My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 78. Gak bisa tidur



My love is sillie


Episode 78



"Aku gak akan maksa kamu kok, tapi selama kamu belum bisa terima cinta aku maka aku gak akan lepasin kamu dari sini." ucap Max.


"Gue mau keluar dari sini Max!" pinta Aurora.


"Sabar sayang! Kamu harus bisa jatuh cinta dulu sama aku, baru deh aku bakal lepasin kamu dari sini." ucap Max sambil tersenyum.


"Sampai kapanpun, itu gak akan mungkin terjadi. Gue gak mungkin bisa jatuh cinta sama lu, gue ini cuma cinta sama Willy!" tegas Aurora.


"Ya terserah kamu aja sih, tapi kamu juga gak akan keluar dari sini sampai kapanpun." ucap Max.


Aurora menatap tajam ke arah Max, tangannya terkepal kuat menandakan betapa emosinya ia saat ini.


Plaaakk...


Aurora menampar wajah Max dengan kasar hingga memerah.


Max cukup terkejut dengan itu, namun ia hanya tersenyum sembari memegangi wajahnya.


"Udah puas?" tanya Max sedikit mengejek.


"Enggak, gue belum puas. Gue baru bakal puas, kalau gue bisa keluar dari sini. Sekarang mending lu cepat buka pintunya dan bebasin gue!" jawab Aurora dengan tegas.


"Udah berkali-kali aku bilang, kamu gak mungkin bisa lepas dari sini sayang! Kamu itu milik aku, jadi kamu harus terus disini sama aku!" ujar Max.


"Lu benar-benar gila Max! Gue nyesel pernah kenal sama lu!" umpat Aurora.


"Terserah apa kata kamu sayang, intinya aku gak akan pernah lepasin kamu dari sini. Kamu cuma bisa lepas, kalau kamu mau terima cinta aku dan kita berdua pacaran." ucap Max.


"Itu cuma akan terjadi di mimpi lu, gue ini cinta sama Willy dan hanya Willy yang gue sayangi. Mau sekeras apapun lu berusaha, tetap aja gue gak akan pilih lu!" ucap Aurora.


"Oke, kita lihat aja ke depannya nanti! Kamu masih bisa bertahan atau enggak?" ucap Max.


Aurora hanya terdiam memalingkan wajahnya, sungguh malas ia meladeni Max karena tak akan ada ujungnya.


"Aku keluar dulu, kalau kamu butuh apa-apa tinggal panggil aja nama aku ya!" ucap Max.


Aurora tak menjawab, ia masih tampak kesal dengan Max karena sudah menculiknya dan mengurungnya disana.


Max pun berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Aurora disana, tak lupa Max juga menutup pintu serta menguncinya rapat-rapat.


"Gue harus gimana sekarang?" gumam Aurora.


***


Max yang sudah keluar dari kamar itu, merasa bingung juga.


Jujur saja Max khawatir jika rencananya kali ini tidak berjalan mulus dan malah membahayakannya.


Disaat Max sedang bengong, tiba-tiba Ilham datang menghampirinya dengan wajah bingung.


Pukkk...


"Oi! Lu ngapa sih bengong aja kayak gitu? Harusnya lu bahagia dong, kan gue udah berhasil bawa Aurora kesini. Bukannya ini yang lu mau kan?" ucap Ilham sambil menepuk pundak Max.


"Iya Ham, emang ini yang gue mau. Tapi, gue takut aja kalau apa yang kita lakuin sekarang ini bisa jadi masalah buat kita." ucap Max.


"Maksud lu gimana sih Max? Masalah apa?" tanya Ilham tak mengerti.


"Ya entahlah, pokoknya masalah. Daritadi gue selalu mikirin ini, gue takut bokapnya Aurora gak terima dan cari-cari Aurora nantinya." jelas Max.


"Ohh, ya kalo itu sih jelas." ujar Ilham.


"Nah kan, gimana gue gak panik coba?" ujar Max.


