My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 128. Berkuda



My love is sillie


Episode 128



Aurora menatap heran ke arah Sasha, ia terlihat tak suka melihat adanya Sasha di rumah sang kekasih.


"Loh, kamu kok ada disini? Lagi apa?" tanya Aurora.


"Eee gue kan temannya Willy dari dulu, emang salah ya kalo gue disini?" jawab Sasha.


"Gak salah kok, aku kan cuma nanya. Kenapa kamu sensi banget gitu sih?" ujar Aurora.


"Gue biasa aja, lo kali yang sensi!" ujar Sasha.


"Yaudah, Willy nya ada kan? Tolong bilangin dong ada aku disini!" ucap Aurora.


"Lo bilang aja sendiri!" cibir Sasha.


"Gimana caranya? Gak sopan dong kalo aku langsung masuk gitu aja, kamu kan udah di dalam jadi tolong panggilin ya!" ucap Aurora.


"Ah ngerepotin orang aja lo! Gue ada urusan lain, gue gak bisa panggilin Willy buat lo!" ujar Sasha.


Aurora terdiam, Sasha berniat kembali ke dalam dan meninggalkan Aurora. Namun, ia malah bertemu dengan Willy.


"Ada apa Sasha??" tanya Willy.


"Eee anu itu..." Sasha gugup dan bingung saat hendak menjawab.


"Willy, sayang ini aku!" potong Aurora dari luar.


"Hah? Pacar? Itu kamu??" Willy terkejut, ia melangkah lebih dekat ke depan untuk memastikan apakah benar yang ia lihat adalah Aurora.


"Iya sayang, masa kamu gak ngenalin pacar kamu sendiri?" ucap Aurora.


"Duh duh, iya aku kenal kok sayang. Kamu ngapain pagi-pagi kesini?" ucap Willy mendekat dan langsung memeluk kekasihnya itu.


"Emang gak boleh aku ke rumah pacarku sendiri?" tanya Aurora.


"Boleh dong sayang, tapi aku cuma heran aja gitu. Biasanya kan kamu jarang ke rumahku pagi-pagi begini," jelas Willy.


"Ohh, iya iya tadi aku niatnya mau ajak kamu jalan bareng. Eh tapi, ternyata di rumah kamu malah ada perempuan lain itu," ujar Aurora.


Willy beralih menatap Sasha, ia dapat merasakan kecemburuan kekasihnya pada Sasha.


"Ngapain dia disini sayang?" tanya Aurora lagi.


Willy mengeratkan pelukannya, mencium kedua pipi serta hidung Aurora dan mencolek dagunya dengan gemas.


"Aku juga baru tahu Sasha kesini, soalnya tadi aku masih di kamar," jawab Willy.


"Iya Wil, gue tadi bawain sarapan buat lu sama nyokap bokap lu," sela Sasha.


"Oh gitu, waduh pake repot-repot segala sih Sya! Terimakasih ya!" ucap Willy sambil tersenyum.


"Sama-sama Wil, yaudah lu masuk aja dulu terus sarapan! Tadi sih nyokap lu katanya mau siapin sarapan di meja makan," ujar Sasha.


"Iya, nanti gue masuk." ucap Willy singkat.


"Sayang, aku juga bawain sandwich loh buat kamu. Gimana dong?" ucap Aurora tiba-tiba.


Willy kembali menatap gadisnya, melihat kotak bekal yang dibawa sang kekasih di tangannya itu kemudian mengambilnya.


"Mmhhh ini pasti enak sih sandwich buatan pacar aku tersayang!" ujar Willy.


"Iyalah, itu aku buat sendiri loh spesial untuk kamu. Tapi, kamu malah udah dibawain sarapan sama orang lain. Berarti sandwich aku gak bakal kemakan dong," ucap Aurora tampak bersedih.


"Hey, kamu jangan sedih gitu dong sayang! Aku makan kok sandwich kamu, rugi lah kalo gak dimakan mah!" bujuk Willy seraya menangkup wajah Aurora.


"Gak dimakan juga gapapa, kan bisa aku bawa balik," ketus Aurora.


