.
Ilham melemahkan pegangannya, membiarkan Sasha lepas dari genggamannya.
"Oke deh, aku bakal pergi. Tapi, tolong kamu mau jalan sama aku nanti malam ya!" ucap Ilham dengan nada memelas.
"Jalan? Idih ogah banget, gak mau gue!" ujar Sasha menolak mentah-mentah ajakan Ilham.
"Kok gitu sih kamu? Emangnya kamu gak kasihan apa sama aku?" tanya Ilham jengkel.
"Buat apa kasihan?" ucap Sasha.
"Ya kasihan dong, aku ini kan butuh teman buat diajak jalan tau Sasha!" ucap Ilham.
"Gue gak perduli!" tegas Sasha.
"Kok gitu sih? Please lah Sasha, kamu masa gak mau sih temenin aku?!" bujuk Ilham.
"Iya gue gak mau, udah sana pergi!" ujar Sasha.
"Kalo aku gak mau pergi gimana? Pokoknya aku bakal tetap disini, sampai kamu mau ikut sama aku nanti malam!" ucap Ilham kekeuh.
"Lo itu keras kepala banget ya! Gue udah bilang, lu pergi dari sini sebelum abang gue lihat! Gue yakin banget, dia gak akan segan-segan buat mukul lu kalau dia ngeliat lu disini!" ucap Sasha.
"Aku gak takut Sya, aku akan terus berjuang demi kamu mau jadi pacar aku!" ucap Ilham.
Sasha menggeleng kesal, baru saja ia hendak masuk ke dalam, namun kemunculan seorang pria dari arah depan membuatnya terkejut.
"Heh! Ini ada apaan?" ucap pria tersebut.
Mereka berdua langsung menoleh ke arah si pria secara bersamaan.
Sasha yang mengetahui kemana pria itu adalah kakaknya, tampak terkejut hebat.
"Bang Ferro?" ucap Sasha spontan.
"Sya, dia siapa? Dia ganggu kamu?" tanya Ferro.
"Eee di-dia..." Sasha terlihat gugup dan bingung.
"Halo bang! Salam kenal, gue Ilham teman sekolahnya Sasha! Gue kesini bukan mau ganggu dia kok," potong Ilham.
"Terus lu mau apa? Gue lihat dari jauh kayaknya lu maksa-maksa adik gue, apa maksudnya ha?!" ucap Ferro penuh emosi.
"Gue gak maksa kok bang, gue cuma minta tolong sama adik lu buat temenin gue." ujar Ilham.
"Iya bang, tapi aku udah bilang gak mau, eh dia masih tetap maksa." sahut Sasha menjelaskan ucapan Ilham.
Sontak Ferro bertambah emosi dan mendekat ke arah Ilham seraya menggulung lengan panjangnya.
"Itu sama aja lu udah paksa adik gue, dan gue sebagai abangnya gak terima dengan itu!" ucap Ferro melotot ke arah Ilham.
"Bang, gu-gue.." ucap Ilham gugup.
Bughh...
******
"Ah udah lah, jangan kelamaan ngobrol disini! Bosen tau cuma duduk-duduk doang," ujar Geri.
"Gak sabaran amat lu Ger!" ujar Billy.
"Ya iyalah, gue gak bisa kalau cuma duduk sambil ngobrol kayak gini." kata Geri.
"Yaudah, kita cabut aja sekarang yuk!" ucap Billy.
"Gak koordinasi sama Ilham dulu Bil?" tanya Choky.
"Biarin aja, Ilham gak mungkin juga larang kita! Lagian kalau gue telpon dia sekarang, takutnya dia malah keganggu!" jawab Billy.
"Iya juga sih," ucap Choky singkat.
"Udah lah, ayo kita langsung gas berangkat!" ucap Geri.
"Gas!" sahut yang lainnya bersamaan.
Akhirnya para anggota black jack itu langsung bangkit dari tempat duduk mereka dan bersiap pergi.
