My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 69. Randi dikejar lagi



My love is sillie


Episode 69


•


"Iya Bu, kalo gitu aku berangkat sekarang ya Bu?" ucap Willy mencium tangan ibu dan bapaknya.


"Iya, hati-hati ya Willy!" ucap Bu Ani tersenyum tipis.


"Iya Bu, assalamualaikum.." ucap Willy.


"Waalaikumsallam," jawab Bu Ani dan pak Gunawan.


Willy pun beranjak dari duduknya dan pergi keluar rumah dengan cepat.


Saat ia hendak naik ke motornya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


Pukkk...


Willy langsung menoleh ke belakang, ia syok melihat kehadiran Martin disana yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


"Halo Willy!" ucap Martin.


"Martin? Mau apa lu kesini?" ujar Willy.


"Hahaha, gausah kaget gitu kali Wil! Saya yakin, kamu juga pasti udah tau apa maksud saya datang kesini. Dimana Aurora? Serahkan dia sama saya!" ucap Martin.


"Gue gak akan serahin dia ke lu, karena Aurora itu milik gue!" tegas Willy.


"Dia bukan milik anda, dan sampai kapanpun Aurora gak akan mungkin jadi milik anda." ucap Martin.


"Lu mending pergi deh sana!" ujar Willy.


"Saya gak akan pergi, sebelum saya berhasil mendapatkan Aurora." ucap Martin.


"Percuma lu cari dia disini, Aurora gak ada." ucap Willy.


"Ya, saya tahu." ucap Martin.


"Baguslah, lalu kenapa lu masih disini? Lu cari aja Aurora di tempat lain, jangan disini!" ujar Willy.


"Saya kesini, karena saya tahu kamu yang sudah menyembunyikan Aurora. Sekarang cepatlah kamu kasih tahu saya, dimana Aurora?!" ucap Martin.


"Gue kan udah bilang, gue gak bakal kasih tahu lu. Gue gak mau Aurora ada di dekat lu Martin, karena lu bawa pengaruh buruk buat dia!" ujar Willy.


"Hah? Anda bicara apa barusan? Apa anda tidak salah bicara? Seharusnya anda itu sadar diri, siapa yang sudah bawa pengaruh buruk untuk Aurora sebenarnya? Saya atau anda?" ucap Martin.


"Oh sudah jelas, lu yang selalu bawa pengaruh buruk di kehidupan Aurora. Bahkan bukan cuma Aurora, tapi Kiara juga." kata Willy.


"Jangan bawa-bawa Kiara dalam masalah ini ya! Dan satu lagi, saya tidak pernah pengaruhi Kiara sama sekali!" ucap Martin.


"Hahaha, lu pikir gue percaya?" ujar Willy.


"Kurang ajar! Jangan main-main dengan saya, Willy! Saya bisa habisi kamu kapanpun saya mau, jadi cepat kasih tahu saya dimana Aurora!" bentak Martin.


"Mau berapa kali lu ancam gue pun, gue gak akan pernah kasih tahu ke lu!" ucap Willy.


"Sialan lu!" umpat Martin.


Martin menggelengkan kepalanya, menarik jaket Willy dan hendak melayangkan pukulan ke arah wajah pria itu tapi tidak jadi.


"Kenapa? Kok gak jadi? Takut ya?" ledek Willy.


"Saya bukan takut, saya cuma gak mau mengotori tangan saya hanya untuk menghabisi kamu. Biarlah orang-orang saya yang akan habisi kamu nantinya, seperti mereka berhasil habisi anak-anak the darks itu." ujar Martin tersenyum smirk.


Martin melepaskan Willy, kemudian mundur menjauh dari tubuh pria itu.


Willy masih terdiam kaku, memikirkan perkataan Martin barusan.


"Dengar ya Willy, terserah kamu kalau kamu gak mau kasih tahu keberadaan Aurora sama saya. Tapi, jangan salahkan saya kalau nantinya seluruh anggota the darks akan mati di tangan saya!" ancam Martin.


"Cukup! Gue udah ngerti sekarang, pasti lu kan yang suruh orang-orang buat keroyok anak-anak the darks?!" ucap Willy keras.


"Sssttt jangan keras-keras! Kalau emang iya, kenapa?" ucap Martin tersenyum tipis.