"Yah elah Max Max, gitu aja masa panik sih?! Biarin ajalah kalo bokapnya si Aurora nyariin anaknya, itu kan hal yang wajar. Tapi, dia gak akan mungkin bisa temuin kita disini. Jadi, udah lu tenang aja gausah panik ya!" ucap Ilham.


"Huh semoga deh! Sekarang kayaknya lu siapin makanan deh buat Aurora, dia pasti lapar tuh. Gue gak mau lah cewek yang gue sayang jatuh sakit karena kelaparan," ucap Max.


"Siap Max! Lu tenang aja, kita semua bakal rawat Aurora sebaik mungkin!" ucap Ilham.


"Bagus!" ucap Max singkat.


"Yaudah, kalo gitu gue mau keluar sebentar. Lu atau para anak-anak yang lain, jangan ada yang berani sentuh Aurora!" ucap Max.


"Oke Max, tenang aja! Gue juga tahu kok, lu pasti gak pengen ada cowok lain yang nyentuh si Aurora. Tapi, kenapa kita gak habisi aja si Willy itu supaya lu bisa leluasa memiliki Aurora?" ujar Ilham.


"Gue juga maunya begitu, tapi apa daya kekuatan kita belum cukup buat habisin dia." ucap Max.


"Lu jangan merendah gitu lah Max! Gue tahu, lu itu petarung mma yang sakti. Masa lu gak bisa hadapi Willy dan habisin dia?" ucap Ilham.


"Ini gak ada hubungannya sama petarung mma, karena kita kan tarungnya di jalan. Willy itu orangnya brutal, bisa bahaya kalo kita gak cekatan halau serangan dia. Makanya semua itu harus dipikirin matang-matang dulu!" ucap Max.


"Terus, rencana lu gimana Max? Gue yakin banget, Willy pasti kerahin anak-anak the darks buat cari Aurora. Bukan gak mungkin mereka bakal dateng kesini nantinya," ucap Ilham.


"Loh gimana sih? Tadi lu bilang, mereka gak akan mungkin temuin tempat ini." kata Max.


"Yang gue maksud itu kan bokapnya si Aurora, kalau si Willy ya ada kemungkinan bakal bisa temuin tempat ini. Lu tahu sendiri lah, Willy itu bisa melakukan apapun buat temuin Aurora. Apalagi Aurora pacarnya, pasti dia gak akan nyerah gitu aja." ujar Ilham.


"Jangan sebut itu di depan gue!" ucap Max.


"Hehe, iya iya. Sensi amat sih lu Max! Terus sekatang gimana? Apa yang harus gue lakuin kalau Willy sama the darks dateng kesini?" ucap Ilham.


"Ya apa lagi? Lu pada tahan dia lah, supaya dia gak bisa temuin Aurora disini!" jawab Max.


"Oh oke, siap Max!" ucap Ilham.


"Yaudah, gue percayai semuanya sama lu. Sekarang gue harus pergi, banyak urusan lain di luar sana yang harus gue urus. Jaga Aurora dengan baik, jangan diapa-apain!" perintah Max.


"Lu gak perlu cemas, gue gak mungkin berani apa-apain cewek lu Max." ucap Ilham.


"Baguslah," ucap Max singkat.


Setelahnya, Max pun pergi dari markas itu dengan tergesa-gesa.


Ilham geleng-geleng kepala, ia tak habis pikir karena Max berani melakukan semua ini.


"Hadeh, gue lagi deh yang repot!" keluhnya.


******


📞"Siap Ran! Oh ya, kondisi Willy gimana?" tanya Zafran penasaran.


📞"Dia baik-baik aja kok, ini gue lagi temenin Willy di klinik. Lu lanjutin aja prosesnya sampai Aurora ketemu, jangan menyerah!" jawab Randi.


📞"Oke Ran! Terus, anak-anak yang lain gimana? Mereka ada disana juga?" tanya Zafran.


📞"Enggak kok, kebetulan mereka tadi udah pada pergi juga buat cari Aurora ke tempat lain." jawab Randi.


📞"Oh gitu, yaudah deh kalo gitu gue cabut dulu ya?" ucap Zafran.


