
My love is sillie
Episode 51
•
"Ohh yaudah, lu hati-hati aja ya pulangnya! Jangan ngebut-ngebut!" ucap Aurora tersenyum tipis.
"Pasti!" Willy mencubit pipi Aurora sambil terkekeh kecil dan langsung melajukan motornya pergi dari rumah gadis itu.
Aurora masih senyum-senyum disana sambil terus memeluk dan menghirup aroma jaket milik Willy yang kini ada di tangannya.
"Duh, kok gue jadi salting gitu ya tiap kali dekat sama Willy? Apa gue..."
"Ah enggak-enggak, gak mungkin! Masa iya gue jatuh cinta? Ngaco aja!" gumamnya.
Aurora pun masuk ke dalam rumahnya, membawa jaket itu dengan raut gembira menyelimuti wajahnya yang manis dan cantik.
Namun, tiba-tiba namanya disebut oleh seorang pria yang tak lain dan tidak bukan adalah Martin, sepupunya yang agak galak itu.
"Aurora!" ucap Martin.
"Kak Martin?" Aurora terkejut karena Martin ada di rumahnya dan menatap tajam ke arahnya.
"Ada apa kak?" tanya Aurora sedikit gugup.
"Kamu kok diantar pulang sama Willy? Katanya kalian gak pacaran, kenapa kelihatannya akrab banget?" ucap Martin dingin.
"Emangnya kalau akrab sama teman tuh salah ya, kak? Aku kan udah bilang, aku sama Willy itu sahabat bukan pacar. Lagian apa masalahnya coba kalo aku akrab sama dia?" ucap Aurora.
"Jelas masalah! Saya gak suka keluarga saya ada hubungan dengan anak geng motor yang berandalan itu!" tegas Martin.
"Kak, Willy itu gak berandalan. Kamu harus kenal dia lebih jauh dulu, supaya kamu bisa mengerti gimana sikap Willy yang sebenarnya! Dia gak seperti yang kamu kira," ucap Aurora.
"Kenapa kamu begitu membela Willy? Kamu cinta sama dia?" tanya Martin.
"Aku cinta atau enggak sama Willy itu urusan aku, kamu gak boleh ikut campur! Udah ya, aku capek mau istirahat!" ucap Aurora kesal.
Aurora hendak pergi, namun lagi-lagi dicekal oleh Martin yang tak membiarkan ia pergi.
"Akh sakit!" Aurora meringis kesakitan sembari berusaha melepaskan cengkraman itu.
"Kamu gak boleh pergi sebelum saya izinkan! Kamu mau ngapain sih emang buru-buru banget ke dalam? Istirahat? Kalau kamu mau istirahat, kenapa baru pulang jam segini?" ujar Martin.
"Aku baru pulang ya karena ada urusan di sekolah, makanya aku sekarang mau istirahat ya karena capek habis ngurusin urusan itu!" ucap Aurora.
"Urusan apa? Bukannya kamu abis pacaran sama Willy? Ya kan?" tanya Martin menelisik.
Ditatap seperti itu dari jarak dekat, membuat Aurora tak berkutik dan berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan Martin.
"Apa sih? Aku gak pacaran kok!" ujar Aurora.
"Ah masa? Jujur aja sama saya, kamu pacaran kan sama Willy?! Kalau kamu jujur, saya bakal lepasin kamu dan biarin kamu pergi." kata Martin.
"Gak, aku gak pacaran sama Willy. Itu udah jawaban jujur loh, sekarang lepasin aku!" pinta Aurora sembari menarik tangannya.
Namun, Martin justru menguatkan cengkeramannya dan melotot ke arah Aurora.
"Akh sakit ih! Aku teriak nih!" ucap Aurora.
"Kamu teriak aja, gak bakalan ada yang dengerin kamu kok. Toh mereka semua di rumah ini tau kalau saya keponakan ayah kamu, jadi saya gak akan mungkin jahatin kamu." ucap Martin.
"Haish, kamu tuh mau apa sih? Kenapa kamu kayak gak suka banget aku dekat sama Willy? Apa masalahnya coba?" tanya Aurora heran.
