
My love is sillie
Episode 115
•
"Silahkan mas, mbak!" penjual itu muncul membawa dua piring berisi ketoprak pesanan mereka.
"Yang pedes mana pak?" tanya Willy.
"Ini mas, nah kalo ini yang gak pedas. Minumnya bentar ya!" jawab penjual itu.
"Iya pak, makasih!" ucap Willy.
Willy dan Aurora pun sama-sama memakan ketoprak tersebut, pria itu tampak menantikan penilaian dari wanitanya saat ini.
"Gimana sayang? Enak gak?" tanya Willy.
"Umm, lumayan enak kok. Selera kamu emang gak pernah salah deh," jawab Aurora.
"Bener kan yang aku bilang, yaudah kamu makan sampe habis ya!" ucap Willy.
"Iya sayang," ucap Aurora menurut.
Tak lama kemudian, penjual tadi kembali membawakan minuman untuk mereka. Lalu pergi lagi membiarkan sepasang kekasih itu makan disana.
"Kalau masih kepedesan juga, kamu minta tambah kecap aja sama penjualnya!" ujar Willy.
"Hah? Emang siapa yang kepedesan sih? Ini aja gak ada pedas-pedasnya," elak Aurora.
"Ah masa? Buktinya kamu sampe keringetan gitu, ngaku aja kali!" goda Willy.
"Ih kamu mah," cibir Aurora.
"Hahaha, lucu banget sih pacar aku ini! Masa cuma makan segitu aja kepedesan? Gimana kamu makan punya aku nih?" ujar Willy.
"Gak lucu ah, kamu mah nyebelin! Sukanya ngecengin aku terus," ucap Aurora ngambek.
Willy tersenyum, lalu mengusap wajah Aurora yang berkeringat dengan jarinya. Aurora tampak tersipu malu dan berpura-pura tidak tahu, hingga membuat Willy makin gemas.
"Duh, kamu itu benar-benar gemesin deh! Aku sayang sama kamu!" ucap Willy.
"Hm, serah kamu! Oh ya, tadi kamu mau ngomong apa pas di motor?" tanya Aurora.
"Ah eee..."
"Kamu kenapa diam aja? Emangnya tadi kamu ngomong apa sih?" tanya Aurora sangat penasaran.
Willy menegakkan tubuhnya, mendekat ke arah Aurora dan merangkul wanitanya.
Pria itu membelai rambut halus sang kekasih, sedangkan Aurora hanya diam saja.
"Ngapain sih kamu? Udah lanjut makan, nanti keburu siang terus kita telat ke sekolahnya!" ucap Aurora keheranan.
"Kamu cantik banget sih, aku gak bisa fokus makan karena lihatin kecantikan kamu. Bisa gak jangan terlalu cantik?!" ucap Willy.
"Hah? Dasar gombal!" cibir Aurora.
"Aku serius sayang, emang kamu cantik banget kok. Setiap hari, aku selalu kepikiran sama wajah cantik kamu. Gak bisa semenit aja aku gak mikirin kamu," ucap Willy lembut.
"Ah kamu mah gombal mulu! Serius sayang, tadi kamu ngomong apa pas di motor!" kesal Aurora.
"Iya iya, aku itu cuma nanya sama kamu, apa kamu mau terima kalau aku lamar kamu?" ujar Willy.
"Apa? Lamar??" Aurora terkejut bukan main.
"Ini baru semisalnya, kamu kira-kira bakal terima aku gak sayang?" jelas Willy.
"Eee aku..." Aurora tampak bingung menjawabnya.
"Kamu apa cantik?" tanya Willy penasaran.
"Udah ah sayang, jangan diterusin bicaranya! Kita harus cepat-cepat abisin ketoprak ini sebelum jam tujuh!" ucap Aurora mengalihkan pembicaraan.
"Kok gitu sih? Jawab dulu sayang, kamu mau terima aku apa enggak!" ucap Willy.
"Nanti aku jawab kok, tapi kamu lamarnya beneran dong jangan misalnya!" ucap Aurora.
"Itu sih pasti, tapi gak sekarang. Tunggu waktu tepatnya ya sayang!" ujar Willy.
Aurora mengangguk kecil dan kembali memakan ketopraknya itu.
