My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 104. Patah tangan



My love is sillie


Episode 104



"Kalian tenang ya! Aku bakal turun keluar dan coba bicara sama mereka, supaya bisa mengulur waktu sampai polisi datang." ucap Willy.


"Tapi Wil, kamu kan lagi sakit. Aku gak mau kamu semakin terluka kalau kamu turun sekarang!" ucap Aurora menahan Willy.


"Tenang sayang! Aku gak akan kenapa-napa, kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Willy berusaha meyakinkan kekasihnya.


"Ta-tapi..."


"Hey, trust me!" potong Willy.


Akhirnya Aurora mengangguk dan memberi izin Willy untuk keluar dari mobil.


Tentu saja pria itu langsung turun dan mendekati gerombolan orang di depan sana.


"Kalian semua mau apa?" tanyanya.


"Baguslah, akhirnya lu turun juga Willy! Kali ini kita bakal bikin perhitungan sama lu, atas apa yang udah lu lakuin ke kita!" ujar orang itu.


"Apaan sih? Ngelakuin apa? Emang kalian siapa?" tanya Willy terheran-heran.


"Gausah pura-pura lupa dah lu, gue yakin banget lu masih ingat sama kita semua!" jawab orang itu.


Willy menatap intens ke arah orang-orang itu, ia menangkap logo yang tak asing di matanya terpampang pada jaket mereka.


"Itu kan logo the darks, berarti..." batinnya.


"Gimana Wil? Pasti lu ingat kan sama kita?" ujar orang itu sambil tersenyum smirk.


"Ya ya ya, gue inget kok!" ucap Willy.


"Baguslah! Terus, sekarang lu udah siap kan buat kita kasih perhitungan?" ujar orang itu.


"Kalian mau apa?" tanya Willy.


"Pake nanya lagi, ya udah jelas lah kita pengen balas dendam sama lu karena lu udah masukin kita ke penjara! Sekarang kita mau lu rasain apa yang kita rasain, malah lebih!" jelas orang itu.


"Ohh, jadi kalian mau nyerang gue? Gak lihat apa tangan gue lagi sakit gini? Malu dong, masa sekelas geng thunder yang dikenal kuat dan hebat mau nyerang orang yang lagi sakit?!" ucap Willy.


"Kita gak perduli, pokoknya lu harus mati di tangan kita Willy!" ujar orang itu.


Willy tersenyum saja tanpa rasa takut sedikitpun, ia memang berusaha kuat agar tak membuat geng thunder mengetahui kecemasannya.


"Willy!"


Tiba-tiba saja Aurora berteriak dari belakang dan membuat Willy serta yang lainnya terkejut lalu kompak menoleh ke arahnya.


"Aurora? Ngapain dia pake turun segala sih?"


Wanita itu bergerak mendekatinya, kemudian menyelipkan tangannya di sela-sela lengan Willy.


"Wil, kamu masuk aja ya ke dalam!" ujar Aurora.


"Sayang, ngapain sih kamu keluar? Aku kan udah bilang tadi, kamu stay aja di dalam mobil!" ucap Willy.


"Aku gak bisa diam aja, aku khawatir kamu kenapa-napa sayang!" ucap Aurora.


"Haish, tapi ini bahaya buat kamu sayang! Mereka bisa aja gunain kamu buat ancam aku, ngerti gak sih?!" geram Willy.


"Ma-maaf, aku cuma takut kamu kenapa-napa!" ucap Aurora gugup plus ketakutan.


"Hahaha, Willy Willy... ternyata sekarang lu udah punya cewek lagi? Lumayan juga tuh cewek, cantik plus manis lagi. Gimana kalau dia buat gue aja? Soalnya kalo sama lu itu gak cocok!" ujar Rimba si ketua geng thunder.


"Diem ya lu! Jangan pernah lu sentuh sedikitpun cewek gue, atau gue abisin lu!" ancam Willy.


"Kalau lu ngancem kita pas lu lagi sehat, okelah kita bakal takut walau sedikit. Lah ini lu ngancem dengan kondisi tangan lu patah gitu, buat apa kita takut?" ledek Rimba.


