My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 25. Biaya rumah sakit



My love is sillie


Episode 25



Randi dan Thoriq tiba di rumah sakit tempat Willy dirawat, mereka berdua datang kesana setelah Willy menghubungi Randi meminta pada temannya itu untuk mengunjunginya disana.


Kedua pria itu pun tampak cemas melihat kondisi Willy saat ini yang cukup memprihatinkan, mereka tak menyangka kalau Willy bisa sampai seperti itu.


"Loh Wil, lu kenapa bisa kayak gini Wil? Siapa yang udah bikin lu bonyok begini? Lu bilang sama gue, biar gue hajar tuh orang!" ujar Thoriq panik.


"Iya Wil, kita gak terima lu udah dibikin begini sama tuh orang! Kalau perlu, kita balas berkali-kali lipat perbuatan dia ke lu! Supaya tuh orang tahu, siapa yang udah dihajar sama dia!" ucap Randi.


"Untuk sekarang kalian jangan bahas itu dulu! Gue butuh bantuan kalian buat bayar biaya rumah sakit, karena gue gak punya uang sama sekali. Bisa kan kalian berdua bantu gue?" ucap Willy.


"Duh, kalau masalah uang kita sih susah buat bantunya Wil. Kan lu tahu juga, kita ini sama sulitnya kayak lu. Boro-boro buat bayar rumah sakit, pengen makan aja kita susah kalo enggak dibantu orang tua kita." kata Thoriq.


"Sama Wil, gue juga begitu." sahut Randi.


"Aduh! Berarti gue salah dong telpon kalian. Terus, gimana dong sama nasib gue sekarang? Kalau gue gak bayar nih rumah sakit, gimana gue bisa keluar coba?" ujar Willy kebingungan.


"Ya gampang aja Wil, lu telpon bokap atau nyokap lu biar mereka bisa kesini!" usul Randi.


"Gak segampang itu Ran! Gue gak mau bikin mereka sedih, apalagi ngerepotin mereka. Kalian juga kan tahu sendiri, gue ini baru dikeluarin dari sekolah karena kasus kita waktu itu. Mereka pasti tambah sedih dan kecewa banget kalau tahu gue bonyok begini di rumah sakit," ucap Willy.


"Iya sih, terus mau gimana lagi Wil? Kita gak tahu harus cari cara apa buat bantu lu bayar biaya rumah sakit ini," ujar Thoriq.


"Oh atau gini aja, coba deh gue mau telpon bokap gue buat minta bantuan. Ya siapa tahu aja bokap bisa bantu lu Wil," ucap Randi memberi saran.


"Nah boleh tuh, bokap lu kan orang kaya. Gue minta tolong ya Ran!" ucap Willy.


"Santai aja Wil! Kalo gitu gue izin ke depan dulu buat hubungin bokap, sebentar ya!" ucap Randi mengambil ponselnya.


"Oke." Willy mengangguk pelan.


Randi pun keluar dari kamar itu, coba membujuk papanya melalui telpon agar mau membantu Willy membayar biaya rumah sakit.


Sementara Willy dan Thoriq tetap berada disana menanti kabar dari Randi.


******


Aurora akhirnya memutuskan pulang ke rumah setelah ia gagal bertemu kembali dengan Willy, walau sesungguhnya ia tidak ingin pulang karena kesal dengan kedua orangtuanya.


Gadis itu pun berdiam diri di atas motornya, bergumam sejenak sembari memandang ke jendela kamar mama papanya yang terlihat terang oleh lampu.


"Huft, gue bingung banget. Kenapa sih mereka gak pernah punya waktu buat gue? Padahal yang gue butuhin kan cuma kebersamaan, bukan uang atau segala macam itu. Tapi, mereka selalu aja gak mau dengerin perkataan gue!" ucapnya.


Basuki alias satpam yang berjaga disana bergerak menghampiri Aurora dengan tampang bingung.


"Misi non, ngapain non disini aja? Kenapa non Rora gak masuk ke dalam?" tanya Basuki.