"Jelas lah saya gak suka, Willy itu anak gak bener dan dia bisa memberi contoh buruk buat kamu! Jadi, kamu harus jauh-jauh dari dia atau kamu bisa terperosok ke dalam jurang kegelapan sama seperti Willy!" ucap Martin.
"Kamu tahu darimana kalau Willy gak benar? Menurut aku, dia anak baik kok." kata Aurora.
"Kamu itu salah. Willy jelas-jelas anak berandalan yang sukanya cari keributan, dia udah berkali-kali masuk penjara. Apa itu kurang untuk membuktikan bahwa dia anak gak benar?" ucap Martin.
Aurora terdiam memalingkan wajahnya, ia sungguh bingung mengapa Martin sampai segitu bencinya kepada Willy.
******
Flashback
"GOL! YEAY...!!" Aurora bersorak gembira ketika Willy mencetak gol pertamanya saat berlatih futsal bersama teman-temannya.
Tak hanya Aurora memang, seluruh murid yang menonton disana ikut bersorak-sorai menyambut gol dari Willy. Apalagi Willy memiliki tubuh serta wajah yang enak dipandang.
Entah mengapa Aurora merasa jengkel saat banyak wanita meneriaki Willy, sepertinya Aurora sedang dilanda badai cemburu akibat perbuatan wanita-wanita tersebut.
"Eh Aurora! Lu kok langsung bete gitu sih? Lu cemburu ya?" Cindy menggoda Aurora.
"Ish, apaan sih?!" Aurora mengelak.
"Hahaha, ngaku aja kali Rora! Kelihatan kok dari muka lu yang bete itu, pasti lu kesel kan sama cewek-cewek disana!" ujar Cindy.
"Gak kok, biasa aja." sangkal Aurora.
"Yaudah, lu yang sabar ya Rora! Emang pesona pacar lu tuh ajib banget sih! Wajar aja kalo banyak cewek terpesona sama dia," ucap Elsa.
"Iya tuh, kita juga sama. Tapi, kita berdua mah masih mau jaga perasaan lu." sahut Cindy.
Aurora menggeleng pelan, kemudian kembali fokus menonton pertandingan yang sedang berlangsung.
Willy pun berhasil mencetak golnya yang kedua, Aurora lagi-lagi bersorak gembira sambil meloncat-loncat di atas kursinya.
"Yeay gol!" teriak Aurora.
Willy yang menyadari itu, merasa bahagia karena ia mendapat dukungan dari gadis yang ia sayangi itu. Itulah sebabnya Willy semakin bersemangat untuk mencetak gol sore ini.
"Cie cie, girang amat sih pacarnya nyetak gol!" ucap Cindy menggoda Aurora.
"Ish, jangan gitu terus dong! Gue senang kan wajar, emangnya salah?" ucap Aurora.
"Iya, wajar kok. Yaudah, lu semangatin terus si Willy supaya dia makin banyak nyetak gol!" ucap Elsa.
"Oke!" ucap Aurora menurut.
Lalu, Aurora pun kembali berteriak memberi semangat untuk Willy yang sedang bermain di lapangan.
"WILLY, AYO SEMANGAT!" teriak Aurora cukup keras.
Mendengar itu, Willy tersenyum menatap Aurora dan mengedipkan satu matanya.
Flashback end
Willy masih senyum-senyum sendiri di kamarnya dengan posisi terlentang dan satu kaki berada di atas lututnya.
"Haduh, senyumnya Aurora itu manis banget loh. Gue sampai gak bisa ngelupain senyumannya gitu aja, malahan gue susah tidur gara-gara terbayang senyuman Aurora!" ucap Willy.
Drrttt... drrttt...
Namun, kekesalannya berubah saat mengetahui itu adalah telpon dari Aurora. Ya sontak saja ia langsung mengangkat telpon tersebut.
📞"Halo sayang! Kenapa nih telpon gue malam-malam begini? Kangen ya?" ujar Willy.
📞"Haish, nyebelin lu! Gue bukannya kangen, gue cuma pengen telponan aja sama lu. Soalnya gue gabut nih belum bisa tidur, jadi ya gue pilih telpon lu aja. Sorry ya kalau gue ganggu lu, abisnya gue gak tahu mau ngapain lagi!" ucap Aurora.