Namun, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka dan membuat orang-orang itu mengurungkan niatnya.
"Mobil siapa tuh?" tanya Choky heran.
"Ini kayak mobilnya bang Martin," ucap Billy.
Lalu, seorang pria turun dari mobil itu dan menatap mereka secara bergantian.
"Mau kemana kalian?" tanya Martin dingin.
"Eh bang, ternyata benar lu yang datang. Ini loh kita baru aja mau jalan-jalan, bosen soalnya disini terus." jawab Billy.
"Oh gitu, si Ilham mana?" tanya Martin lagi.
"Eee Ilham belum dateng bang, gak tahu juga sih dia mau datang apa enggak." jawab Billy.
"Emang dia gak sering kesini?" tanya Martin.
"Enggak sih bang, kadang datang kadang enggak. Ya maklum ajalah kan dia ketua kita, jadi terserah dia mau datang apa enggak." jawab Billy.
"Iya bang, emang kenapa lu tanyain si Ilham? Lu mau ketemu ya sama dia?" tanya Choky.
"Ya, ada yang gue mau bahas sama si Ilham. Coba dong kalian telpon dia dan bilang kalau gue cari dia!" ujar Martin.
"Siap bang, gue telpon Ilham sekarang!" ujar Billy.
Billy mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Ilham.
Namun, lagi-lagi nomor Ilham tidak bisa dihubungi dan membuat Billy jengah.
"Kenapa?" tanya Martin.
"Nomornya gak aktif bang," jawab Billy.
"Haish, kalian ada yang tahu gak dia suka pergi kemana?" tanya Martin pada mereka.
Semuanya kompak menggeleng.
"Ah payah kalian! Masa ketuanya suka pergi kemana aja gak tahu?!" kesal Martin.
"Maaf bang! Tapi, si Ilham emang gak punya tempat nongkrong lain selain disini. Setahu kita, dia itu kalo di luar cuma ke sekolah atau ke tempat temannya." jawab Billy.
"Yaudah, ada yang tahu teman Ilham itu siapa dan dimana rumahnya?" tanya Martin lagi.
"Itu juga kita gak tahu bang, hehe.." jawab Billy.
Martin menggeleng kesal.
"Yasudah, saya mau balik. Kalian kabari saja Ilham kalau saya cari dia!" pinta Martin.
"Siap bang!" ucap mereka serentak.
******
Keesokan harinya, Willy baru saja melepas gips yang ia kenakan selama beberapa hari itu sesuai aturan dokter.
Ya saat ini Willy berada di rumah sakit bersama kedua orangtuanya dan juga Aurora yang setia menemani lelaki itu.
Kebetulan hari ini memang Willy dan Aurora libur sekolah, dikarenakan hari Sabtu sekolah mereka libur.
"Nah, kamu sekarang sudah bisa gerakin tangan kamu ini! Tapi, pelan-pelan dulu aja jangan terlalu bersemangat! Takutnya nanti terjadi apa-apa lagi!" ucap dokter pada Willy.
"Baik dok, terimakasih!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Sama-sama," ucap dokter itu.
"Wah Bu, pak, tangan aku sekarang udah bisa digerakin lagi nih!" ucap Willy tampak senang dan terus menggerakkan tangannya.
"Bagaimana Willy? Apa masih terasa sakit di tangannya?" tanya dokter itu.
"Enggak kok dok, justru tangan saya kayak enteng banget gitu buat digerakin." jawab Willy.
"Baguslah, tandanya kamu memang sudah sembuh dan tidak ada masalah lagi. Tapi tetap saja, kamu belum boleh berantem saat ini!" ujar dokter itu.
"I-i-iya dok.." ucap Willy lirih.
"Tuh sayang, denger kata dokter ya!" timpal Aurora.
"Aku denger kok sayang, kan aku juga punya telinga." ucap Willy sambil nyengir.
"Yaudah, jangan berantem terus!" ujar Aurora.