"Hahaha.." yang lainnya kompak tertawa.


Willy mulai tersulut emosi, namun Aurora yang berada di sampingnya itu terus mencoba menenangkan Willy agar tak terpancing.


"Heh! Kalian mending pergi deh, sebentar lagi polisi bakal datang buat tangkap kalian semua, kalian gak mau kan masuk penjara? Jadi lebih baik kalian semua pergi aja!" ucap Aurora.


"Hah? Polisi? Duh, gimana nih Rim? Kita gak mau masuk penjara lagi!" ucap mereka panik.


"Santai! Dia cuma gertak, kita gausah takut sama omong kosong dia!" ucap Rimba.


"Gue gak pernah kayak gitu, yang gue omongin itu benar dan lu semua bakal masuk penjara!" ucap Aurora lantang.


"Cantik, lu mending diem aja deh! Emang mau kalo lu kita bawa dan kita gilir rame-rame di kebon?" ujar Rian (anggota thunder).


"Hahaha..." yang lainnya kembali tertawa puas.


Aurora menganga tipis mendengar ucapan Rian, sedangkan Willy sudah semakin emosi dan tak terima karena kekasihnya dilecehkan begitu oleh geng thunder.


"Kurang ajar! Lu gak punya adab apa gimana sih? Bisa-bisanya lu bicara begitu sama cewek, emang lu mau kalau ada keluarga perempuan lu yang digituin juga sama orang lain? Misal ibu lu atau saudara lu, ha?" ujar Willy.


"Apa salahnya sih Wil? Kan cewek lu duluan yang cari gara-gara tadi," ujar Rimba.


"Lu semua emang harus dikasih pelajaran!" geram Willy penuh emosi.


"Wil, tahan Wil! Aku gak mau kamu terluka, kamu disini aja ya jangan kesana!" pinta Aurora.


"Aku gak bisa diam aja sayang, mereka udah lecehin kamu!" ujar Willy.


"Aku gapapa kok, udah ya kamu jangan kepancing emosi sama mereka!" bujuk Aurora.


"Ayolah Willy, sini maju jangan jadi pengecut! Jangan sembunyi terus dibalik tubuh cewek lu!" ledek Rimba.


Aurora terus-terusan menahan Willy yang hendak maju menyerang Rimba dan teman-temannya itu.


"Sayang, kita ke mobil aja yuk! Jangan ladenin mereka! Biarin aja mereka terus disini sampai polisi datang!" ucap Aurora.


"Dasar cupu lu Willy!" teriak Rimba.


"Gue emang cupu, tapi seenggaknya gue selalu jaga perasaan wanita!" ucap Willy.


"Cih, basi lu!" ujar Rimba.


"Kita serang aja mereka!" ucap Rian.


"Gas! Serang!!" perintah Rimba.


"Hah??" Aurora terkejut melihatnya.


"Kamu masuk ke mobil sayang, biar aku yang hadapi mereka!" perintah Willy.


"Tapi Wil, kamu—"


"Udah cepet masuk!!" potong Willy.


Wiu wiu wiu...(sirine polisi)


Tiba-tiba saja mobil polisi muncul disana dan membuat Rimba serta anggota geng thunder lainnya mengurungkan niat mereka untuk menyerang Willy.


"Sial! Ternyata bener ada polisi, kita cabut guys!" ujar Rimba.


Mereka semua pun pergi dengan cepat.


"Syukurlah!" ucap Aurora lega.


***


Cup!


Aurora terkejut saat tiba-tiba Willy mengecup bibirnya dan tersenyum ke arahnya.


Melihat ekspresi Aurora saat ini, justru membuat Willy gemas dan ingin menciumnya lagi.


Cup!


"Wil, kamu ngapain sih? Aku tuh lagi cemas loh sama kamu gara-gara tangan ini, eh kamu malah cium-cium aku kayak gitu. Emang kamu gak mikirin tangan kamu?" ujar Aurora.


"Buat apa dipikirin? Dia nanti juga bakal sembuh sendiri, sama kayak perasaan aku yang bisa sembuh saat kenal kamu sayang. Makanya kamu selalu ada disini ya temenin aku!" ucap Willy.