📞"Gapapa kok sayang, gue gak ngerasa keganggu. Kebetulan gue juga lagi susah tidur nih, daritadi kepikiran senyuman lu terus yang bikin candu itu." ucap Willy.
📞"Gombal!" ucap Aurora merasa tersipu.
📞"Kita video call aja yuk sayang! Gue pengen lihat muka lu yang cantik itu deh, sekalian senyuman lu yang bikin candu." pinta Willy.
📞"Hah? Eee gimana ya...??" ujar Aurora.
📞"Gak ada penolakan! Pokoknya lu angkat video call dari gue sekarang, atau besok lu gak bakal aman!" tegas Willy.
📞"Ta-tapi Wil..."
Tuuutttt...
Willy langsung mematikan teleponnya, dan kini beralih ke video call.
******
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Aurora rupanya Martin sedang menemui Johan alias sang ayah dari Aurora sendiri.
Martin ingin menyampaikan bahwa Aurora tidak sebaiknya berdekatan dengan Willy, mengingat Willy adalah ketua geng motor yang ganas.
"Jadi, apa yang mau kamu sampaikan nak Martin?" tanya Johan tampak penasaran.
"Eee iya om, ini tuh soal Aurora anak om sekaligus sepupu saya. Saya ingin sampaikan sesuatu perihal Aurora yang nampaknya sangat dekat dengan orang bernama Willy," jawab Martin.
"Willy? Oh ya ya, om tahu anak itu. Kebetulan kemarin dia datang kesini buat jemput Aurora ke sekolah, dan om juga sempat kenalan sama Willy. Memangnya kenapa ya dengan Willy? Kamu kok kelihatannya gak suka gitu?" tanya Johan heran.
"Iya om, itu dia masalahnya. Menurut saya, sebaiknya om minta Aurora buat jaga jarak dan jangan terlalu dekat dengan Willy!" jawab Martin.
"Loh, kenapa begitu? Apa salahnya kalau Aurora dekat sama Willy?" tanya Johan bingung.
"Saya ini kenal dengan Willy, om. Saya tahu kalau Willy bukan orang yang baik dan dia bisa bawa pengaruh buruk buat Aurora, jadi sebaiknya om segera jauhi mereka berdua!" jelas Martin.
"Oh ya? Dimana kamu kenal sama Willy?" tanya Johan penasaran.
"Sebenarnya saya enggak terlalu dekat juga sih dengan Willy, tapi yang saya tahu Willy itu ketua geng motor yang dikenal bringas dan berandalan. Kalau sampai Aurora dekat dengan Willy, dia bisa terbawa-bawa pengaruh buruknya!" jawab Martin.
"Hah? Ketua geng motor berandalan? Masa sih? Serius kamu Martin??" ujar Johan kaget dan langsung menegakkan tubuhnya.
"Iya om, saya serius dan saya tidak sedang berbohong! Bahkan, Willy bukan cuma berandalan, tapi dia juga buronan polisi. Beberapa kali dia sempat mendekam di penjara, sudah jelas kan om betapa brutalnya anak itu?" ucap Martin.
"Duh, saya gak nyangka Aurora bisa berteman dengan ketua geng motor. Benar kata kamu Martin, sepertinya om harus segera bertindak agar Aurora tidak terbawa-bawa pengaruh buruk Willy!" ucap Johan tampak cemas.
"Itu dia om, memang sudah seharusnya seperti itu. Kemarin saya sudah sempat coba bilang sama Aurora buat menjauh dari Willy, tapi dia malah gak mau dengerin saya." kata Martin.
"Ya siapa tahu kalau sama om, Aurora bisa lebih mendengarkan kata-kata om." sambungnya.
"Hadeh, anak itu memang keras kepala sih. Dia sulit sekali diatur dan gak mau dengerin apa kata orang lain, termasuk saya." ucap Johan.
"Gak ada salahnya kan om kalau dicoba dulu?" ucap Martin tersenyum.
"Kamu benar, baiklah saya akan coba bicara dengan Aurora besok. Mungkin sekarang dia sudah tidur, saya gak enak lah ganggu Aurora di waktu malam begini." ujar Johan.