"Iya iya cantik.." ucap Willy tampak gemas pada ekspresi Aurora saat ini.
"Hahaha, nurut ya sama pacar kamu sayang! Kalau berantem lagi mending kamu tinggalin aja deh si Willy, nak Aurora!" ujar Bu Ani.
"Pasti Bu, aku juga gak mau punya pacar yang gak nurut!" ucap Aurora.
"Yah jangan dong! Kalau kamu tinggalin aku, terus aku sama siapa?" ujar Willy.
"Ya makanya kamu nurut, gak boleh berantem terus takut tangan kamu nanti kenapa-napa lagi!" ucap Aurora.
"Iya, kan aku udah nurut." ucap Willy.
Aurora tersenyum saja sembari terus mengusap lengan kekasihnya dengan lembut.
"Terimakasih ya dok! Ini putra saya bisa pulang kan sekarang?" ucap Bu Ani pada dokter disana.
"Tentu Bu, pasien diperbolehkan pulang karena lukanya sudah sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Ya tapi itu tadi, tangannya masih gak boleh digerakkan terlalu berlebihan, apalagi berantem." ucap dokter.
"Baik dok! Nanti saya juga akan ingatkan terus putra saya ini, supaya dia gak nakal dan mau nurut sama kata dokter." ucap Bu Ani.
"Iya dok, kalau perlu nanti saya juga cambuk dia biar gak bandel!" sahut pak Gunawan.
"Waduh!" ujar Willy panik.
"Hahaha..." mereka tertawa bersamaan.
******
Ayna pergi ke cafe seorang diri karena ia ingin menikmati me time setelah cukup banyak masalah yang menimpa kehidupannya.
Gadis itu cukup lelah dengan pengekangan yang dilakukan sang kakak padanya, ya tentu alasannya karena ia tak boleh dekat dengan Tedy atau Randi.
Kini Ayna terduduk di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai, ia memilih bangku di pojok agar bisa lebih menyendiri.
"Permisi kak, ini pesanannya!" ucap seorang pelayan menaruh gelas di meja Ayna.
"Iya, terimakasih!" ucap Ayna singkat disertai senyum tipisnya.
"Sama-sama kak, selamat menikmati!" ucap pelayan itu ramah.
Setelah sang pelayan pergi, Ayna mulai mencoba untuk meminum kopi yang ia pesan sedikit demi sedikit agar perasaannya bisa lebih tenang.
"Huft, sampai kapan aku harus sabar ngadepin sikap kak Geri?" gumam Ayna.
Disaat Ayna sedang melamun sembari mengaduk-aduk minuman miliknya, tiba-tiba saja seorang pria muncul di hadapannya sambil terus tersenyum ke arahnya.
"Hey! Kamu lagi ngapain?" tanya pria itu.
"Hah? Ka-kamu.." Ayna sontak terkejut melihat Randi juga berada di cafe itu.
"Iya, hai Ayna!" sapa Randi sambil duduk di sebelah gadis yang masih tercengang itu.
"Ha-hai juga! Tapi, kamu kok bisa ada disini?" ujar Ayna gugup.
"Aku emang kerja disini, kamu lihat nih pakaian aku kayak gini!" jawab Randi.
Ayna pun mengarahkan pandangannya ke tubuh Randi dari atas sampai bawah.
"Kamu jadi pelayan disini?" tanya Ayna.
Randi mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu kok gak pernah bilang sih? Tahu gitu tadi aku gak mau dilayanin sama orang lain, maunya sama kamu aja." ucap Ayna.
"Tadi aku sebenarnya lihat kamu datang kesini, tapi aku sengaja gak mau samperin kamu." ucap Randi.
"Loh kenapa? Kamu gak suka ya dekat-dekat sama aku?" tanya Ayna tampak sedih.
"Bukan gak suka, aku tadi jaga-jaga aja takutnya kamu datangnya sama kakak kamu." jawab Randi.
"Ohh, kamu takut ya sama kak Geri?" goda Ayna.