******


"Meski begitu, gue juga tetap butuh yang namanya cewek bro buat tempat curhat. Lagian hidup itu butuh pendamping, mau sampai kapan gue sendiri terus kayak gini?" ujar Ilham.


"Iya juga sih, tapi cewek itu kan gak cuma si Sasha. Gue yakin, di luaran sana banyak cewek yang mau sama lo kok!" ucap Billy.


"Betul tuh Ham! Apalagi lo ganteng dan banyak duitnya, pasti cewek-cewek sana udah pada ngantri buat dapetin cinta lo. Buat apa lo berharap sama cewek yang salah?" sahut Choky.


"Tapi, gue cintanya sama Sasha. Gue cuma mau sama dia, gak yang lain. Kalian bantu gue kek buat dapetin cinta Sasha, nanti gue kasih kalian bonus deh," ucap Ilham.


"Bantuin kayak gimana Ham?" tanya Billy.


"Gue mau bikin Sasha jatuh cinta sama gue, kalian bisa kan bantu gue?" jawab Ilham.


"Eee ya yaudah deh, kita mau. Tapi, caranya gimana?" tanya Choky.


"Begini nih..."


"Hey!!"


Ucapan Ilham terjeda karena tiba-tiba seseorang berteriak keras ke arah mereka, semuanya pun kompak menoleh menatap asal suara dengan wajah bingung.


"Gue Rimba, ketua geng thunder. Gue kesini buat bahas perjanjian kerjasama kita kemarin, gue udah gak sabar pengen abisin si Willy!" ujar Rimba.


Ilham serta yang lainnya langsung bangkit dan berdiri tegak lalu menghampiri Rimba yang ada di depan sana sendirian.


"Kenapa lo datang sendiri? Mana anak-anak thunder yang lain?" tanya Ilham keheranan.


"Mereka ada urusan lain, lagian kalau cuma membahas rencana kerjasama kita cukup gue aja yang datang kesini. Gimana? Kalian bisa kan terima kehadiran gue disini?" jelas Rimba.


"Santai aja bro! Yuk duduk sini, kita bicara santai sambil minum-minum!" ajak Ilham.


"Oke!" Rimba mengangguk pelan lalu ikut duduk bersama yang lain.


"Dimana leader kalian? Siapa tuh namanya? Martin ya?" tanya Rimba.


"Ah iya, bang Martin belum datang. Mungkin agak siangan dia baru kesini," jawab Ilham.


"Ohh, tapi lo semua ngerti kan yang harus dibahas?" tanya Rimba.


"Santai aja!" jawab Ilham.


"Kalau begitu, kita harus gimana nih dan rencana kalian buat abisin geng the darks kayak apa? Pasti udah ada kan rencananya?" tanya Rimba.


"Eee sebenarnya kita juga belum tahu sih, kita masih nunggu bang Martin. Karena kita gak berani buat rencana tanpa sepengetahuan dia, biar gimanapun dia kan leader kita," jawab Ilham.


"Yah berarti percuma dong gue datang kesini, karena gak ada si Martin?" ujar Rimba.


"Sabar bro! Mungkin sebentar lagi bang Martin bakal datang kesini," ucap Ilham menenangkan.


"Iya bro, lo tunggu aja dulu sambil minum!" sahut Billy.


******


"Hah Randi?? Ka-kamu ngapain sih? Aku kan minta kamu tunggu di bawah," ujar Ayna panik.


"Aku penasaran aja, kamu kok lama banget sih ganti bajunya? Makanya aku susul kamu kesini, eh ternyata kamu belum ganti baju," ucap Randi.


Deg!


Ayna semakin panik saat Randi mengecup leher jenjangnya yang terbuka, perasaan aneh menjalar di tubuhnya ditambah dengan tangan Randi yang menggerayangi perut ratanya.


"Ran, ka-kamu ngapain sih? Aku mau ganti baju, kamu tunggu di depan aja ya!" ucap Ayna gugup.


"Gapapa Ayna, kamu ganti baju terus aku disini lihatin kamu," bisik Randi.