"Iya om, besok juga tidak masalah. Yang penting om harus bisa jauhi Aurora dari Willy! Saya gak mau aja ada bagian keluarga saya yang terjebak ke dalam gelapnya dunia jalanan, itu sangat bahaya loh buat Aurora om!" ucap Martin.
Johan mengangguk-angguk singkat.
"Yaudah ya om, kalo gitu saya mau pamit pulang. Kebetulan hari juga sudah semakin malam, saya khawatir orang rumah nyariin saya!" ujar Martin.
"Ah iya iya, terimakasih ya nak Martin atas informasinya! Om benar-benar berhutang budi sama kamu!" ucap Johan.
"Sama-sama, om." kata Martin tersenyum puas.
******
Keesokan harinya, Aurora seperti biasa hendak pergi ke sekolah dan pamit pada papanya.
Akan tetapi, saat ini Johan tidak langsung memberi izin pada putrinya itu untuk pergi. Ia malah menahan lengan Aurora dan membuat gadis itu kebingungan.
"Pah, aku berangkat sekolah dulu ya? Bye!" ucap Aurora pamit sembari mencium tangan papanya dan melambaikan tangan.
"Tunggu sayang!" pinta Johan.
"Ada apa pah?" tanya Aurora bingung.
"Kamu mau berangkat sama siapa?" ucap Johan bertanya dengan nada ketus.
"Eee aku..." Aurora tampak gugup saat hendak menjawab pertanyaan papanya.
"Kenapa gugup gitu? Kamu dijemput Willy lagi?" tanya Johan.
"I-i-iya pah, Willy udah ada di depan." jawab Aurora.
"Mulai sekarang kamu gak boleh lagi bareng sama dia! Kamu berangkat ke sekolah diantar supir papa aja, paham?!" tegas Johan.
"Tapi pah, kenapa gitu? Perasaan kemarin papa bolehin aku buat berangkat bareng Willy, kok sekarang papa berubah pikiran?" tanya Aurora.
"Iya sayang, papa cemas sama kamu! Papa gak mau kamu terjerumus ke dalam kejahatan, jadi kamu harus nurut sama papa dan jangan lagi dekat dengan Willy!" ujar Johan.
"Loh kenapa? Willy bukan orang jahat, pah. Dia itu baik tau," ujar Aurora.
"Papa sudah tahu semuanya sayang, papa tahu kalau Willy itu anak geng motor yang berandalan. Jadi, papa gak mau kamu dekat-dekat dengan anak geng motor itu! Kamu harus jauhi dia mulai saat ini!" tegas Johan.
"Hah? Papa kenapa sih, pah? Willy emang anak geng motor, tapi dia ini beda pah. Willy gak seperti anak-anak geng motor lainnya!" ucap Aurora.
"Kamu tahu apa Aurora? Sudahlah, nurut aja sama papa dan jauhi Willy!" ujar Johan kesal.
"Aku gak bisa jauhi dia, pah. Aku gak punya alasan untuk ngelakuin itu, karena selama aku kenal sama dia Willy itu gak pernah bawa pengaruh buruk kok buat aku." kata Aurora.
"Kamu belum sepenuhnya kenal dia, Aurora. Kamu tidak bisa percaya begitu saja dengan dia! Bisa saja dia sedang akting kan?" ucap Johan.
"Papa ini kenapa sih? Siapa yang udah bikin papa jadi kayak gini?" tanya Aurora heran.
"Gak ada, papa abis suruh orang buat cari tau tentang Willy. Dan setelah papa dapat informasi, ternyata Willy itu adalah ketua geng motor berandalan. Bahkan dia pernah ditahan di penjara beberapa kali, dia itu bukan orang baik Aurora!" jawab Johan.
Aurora melepas paksa tangannya dari cengkeraman sang papa, lalu menatap Johan dengan penuh emosi.
"Cukup pah, papa udah kelewatan! Aku gak mau lagi nurut sama papa, sekarang biarin aku pergi!" ucap Aurora.
"AURORA TUNGGU!" teriak Johan cukup keras.
Namun, Aurora tak mau mendengarkan itu dan memilih pergi begitu saja.
Bersambung....