My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 79. Rumah Catur



My love is sillie


Episode 79


β€’


Ceklek...


Pintu terbuka, Max langsung masuk begitu saja menghampiri Aurora yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Kamu kok belum tidur sih sayang? Ini udah malam loh, emangnya gak ngantuk?" tanya Max.


"Gue gak ngantuk! Gue gak bisa tidur kalau disini, gue pengennya pulang!" jawab Aurora ketus.


"Iya sayang, nanti kamu pulang kok. Tapi, untuk sekarang ini kamu tetap disini dulu ya! Aku cuma pengen kamu bisa terima cinta aku sayang, karena aku sayang banget sama kamu! Aku pengen kita berdua jadian!" ucap Max.


"Cih, itu gak akan pernah terjadi!" bentak Aurora.


"Kamu kenapa gitu banget sih? Ayo dong sayang, terima cinta aku ya!" pinta Max.


"Ogah!" umpat Aurora.


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba ponsel milik Aurora yang disimpan oleh Max berdering, sehingga Aurora sadar bahwa itu adalah bunyi handphone miliknya.


"Itu kayak bunyi hp gue," ucap Aurora spontan.


"Emang iya, terus kenapa?" ucap Max santai.


"Ish, pake nanya lagi! Balikin sini hp gue! Gue mau angkat itu telponnya!" ucap Aurora kesal.


"Kalo gue gak mau, gimana?" ujar Max.


"Lu bener-bener ya! Cepetan gak balikin hp gue! Please Max, gue pengen angkat telpon itu! Pasti itu dari bokap gue kan?!" ucap Aurora.


"Bentar, aku cek dulu ya cantik!" ucap Max.


Max langsung mengambil ponsel itu dan melihat nama siapa yang tertera di layar.


Ternyata yang menelpon Aurora adalah Willy, tentu saja hal itu membuat Max makin kesal.


"Siapa yang telpon?" tanya Aurora penasaran.


"Ini Willy, tapi gausah diangkat. Dia itu gak penting, kamu mending lupain aja dia dan berpaling ke aku!" jawab Max.


"Siniin hp gue! Gue mau angkat telpon itu, Willy pasti khawatir banget sama gue!" ucap Aurora.


"Gak bisa sayang! Hp ini sekarang udah jadi hak milik aku, dan itu gak bisa diganggu gugat lagi. Kamu baru bisa miliki ini, setelah kamu mau terima cinta aku." ucap Max.


"Dasar gila! Gue gak bakalan mau pacaran sama lu! Lu itu orang jahat, buktinya lu udah culik gue dan bawa gue kesini!" ucap Aurora.


"Aku gak jahat sayang, aku cuma mau perjuangin cinta aku ke kamu. Andai aja dari awal kamu terima cinta aku, pasti aku gak akan lakuin ini sayang. Eh tapi kamu malah pilih Willy, itu bikin aku sakit hati tau sayang!" ucap Max.


"Gue itu gak cinta sama lu, gue cuma cinta sama Willy. Ya jelas lah gue pilih dia!" ujar Aurora.


"Yaudah, maka dari itu kamu terima aja kalau semua ini terjadi ke kamu." ucap Max.


"Max, ayolah balikin hp gue! Gue cuma mau angkat telpon dari Willy, supaya dia gak khawatir sama gue!" ucap Aurora.


"Gak boleh sayang! Lagian Willy juga udah matiin telponnya kok, jadi kamu gak perlu repot-repot buat angkat telpon dari dia." ucap Max.


"Ih emang sialan ya lu!" umpat Aurora.


Max tersenyum tipis, lalu menggerakkan tangannya untuk membelai rambut Aurora.


Namun, dengan segera Aurora menepis tangan Willy yang hendak menyentuhnya itu.


"Jangan sentuh gue!" bentak Aurora.


"Kenapa sih sayang? Willy aja bebas mau sentuh-sentuh kamu, bahkan kalian sampai ciuman waktu itu. Kok aku gak boleh sih?" tanya Max.


"Ya beda lah, Willy tuh statusnya pacar gue. Nah kalau lu apa? Lu bukan siapa-siapa gue!" ucap Aurora kesal.