Ayna tampak menggigit bibir bawahnya saat Randi menjilati telinga serta lehernya, sungguh hal yang belum ia rasakan sebelumnya.


"Apa sih? Emang salah ya kalau aku peluk dan cium kamu kayak gini?" tanya Randi.


"Jelas salah dong Ran, apalagi aku sekarang cuma pakai b r a. Kamu lepas dulu ya peluknya, nanti kan bisa lagi pas aku udah ganti baju?" jawab Ayna.


"Tapi, enak sih peluk kamu dalam keadaan kayak gini. Aku mau pegang yang atas boleh gak?" ujar Randi sensual.


"Hah??" Ayna terkejut karena tangan Randi semakin naik ke atas dengan liarnya, lidah pria itu juga masih bermain-main di lehernya.


Ya akhirnya Randi berhasil menyentuh pegunungan milik Ayna yang kenyal itu.


Ceklek...


Mereka berdua sama-sama terkejut mendengar pintu dibuka dari luar.


Randi pun reflek melepas pelukannya, menoleh ke arah pintu begitu juga dengan Ayna.


"Bibik??" ujar Ayna. "Ada apa?" tanyanya.


"Eee ma-maaf non, bibik gak sengaja! Tadi bibik kaget pas tau den Randi gak ada di bawah, makanya bibik mau lapor sama non Ayna. Eh ternyata den Randi ada disini," ujar bik Sumi.


"Gapapa kok bik, iya ini tadi Randi emang katanya gak mau sendirian di bawah," ucap Ayna.


"Oalah, yaudah ya non bibik mau keluar dulu? Sekali lagi maaf non!" ucap bik Sumi.


"Ah iya Bu," ucap Ayna singkat.


Bik Sumi pun keluar dan tak lupa menutup pintu seperti semula, sedangkan Randi kembali menatap Ayna yang terlihat menutupi bagian atasnya dengan kedua telapak tangan itu.


"Ngapain ditutupin sih? Itu juga kan masih ada b r a kamu, aku gak bisa lihat gunung kamu yang kenyal itu sayang," ujar Randi.


"Ih kamu kotor banget sih otaknya! Udah ah sana keluar, nanti ketahuan bik Sumi lagi loh!" ucap Ayna.


"Gapapa, orang kita gak ngapa-ngapain kan?" ucap Randi santai.


"Ya tetap aja gak boleh, apalagi tadi kamu sempat pegang-pegang punya aku. Udah, sekarang keluar gih sana!" ucap Ayna ketakutan.


"Gak ah, aku mau disini aja temenin kamu ganti baju!" tegas Randi.


"Ish, kamu kok susah banget sih dikasih taunya?!" geram Ayna.


"Kenapa? Kita kan pacaran, gak ada salahnya dong kalau aku masuk kamar kamu kayak gini?" ucap Randi kembali mendekati Ayna.


Gadis itu memundurkan langkahnya berusaha menjauh dari Randi.


Namun, tubuhnya justru menyentuh lemari dan membuat Randi leluasa mengungkungnya.


"Hayo, mau kemana lagi kamu? Ayolah sayang, cuma lihat kamu ganti baju kok, gausah takut" ucap Randi dengan smirk nya.


"Janji ya cuma lihat?" tanya Ayna gemetar.


Randi terkekeh geli melihat ekspresi gemas gadisnya saat ini, perlahan ia mengusap wajah Ayna dan menyelipkan rambut gadis itu di telinga lalu mengecup bibirnya singkat.


Cup!


"Iya sayang, aku janji gak akan apa-apain kamu sebelum kita menikah!" bisik Randi sensual.


"Oke, aku percaya sama kamu! Tapi, awas aja ya kalo kamu macam-macam!" ancam Ayna.


"Mana berani aku macam-macam sama kamu sayang? Kita kan baru pacaran sehari, masa iya aku udah lancang aja?" ujar Randi.


"Terus tadi itu apa? Kamu kan sentuh-sentuh puncak aku," kesal Ayna.