📞"Oke!"


Tuuutttt tuuutttt...


"Zafran belum berhasil temuin Aurora, tadi dia udah datangi markas black jack tapi ternyata mereka semua gak ada disana. Kayaknya sih mereka bawa Aurora ke tempat lain deh," jawab Randi.


"Ah sial! Kalo gitu biar gue sendiri yang cari Aurora, gue gak bisa diem disini aja sementara dia dalam bahaya!" ucap Willy.


"Sabar Wil, tenang! Barusan Zafran juga ngabarin gue, dia lagi mau temuin temannya yang jago melacak. Mungkin dari plat mobil yang lu kasih, dia bisa tahu dimana Aurora sekarang." ujar Randi.


"Oh ya? Emangnya bisa begitu ya?" tanya Willy terheran-heran.


"Tenang aja, kita coba lihat aja hasilnya nanti dari si Zafran! Tapi, ya semoga aja emang bener dan Aurora bisa ditemuin sama mereka!" ucap Randi.


"Iya, Aurora harus ketemu! Gue gak mau bikin bokapnya kecewa dan marah lagi sama gue, karena gue gak bisa jagain anaknya." ucap Willy.


"Lu gak perlu salahin diri lu sendiri! Ini semua bukan salah lu kok, emang anak black jack aja yang suka cari gara-gara. Gue juga gak ngerti, kenapa ya mereka culik Aurora?" ucap Randi.


"Entahlah, tapi gue rasa ini pancingan. Mereka mau supaya gue datang ke tempat mereka dan bebasin Aurora, dengan begitu pasti mereka bakalan hajar gue habis-habisan disana." tebak Willy.


"Bisa jadi sih, berarti lu tinggal tunggu ditelpon aja sama si Ilham atau yang lainnya." ucap Randi.


"Itu kan baru tebakan gue, belum tentu benar. Bisa aja mereka punya rencana lain yang gue gak tahu," ucap Willy.


"Iya sih, emang kurang ajar banget tuh mereka! Abis dipukulin bukannya tobat malah berulah lagi!" umpat Randi.


"Ya iyalah, justru kalo mereka tobat itu yang bikin gue bingung. Mana mungkin orang kayak mereka bisa tobat dan berbuat baik?" ucap Willy.


"Hahaha, iya juga ya.." Randi tertawa kecil.


"Yaudah, sekarang anterin gue pergi dari sini! Gue mau cari Aurora juga, gue gak bisa diem disini doang kayak gini. Aurora butuh gue, dia pasti ketakutan disana Ran!" ucap Willy.


"Sabar Wil! Gue temuin dokter dulu, kalau lu udah boleh pulang baru deh gue bakalan bawa lu keluar dari sini." ucap Randi.


"Tapi, lu harus pulang ke rumah dan istirahat. Urusan Aurora, lu serahin aja ke gue sama anak-anak ya!" sambungnya.


"Lu bicara apa sih? Gimana bisa gue santai-santai di rumah, sedangkan Aurora dalam bahaya? Bagi gue, lebih penting Aurora dibanding segalanya. Gue gak mau dia kenapa-napa, gue sayang sama dia Ran!" ucap Willy.


"Iya Wil iya, gue ngerti. Cuma masalahnya, kondisi lu kan masih lemah bro." ujar Randi.


"Gue gak perduli, pokoknya gue mau cari Aurora sampe ketemu. Gue gak mau kejadian Kiara dulu terulang lagi, kali ini gue harus pertahanin Aurora dan gue gak boleh kehilangan dia!" ucap Willy.


Randi terdiam menatap Willy, ia tahu betul Willy masih trauma mengingat kejadian saat Kiara dibawa kabur oleh Martin dahulu.


"Oke Wil, gue gak bisa larang lu lagi." ucap Randi.


Akhirnya Randi pergi menemui dokter, meninggalkan Willy sendirian disana untuk bicara mengenai kemungkinan Willy dapat pergi atau tidak.


