My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 65. Serangan di sekolah



My love is sillie


Episode 65



Aurora masih berada di rumah Willy, ia kini duduk di kursi panjang yang terletak di depan rumah pria itu sambil menikmati segelas susu hangat.


Tak berselang lama, pak Gunawan muncul dari dalam lalu menghampiri Aurora disana dan menegurnya.


"Ehem ehem, lagi apa kamu Aurora?" ujar pak Gunawan tersenyum tipis.


"Eh bapak? Ini aku baru bikin susu tadi, biasanya aku emang kalau pagi-pagi begini sukanya minum susu sama ngemil gitu abis selesai sarapan." jawab Aurora sembari menatap pak Gunawan.


"Oalah, kebiasaan orang kaya itu begitu ya?" ujar pak Gunawan.


"Enggak lah pak, aku bukan orang kaya kok. Gak tahu kenapa aku suka aja minum susu abis sarapan, apalagi kalau ada pemandangan indah kayak gini. Makin enak deh minum susunya," ucap Aurora.


"Halah pemandangan indah apa? Di depan rumah ini kan cuma jalanan aspal sama batu-batu kerikil, indahnya darimana nak Aurora?" ujar pak Gunawan.


"Eee menurut aku ini indah kok pak, kan ada banyak tanaman juga tuh disana." kata Aurora.


"Ahaha iya sih, itu emang ibu yang tanam buat tambah keindahan." kata pak Gunawan.


"Ohh, yaudah pak duduk dong jangan berdiri aja gak enak tahu akunya! Lagian leher aku juga pegel nih kalo harus dongak terus, hehe.." ujar Aurora.


"Hahaha, iya iya.." ucap pak Gunawan.


Pak Gunawan pun duduk di sebelah Aurora, ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman dan kembali menoleh ke arah Aurora.


"Kamu kenapa gak sekolah Aurora? Padahal kan Willy udah tawarin buat beli seragam baru," tanya pak Gunawan.


"Aku takut pak! Nanti kalau aku sekolah, ternyata disana ada papa aku yang udah nunggu dan siap buat marahin aku. Lagipun, beli seragam kan juga gak bisa pagi-pagi pak." jawab Aurora.


"Oh gitu, emangnya kenapa kamu takut dimarahin sama papa kamu?" tanya pak Gunawan heran.


"Ya kan aku semalam gak pulang, walau aku udah bilang ke papa kalau aku nginep disini tapi pasti papa bakal tetap marah juga." jawab Aurora.


"Terus, berarti kamu gak mau pulang dong ke rumah? Karena kan kamu takut tuh ketemu papa kamu," tanya pak Gunawan.


"Eee aku belum tahu pak, tapi pastinya aku bakal tetap pulang dong. Gak mungkin juga lah aku terus-terusan tinggal disini, toh aku belum jadi siapa-siapa di keluarga ini." jawab Aurora.


"Sebenarnya kalau kamu mau terus tinggal disini juga gapapa, rumah ini terbuka untuk kamu Aurora." kata pak Gunawan.


"Makasih pak! Tapi, saya yang ngerasa gak enak kalau lama-lama disini. Mungkin besok atau beberapa hari lagi saya bakal balik ke rumah," ucap Aurora tersenyum.


"Yasudah, itu memang lebih baik sih. Kasihan juga papa kamu nantinya!" ucap pak Gunawan.


"Iya pak," ucap Aurora singkat.


Tak lama kemudian, Bu Ani yang baru kembali dari pasar telah tiba di depan rumahnya bersama ojek yang ia tumpangi.


"Itu ibu udah pulang, pak." kata Aurora.


"Iya, dia memang gak terlalu lama kalo belanja di pasar." ucap pak Gunawan.


"Oalah," ucap Aurora manggut-manggut kecil.


"Assalamualaikum," ucap Bu Ani yang kini telah berada di depan mereka.


