
My love is sillie
Episode 32
•
Martin masih bersikap dingin dan cuek pada Kiara, biarpun gadis itu sudah berkali-kali mencoba untuk mendapat maaf darinya.
Kiara menghampiri Martin di sofa, duduk di samping kekasihnya itu berharap ia bisa berbaikan kembali dengan Martin.
Namun, yang terjadi justru Martin tetap cuek padanya seakan-akan Martin tak menganggap Kiara ada di sebelahnya saat ini.
"Tuan.." Kiara memanggil Martin dengan perlahan sembari menatap wajahnya dari samping.
"Hm?" Martin hanya berdehem singkat tanpa ekspresi apalagi berbalik menatap Kiara.
Tentu saja Kiara amat bingung dan ketakutan harus bagaimana lagi untuk dapat membujuk Martin yang sedang ngambek itu.
"Tuan, dengerin aku dong! Aku mau bicara sama tuan dan aku bakal jelasin semuanya ke tuan! Ayolah tuan, jangan ngambek lagi ya!" ucap Kiara membujuk Martin dengan susah payah.
"Saya gak mau dengar apapun dari kamu, kamu pergi sekarang!" ucap Martin dingin.
"Gak bisa tuan, aku gak akan pergi sebelum tuan maafin aku!" ucap Kiara memaksa.
"Saya juga gak akan maafin kamu, karena kamu sudah melakukan kesalahan besar yang sulit untuk dimaafkan! Saya berikan mobil untuk kamu, itu supaya kamu bisa bepergian dengan mudah tanpa harus menunggu saya. Eh kamu malah pakai mobil itu buat temuin Willy, jelas aja saya marah dan kecewa sama kamu!" tegas Martin.
Kiara menunduk dengan wajah cemberut, kedua tangannya terus ia satukan di sela-sela pahanya dan tubuhnya semakin gemetar.
"Sudah ya, saya ada urusan yang harus dilakukan sekarang. Jadi, kamu boleh kembali ke kamar dan kemanapun sesuka kamu! Asalkan kamu jangan keluar dari rumah ini!" ucap Martin.
Martin beranjak dari sofa dan hendak pergi.
Namun, Kiara mencekal lengannya dari belakang dan menahan Martin untuk tetap disana.
"Tunggu tuan! Tolong jangan pergi!" rengek Kiara.
Martin justru meliriknya tajam, melepas tangan Kiara secara kasar dan menghempaskan tubuh gadis itu hingga terhuyung ke sofa.
"Lancang sekali kamu Kiara! Jangan pernah kamu berani pegang tangan saya!" bentak Martin.
"Ma-maaf tuan! Aku cuma gak mau tuan pergi, aku masih pengen sama tuan!" ucap Kiara.
"Tapi, saya sedang tidak ingin sama kamu. Saya harus pergi sekarang, selama saya pergi kamu harus membantu para pelayan disini membersihkan rumah sebagai hukuman untuk kamu!" ucap Martin.
"Apa? Kenapa tuan tega nyuruh aku ngelakuin itu? Bukannya kata tuan, saya ini di rumah ini bukan dijadikan sebagai pembantu?" ucap Kiara.
"Sudahlah jangan membantah! Kamu lakukan saja apa yang saya perintahkan kalau kamu tidak mau hal buruk terjadi sama kamu dan Willy!" ancam Martin.
"I-i-iya tuan..." ucap Kiara gugup.
Setelahnya, Martin pun melangkah pergi dari sana dengan tergesa-gesa meninggalkan Kiara yang masih bersedih disana.
******
Sementara itu, Willy merasa senang karena ia ditemani oleh dua gadis cantik sekaligus yang nampak sangat perduli padanya.
Aurora yang sudah datang pagi-pagi sekali membawakan sarapan untuknya, serta Sasha yang menemaninya disana dari semalam.
"Wil, gue suapin lu ya? Sekarang udah waktunya lu buat sarapan, nih gue bawain makanan enak loh yang gue masak sendiri. Lu mau ya cobain makanan gue?" ucap Aurora.