"Kurang ajar!" umpat Willy.


Willy yang emosi langsung bergerak maju dan menyerang Martin.


Bugghhh... // Willy melayangkan pukulan ke arah Martin, tetapi masih dapat ditahan olehnya.


Bugghhh... // Willy terus berusaha memukul Martin, namun selalu saja gagal.


"Hahaha, segitu saja kemampuan kamu Willy? Ayo serang saya lagi, tunjukkan kalau kamu itu memang ketua geng motor yang hebat!" ujar Martin.


"Kurang ajar! Hiyaaa..." Willy pun kembali menyerang Martin dan terjadilah perkelahian disana.


******


Aurora terbangun di pagi hari yang indah ini, ia membuka matanya dan duduk di ranjang sambil mengucek-ngucek mata seraya meluruskan kedua tangannya ke atas.


Gadis itu melihat ke arah jam, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi lebih sedikit. Ia pun merasa malas untuk beranjak dari kasur dan masih ingin berbaring sejenak disana.


"Duh, masih jam segini ternyata. Willy kira-kira udah bangun apa belum ya?" gumam Aurora.


Aurora pun mengambil ponselnya, ia nyalakan ponsel itu dan melihat banyak pesan juga panggilan tak terjawab dari papanya.


"Huh benar kan, papa pasti nyariin gue dari semalam." ucapnya.


Disaat ia hendak mengirim chat ke nomor Willy, tiba-tiba saja bel pintu kamarnya berbunyi dan membuat ia terheran-heran.


Ting nong ting nong...


"Itu siapa ya? Apa jangan-jangan Willy?" ujarnya.


"Iya kali ya, gue cek aja deh!" sambungnya.


Aurora bergegas turun dari ranjang dan menuju ke pintu, ia begitu ceria lantaran mengira yang datang adalah Willy.


Ting nong ting nong....


"Iya sebentar!" teriak Aurora dari dalam.


Ceklek...


Pintu terbuka, baru saja mulut Aurora hendak terbuka dan memanggil Willy, namun ternyata yang datang bukanlah Willy.


"Pap—papa...??"


"Apa kabar sayang? Ternyata benar, kamu ada disini." ucap Johan alias papa Aurora.


"Papa ngapain disini?" tanya Aurora gugup.


"Lah kok ngapain? Ya udah jelas papa mau jemput kamu sayang, papa pengen bawa kamu pulang ke rumah. Kamu itu punya rumah loh sayang, buat apa kamu sewa hotel begini?" ujar Johan.


"Pah, aku itu gak mau pulang, aku mau disini. Papa jangan paksa aku buat pulang deh, karena aku gak bakalan mau!" ucap Aurora tegas.


"Kamu ini kenapa jadi begini sih Aurora? Apa gara-gara pengaruh si Willy itu?" ujar Johan.


"Stop salahin Willy, pah! Semua ini gak ada hubungannya sama dia, jadi papa jangan terus-terusan salahin Willy! Harusnya papa introspeksi diri dulu, papa udah jadi orang tua yang benar belum buat aku!" ucap Aurora.


"Kamu kenapa bicara begitu sayang? Emangnya selama ini papa bukan orang tua yang benar menurut kamu?" tanya Johan.


"Ya papa pikir aja sendiri! Dari kecil sampai sebesar ini, mana pernah papa punya waktu buat aku? Mana pernah papa perduli dan perhatian sama aku? Enggak kan?" ucap Aurora.


Johan memalingkan wajahnya, ia tidak mampu berkata-kata untuk saat ini.


"Justru sekarang aku bahagia banget bisa ketemu dan kenal sama Willy, karena dia yang udah kasih tahu ke aku arti kasih sayang sebenarnya. Dia benar-benar tulus perhatian sama aku, pah. Tapi, papa malah hancurin kebahagiaan aku dan lebih percaya sama omongan kak Martin yang udah jelas emang gak suka sama Willy!" sambung Aurora.


"Sayang, kamu pulang ya sama papa! Papa janji deh, papa akan turuti semua kemauan kamu dan papa juga akan selalu ada disisi kamu!" ucap Johan memohon.