******


Disisi lain, Billy bersama anggota black jack lainnya tengah berkumpul dan berbincang di markas mereka sambil tertawa riang.


Hingga tiba-tiba, Choky mengambil sebuah uang koin dari sakunya dan menunjukkan itu kepada teman-temannya disana.


"Nah guys, coba bayangin deh kalo gue lempar koin ini dari gedung lantai seratus terus kena kepala si Billy. Kira-kira Billy bakal mati apa enggak?" ucap Choky sambil memegang koin.


"Enggak lah, gue kan kuat." jawab Billy.


"Sekuat-kuatnya elu, tetap aja bakal mati kalo kena koin itu. Kan semakin jauh jaraknya, semakin cepat tuh koin geraknya." ucap Dean.


"Nah, gue setuju. Pasti lu bakalan mati, Bil!" sahut Geri.


"Iya juga sih, apalagi koin itu kan lumayan sakit kalo kena kepala. Ditambah jatuhnya dari lantai seratus, beuh bisa berdarah-darah kepala gue." ucap Billy.


"Hahaha, biar gak penasaran, gimana kalau kita coba? Gue yang lempar koinnya, terus lu yang stay di bawah." ujar Choky.


"Yeh lu aja sana yang jadi bahan percobaan!" ujar Billy.


"Ahaha..." mereka semua kompak tertawa terbahak-bahak.


Tak lama kemudian, Ilham datang menghampiri mereka semua disana.


Seketika Billy serta teman-temannya yang lain langsung terdiam begitu melihat Ilham datang.


"Heh! Ngapa pada ketawa-ketawa lu pada? Emangnya lagi bahas apaan sih, sampe bisa ketawa kenceng kayak gitu?" tanya Ilham penasaran.


"Ah enggak kok, tadi kita cuma bercanda aja." jawab Choky.


"Ohh, kirain ada apa." ucap Ilham.


"Eh ya Ham, terus si Aurora kemana sekarang? Udah dikasih makan tuh anak?" tanya Billy.


"Kenapa lu tanyain Aurora? Jangan macam-macam lu sama dia, dia itu punyanya pak ketu!" ucap Ilham.


"Yeh gue cuma nanya, gak ada maksud apa-apa kok." elak Billy.


"Hahaha, si Aurora udah gue kasih makan kok tadi. Udah gue kelonin juga sampe dia tidur, jadi aman sekarang." ucap Ilham.


"Hah? Kelonin? Seriusan lu?" ujar Billy kaget.


***


Sementara itu, Aurora kembali membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur.


Aurora masih belum bisa tidur walau jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Duh, gimana gue bisa tidur coba kalo kayak gini? Gue kangen sama papa, gue juga pengen Willy ada di samping gue! Kalian kemana sih? Apa kalian cariin aku sekarang?" gumam Aurora.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar, Aurora pun terkejut dan reflek menatap ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Aurora sedikit berteriak.


"Ini aku, Max." jawab orang dari luar.


Ceklek...


Pintu terbuka, Max langsung masuk begitu saja menghampiri Aurora yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Kamu kok belum tidur sih sayang? Ini udah malam loh, emangnya gak ngantuk?" tanya Max.


"Gue gak ngantuk! Gue gak bisa tidur kalau disini, gue pengennya pulang!" jawab Aurora ketus.


"Iya sayang, nanti kamu pulang kok. Tapi, untuk sekarang ini kamu tetap disini dulu ya! Aku cuma pengen kamu bisa terima cinta aku sayang, karena aku sayang banget sama kamu! Aku pengen kita berdua jadian!" ucap Max.


"Cih, itu gak akan pernah terjadi!" bentak Aurora.


"Kamu kenapa gitu banget sih? Ayo dong sayang, terima cinta aku ya!" pinta Max.


"Ogah!" umpat Aurora.


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba ponsel milik Aurora yang disimpan oleh Max berdering, sehingga Aurora sadar bahwa itu adalah bunyi handphone miliknya.


"Itu kayak bunyi hp gue," ucap Aurora spontan.


Bersambung....