"Hilih paling juga bukan masakannya sendiri!" cibir Sasha menyindir Aurora.
"Eee ini beneran masakan gue sendiri kok, ayo Wil gue sekalian suapin ya!" ucap Aurora.
"Boleh, makasih ya udah bawain sarapan segala buat gue!" ucap Willy tersenyum.
"Sama-sama Wil, gue senang kok bisa bantu lu! Maaf banget ya karena semalam gue gak bisa temenin lu disini!" ucap Aurora.
"Gapapa, udah ada Sasha sama yang lainnya kok. Lagian lu kan udah temenin gue dari kemarin siang, jadi pasti lu capek." kata Willy.
"Sebenarnya enggak sih, kalo jagain lu mah mana mungkin gue capek!" ucap Aurora.
"Kelamaan ngomong keburu lapar tuh Willy! Niat kasih makan gak sih!" sindir Sasha kembali.
Willy justru tersenyum merasakan aura kecemburuan di dalam diri Sasha, entah mengapa Willy senang sekali dan seperti merasa sehat kembali karena dirawat oleh dua wanita itu.
"Eh ya, yaudah nih Wil lu minum dulu biar gak seret!" ucap Aurora menyodorkan gelas minuman ke arah Willy.
"Thanks!" ucap Willy singkat.
Setelah membantu Willy minum, Aurora juga mulai menyuapi pria itu dengan makanan buatannya.
"Nih suapan pertama!" ucap Aurora.
Willy pun membuka mulut dan menyantap makanan tersebut dengan suka hati, ia takjub karena rasa masakan itu sangatlah enak.
"Gimana? Enak gak?" tanya Aurora penuh harap.
"Ini enak banget sih! Lu ternyata jago masak juga, ya? Gue suka sama masakan lu ini!" jawab Willy sambil tersenyum.
"Serius? Gue senang deh kalo lu suka sama masakan gue!" ucap Aurora.
"Halah cuma begitu aja gue juga bisa kali!" cibir Sasha masih merasa jengkel.
"Sya, lu gak berangkat ke sekolah? Ini kan udah mau jam tujuh loh, nanti lu telat lagi terus dihukum sama guru!" ucap Willy.
"Eee biarin aja deh, gue masih mau temenin lu disini. Gak mungkin dong gue biarin lu berduaan aja sama cewek ini!" ucap Sasha.
"Kalau lu mau pergi, ya pergi aja sana! Willy aman kok selagi sama gue, dia gak mungkin kenapa-napa!" ucap Aurora.
"Lu aja yang pergi sana! Emang lu gak sekolah apa?" ucap Sasha.
"Gue mah gampang, sekolah gue itu milik bokap gue, jadi gue mau datang kapanpun juga terserah gue!" ucap Aurora menyombongkan diri.
"Dasar sombong!" cibir Sasha.
Lagi-lagi Willy dibuat terkekeh dan geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan kedua gadis itu.
******
Martin berhenti tepat di depan ruangan Willy dirawat, pria itu memang sengaja ingin menemui Willy dan berbicara dengannya terkait Kiara yang terus saja memikirkannya.
Thoriq dan Randi yang kebetulan menunggu di depan ruangan tersebut, langsung berdiri menghadap Martin dengan tatapan heran sekaligus menusuk.
"Siapa lu? Mau ngapain datang kesini?" tanya Thoriq dengan nada tinggi.
Martin tersenyum dan berkata, "Saya Martin. Saya yang memiliki rumah sakit ini, jadi terserah saya dong mau ngapain kek."
"Oh gitu, tapi tetap aja lu gak bisa masuk ke dalam gitu aja tanpa seizin kita! Karena yang lagi dirawat di dalam itu teman kita, dan dia bayar kok disini bukan gratis. Jadi, kita punya hak buat larang lu untuk gak masuk ke dalam!" ucap Thoriq.
