My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 81. Aurora pulang



My love is sillie


Episode 81



"Oke! Lu ikut sama gue, biar orang-orang itu gak cari masalah ke kita!" ucap Willy.


"Ish, gue gak mau! Lu aja semua yang pada masuk, urus aja mereka sendiri! Gue pengen pulang, jangan paksa gue!" ucap Max.


Willy menahan tangan Max dan tak membiarkan Max pergi dari sana.


"Lu gak bisa pergi dari sini, lu harus bawa gue sampai gue bisa ketemu sama Aurora!" tegas Willy.


Akhirnya mau tidak mau, Max terpaksa menuruti kemauan Willy.


Mereka pun turun dari motor, menghampiri Billy serta yang lainnya di depan sana.


"Heh Willy! Mau ngapain lu kesini?" tanya Billy.


"Serahin Aurora ke gue! Gue tahu dia ada di dalam, cepat bawa dia keluar atau Max bakal gue abisin di depan kalian!" jawab Willy.


"Max? Kenapa lu bisa ketangkap sama mereka?" tanya Billy pada Max.


Max hanya diam menunduk, pikirannya kacau karena lagi-lagi rencananya gagal.


"Tanyanya nanti aja! Sekarang cepat bawa gue ketemu sama Aurora!" ucap Willy sambil menarik-narik jaket Max.


"Gausah tarik-tarik gue!" bentak Max.


"Yaudah cepet jalan!" balas Willy.


Mereka pun masuk ke dalam tempat itu secara bersamaan.


"Aku akan temui kamu, Aurora!" batin Willy.


Billy serta para anggota black jack dan juga anak-anak the darks tetap berada di luar, namun Billy masih merasa bingung mengapa Max membawa Willy datang kesana.


"Heh! Kalian semua ngapain masih disini?" ujar Billy kepada Randi dan yang lainnya.


"Emangnya kenapa? Kita disini buat temenin Willy, gak mungkin kita tinggalin dia sendirian." jawab Randi dengan santai.


"Kalian itu gak berhak ada disini! Mending kalian semua pergi, daripada nanti kita hajar!" ucap Billy.


"Hahaha, yakin lu mau hajar kita? Emang lu gak inget kejadian waktu itu saat lu semua kita hajar di markas?" ucap Tedy sambil tertawa puas.


"Gausah sombong lu! Kita yang dulu sama yang sekarang itu beda, kali ini kalian semua gak mungkin bisa habisin kita!" ucap Billy.


"Cih! Mau sekarang atau yang dulu itu sama aja, kalian sama-sama lemah!" ujar Tedy.


"Udah udah, cukup! Kalian gak perlu berdebat, kita kesini cuma mau tunggu Willy." ucap Randi.


"Bukan kita dulu yang mulai Ran, tapi mereka tuh. Pake segala usir-usir kita dari sini, padahal kita kan gak ada cari ribut sama mereka." kata Tedy.


"Yaudah, gausah diladenin!" perintah Randi.


"Siap Ran!" ucap Tedy patuh.


Billy senyum-senyum saja sambil melirik ke arah teman-temannya disana.


"Gimana Bil? Kita abisin mereka aja apa gimana?" tanya Choky berbisik di telinga Billy.


"Jangan! Kita tunggu perintah Ilham atau Max!" jawab Billy.


"Oke!"


***


Aurora sedang berbaring menghadap ke samping di atas ranjangnya yang empuk.


Gadis itu masih tidak tenang, pikirannya tertuju pada Willy dan juga sang papa.


"Pah, Willy, kalian dimana? Aku butuh kalian, tolong bebasin aku dari sini! Aku benar-benar takut banget, aku gak pengen lama-lama ada disini!" ucap Aurora.


Ceklek...


Aurora terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar.


Ia segera berbalik menghadap ke arah pintu masih dengan posisi berbaring di atas ranjang.


"Siapa itu?" tanya Aurora.


"Sayang? Aurora?"


Willy langsung merangsek masuk ke dalam kamar itu melewati Max.