"Iya deh iya, tapi aku juga kepengen tau rasain bibir kamu yang indah itu." ucap Max.


"Lu jangan macam-macam ya! Gue gak mau ciuman sama lu!" ucap Aurora.


"Aku gak akan paksa kamu buat mau, karena aku yakin kalau kamu pasti bakalan mau juga dan malah minta buat dicium sama aku nantinya." ujar Max.


"Idih najis!" ucap Aurora.


******


Willy merasa kesal sekaligus panik lantaran telponnya tak kunjung diangkat-angkat oleh Aurora.


Padahal Willy sangat berharap dapat mendengar suara Aurora kembali agar bisa membuat hatinya sedikit tenang.


"Aaarrgghh!!" geram Willy.


"Wil, sabar Wil! Mungkin aja hp Aurora udah disita sama anak-anak black jack, jadi mereka sengaja gak mau angkat telpon dari lu untuk saat ini." ucap Randi menenangkan Willy.


"Iya Wil, gak mungkin juga mereka biarin Aurora pegang hp selama disana." sahut Tedy.


"Ya, kalian berdua ada benarnya. Tapi, gue itu cuma pengen dengar suara Aurora yang lembut untuk saat ini. Gue rindu banget sama suaranya, suara yang selalu bikin hati gue tenang." ucap Willy.


"Gue ngerti Wil, pasti lu emang kangen banget sama cewek lu itu. Tapi, kemungkinannya sangat kecil buat lu bisa dengar suara dia malam ini. Lu sabar aja dulu ya, besok kita baru cari lagi Aurora deh!" ucap Randi.


"Enggak Ran, gue bakal terus cari Aurora sampe ketemu! Gue gak perduli hari udah malam apa belum, pokoknya gue gak akan berhenti sebelum Aurora ketemu!" ucap Willy tegas.


"Wil, sabar dong! Lu tahan dulu emosi lu!" pinta Tedy.


"Gue gak bisa sabar lagi Ted, ini udah keterlaluan! Kita belum bisa temuin Aurora sampai sekarang!" ucap Willy emosi.


"Sekarang udah malam Wil, sebaiknya kita istirahat dulu! Lu mending pulang deh ke rumah, besok baru kita cari lagi si Aurora!" saran Arif.


"Mana bisa gue istirahat disaat Aurora cewek gue lagi menderita?!" ucap Willy.


"Gue ngerti Wil, tapiβ€”"


"Lu gak ngerti Ran! Kalian semua gak ngerti gimana perasaan gue sekarang! Gue itu sayang banget sama Aurora, gue gak bisa istirahat sebelum temuin dia!" potong Willy dengan tegas.


"Iya iya Wil, tenang ya jangan emosi! Kita cari lagi Aurora sekarang, semoga aja Aurora bisa kita temuin sebelum pagi!" ucap Randi.


"Ran, kita mau cari kemana lagi? Semua tempat yang kita curigai, udah kita telusuri. Tapi, si Aurora belum ketemu juga. Kayaknya anak-anak black jack sembunyi di tempat yang sudah dilacak deh," ucap Tedy.


"Gak ada yang susah Ted, kita tunggu aja kabar dari temannya Zafran!" ucap Randi.


"Oh ya, gimana emang tentang si pelacak itu? Kok dia belum ada kasih kabar ke kita?" tanya Willy.


"Gak tahu Wil, mungkin aja dia masih ngelacak." jawab Randi asal.


"Coba lu hubungi si Zafran dan tanya sekarang!" perintah Willy.


"Oke Wil!" ucap Randi menurut.


Randi pun menghubungi Zafran di hadapan Willy serta yang lainnya.


πŸ“ž"Halo Zaf!" ucap Randi di telpon.


"Hooaaammhh..." Tedy yang mengantuk menguap secara tiba-tiba dengan cukup lebar.


πŸ“ž"Iya halo! Itu suara siapa tuh barusan? Ngeri amat!" ujar Zafran di telpon.


πŸ“ž"Hahaha, biarin aja itu mah si Tedy kok. Lu dimana sekarang, Zaf?" ucap Randi.


