
My love is sillie
Episode 127
•
Ayna mengangguk pelan, lalu mulai melangkah menuju kamarnya meninggalkan Randi yang sedang meminum minumannya.
Setibanya di kamar, Ayna langsung membuka kaosnya dan memilih baju ganti dari dalam lemari. Ia sejujurnya bingung harus memakai baju apa di depan Randi.
"Duh, aku pake baju apa ya? Mau yang lengan panjang tapi gak nyaman, kalo lengan pendek juga takut Randi marah lagi," gumam Ayna.
Disaat ia sedang asyik memilih pakaian, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan menciumi bahunya yang terbuka. Sontak Ayna terkejut lalu spontan menoleh ke belakang.
"Hah Randi?? Ka-kamu ngapain sih? Aku kan minta kamu tunggu di bawah," ujar Ayna panik.
"Aku penasaran aja, kamu kok lama banget sih ganti bajunya? Makanya aku susul kamu kesini, eh ternyata kamu belum ganti baju," ucap Randi.
Deg!
Ayna semakin panik saat Randi mengecup leher jenjangnya yang terbuka, perasaan aneh menjalar di tubuhnya ditambah dengan tangan Randi yang menggerayangi perut ratanya.
"Ran, ka-kamu ngapain sih? Aku mau ganti baju, kamu tunggu di depan aja ya!" ucap Ayna gugup.
"Gapapa Ayna, kamu ganti baju terus aku disini lihatin kamu," bisik Randi.
Ayna tampak menggigit bibir bawahnya saat Randi menjilati telinga serta lehernya, sungguh hal yang belum ia rasakan sebelumnya.
"Ran please, jangan kayak gini! Aku gak mau kita salah langkah!" pinta Ayna.
"Apa sih? Emang salah ya kalau aku peluk dan cium kamu kayak gini?" tanya Randi.
"Jelas salah dong Ran, apalagi aku sekarang cuma pakai b r a. Kamu lepas dulu ya peluknya, nanti kan bisa lagi pas aku udah ganti baju?" jawab Ayna.
"Tapi, enak sih peluk kamu dalam keadaan kayak gini. Aku mau pegang yang atas boleh gak?" ujar Randi sensual.
"Hah??" Ayna terkejut karena tangan Randi semakin naik ke atas dengan liarnya, lidah pria itu juga masih bermain-main di lehernya.
Ya akhirnya Randi berhasil menyentuh pegunungan milik Ayna yang kenyal itu.
Ceklek...
Mereka berdua sama-sama terkejut mendengar pintu dibuka dari luar.
Randi pun reflek melepas pelukannya, menoleh ke arah pintu begitu juga dengan Ayna.
"Bibik??" ujar Ayna. "Ada apa?" tanyanya.
"Eee ma-maaf non, bibik gak sengaja! Tadi bibik kaget pas tau den Randi gak ada di bawah, makanya bibik mau lapor sama non Ayna. Eh ternyata den Randi ada disini," ujar bik Sumi.
"Gapapa kok bik, iya ini tadi Randi emang katanya gak mau sendirian di bawah," ucap Ayna.
"Oalah, yaudah ya non bibik mau keluar dulu? Sekali lagi maaf non!" ucap bik Sumi.
"Ah iya Bu," ucap Ayna singkat.
Bik Sumi pun keluar dan tak lupa menutup pintu seperti semula, sedangkan Randi kembali menatap Ayna yang terlihat menutupi bagian atasnya dengan kedua telapak tangan itu.
"Ngapain ditutupin sih? Itu juga kan masih ada b r a kamu, aku gak bisa lihat gunung kamu yang kenyal itu sayang," ujar Randi.
"Ih kamu kotor banget sih otaknya! Udah ah sana keluar, nanti ketahuan bik Sumi lagi loh!" ucap Ayna.
"Gapapa, orang kita gak ngapa-ngapain kan?" ucap Randi santai.
"Ya tetap aja gak boleh, apalagi tadi kamu sempat pegang-pegang punya aku. Udah, sekarang keluar gih sana!" ucap Ayna ketakutan.
"Gak ah, aku mau disini aja temenin kamu ganti baju!" tegas Randi.