Aurora pun terbelalak lebar melihat kehadiran kekasihnya disana.


Aurora beranjak dari ranjangnya, berdiri di hadapan Willy dengan wajah tak percaya.


"Willy? Kamu..." ucap Aurora tertahan.


"Sayang, iya ini aku. Aku datang buat kamu sayang, aku akan bawa kamu pergi dari sini! Kamu gak perlu takut lagi ya!" ucap Willy sambil tersenyum.


Hugg...


Aurora maju secara mendadak dan memeluk tubuh Willy dengan erat seraya menangis disana.


"Aku senang banget kamu datang kesini! Aku daritadi selalu cemas dan berharap kalau kamu bakal datang buat bebasin aku! Alhamdulillah, ternyata Tuhan kabulkan doa aku!" ucap Aurora.


"Iya sayang, sesuai janji aku sebelumnya aku akan selalu berusaha untuk jaga kamu! Kamu gak perlu takut atau cemas lagi ya, sekarang udah ada aku disini!" ucap Willy sembari mengusap punggung gadisnya.


Willy melepas pelukannya, menangkup wajah Aurora serta menyeka air mata gadis itu.


"Kamu jangan nangis lagi! Aku bakal selalu jaga dan lindungi kamu!" ucap Willy.


"Iya Willy, aku percaya kok sama kamu! Dengan hadirnya kamu disini, itu udah bikin aku makin percaya kalau kamu benar-benar sayang sama aku!" ucap Aurora.


"Ya, memang begitu." kata Willy.


"Sayang, aku mau pulang. Kamu tolong bawa aku pergi dari sini! Aku udah gak kuat ada disini Wil, aku mau ketemu papa." ucap Aurora.


"Iya iya, kamu tenang ya! Aku pasti bawa kamu pulang dan ketemu sama papa kamu!" ucap Willy.


Aurora mengangguk dengan terisak, lalu membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih dan terus berusaha ditenangkan oleh Willy.


Gadis itu melihat sosok Max tengah berdiri di depan pintu kamarnya, ia pun merasa ketakutan kembali dan mengeratkan pelukannya.


"Wil, itu dia yang udah culik aku." ucap Aurora.


"Iya sayang, aku tahu. Tadi juga dia yang bawa aku kesini, setelah aku paksa." ucap Willy santai.


"Kamu udah tanya ke dia belum, apa maksud dia culik aku?" tanya Aurora ke Willy.


"Belum, emang kamu tahu?" jawab Willy.


"Iya Wil, dia itu mau maksa aku buat terima cintanya dan jadi pacar dia. Aku juga disuruh buat jauhin kamu," ucap Aurora.


"Apa??" ujar Willy terkejut.


Willy pun mengalihkan pandangannya ke arah Max yang masih terdiam disana.


"Heh! Maksudnya apa lu ngomong gitu ke cewek gue? Lu mau cari ribut sama gue, ha?!" geram Willy.


"Gak kok, gue cuma pengen perjuangin cinta gue ke Aurora. Kalau lu gak terima, itu artinya lu takut sama gue." ucap Max.


"Cih! Buat apa gue takut sama lu? Gue bisa abisin lu dan kirim lu ke UGD sekarang juga kalo gue mau, tapi sayang gue lagi males buat ribut dan gue juga harus antar pacar gue pulang." ucap Willy.


"Ohh, lu nantangin gue?" ujar Willy emosi.


Willy hendak maju menyerang Max, tetapi ditahan oleh Aurora.


"Jangan sayang! Aku gak mau kamu ribut lagi! Semua bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, gak perlu ribut kayak gini!" pinta Aurora.


"Gak bisa sayang, dia harus dikasih pelajaran supaya dia tau kalau kamu pacar aku dan selamanya kamu akan jadi milik aku!" ujar Willy.


"Willy, kamu jangan kayak gini dong! Max bukan lawan yang sebanding buat kamu, nanti dia bisa terluka parah." ucap Aurora.