πŸ“ž"Ohh, gue masih di rumah teman gue nih. Kenapa emang?" tanya Zafran.


πŸ“ž"Nah itu dia, si Willy mau tau gimana progres pelacakan itu? Berhasil gak temen lu temuin dimana keberadaan Aurora?" ucap Randi.


πŸ“ž"Iya Ran, kita berhasil kok. Dia bilang nama pemilik mobil itu tuh Catur Wijaya, terus alamatnya di jalan merpati nomor 38." ucap Zafran.


πŸ“ž"Hah??" Randi terkejut mendengar itu.


******


Willy, Randi, Tedy dan juga anggota the darks yang lainnya langsung mendatangi alamat yang sudah diberikan oleh teman Zafran itu.


Willy tak mau menunggu pagi, ia ingin Aurora dapat ditemukan sekarang dan itu sebabnya ia nekat mendatangi rumah tersebut.


"Permisi, ada tamu!" teriak Tedy sambil mengetuk pintu rumah itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam untuk membuka pintu.


Ceklek...


Akhirnya pintu terbuka, seorang wanita dewasa muncul dari dalam rumah menemui Willy disana.


"Eh, kalian siapa ya? Malam-malam begini kok pada datang ke rumah orang? Gak tahu apa kalo ini tuh udah malam?" tanya wanita itu.


"Maaf mbak! Kita kesini cuma mau cari tau tentang teman kita yang diculik," jawab Randi.


"Hah? Diculik? Gimana-gimana maksudnya? Ngapain kalian cari teman kalian yang diculik itu kesini?" tanya wanita itu heran.


"Iya mbak, jadi berdasarkan hasil pencarian kita, ternyata mobil si penculik itu milik dari bapak Catur Wijaya. Lalu, alamat yang kita dapatkan juga tertuju kesini mbak. Benar kan ini kediaman pak Catur Wijaya?" jelas Randi.


"Benar mas! Tapi, tuan Catur nya sudah tidur di kamar. Sebaiknya kalian datang lagi besok pagi ya, kalian pada pulang aja sana dulu!" ucap wanita itu.


"Gak bisa mbak, saya mau ketemu sama pak Catur sekarang juga!" tegas Willy.


"Masnya gak bisa maksa gitu dong, kan saya bilang tadi kalau tuan Catur itu sudah tidur! Mending masnya balik kesini besok aja!" ucap wanita itu.


"Mbak, kita ini mau cari pacar saya yang diculik. Mbak sebagai sesama manusia, harusnya bantu kita dong buat temuin dia!" ujar Willy.


"Tapi maaf mas! Saya gak berani kalau harus bangunin tuan Catur, saya takut dimarahin!" ucap wanita itu.


"Biar saya yang bangunin dia!" ucap Willy.


Willy memaksa masuk ke dalam rumah itu, tapi ditahan oleh si wanita bersama seorang satpam yang menyusul mereka.


"Mas, tahan mas! Tolong masnya jangan buat keributan disini!" ucap satpam itu.


"Anda tidak usah ikut campur! Saya ada urusan penting dengan pak Catur, jadi saya harus temui dia sekarang!" tegas Willy.


"Tidak bisa mas, ini sudah malam dan masnya gak bisa ketemu sama tuan Catur sekarang!" ucap satpam itu.


Namun, Willy dan yang lainnya tetap memaksa untuk masuk ke dalam sana.


Hingga suara keributan mereka didengar oleh Catur yang sebenarnya belum tertidur.


"Heh! Ini ada apaan sih ribut-ribut begini?!" ucap Catur berteriak.


"Eee ini tuan, mereka memaksa masuk ke dalam buat ketemu tuan Catur. Kita udah berusaha tahan mereka, tapi mereka maksa." jawab satpam itu.


Catur pun mengarahkan pandangan ke arah Willy dan teman-temannya.


"Siapa kalian?" tanya Catur.


"Saya Willy, saya mau tanya ke bapak perihal pacar saya yang diculik." jawab Willy.


"Maksudnya apa? Saya gak tahu apa-apa tentang pacar kamu itu," ujar Catur.