"Halah gombal aja kamu!" cibir Aurora.


"Kok gombal sih? Semua itu fakta, kamu aja bisa sembuhin luka di hati aku, masa cuma tangan gak bisa? Coba deh kamu cium tangan aku ini, mungkin dia akan membaik!" ucap Willy.


"Kalau misal gak membaik gimana?" tanya Aurora.


"Ya kamu coba lagi," jawab Willy.


"Ih itu mah maunya kamu!" ujar Aurora.


"Masih mending aku suruh cium tangan, kalau cium bibir emang kamu mau?" ujar Willy.


"Apa hubungannya sama bibir sih?" tanya Aurora.


Cup!


Bukannya menjawab, pria itu justru kembali mencuri satu kecupan di bibir manis wanitanya dan tersenyum renyah.


"Manis banget sih sayang, bikin nagih!" ucap Willy seraya membelai sisa kecupan di bibir Aurora.


"Bentar deh sayang, aku mau tanya satu hal penting sama kamu!" pinta Aurora.


"Hah? Mau tanya apa sih sayang? Kamu kok kelihatan serius banget gitu?" Willy tampak penasaran.


"Ya emang ini serius, aku mau tanya soal kejadian malam itu di pesta Akram. Kamu waktu itu keluarin di dalam apa di luar ya?" tanya Aurora.


"Apa? Aku gak inget sih sayang, tapi kayaknya di dalam deh. Soalnya malam itu aku benar-benar gak tahan sama kenikmatan tubuh kamu, jadinya aku gak mikir apa-apa deh." jawab Willy.


"Hah? Serius??" Aurora langsung terkejut dan menganga lebar mendengarnya.


"Iya sayang, emang kenapa sih?" ujar Willy santai.


"Ih pake nanya lagi! Terus kalau aku hamil gimana nanti?" ucap Aurora sembari memukul lengan Willy.


"Awhh tenang sayang! Gak bakal ada yang hamil, kamu jangan panik! Kecilin juga suara kamu, ibu aku masih ada di dalam loh! Kalau dia dengar gimana?" ujar Willy.


"Oh iya, aku lupa!" ucap Aurora yang reflek menutup mulutnya.


"Udah gapapa, kayaknya ibu gak dengar. Kamu jangan bahas soal itu dong kalau di rumah aku, kita bicaranya nanti-nanti aja pas berdua." ujar Willy.


"Iya iya, tapi aku panik banget tau! Aku belum mau hamil sayang, aku masih pengen sekolah!" ucap Aurora.


"Tenang sayang! Kamu itu lucu deh kalo lagi panik kayak gini," goda Willy.


"Ish, kamu mah enak bilang tenang tenang! Kan yang ngerasain tuh aku," ujar Aurora.


"Ya makanya aku bilang tenang, soalnya yang hamil kan bukan aku." ucap Willy sambil nyengir.


"Aih kamu bener-bener ngeselin ya Willy! Lihat aja, aku bakal laporin kamu ke papa supaya kamu dihukum!" ancam Aurora.


"Eh jangan dong! Kalau kamu lapor, nanti kita malah dinikahin loh. Emang kamu mau nikah muda sebelum lulus sekolah?" ujar Willy.


"Dih kege'eran! Kata siapa papa bakal nikahin kita?" ucap Aurora.


"Pasti sih gitu, coba aja kamu lapor sana sama papa kamu!" ucap Willy.


Aurora justru terdiam dan memalingkan wajahnya, entah mengapa ia selalu kalah dalam berdebat dengan kekasihnya itu.


******


Hari telah berganti, Willy pun kembali bersekolah seperti biasanya walau kali ini tangannya masih terluka akibat ulah Martin.


Willy datang ke sekolahnya dengan taksi, tentu saja karena ia belum bisa mengendarai motor ketika kondisi tangannya seperti ini.


Begitu masuk ke area sekolah, semua murid disana langsung terkejut melihat kondisi Willy dan menghampiri pria itu.


"Eh Wil, tangan lu kenapa digituin? Siapa yang udah bikin lu kayak gini Wil?" tanya Akram heran.