"Waalaikumsallam, sini Bu biar aku bantu!" ucap Aurora langsung berdiri hendak membantu bu Ani.


"Eh gausah sayang, udah ibu sendiri aja!" ujar Bu Ani menolak tawaran Aurora.


"Gapapa Bu," ucap Aurora.


"Oh, yasudah boleh deh. Kamu emang anak baik ya Aurora!" ucap Bu Ani tersenyum.


"Ah ibu bisa aja," ucap Aurora malu-malu.


Aurora pun mengambil barang bawaan milik Bu Ani dan hendak membawanya masuk ke dalam.


"Yaudah ya Bu, pak, aku ke dalam dulu!" ucap Aurora.


"Iya sayang, makasih ya!" ucap Bu Ani.


Aurora tersenyum dan mengangguk pelan, lalu melangkah masuk membawa barang itu.


******


Randi sedang dalam perjalanan menuju markas the darks sebelum nantinya mereka semua akan berangkat bersama menjenguk anak-anak the darks yang dirawat di rumah sakit.


Pria itu tampak was-was, biar gimanapun ia juga cemas berada di jalanan seorang diri disaat ancaman sedang mengintai seluruh anggota the darks.


"Semoga aja gak terjadi sesuatu yang buruk sama gue!" batin Randi.


Baru saja Randi mencemaskan itu, tiba-tiba sudah ada empat motor yang menghimpitnya dari masing-masing kiri dan kanan.


"WOI MINGGIR LU!" teriak mereka.


"Waduh!"


Randi yang panik, langsung menancap gas dan pergi dengan kecepatan tinggi menghindari kejaran mereka semua.


"Gue harus cepat-cepat kabur! Gue gak mau jadi korban selanjutnya!" batin Randi.


Kecepatan motor Randi rupanya mampu diimbangi oleh keempat orang, terbukti bahwa Randi tidak bisa pergi jauh-jauh dari mereka.


"WOI BERHENTI!" teriak mereka.


"MINGGIR WOI!" sahut yang lain.


Randi tak menggubris ucapan mereka, ia fokus menatap ke depan dan menambah kecepatan motornya.


Namun, ia sedikit kaget saat dari depan muncul sebuah mobil box yang hendak menyebrang. Ia pun memaksa untuk melaju walau sulit.


Tiiinnnn....


Klakson panjang dibunyikan oleh supir mobil itu, posisi mobilnya kini sudah berada di tengah dan Randi berhasil melaju cepat melewatinya.


Sementara keempat pemotor yang mengejarnya, kini terjebak disana karena terhalang mobil box tersebut.


"WOI PAK, CEPET JALAN!"


"Iya, sabar dong ini mesin gue emang susah dinyalain. Gara-gara tuh orang main lewat aja, gue jadi ngerem mendadak deh." ujar si sopir.


Tin tin tin...


"Pak cepetan pak!"


"Aaarrgghh kita kehilangan jejak dia deh!"


Mereka berempat kompak emosi dan memukul motor mereka masing-masing.


***


Randi yang berhasil kabur, sekarang sudah berada di markas dalam kondisi selamat.


Ia memarkir motornya, melepas helm lalu mengambil nafas dalam-dalam.


Teman-teman the darks yang ada disana pun kompak berdiri menghampiri Randi.


"Oi Ran! Lu kenapa ngos-ngosan gitu?" ujar Syakur.


"Iya Ran, kayak abis dikejar-kejar setan aja lu." sahut Tedy.


"Justru ini lebih serem daripada setan! Gue abis dikejar-kejar sama orang yang pengen keroyok gue!" jawab Randi dengan raut panik.


"Hah? Serius lu bro? Terus, lu gak kenapa-napa kan?" ucap Tedy panik.


"Untungnya gue bisa selamat! Ya tapi mereka gak mungkin berhenti gitu aja sebelum berhasil habisin kita semua satu persatu, maka dari itu kita harus segera cari tahu siapa mereka!" ucap Randi.