******
"Aku tahu, kamu itu masih cinta kan sama Willy?" tegas Max.
"Sok tau banget sih kamu! Aku udah punya pacar, mana mungkin aku cinta sama Willy?" elak Kiara.
"Udah deh Kiara, kamu ngaku aja sama aku! Aku janji gak akan bilang ke siapapun, termasuk pacar kamu itu!" ujar Max.
"Apa sih? Gausah ngada-ngada deh, aku gak cinta sama Willy!" ucap Kiara.
"Ngaku aja Kiara! Aku bisa bantu kamu kok buat deket sama Willy lagi, asalkan kamu mau ngaku ke aku," ucap Max.
"Ngaku gimana? Aku itu gak cinta sama Willy, kamu gak percayaan banget sih!" tegas Kiara.
"Aku bisa lihat loh ekspresi kamu sewaktu dekat sama Willy, kelihatan jelas kalau kamu itu masih cinta sama dia. Tapi, karena suatu hal yang aku gak tau, kalian terpaksa pisah. Iya kan?" ujar Max.
Kiara terdiam membisu, ia heran bagaimana bisa Max tahu cukup banyak tentang dirinya dan juga Willy.
"Lepasin aku, jangan bicara yang gak jelas deh!" ucap Kiara terus berontak.
"Aku bicara jelas loh, gak jelas darimana coba? Ayo ngaku aja sama aku cantik!" paksa Max.
"Dasar gila! Kalau kamu gak mau lepasin aku, aku bakal teriak sekarang supaya kamu ditangkap dan dibawa ke ruang BK!" ancam Kiara.
"Teriak aja, aku gak takut!" tantang Max.
Kiara melotot ke arah Max, coba melepas tangan Max dari pundaknya tetapi selalu gagal.
"Kiara!"
Mereka berdua terkejut saat seseorang datang dan memanggil gadis itu, keduanya pun menoleh secara bersamaan dengan mulut terbuka.
"Isabel?" ucap Kiara lirih. Dirinya menatap sosok wanita di depannya yang tak lain adalah sahabatnya.
"Eh, lu ngapain berduaan sama Max disini? Gak takut pacar lu cemburu?" tanya Isabel heran.
"Ih aku gak berduaan, tapi ini Max yang paksa buat ngobrol sama aku," sangkal Kiara.
"Hah serius? Max, lepasin Kiara gak! Lo jangan macam-macam sama dia!" ujar Isabel.
"Apaan sih Bel? Lo mending diem aja deh, atau gue cabut tuh behel dari gigi lu!" ancam Max.
"Gue gak takut sama ancaman lu! Cepet lepasin Kiara!" bentak Isabel.
"Enak aja!" cibir Max.
Kiara merasa ada kesempatan, ia pun menggigit lengan Max dan berlari ke arah Isabel.
"Akkhh sakit!" rintih Max.
"Hahaha, rasain tuh!" ledek Kiara dan Isabel bersamaan sembari menjulurkan lidah mereka.
Max masih terus memegangi lengannya, ia hanya bisa melirik ke arah dua gadis itu tanpa mampu melakukan apapun.
"Udah Bel, yuk kita cabut!" ajak Kiara.
"Yuk! Bye Max kegatelan!" ujar Isabel yang masih sempat meledek Max sebelum berlalu pergi.
******
Martin bersama anak-anak black jack memulai pencarian terhadap geng thunder yang akan diajak kerjasama oleh mereka.
Mereka kini tiba di tempat Billy sebelumnya memakan kerak telor, karena disinilah mereka bertemu dengan geng thunder.
"Bang, kemarin disini gue sama Geri dan Choky ketemu geng thunder," ucap Billy.
"Iya bang, tapi tukang kerak telor nya gak ada, mungkin belom jualan," sahut Choky.
"Gue gak perduli sama tukang kerak telor, gue maunya ketemu anak thunder! Kita cari info dari orang di sekitar sini tentang mereka, siapa tau ada yang tahu!" ucap Martin.
Mereka pun berpencar dan bertanya pada orang-orang disana mengenai geng thunder.
Tak lama mereka kembali membawa informasi nihil, tak ada yang tahu menahu tentang geng thunder.
"Gimana?" tanya Martin.