"Gapapa sayang, justru itu bagus. Aku pengen lihat dia terbaring di UGD selamanya," ucap Willy.


Mendengar itu, Max jadi ngeri sendiri. Perlahan pria itu mundur dan pergi dari sana meninggalkan Willy serta Aurora dengan wajah ketakutan.


Willy dan Aurora hanya senyum-senyum saja, mereka menyempatkan diri untuk berpelukan kembali sembari berciuman.


"I love you baby..."


***


Singkat cerita, Willy langsung membawa Aurora pulang ke rumah setelah selesai berurusan dengan Max dan para anggota black jack.


Aurora pun tampak senang, ia turun dari motor sambil tersenyum. Tak lupa Willy membantu Aurora melepas helmnya disana.


"Kamu cantik banget sih!" ucap Willy seraya merapihkan rambut kekasihnya.


"Ah kamu malam-malam begini masih aja gombal! Sekali lagi makasih ya Willy, kalau gak ada kamu gak tahu deh aku bakal gimana disana! Aku udah takut banget tadi!" ucap Aurora.


"Kamu gak perlu bilang makasih sama aku, justru aku pengen minta maaf sama kamu karena aku gagal buat lindungin kamu! Harusnya aku gak lemah, jadi kamu gak akan mungkin diculik sama mereka!" ucap Willy.


"Enggak Wil, ini bukan salah kamu kok. Aku tahu kamu itu cowok kuat, jadi jangan bilang kalau kamu lemah ya sayang!" ucap Aurora.


"Eh eh, bilang apa tadi? Kayaknya kata itu terdengar asing deh di telinga aku, jarang banget aku dengar kamu ngomong itu. Boleh diulangi gak?" ucap Willy mendekatkan telinganya ke wajah Aurora.


"Kamu ih!" Aurora tampak tersipu dan memukul lengan Willy dengan lembut.


"Cie cie yang mukanya merah, duh gemesin banget sih pacar aku satu ini!" ujar Willy.


Willy tak bisa menahan dirinya melihat wajah Aurora yang begitu menggemaskan, ia pun mencubit pipi Aurora berkali-kali disana.


"Eh ya, kamu udah tahu belum kalau Max itu leader barunya black jack?" tanya Aurora ke Willy.


"Hah? Seriusan kamu? Kata siapa? Aku malah belum tahu tentang itu, yang aku tahu si Max cuma kerjasama sama geng black jack buat culik kamu." ujar Willy terkejut.


"Iya Willy, jadi tadi Max sempat bilang ke aku kalau dia itu leader baru black jack. Tapi, dia sembunyiin identitas itu dari siapapun. Ya makanya semua orang taunya leader black jack itu masih Ilham," jelas Aurora.


"Hadeh, pantes aja dia bisa sama anak-anak black jack. Tapi aku heran deh, kenapa dia bisa jadi leader mereka ya?" ujar Willy.


"Kalo itu aku gak tahu deh," ucap Aurora.


"Yaudah, kamu sekarang masuk ya! Biar aku ikut ke dalam buat jelasin semuanya sama papa kamu, aku yakin papa kamu pasti cemas banget sama kamu!" ucap Willy.


"Iya Wil," ucap Aurora mengangguk kecil.


"Jangan Wil dong! Panggil sayang gitu kayak tadi, biar makin mesra." goda Willy.


"Iya iya, karena kamu udah tolong aku tadi, jadi sekarang aku mau nurut sama kamu." ucap Aurora.


"Gimana coba?" ujar Willy.


"Iya sayang, ayo kamu ikut masuk ke dalam dan bicara sama papa aku!" ucap Aurora sambil tersenyum.


"Aduh manis banget! Suara kamu itu loh sayang, merdu banget di dengarnya." ucap Willy.


"Ah lebay! Udah yuk masuk!" ucap Aurora menarik lengan kekasihnya.


Disaat mereka hendak masuk ke dalam, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekat mereka.


Aurora yang sadar itu adalah mobil papanya, langsung mendekat dan tak sabar bertemu dengan sang papa disana.