"Eee iya itu tadi aku gak tahan aja sayang, abisnya punya kamu kenyal banget sih. Mending sekarang kamu cepat deh ganti baju, biar aku bisa tahan diri!" ucap Randi.


"Iya iya, kamu tunggu aja di kasur gih! Kalau kamu mau tiduran juga boleh kok," ucap Ayna.


"Oke sayang!" ucap Randi menurut.


Pria itu memajukan bibirnya, kembali mengecup singkat bibir ranum Ayna dan mengusap rambutnya.


Cup!


"Bibir kamu enak banget, aku kayaknya kecanduan sama bibir kamu deh!" goda Randi.


"Bisa aja kamu, udah ah sana jauh-jauh!" usir Ayna.


"Hahaha.." Randi tertawa kecil sembari memundurkan langkahnya menuju ranjang empuk milik Ayna.


Ayna pun mulai mengganti pakaiannya di hadapan Randi, terlihat gadis itu malu-malu saat melakukannya, sedangkan Randi sendiri justru mengamati dengan serius.


Setelah selesai, kini keduanya kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Tak terjadi apapun di dalam kamar itu, karena Randi juga tidak berani melakukan hal buruk pada Ayna.


"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.


"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.


"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.


"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.


******


Tak ingin kalah dari Randi dan Ayna, pasangan kekasih yang tengah menikmati indahnya masa-masa pacaran kini berada di sebuah tempat pacuan kuda.


Mereka adalah Thoriq serta Mia, yang sengaja datang kesana untuk berolahraga sekaligus bersuka ria menikmati pagi yang indah dengan berkuda.


Mia tampak sangat bahagia, dia akhirnya mampu mengendarai kuda dengan Thoriq setia berada di belakangnya. Mereka pun sama-sama tersenyum ria seakan tak ingin berhenti.


"Gimana? Kamu senang gak sayang naik kuda bareng aku?" tanya Thoriq pada kekasihnya.


"Hahaha, senang banget sayang! Tadinya aku kira kamu mau ajakin aku main kuda-kudaan di kasur, eh ternyata malah naik kuda beneran," jawab Mia.


"Hahaha, makanya pikiran kamu tuh dibersihin dulu sayang biar gak ngeres!" ujar Thoriq.


"Ih kamu mah bikin sebel! Yang ngeres itu bukan aku, tapi kamu tau!" cibir Mia.


"Lah kok aku? Padahal tadi kan kamu yang mikirnya kotor, orang aku mau ajak kamu berkuda, eh kamu malah mikir yang lain," goda Thoriq.


"Tau ah kamu emang nyebelin!" kesal Mia.


"Hahaha, udah udah jangan cemberut begitu! Lama-lama aku makan nih bibir kamu disini!" ujar Thoriq.


"Emang berani?" tantang Mia.


"Dih, siapa takut?! Kayaknya enak deh ciuman di atas kuda begini," ucap Thoriq.


"Tuh kan, emang kamu yang mesum!" cibir Mia.


"Iya iya, aku mesum iya. Kalo gitu boleh kan aku makan bibir pacar aku yang cantik ini sambil pegang-pegang gunung kamu?" ucap Thoriq sensual.


"Boleh, tapi kamu hati-hati loh sayang! Jangan sampai kudanya lepas dan kita malah jatuh nanti!" peringat Mia.


"Santai aja sayang, aku ini ahli berkuda dan kita pasti gak bakal jatuh kok! Kamu peluk aja aku yang kuat, terus nikmati penyatuan bibir kita!" ucap Thoriq.


Mia mengangguk saja dan menuruti semua perkataan Thoriq.


Lalu, mereka mulai saling melu-mat satu sama lain dengan panas dan intens. Tangan Thoriq juga bergerak pelan menyentuh bukit kembar Mia.


Sangking asyiknya berciuman, mereka sampai tak sadar kalau kuda yang mereka tunggangi sudah bergerak melewati batas.


Akhirnya mereka menyudahi momen panas itu, seketika Mia dan Thoriq panik menyadari mereka tersesat.


"Hah? Kita dimana sayang??!" ujar Mia panik.


Bersambung....