"Ish, kamu kok susah banget sih dikasih taunya?!" geram Ayna.
"Kenapa? Kita kan pacaran, gak ada salahnya dong kalau aku masuk kamar kamu kayak gini?" ucap Randi kembali mendekati Ayna.
Gadis itu memundurkan langkahnya berusaha menjauh dari Randi.
Namun, tubuhnya justru menyentuh lemari dan membuat Randi leluasa mengungkungnya.
"Hayo, mau kemana lagi kamu? Ayolah sayang, cuma lihat kamu ganti baju kok, gausah takut" ucap Randi dengan smirk nya.
******
"Max, kamu ngapain dorong-dorong motor begitu?" tanya Kiara pada Max.
"Eh Kiara? Ini motor aku gak tahu kenapa tiba-tiba gak bisa dinyalain, kayaknya ada sesuatu yang rusak deh. Makanya aku dorong nih motor buat dibawa ke bengkel, tapi aku juga gak tahu bengkel paling dekat itu dimana," jelas Max.
"Oh gitu, kasihan banget sih kamu! Sebentar deh, kayaknya tuan Martin punya kenalan orang bengkel deh, mungkin dia bisa bantu kamu," ucap Kiara.
"Boleh tuh Kiara, ya supaya aku juga gak perlu capek dorong-dorong nih motor," ujar Max.
"Iya, sebentar ya aku bicara dulu sama tuan Martin?" ucap Kiara.
Max mengangguk, Kiara pun beralih menatap Martin yang kebetulan ada di sampingnya. Ia berbicara mengenai kemungkinan Martin membantu Max.
"Tuan, aku—"
"Iya saya sudah dengar, tadi kan kamu bicara di sebelah saya. Ini saya mau hubungi montir kenalan saya buat bantu Max," potong Martin.
"Terimakasih ya tuan! Ternyata tuan itu baik banget sih, aku jadi makin sayang deh!" ucap Kiara.
"Kalau saya gak baik, kamu gak mungkin ada disini. Bisa jadi kamu lagi jalan kaki menuju sekolah, karena saya gak mau antar kamu," ujar Martin.
"Ahaha, tuan bisa aja! Jadi gimana nih, montirnya bisa kesini apa enggak?" ucap Kiara.
"Eee bisa kok, kamu bilang aja sama si Max buat tunggu karena sebentar lagi montirnya bakal datang!" jawab Martin.
"Iya tuan," ucap Kiara singkat.
Lalu, Kiara pun kembali menatap Max untuk menyampaikan apa yang dikatakan Martin tadi.
"Max," panggil Kiara.
"Ah iya Kiara? Kenapa?" tanya Max.
"Montirnya udah dalam perjalanan, kamu tunggu aja sebentar ya!" jawab Kiara.
"Oh gitu, iya iya makasih ya Kiara! Sampaikan terimakasih aku juga ke Martin ya!" ujar Max.
"Iya Max," ucap Kiara singkat.
"Sama-sama Max, sekarang kamu naik aja ke mobil saya dan kita berangkat bareng ke sekolah!" sahut Martin.
"Hah? Yang bener nih Martin?" ujar Max terkejut.
"Iya, biar kamu gak telat juga. Sudah ayo masuk, motor kamu pasti akan kok disini!" ajak Martin.
"Iya Martin, makasih ya!" ucap Max tersenyum senang.
"Sama-sama," balas Martin singkat.
Disaat Max hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja rombongan geng motor muncul mengelilinginya dan meneriakinya.
"WOI SINI LO ANJENG!!"
Kiara yang melihat serta mendengar itu tampak ketakutan, dia menoleh ke arah Martin bermaksud meminta bantuannya.
"Tuan, bagaimana ini? Orang-orang itu siapa?" tanya Kiara khawatir.
"Saya gak tahu, mungkin mereka musuh Max. Sudahlah, kita kan tidak ada urusannya dengan mereka! Jadi, kamu gak perlu takut!" jawab Martin.
"Tapi tuan, kalau mereka melukai Max gimana? Kita kan ada disini juga, masa kita mau diam aja?" tanya Kiara.