"Nihil bang, semua yang kita tanya pada bilang gak tahu geng thunder itu siapa. Kayaknya emang mereka pada belum tahu deh," jawab Billy.
"Ah payah! Kalo gitu kita cari mereka di tempat lain, barangkali kita bisa temuin mereka!" usul Martin.
"Oke bang! Lu boleh di depan buat pimpin kita, kan gak ada Ilham sekarang," ucap Billy.
"Memang begitu seharusnya, udah ayo!" ucap Martin singkat dan langsung memakai helmnya.
Mereka pun melaju pergi dari sana.
Saat di jalan, mereka tak sengaja berpapasan dengan anggota the darks.
Tentu saja itu dijadikan kesempatan oleh mereka untuk menghajar anak-anak the darks disana.
"Hahaha, gak perlu dicari susah-susah, eh mereka datang sendiri temuin kita. Emang kayaknya nasib mereka itu ada di tangan kita," ujar Billy.
"Bener Bil, sekarang kita bisa berpesta lagi dengan menghabisi anak-anak the darks itu!" sahut Geri.
"Kalian semua cukup diam aja! Biar gue yang maju dekati mereka, gue pengen ngerasain olahraga pagi-pagi," ucap Martin turun dari motornya.
"Oke bang, selamat bersenang-senang!" ucap Billy.
Anak-anak the darks yang ada disana terlihat bingung dan panik, mereka sungguh tak menyangka harus bertemu dengan Martin serta anggota black jack disana.
"Zaf, gimana nih? Kita bisa babak belur kalau maksa lawan tuh orang," ujar Leo panik.
"Iya Zaf, si Willy aja tangannya sampe dibikin patah. Gimana kita yang lemah ini?" sahut Jeki.
"Tenang guys! Ingat pesan Willy, kita gak boleh jadi pecundang! Kita tetap harus hadapi mereka, walau sulit!" ucap Zafran.
"Benar! Gue yakin, pasti si Martin juga bisa dikalahin kok!" ucap Arif.
"Tapi Rif, gimana caranya kita mau ngelawan sekarang?" tanya Leo.
"Woi! Kalian masih mau bincang-bincang sampe kapan, ha?" tegur Martin.
******
Kini Willy dan Aurora sudah berada di kelas, mereka tampak menekuni pelajaran matematika dengan memperhatikan guru di depan sana.
Aurora serius sekali mendengar dan mencatat apa yang diucapkan gurunya, sedangkan Willy justru kebingungan harus bagaimana.
"Sayang, itu pak Joko ngomong apa sih? Aku gak paham sama sekali loh," bisik Willy.
Ya Willy dan Aurora memang kembali duduk bersebelahan, kali ini lelaki itu yang meminta tukar tempat dengan Clara.
"Eee udah kamu dengerin aja dulu ya! Aku lagi fokus, tolong jangan ganggu!" ucap Aurora.
"Yeh curang ya kamu! Bukannya bantu aku, malah fokus sendiri," kesal Willy.
"Gak gitu sayang, nanti pasti aku bantu kok. Tapi, sekarang aku mau fokus dulu perhatiin pak Joko. Abis itu nanti aku ajarin kamu deh," ucap Aurora.
Cup!
Pria itu malah mencuri kecupan di bibir ranum Aurora, membuat wanita itu salah tingkah.
"Ih kamu nakal ya!" ujar Aurora.
"Hahaha, abisnya bibir kamu manis banget. Awas ya kalo gak ngajarin aku nanti!" ucap Willy.
"Iya, tapi kamu diem dulu sekarang!" pinta Aurora.
Willy mengangguk pelan menuruti perintah wanitanya, tapi tentu saja Willy tak benar-benar menurut, ya lelaki itu terus bertingkah usil dengan sesekali mencolek atau meraba tubuh Aurora.
"Geli sayang, kamu mah iseng banget sih! Aku kan minta kamu buat diam," protes Aurora.
"Gapapa, aku terlanjur sayang sama kamu," ucap Willy.
"Ih gak nyambung!" cibir Aurora.
Willy tersenyum, tangannya menggenggam telapak tangan sang kekasih dan mengecupnya berkali-kali dengan lembut.