"Wil, itu papa." ucap Aurora.


"Iya cantik," ucap Willy singkat.


Johan pun turun dari mobilnya, ia terkejut sekaligus senang melihat Aurora ada disana.


"Aurora?" ucapnya.


"Papa!" balas Aurora.


Mereka saling mendekat dan berpelukan di hadapan Willy.


"Kamu darimana aja sayang? Papa cari-cari kamu loh daritadi, kamu gak mikirin apa gimana perasaan papa?! Ditelpon gak diangkat, dikirim pesan gak dibalas. Papa cemas tau sayang!" ucap Johan.


"Maaf pah! Handphone aku tadi mati, makanya aku gak sempat angkat telpon papa. Tapi, papa gausah cemas lagi ya! Aku kan sekarang udah ada disini, aku baik-baik aja kok!" ucap Aurora.


Johan melepas pelukannya, menatap Willy dengan tatapan tajam.


"Kamu abis darimana? Willy, kamu bawa anak saya ini pergi kemana ha? Kenapa kamu juga gak bisa saya telpon?" tanya Johan panik.


"Maaf om! Saya—"


"Oke pah, aku ngaku. Aku tadi sempat diculik sama Max, teman sekolah aku." potong Aurora.


"Apa? Diculik?? Kok bisa?" ujar Johan kaget.


"Bisa pah, jadi tadi sewaktu aku lagi jalan sama Willy, tiba-tiba aja ada segerombolan orang yang cegat kita dan mereka bawa aku pergi." jelas Aurora.


Johan menganga lebar mendengar penjelasan Aurora, ia terkejut karena ternyata Aurora diculik.


"Tuh kan paman, ini semua pasti gara-gara Aurora bergaul sama Willy. Kan udah saya bilang, lebih baik Aurora itu menjauh dari Willy." ucap Martin.


Mereka semua kompak menoleh ke belakang, menatap Martin dengan seksama.


"Apa sih kak? Ini bukan salah Willy kok, dia juga gak pengen ini terjadi. Justru Willy yang udah berjuang buat tolongin aku, dia yang bebasin aku dan bawa aku pulang kesini dengan selamat. Kalau gak ada Willy, aku gak mungkin bisa pulang sekarang pah, kak." ucap Aurora membela Willy.


"Tapi Aurora, saya yakin kalau ini ada sangkut pautnya dengan si Willy. Kamu kan tau dia ketua geng motor, jadi pasti ini gara-gara dia!" ucap Martin terus menuduh Willy.


"Stop ya kak! Jangan tuduh Willy yang enggak-enggak! Kamu gak tahu Willy kayak gimana, jadi stop bilang begitu!" tegas Aurora.


"Sudah sudah! Jangan berdebat!" ucap Johan.


Martin dan Aurora pun menghentikan perdebatan mereka sesuai permintaan Johan.


"Maaf om! Saya cuma mau meluruskan Aurora, supaya dia tidak semakin terjebak ke dalam kejahatan Willy." ucap Martin.


"Cukup Martin! Ini sudah tengah malam, lebih baik kamu pulang saja! Terimakasih karena kamu sudah menemani om buat cari Aurora!" ucap Johan.


"Tapi om—"


"Cepat pulang Martin!" potong Johan.


Martin mendengus kesal, berbalik lalu pergi dengan tangan terkepal.


"Pah, Willy itu gak jahat!" ucap Aurora pada Johan.


"Iya sayang iya, papa kan gak bilang Willy jahat. Besok papa akan ikut ke sekolah kamu, kita temui pelaku penculikan kamu itu!" ucap Johan.


"Buat apa pah? Kan masalahnya udah kelar, Willy tadi udah kasih pelajaran kok ke dia." ucap Aurora.


"Itu saja gak cukup sayang, papa mau dia ditangkap polisi!" ucap Johan.


Aurora menganga lebar, menatap Willy dengan wajah bingung. Jujur saja Aurora tidak mau memperpanjang masalah ini, karena ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk nantinya.


Bersambung....