"Tenang ya! Kita pantau aja dulu, siapa tahu mereka cuma mau ngobrol sama si Max," jawab Martin menenangkan gadisnya.
"I-i-iya tuan," ucap Kiara mengangguk singkat.
Sementara itu, Max terlihat heran dengan kedatangan gerombolan geng motor di depannya itu. Ia menatap mereka satu persatu, namun tetap tak ada yang ia kenali.
"Kalian siapa? Kenapa kalian hadang gue? Apa masalah kalian sama gue?" tanya Max.
"Hiyaaa...!!"
******
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum!" Bu Ani dan Sasha kompak terkejut mendengar suara wanita yang muncul di luar sana.
"Siapa ya?" ujar Bu Ani.
"Biar saya aja yang buka tante, kan tante katanya mau ke dapur siapin makanan?" ucap Sasha.
"Bener nih gapapa?" tanya Bu Ani.
"Iya tante, kan cuma buka pintu aja," jawab Sasha.
"Yaudah deh, tante ke belakang dulu ya sayang?" ucap Bu Ani.
Sasha mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dengan perlahan ia membukanya sembari membalas salam dari wanita di luar sana.
Ceklek...
"Waalaikumsallam," Sasha terperangah kaget melihat kehadiran Aurora disana, kedua wanita itu sama-sama terdiam tak mampu berbicara.
"Haish, ngapain sih nih cewek dateng kesini?" batin Sasha.
Aurora menatap heran ke arah Sasha, ia terlihat tak suka melihat adanya Sasha di rumah sang kekasih.
"Loh, kamu kok ada disini? Lagi apa?" tanya Aurora.
"Eee gue kan temannya Willy dari dulu, emang salah ya kalo gue disini?" jawab Sasha.
"Gak salah kok, aku kan cuma nanya. Kenapa kamu sensi banget gitu sih?" ujar Aurora.
"Gue biasa aja, lo kali yang sensi!" ujar Sasha.
"Yaudah, Willy nya ada kan? Tolong bilangin dong ada aku disini!" ucap Aurora.
"Lo bilang aja sendiri!" cibir Sasha.
"Gimana caranya? Gak sopan dong kalo aku langsung masuk gitu aja, kamu kan udah di dalam jadi tolong panggilin ya!" ucap Aurora.
"Ah ngerepotin orang aja lo! Gue ada urusan lain, gue gak bisa panggilin Willy buat lo!" ujar Sasha.
Aurora terdiam, Sasha berniat kembali ke dalam dan meninggalkan Aurora. Namun, ia malah bertemu dengan Willy.
"Ada apa Sasha??" tanya Willy.
"Eee anu itu..." Sasha gugup dan bingung saat hendak menjawab.
"Willy, sayang ini aku!" potong Aurora dari luar.
"Hah? Pacar? Itu kamu??" Willy terkejut, ia melangkah lebih dekat ke depan untuk memastikan apakah benar yang ia lihat adalah Aurora.
"Iya sayang, masa kamu gak ngenalin pacar kamu sendiri?" ucap Aurora.
"Duh duh, iya aku kenal kok sayang. Kamu ngapain pagi-pagi kesini?" ucap Willy mendekat dan langsung memeluk kekasihnya itu.
"Emang gak boleh aku ke rumah pacarku sendiri?" tanya Aurora.
"Boleh dong sayang, tapi aku cuma heran aja gitu. Biasanya kan kamu jarang ke rumahku pagi-pagi begini," jelas Willy.
"Ohh, iya iya tadi aku niatnya mau ajak kamu jalan bareng. Eh tapi, ternyata di rumah kamu malah ada perempuan lain itu," ujar Aurora.
Willy beralih menatap Sasha, ia dapat merasakan kecemburuan kekasihnya pada Sasha.
"Ngapain dia disini sayang?" tanya Aurora lagi.
Willy mengeratkan pelukannya, mencium kedua pipi serta hidung Aurora dan mencolek dagunya dengan gemas.
"Aku juga baru tahu Sasha kesini, soalnya tadi aku masih di kamar," jawab Willy.
"Iya Wil, gue tadi bawain sarapan buat lu sama nyokap bokap lu," sela Sasha.