"Enggak pah, aku gak mau. Aku bakalan pulang ke rumah, asalkan papa enggak lagi larang aku buat berhubungan sama Willy!" ucap Aurora.


Johan kembali terdiam memikirkan perkataan Aurora sambil mengusap dahinya.


"Saya jadi bingung, apa saya iyain aja ya permintaan Aurora ini? Ah iya deh, yang penting Aurora mau pulang!" batin Johan.


******


Randi baru saja selesai sarapan di pinggir jalan, ia pun bangkit dari duduknya dan hendak membayar makanannya itu ke si penjual.


"Ah iya, makasih mas!" ucap penjual itu.


Setelahnya, Randi pun berjalan ke motornya dan memakai helm di kepalanya.


Pria itu memang lebih banyak luntang-lantung di jalan sejak dirinya dikeluarkan dari sekolah, ia tidak memiliki tujuan yang jelas selain pulang ke rumah dan berkumpul bersama teman-temannya di luar.


Saat ini Randi hendak menjenguk kembali Thoriq serta yang lainnya di rumah sakit, kebetulan ia juga penasaran dengan kondisi temannya itu.


Ia celingak-celinguk sejenak sebelum mulai melajukan motornya, tentu hal itu ia lakukan untuk memastikan apakah disana aman atau tidak.


"Semoga aja kali ini aman!" batinnya.


Ya, wajar jika Randi masih cemas karena memang keadaan saat ini sedang mencekam dan bahaya bisa saja mendatanginya kapanpun itu.


Setelah dipastikan aman, ia langsung menancap gas meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit masih dengan perasaan was-was.


Benar saja yang ia cemaskan sedari tadi pun terjadi, ia dicegat oleh segerombolan pemotor saat berbelok ke jalan yang lain.


Ciiitttt...


Randi menekan rem nya secara kuat hingga motornya terangkat, kedua bola matanya terbuka lebar melihat gerombolan orang di depannya yang sudah siap menghabisinya.


"Mampus gue! Tapi gue gak boleh nyerah, gue harus bisa kabur!" batin Randi.


Disaat orang-orang itu melangkah perlahan mendekatinya, Randi yang masih di atas motor mulai memainkan gasnya berkali-kali.


Ngeeengg ngeeengg...


"Mau main-main dia sama kita,"


"Langsung aja kita sikat dia!"


Orang-orang itu pun berlari ke arahnya, namun dengan segera Randi memutar motornya dan menekan gasnya sekuat tenaga sambil menekan rem hingga timbullah asap dari knalpotnya.


Barulah Randi menancap gas, melaju kencang meninggalkan orang-orang yang masih terbatuk akibat asap dari knalpotnya tadi.


"Uhuk uhuk... sial! Tuh orang benar-benar ngerjain kita!"


"Ayo kita kejar dia!"


Mereka berenam pun naik ke motor masing-masing dan langsung tancap gas mengejar Randi.


Aksi kejar-kejaran kembali terjadi, Randi tampak sangat panik karena di belakangnya saat ini ada segerombolan orang yang ingin menghajarnya.


"Ya Tuhan, selamatkan lah nyawa hamba! Hamba tidak mau jadi korban ya Tuhan!" batin Randi.


Randi pun berbelok, masuk ke dalam gang kecil yang hanya muat satu motor agar dapat menghindar dari kejaran orang-orang itu.


Namun, keenam orang tadi masih terus mengikutinya hingga ke dalam gang sempit tersebut.


Di tengah kepanikan, tiba-tiba saja terpintas dalam pikirannya sebuah ide cemerlang saat melihat gerobak sampah terlantar di sampingnya.


Ia menghentikan motornya sejenak, lalu menarik gerobak itu hingga terjatuh ke bawah dan menutupi jalan.


"Hahaha, semoga berhasil!" ujarnya.


Dan benar saja, idenya itu berhasil membuat enam orang pria yang mengejarnya tidak bisa lanjut melaju mengikutinya.


Randi pun menggunakan kesempatan itu untuk melaju sekencang mungkin dari sana dan selamatlah ia kembali.


"Woi! Awas lu ya!"


"Aaarrgghh sial! Lagi-lagi kita gagal!"


"Jangan nyerah bro! Ayo kita kejar lagi dia!"


"Mau kejar gimana? Ini ada gerobak sampah disini, kita gak bisa lewat."