"Tapi, gue rasa gak perlu deh lu masuk ke dalam buat semangati Willy! Di dalam juga ada dua temannya kok, jadi lu gausah repot-repot buat ngelakuin itu!" ucap Thoriq.
"Riq, jangan gitu lah!" tegur Randi pelan.
"Kenapa sih Ran? Yang gue bilang kan benar, Willy gak butuh kehadiran dia bro!" ucap Thoriq.
"Tetep aja lu gak boleh gitu, gak sopan tau! Biar gimanapun, niat dia kan baik pengen jenguk Willy. Kita harusnya jangan begitu!" ucap Randi.
"Nah, benar kata teman kamu ini. Harusnya kalian itu punya itikad baik untuk sambut saya, karena niat saya kan juga baik. Saya cuma mau jenguk teman kalian yang lagi sakit dan bantu semangati dia supaya bisa cepat sembuh," kata Martin.
"Iya iya... gue minta maaf ya sama lu! Tapi, buat bisa masuk ke dalam lu harus tunggu salah seorang keluar dulu. Soalnya kata dokter gak boleh lebih dari dua orang," ucap Thoriq.
"Oh oke! Saya siap kok menunggu!" ucap Martin.
Tak lama kemudian, Sasha keluar dengan wajah cemberut dan menghampiri ketiga pria tersebut di depan sana.
"Nah ini dia udah keluar satu, yaudah bapak boleh kok masuk ke dalam buat jenguk teman kita!" ucap Randi menyilahkan Martin masuk ke dalam.
"Terimakasih!" ucap Martin singkat lalu melangkah ke dalam ruangan tersebut.
Sasha menatap keheranan ketika melihat lelaki tersebut, ia pun menghampiri Randi dan Thoriq bermaksud menanyakan siapa lelaki itu.
Baru saja Sasha hendak membuka mulutnya untuk bertanya, namun Thoriq sudah lebih dulu menjeda ucapannya.
"Dia itu namanya Martin, pemilik rumah sakit ini. Dia katanya sih emang suka jenguk semua pasien yang ada disini, dia mau semangati mereka supaya bisa cepat sembuh." jelas Thoriq.
"Ohh aneh ya?" ujar Sasha.
Thoriq dan Randi mengangguk-angguk saja.
******
Di dalam, Aurora baru saja selesai memberi Willy makan dan tampak pria itu begitu lahap memakan masakan Aurora hingga tak bersisa.
Tentu saja Aurora tampak senang karena masakannya ternyata disukai oleh Willy, ia jadi merasa bahwa apa yang ia lakukan itu tak sia-sia.
"Wih hebat banget lu makannya lahap banget sampe habis!" ucap Aurora tersenyum.
"Iya dong, masakan lu enak banget sih! Kapan-kapan buatin lagi ya gue makanan kayak gini, soalnya jarang-jarang gue bisa makan makanan mewah begini." kata Willy.
"Siap Willy! Yang penting lu sehat aja dulu, nanti gue masakin buat lu terus deh!" ucap Aurora.
"Thanks ya Rora! Lu udah mau banyak bantu gue, padahal kita ini kan belum terlalu lama kenal." kata Willy sambil tersenyum.
"Sama-sama Wil, yang namanya tolong menolong itu kan gak mesti udah kenal lama. Gue pengen aja bantu lu karena lu juga kan mau bantu gue buat jadi ratu jalanan," ucap Aurora.
"Eee kalau menurut gue kayaknya mending lu urungkan lagi deh niat lu buat masuk ke jalanan! Gue gak mau aja lu jadi cewek rusak, karena menurut gue sekarang ini lu lebih cocok tau dan enak aja gitu buat diajak berteman." kata Willy.
"Loh kok gitu? Katanya lu siap buat ajarin gue, tapi kenapa tiba-tiba lu malah bilang begitu? Lu gak mau ya ajarin gue?" tanya Aurora.
"Eh bukan gitu Rora, gue cuma gak mau lu nyesel nantinya! Jadi anak jalanan itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan dan dijadikan mimpi, buktinya gue aja berakhir seperti ini." jawab Willy.