Zabnu dan Clara yang duduk tepat di belakang mereka pun merasa jengkel, ya pasalnya kedua orang itu harus menyaksikan langsung momen romantis Willy serta Aurora.
"Clar, lu gak mau digituin juga apa sama gue?" tanya Zabnu iseng.
"Dih ngaco lu! Emang lu siapa gue? Berani banget pengen kayak gitu!" ketus Clara.
"Jangan galak-galak dong Clar! Yaudah, kita pacaran aja yuk! Gimana?" usul Zabnu.
"Pacaran aja sana sama tiang! Gue sih ogah punya pacar kayak lu!" ucap Clara menolak.
"Santai dong Clar! Sekarang lu boleh tolak gue, tapi nanti pasti lu bakal kejar-kejar gue!" ujar Zabnu.
"Ih sorry ya, selera gue tinggi bukan kayak lu!" cibir Clara.
"Boleh lah boleh, tapi nanti kalo tiba-tiba cinta jangan salahin gue loh ya!" goda Zabnu.
"Apaan sih? Mending lu fokus deh lihatin pak Joko tuh yang lagi ngajar!" ujar Clara.
"Ngapain? Mending ngeliatin lu yang cantik, mata gue jadi lebih seger," ucap Zabnu.
"Huweekk... bukannya seneng, gue malah jijik digombalin sama lu!" ejek Clara.
******
Aurora bersama Cindy dan Elsa sedang melangkah menyusuri lorong sekolah sambil berghibah ria seperti kebiasaan mereka.
Waktu istirahat memang sudah tiba, Aurora sengaja memilih pergi dengan kedua temannya itu dibanding kekasihnya, karena ia ingin merasakan kembali pertemanannya yang mulai renggang.
"Guys, sorry ya belakangan ini gue jarang banget kumpul sama kalian!" ucap Aurora.
Elsa dan Cindy terdiam mendengarkan.
"Ya kalian tau sendiri lah gimana Willy, dia gak bisa banget jauh dari gue lama-lama. Padahal gue tuh pengen banget kumpul sama kalian lagi," tambah Aurora.
"Santai aja kali Ra! Kita berdua ngerti kok sama kondisi lu sekarang," ucap Cindy.
"Bagus deh! Terus, sekarang kalian gak pada mau traktir gue apa? Gue kan baru kali ini kumpul sama kalian lagi," ucap Aurora.
"Hah? Idih enak aja lu kalo ngomong! Diantara kita bertiga yang paling kaya itu lu, masa lu malah minta traktir sama kita?!" cibir Elsa.
"Tau tuh, harusnya lu yang traktir kita bukan sebaliknya!" sahut Cindy.
"Hehe, gue lagi bokek tau sekarang.. makanya gue lebih sering bareng Willy, selain suka ya karena gue juga ditraktir sama dia," ujar Aurora.
"Yeh dasar lu! Kasihan dong si Willy cuma dimanfaatin sama lu!" ucap Cindy.
"Hus, kalo ngomong sembarangan! Gue kan juga cinta sama Willy, ngada-ngada aja lu!" tegur Aurora.
"Iya iya, gue bercanda kok. Yaudah, ayo gas ke kantin! Untuk kali ini gapapa deh gue yang traktir lu," ucap Cindy.
"Serius?" tanya Aurora.
Cindy hanya mengangguk tanda iya.
"Waw keren lu Cindy! Terus, gue ditraktir juga kan?" tanya Elsa.
"Dih apaan? Duit gue cuma cukup buat traktir Aurora doang, lu mah bayar sendiri lah!" tegas Cindy.
"Iya iya, santai dong gausah ngegas gitu ngomongnya!" kesal Elsa.
"Hey, udah lah! Kalian apa sih? Kenapa malah pada ribut coba? Ayolah kita ke kantin, gue udah lapar nih!" ucap Aurora.
"Siap bos Aurora yang cantik!" ucap Cindy dan Elsa dengan kompak.
Aurora terkekeh lebar, lalu melangkah bersama kedua sahabatnya menuju kantin.
Akan tetapi, mereka justru berpapasan dengan Max yang berdiri tepat di hadapan mereka.
"Tahan dulu guys, gue mau bicara sebentar sama gadis cantik di tengah itu!" ucap Max menunjuk ke arah Aurora.
Bersambung....