"Eh pak, emangnya kenapa sih kalo gue disini? Kan ini rumah papa gue, jadi suka-suka gue lah mau disini kek atau dimana kek!" jawab Aurora ketus.


"Oh iya non, yaudah kalo gitu saya minta maaf ya non! Saya cuma penasaran aja, soalnya non kan gak biasanya diam disini sambil melamun gitu. Kirain saya non lagi ada masalah," ujar Basuki.


"Siap non!" ucap Basuki menurut.


Satpam itu pun kembali ke tempatnya, sedangkan Aurora tetap berdiam disana melamun bersedih meratapi nasibnya.


"Willy kemana sih? Kenapa dia tadi gak ada di lapangan Bintaro? Padahal dia udah janji mau bantu gue, apa jangan-jangan dia bohongin gue ya?" gumam Aurora.


******


Randi kembali menemui Willy di kamarnya, ia tampak murung.


"Ran, gimana? Lu berhasil kan minta bantuan bokap lu buat bayar biaya rumah sakitnya Willy?" tanya Thoriq penasaran.


"Eee..." Randi gugup dan kebingungan.


"Kenapa Ran? Ada masalah?" tanya Willy heran.


"Itu loh Wil, ternyata bokap gue gak bisa bantu. Gue juga gak tahu pasti apa alasannya, tapi dia bilang kayak gitu ke gue. Gue bingung banget kenapa dia gak bisa bantu lu, sorry banget ya Wil!" jelas Randi.


"Hadeh, bokap lu pelit banget sih Ran! Padahal buat bantu sesama manusia loh, masa iya gak mau!" ujar Thoriq.


"Jangan begitu Riq! Wajar aja papanya Randi gak mau bantu gue, toh itu hak dia. Yaudah, mungkin gue harus cari cara lain buat bisa bayar biaya rumah sakit ini." kata Willy.


"Tapi Wil, lu mau ngapain lagi sekarang? Gimana cara lu bisa bayar biaya rumah sakit ini?" tanya Thoriq.


"Entahlah.."


"Tenang Wil! Gue sama Thoriq dan anak-anak the darks lainnya bakal bantu lu kok, kita akan cari cara buat bayar biaya rumah sakit lu. Lu sabar dulu ya Wil!" ucap Randi.


"Iya Wil, kita bakal usaha buat bantu lu supaya bisa keluar dari sini." sahut Thoriq.


"Thanks ya! Kalian emang teman-teman gue yang luar biasa! Gue bangga punya teman kayak kalian!" ucap Willy tersenyum.


Randi dan Thoriq kompak tersenyum.


******


Kiara bersama Martin tiba di rumah, keduanya langsung masuk ke kamar untuk segera beristirahat karena lelah setelah seharian berkeliling kota.


"Huh akhirnya kita sampai di rumah juga! Saya rasa badan saya ini pegal-pegal semua!" ujar Martin.


"Oh ya? Itu karena tuan sih gak mau istirahat dulu tadi, malah langsung ke kantor buat kerja. Padahal tuan kan baru sampe di Jakarta," ucap Kiara.


"Kalau saya gak langsung ke kantor, yang ada urusannya bakal susah diselesaikan. Saya ini kan gak mau menumpuk masalah," ucap Martin.


"Iya sih, tapi kan tuan jadi kecapekan sekarang. Yaudah gini deh, tuan mau aku pijitin enggak? Atau tuan mau mandi air panas dulu?" ucap Kiara menawarkan diri memijat kekasihnya.


"Boleh tuh yang kedua, saya mau mandi dulu. Soalnya badan saya lengket nih!" ucap Martin.


"Oh yaudah, sekarang tuan lepas dulu jas sama kemejanya! Sini aku bantu!" ucap Kiara.


Martin tersenyum dan mulai melepas pakaiannya dengan bantuan Kiara, gadis itu saat ini juga sudah tidak merasa canggung lagi untuk berdekatan dengan Martin dan membantunya melepas pakaian seperti sekarang.


Bersambung....