"Justru itu Wil, gue emang mau hidup gue tuh penuh tantangan. Gue bosan kalau cuma gini-gini aja, lagian jadi cewek baik-baik tuh gak enak!" ucap Aurora.
Willy tersenyum menatap wajah Aurora tanpa berkedip, membuat gadis itu keheranan.
"Heh! Lu kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" tegur Aurora.
"Gue suka aja ngeliat wajah cantik lu ini, enak buat dipandang. Jangan jadi anak berandalan ya Aurora, gue gak suka itu! Lu mending jadi diri lu sendiri aja yang seperti sekarang ini, baik dan suka menolong sesama!" ucap Willy.
"Tapi Wil, gue—"
"Ehem ehem.." ucapan Aurora terpotong dengan deheman dari seseorang yang masuk kesana.
Sontak Willy serta Aurora kompak menoleh ke asal suara dan menemukan sosok Martin disana.
"Martin?" Willy terperangah lebar melihat kehadiran Martin disana.
"Iya Willy, ini saya. Apa kabar kamu, ha?" ucap Martin yang kini sudah mendekat ke arah Willy.
******
Pak Gunawan dan Bu Ani masih terus memikirkan bagaimana keadaan putra mereka yakni Willy, karena hingga sekarang belum ada kabar mengenai keberadaan Willy yang membuat keduanya semakin khawatir.
"Pak, Willy kemana ya? Bapak kenapa masih belum bisa juga bawa Willy pulang? Katanya bapak janji mau bawa Willy kesini, tapi mana? Kok bapak selalu pulang dengan tangan kosong?" ujar bu Ani.
"Maaf ya Bu! Sampai sekarang bapak belum bisa menemukan dimana Willy, jadi bapak gak bisa bawa Willy pulang kesini. Tapi, ibu yang sabar dulu ya karena bapak akan terus cari Willy sampai ketemu kok!" ucap pak Gunawan tersenyum.
"Iya pak, ibu harap bapak bisa cepat temuin Willy ya!" ucap Bu Ani penuh harap.
"Aamiin! Ibu yang tenang dan banyak-banyak berdoa aja ya! Biar bapak aja yang keluar buat cari Willy sampai dapat, jadi ibu tunggu aja disini dan terus doain bapak!" ucap pak Gunawan.
"Dari kemarin kan ibu juga selalu begitu, pak. Tapi, nyatanya Willy tetap aja belum ketemu juga sampai sekarang." kata Bu Ani.
"Sabar ya Bu! Bapak kan sudah bilang, bapak akan terus usaha buat temuin Willy! Jadi, ibu gak perlu sedih seperti itu!" ucap pak Gunawan menenangkan istrinya.
"Ibu ngerti kok pak, ibu cuma cemas aja sama Willy!" ucap Bu Ani pelan.
"Iya Bu, bapak juga sama cemasnya kayak ibu. Semoga saja hari ini bapak bisa temuin Willy ya Bu!" ucap pak Gunawan memeluk istrinya.
"Aamiin!"
Disaat mereka tengah berpelukan, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar disertai seseorang yang mengucap salam.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, om tante!"
Mendengar itu, sontak saja pak Gunawan serta Bu Ani langsung beranjak dari duduknya dan berniat menghampiri ke depan untuk melihat siapakah yang datang kesana.
"Pak, itu siapa ya?" tanya Bu Ani heran.
"Entahlah, biar bapak aja yang cek ya Bu. Ibu disini aja lanjut istirahat!" ucap pak Gunawan.
"Enggak pak, ibu mau ikut!" ucap Bu Ani kekeuh.
"Yasudah, ayo Bu!" ucap pak Gunawan.
Akhirnya mereka bersama-sama mengecek ke depan sembari bergandengan tangan.
Ceklek...
"Waalaikumsallam, eh nak Aziz, nak Ratih?" ucap pak Gunawan cukup terkejut melihat kehadiran dua orang teman Willy itu.
Bersambung....