"Ya tinggal diangkat aja apa susahnya?!"


"Yaudah angkat dong!"


"Bantuin lah!"


Mereka pun berbondong-bondong mengangkat gerobak sampah itu dan kembali melaju.


******


Willy tiba di sekolahnya setelah menyelesaikan urusannya dengan Martin.


Ia tampak terluka pada bagian pelipis serta dagu, akibat pukulan dari Martin tadi.


Ya, Willy memang tidak jadi menemui Aurora karena permintaan gadis itu.


Awalnya Willy tak mau menurut, namun setelah Aurora menjelaskan akhirnya Willy tidak membantah lagi dan mengurungkan niatnya untuk menemui Aurora di hotel.


Disaat Willy hendak masuk ke sekolahnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering yang membuatnya tertahan sejenak disana.


Drrttt..


Drrttt...


Willy pun mengecek ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Randi? Ada apa ya?" gumamnya.


Karena penasaran, Willy langsung mengangkat telpon itu disana.


📞"Halo Ran! Kenapa lu telpon gue pagi-pagi begini? Tumben banget, biasanya juga lu gak pernah telpon gue." tanya Willy heran.


📞"Ah iya Wil, ini gue cuma mau kasih kabar sama lu tentang kejadian yang baru gue alami." ucap Randi dengan nafas terengah-engah.


📞"Lu kenapa sih? Kok nafas lu kayak gitu? Abis lari maraton apa gimana lu?" tanya Willy.


📞"Bukan Wil, tapi gue abis panik banget tadi. Gue dikejar-kejar sama orang misterius, kayaknya mereka sih yang udah keroyok anak-anak the darks." jawab Randi.


📞"Apa? Terus, lu baik-baik aja? Lu gak kenapa-napa kan?" tanya Willy cemas.


📞"Alhamdulillah gue selamat! Ini udah dua kali gue dikejar sama mereka, untungnya gue masih bisa selamat! Tapi, tetap aja Wil gue gak bisa tenang kalau begini terus. Mereka itu harus segera dibasmi Wil!" ucap Randi.


📞"Iya, gue ngerti. Nanti pulang sekolah kita ngumpul di basecamp, kasih tahu anak-anak yang lain juga! Sekarang lu mending jangan pergi sendirian dulu deh, buat jaga-jaga!" ucap Willy.


📞"Oke Wil!" ucap Randi.


📞"Yaudah, kalo gitu gue lanjut sekolah dulu. Hati-hati lu bro!" ucap Willy.


📞"Iya Wil, thanks ya!" ucap Randi.


📞"Yoi." ucap Willy.


Tuuutttt tuuutttt...


Willy memutus telponnya, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana dan kembali melanjutkan langkahnya.


Ia terus memikirkan rencana untuk bisa menangkap pelaku pengeroyokan itu agar teman-temannya bisa hidup tenang.


Namun, entah mengapa pikirannya sangat sulit diajak fokus dan terus mengarah pada hal lain seperti Aurora dan juga Martin.


"Haish, ini gue kenapa susah fokus gini sih?! Apa gara-gara Aurora dibawa balik sama bokapnya? Harusnya kan gue gak perlu cemas, toh gue masih bisa ketemu dia besok disini." gumam Willy.


Tiba-tiba saja, Willy berpapasan dengan Bu Sundari selaku bagian kesiswaan di sekolah itu.


"Willy!" panggil Bu Sundari.


"Eh iya Bu, selamat pagi! Ada apa ya?" ucap Willy seraya mencium tangan Bu Sundari.


"Kamu sudah ditunggu di ruang kepala sekolah, mari ikuti saya!" ucap Bu Sundari.


"Eee tapi, ada apa ya Bu?" tanya Willy bingung.


"Sudahlah, kamu tidak perlu banyak bertanya! Ayo ikut saja dengan saya ke ruangan kepsek! Kamu gak mau kan bikin pak kepala sekolah kita ngamuk?" ucap Bu Sundari.


"I-i-iya Bu.." ucap Willy pasrah saja.


Akhirnya Willy pergi bersama Bu Sundari menuju ruangan kepala sekolah.


"Ada apa ya ini?" batin Willy.


Bersambung....