"Iya Willy, pasti sakit ya tangan kamu? Mau aku obatin gak?" sahut Keisya.


"Ah hobi banget lu godain si Willy! Inget, dia udah punya pacar!" tegur Rezham.


"Berisik deh lu Zam! Suka-suka gue dong mau godain Willy atau siapa kek!" ujar Keisya.


"Udah udah, santai aja! Gue gapapa kok guys," ucap Willy menengahi.


"Tapi, emang kenapa tangan lu bisa kayak gitu sih Wil? Perasaan kemarin pas pesta gak kenapa-napa deh, apa ada yang jahatin lu? Bilang aja ke kita Wil, biar kita balas dia!" tanya Akram.


"Gak ada kok, ini murni pertarungan di jalanan. Siapa yang kuat dia yang berkuasa, jadinya gue harus terus-terusan berantem." jawab Willy.


"Ohh, bener nih lu gapapa?" tanya Akram.


"Iya, santai aja kali! Btw thanks ya, karena kalian udah mau perduli sama gue! Sampe pada kumpul kesini segala pas lihat gue," ucap Willy.


"Sama-sama Wil, lu itu kan ketua kita sekarang." ucap Akram.


Tak lama kemudian, Aurora muncul menghampiri mereka disana. Ia langsung mendekat ke arah Willy dengan wajah cemasnya.


"Willy, kamu kok sekolah sih? Aku kan udah bilang, kamu istirahat aja dulu! Tangan kamu masih sakit kayak gini, gimana kalau nanti kamu kenapa-napa?" ucap Aurora.


Willy tersenyum lebar karena Aurora begitu perhatian padanya, ia menggerakkan satu tangannya untuk mengusap wajah wanita itu.


"Cie cie, romantis banget sih!" ledek Rezham.


"Hahaha, wajar lah Zam namanya juga orang pacaran!" ucap Akram sambil tertawa kecil.


"Kalian ngapain masih disini sih? Sana kalian masuk gih ke dalam, gue mau ngobrol berdua sama Aurora!" ucap Willy meminta teman-temannya itu pergi.


"Siap bro siap! Yaudah, yuk guys kita pergi! Si Willy kayaknya mau mesra-mesraan sama Aurora disini," goda Akram.


"Hahaha, ah siap!" sahut yang lain.


Akhirnya mereka semua pergi dari sana meninggalkan Willy dan Aurora berduaan.


"Cantik, masuk yuk!" ucap Willy pada wanitanya.


"Kamu jelasin dulu, kenapa kamu malah datang ke sekolah?! Tangan kamu kan masih sakit sayang, harusnya kamu istirahat aja di rumah!" ujar Aurora.


"Aku gak tahan sayang, aku pengen ketemu kamu dan berduaan sama kamu. Kalau aku gak sekolah kan aku gak bisa ketemu sama kamu, cantik." ucap Willy sambil tersenyum.


"Halah gombal!" cibir Aurora.


"Hahaha, udah yuk kita masuk aja ke dalam! Nanti keburu bel masuk bunyi loh," ucap Willy.


"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Aurora.


"Enggak deh kayaknya, kamu bantu aku jalan dong sayang!" jawab Willy dengan manja.


"Huh manja banget sih kamu!" ujar Aurora.


"Manja sama pacar sendiri mah gapapa kali, apalagi kamu itu cantik plus manis banget." ucap Willy seraya mencolek pipi wanitanya.


"Udah ah, jangan gombal terus! Udah sini aku bantuin kamu jalan!" ucap Aurora merasa malu.


Aurora pun menyelipkan tangannya di sela-sela lengan pria itu, sedangkan Willy terus menatap wajahnya sembari mengusap puncak kepala Aurora dan mengecup pipinya.


Cup!


"Aku sayang banget sama kamu!" ucap Willy.


"Aku juga," balas Aurora.


"Heh Willy!" mereka berdua sama-sama terkejut dan menoleh ke asal suara.


"Tangan lu patah ya? Cupu amat sih!" ledek pria itu sambil melangkah mendekati Willy.


Bersambung....