"Bohong! Buktinya mobil yang dipakai penculik itu adalah mobil bapak, ini dia buktinya!" ucap Willy menunjukkan foto mobil milik Catur.


"Ya, itu memang mobil saya. Tapi, saya gak tahu menahu tentang penculikan pacar kamu." ucap Catur.


"Bapak gausah ngelak deh! Mending kasih tahu ke kita, dimana pacar saya!" tegas Willy.


"Saya beneran gak tahu!" ucap Catur.


"Gini aja deh pak, tadi siang yang pake mobil bapak itu siapa? Bapak sendiri atau orang lain?" tanya Randi mendinginkan suasana.


"Eee biasanya sih mobil saya yang ini dibawa sama anak saya, karena saya memang belikan mobil ini buat dia." jawab Catur.


"Ohh, kalo gitu kita bisa gak ketemu sama anak bapak sekarang?" tanya Willy.


"Iya iya, bisa kok. Biar saya cek dulu ke kamarnya, siapa tahu dia masih bangun." jawab Catur.


"Oke pak!" ucap Willy.


Catur pun berbalik dan melangkah menuju kamar putranya, sedangkan Willy serta yang lain tetap menunggu disana.


"Semoga aja bisa cepat ada kejelasan mengenai Aurora!" ucap Willy.


"Aamiin!"


***


Catur menemui putranya yang kebetulan keluar dari kamar sembari menguap.


Catur pun langsung memanggil putranya itu dan mendekatinya.


"Dion! Kebetulan kamu keluar, papa mau bicara sesuatu sama kamu. Ayo ikut papa ke depan sebentar!" ucap Catur.


"Ada apa sih, pah? Papa mau bicara apa pake ke depan segala? Kita kan bisa bicara disini, cepetan pah aku kebelet nih!" ujar Dion.


"Papa cuma mau tanya, tadi siang kamu pake mobil papa yang silver gak?" tanya Catur.


"Ohh, enggak tuh. Emangnya kenapa pah?" jawab Dion santai.


"Yang benar kamu? Terus, mobilnya tadi dipake sama siapa?" tanya Catur.


"Tadi si Max tuh yang pake, aku mah gak kemana-mana kok dari siang. Emang ada apa sih pah? Tumben banget papa nanyain siapa yang bawa mobil," ucap Dion keheranan.


"Gak ada apa-apa, terus sekarang dimana adik kamu itu?" tanya Catur.


"Gak tahu, gak ngurus juga." jawab Dion.


"Haish.."


***


Max sampai di depan rumahnya, ia terheran-heran melihat banyaknya motor yang terparkir di halaman rumahnya saat ini.


Sontak saja Max langsung penasaran siapa yang sedang datang dan bertamu ke rumahnya di malam hari ini.


"Siapa sih ini? Banyak banget tamu kayaknya, apa teman-temannya bang Dion?" gumam Max.


Max pun turun dari motornya, melihat ke arah rumah untuk memastikan siapa yang datang kesana.


"Waduh!" ucap Max spontan.


Max benar-benar terkejut saat melihat anggota the darks ada di depan rumahnya, ia heran mengapa mereka bisa menemukan alamat tempat tinggalnya.


"Itu kan anak-anak the darks, kok mereka bisa disini ya? Mau ngapain coba?" gumam Max.


"Apa jangan-jangan mereka udah tahu, kalau Aurora itu gue yang culik?" sambungnya.


Tanpa sadar, rupanya Tedy tak sengaja melihat keberadaan Max yang sedang mengintip dari jauh ke arah rumahnya.


"Eh guys, itu siapa ya yang ngintip disitu?" tanya Tedy menunjuk ke arah Max dengan dagunya.


"Hah??" Arif terkejut dan mengarahkan matanya ke tempat yang ditunjuk Tedy.


"Gue gak tahu dia siapa, tapi kok tingkahnya mencurigakan gitu ya?" ujar Zafran.


"Kita samperin aja yuk!" ucap Tedy.


"Gas!"


Namun, Max lebih dulu menyadari itu dan dia pun langsung dibuat panik.


"Gue harus kabur!!" ucap Max.


Bersambung....