"Gak takut juga sih, cuma aku gak mau cari ribut sama kakak kamu itu. Apalagi kondisinya sekarang aku lagi di tempat kerja," jelas Randi.
"Iya iya, aku paham. Tapi, sekarang aku datang sendiri kok gak sama kak Geri." ucap Ayna.
"Aku tahu, kan aku udah lihat. Makanya aku berani samperin kamu sekarang," ucap Randi.
"Berarti kamu mau dong temenin aku ngopi disini?" tanya Ayna sambil tersenyum manis.
"Sure, aku bisa temenin kamu dan siap dengerin curhat kamu. Aku tahu kamu lagi ada masalah, ya kan?" ucap Randi.
Ayna membalas dengan anggukan kecil.
******
Sementara itu, Willy sekarang sudah bersama Aurora di dalam mobil dan tengah menuju cafe terdekat untuk menikmati momen berdua.
Ya sebelumnya mereka sudah mengantarkan Bu Ani serta pak Gunawan pulang ke rumah, barulah mereka meminta izin untuk pergi berdua.
"Sayang, makasih ya kamu udah setia dan mau temenin aku selama tangan aku sakit!" ucap Willy seraya menempelkan tubuhnya pada Aurora dan merangkul pundak wanita itu.
Aurora tersenyum menatap wajah Willy dengan jari telunjuknya mencolek dagu pria itu.
"Sama-sama sayang, aku kan pacar kamu, jadi aku emang harus temenin kamu dong disaat kamu susah ataupun senang." ucap Aurora.
"Bagus itu! Janji ya kamu akan selalu temenin aku apapun keadaannya! Awas loh kalo kamu nanti tiba-tiba kabur!" ujar Willy.
"Iya iya, aku janji kok sayang!" ucap Aurora.
Willy semakin merapatkan tubuhnya dengan Aurora, ia juga menarik leher Aurora dan mulai menciumi kening sampai hidung sang kekasih.
"Ih udah ah malu tau ada pak Ridho, kamu mah selalu gak tahu tempat!" ujar Aurora.
"Hahaha.." Willy justru tertawa dan tak menghentikan kegiatannya.
"Gapapa non, saya udah biasa kok lihat orang mesra-mesraan kayak gitu." ucap Ridho sang supir.
"Iya pak, maafin kelakuan pacar saya ya! Dia emang lebay banget, mentang-mentang tangannya sekarang udah sembuh!" ucap Aurora.
Ridho pun tersenyum lebar sembari menggelengkan kepalanya.
"Huh kok lebay sih sayang? Aku bukan lebay, tapi aku mau tunjukin ke kamu betapa aku menyayangi kamu!" ucap Willy.
"Iya iya, suka-suka kamu aja mau bilang apa! Sekarang kamu stop cium-cium aku, atau aku turunin kamu disini!" ucap Aurora.
"Yeh masa diturunin disini? Katanya minta ditemenin ke cafe?" ujar Willy.
"Ya makanya kamu jangan kayak gini sayang!" ucap Aurora.
"Hahaha, iya iya deh.." Willy menurut dan akhirnya berhenti menciumi wajah Aurora.
Namun, Willy masih tetap merangkul pundak Aurora dan merapatkan tubuh mereka seraya mengusap puncak kepala wanitanya itu.
"Kamu cantik banget sayang!" puji Willy.
"Iya, kamu juga ganteng!" balas Aurora.
Tiba-tiba saja, Ridho sang supir menghentikan mobilnya dan membuat sepasang kekasih itu kebingungan.
"Loh pak, kok berhenti sih?" tanya Aurora.
"Kita sudah sampai non, kan tadi non bilang mau ke cafe." jawab Ridho.
"Hah? Oh iya, hehe.." ujar Aurora nyengir.
"Huu dasar pelupa kamu!" cibir Willy sembari mencubit hidung kekasihnya.
"Ih sakit sayang!" protes Aurora.
Bersambung....