"Oh gitu, waduh pake repot-repot segala sih Sya! Terimakasih ya!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Sama-sama Wil, yaudah lu masuk aja dulu terus sarapan! Tadi sih nyokap lu katanya mau siapin sarapan di meja makan," ujar Sasha.
"Iya, nanti gue masuk." ucap Willy singkat.
"Sayang, aku juga bawain sandwich loh buat kamu. Gimana dong?" ucap Aurora tiba-tiba.
******
"Yaudah, lo sabar aja dulu Ted! Jangan sampai pertemanan kita hancur cuma karena perempuan! Kita udah bertahun-tahun kumpul kayak gini, masa mau bubar sih?" ujar Arif.
"Iya Ted, kuatin aja diri lo ya! Kita disini tetap selalu support lo kok!" sahut Zafran.
"Thanks guys! Tapi, kalian ngerti lah gimana perasaan gue saat ini?! Susah bagi gue buat sabar," ucap Tedy lirih.
"Ya ya ya, lo boleh tenangin diri lo dulu sementara waktu. Saran gue, lo jangan dendam sama Randi ya! Dia itu kan sohib lo juga," ujar Jeki.
"Gue tahu kok Jek, gue gak dendam sama dia kok. Gue ini cuma kesal dan masih gak nyangka aja kalau Randi pacaran sama Ayna," ucap Tedy.
"Emangnya udah terbukti kalau mereka pacaran? Siapa tahu lu cuma salah kira," tanya Arif.
"Iya, emang lo udah tanya langsung ke Randi?" sahut Syakur.
"Udah sebelumnya, tapi dia gak mau ngaku dan bilang kalau diantara mereka cuma teman. Gue sih gak percaya, karena mereka deket banget bahkan hampir mau ciuman gitu," jawab Tedy.
"Waduh, berarti mereka emang asli pacaran!" ujar Leo terkejut.
"Ya gitu deh," ucap Tedy singkat.
Tiba-tiba saja, seseorang datang ke markas mereka dan berhenti tepat di dekat mereka.
"Siapa tuh?" tanya Syakur heran.
"Gak tahu, kita samperin aja!" jawab Zafran.
Mereka pun bangkit dan melangkah mendekati pria yang baru datang itu.
"Woi! Siapa lo?" tegur Zafran.
Seseorang itu membuka helmnya, menatap ke arah anggota the darks dengan senyum tersungging di bibirnya.
Seketika Zafran dan yang lainnya terkejut begitu melihat siapa yang ada di depan mereka saat ini, sedangkan orang itu masih tetap tersenyum.
"Chalvin? Ini beneran lo??" ujar Zafran dengan wajah tak percaya.
"Iyalah bro, masih ingat kan lo sama gue?" jawab si pria bernama Chalvin itu.
Chalvin turun dari motornya, menghampiri Zafran serta anggota the darks lainnya dengan terus tersenyum.
"Pasti ingat lah, gimana gue bisa lupa sama lo?!" ujar Zafran sambil tersenyum.
"Hahaha, mantap lah!" ucap Chalvin sembari melakukan tos dengan para anggota the darks.
"Ayo duduk dulu bro, biar nanti dibeliin minum sama si Jeki!" ajak Zafran.
"Siap!" Chalvin menurut saja, lalu ikut terduduk di kursi yang tersedia bersama yang lainnya.
"Eh Zaf, dia siapa? Gue baru kali ini ngeliat dia di markas the darks, apa dia teman lo?" tanya Arif pada Zafran.
"Yah elah bro, dia itu si Chalvin mantan anak the darks juga. Dulu Chalvin yang jadi wakil ketua di geng kita, sebelum akhirnya dia putusin buat keluar dan tinggal di luar negeri," jelas Leo.
"Nah, udah dijelasin tuh sama si Leo. Lo ngerti kan sekarang Rif?" timpal Zafran.
"Hehe, iya iya ngerti gue. Sorry ya bang, gue anak baru soalnya!" ucap Arif.
"Santai aja! Gue kan udah lama gak kumpul disini, ternyata banyak anak-anak baru ya yang masuk the darks?" ujar Chalvin.
"Iya gitu deh," jawab Zafran menganggukkan kepala.
Bersambung....