"Eee gini gini, lu tadi masih ingat gak ciri-ciri mereka kayak gimana? Atau bentuk motor mereka dan pakaian yang mereka pake?" tanya Syakur.


"Gue gak tahu mereka mukanya kayak gimana, soalnya ketutupan helm. Tapi, yang pasti itu mereka naik motor trail dan pake jaket coklat muda. Selebihnya gue gak tahu lagi deh, gue udah panik banget tadi." jawab Randi.


"Waduh! Masih terlalu umum juga sih ciri-cirinya, banyak orang yang kayak gitu." kata Syakur.


"Iya bro, mungkin coba aja kita hubungin Willy dan minta bantuan dia." usul Arif.


"Gue setuju! Biar gimanapun, Willy kan ketua kita. Dia harus tau semua ini!" sahut Tedy.


"Oke, nanti gue kabarin Willy. Sekarang mending kita langsung gas aja ke rumah sakit, kasihan Jeki sendirian karena belum ada keluarganya yang datang!" ucap Randi.


Mereka semua mengangguk pelan, kemudian naik ke motor masing-masing dan bersiap untuk pergi menuju rumah sakit.


"Huh terimakasih ya Tuhan! Engkau sudah menyelamatkan nyawa hamba kali ini!" batin Randi.


******


Disisi lain, rombongan pemuda yang mengenakan motor sport berwarna biru menerobos masuk ke dalam area sekolah tempat Willy berada.


Mereka semua berhasil masuk melalui sela-sela pagar yang terbuka dan tidak dijaga oleh satpam karena sedang makan.


"Woi! Siapa kalian?" teriak si satpam yang terkejut.


Namun, teriakan itu tak digubris oleh mereka. Pemuda yang jumlahnya sangat banyak itu terus melaju hingga mereka tiba di tengah lapangan sekolah tersebut.


Sontak semua orang disana terkejut melihatnya, mereka kompak menghentikan laju motornya dan turun dari motor seraya melepas helm membentuk barisan menyamping.


Kebetulan saat ini jam pelajaran sedang dimulai sehingga suasana agak sepi, tapi tetap saja ada beberapa orang di sekitar lapangan termasuk para guru dan murid yang sedang olahraga.


"Heh! Kalian semua kasih tahu ke kita sekarang, dimana Willy!" bentak pria itu.


"Kalian siapa? Kalian ini darimana dan mau apa datang kesini?" tanya guru olahraga.


Seluruh murid kompak bersembunyi dibalik tubuh guru olahraga itu, mereka tampak ketakutan ketika melihat para geng motor di depan mereka.


"Lu gausah banyak tanya! Serahin aja Willy ke kita, sebelum kita hancurin sekolah ini!" ujar orang itu.


"Loh loh loh, ini ada apa? Situ gak bisa main hancurin sekolah ini gitu aja, emangnya situ siapa dan punya hak apa?" ujar guru lain yang baru datang bersama kepala sekolah dan pengurus lainnya.


"Hahaha, baguslah semuanya udah kumpul disini. Cepat kasih tahu ke kita, dimana Willy!" bentak orang itu.


"Willy? Willy siapa? Disini banyak yang namanya Willy," tanya guru itu.


"Kita mau ketemu Willy Andrean Santoso, bawa dia kesini atau kita bakal hancurin seisi sekolah ini tanpa bersisa!" jawab orang itu.


"Ada urusan apa kalian sama dia? Dan kalian ini sebenarnya siapa sih?" tanya guru itu.


"Halah banyak bacot lu! Serahin aja Willy ke kita, sebelum kita ngamuk!" bentak orang itu.


Semua guru kompak mengelus dada, mereka saling melirik hingga akhirnya diberi kode oleh kepala sekolah untuk memanggil Willy.


Salah seorang guru pun bergerak pergi naik ke atas memanggil Willy untuk turun ke bawah dan menemui mereka disana.


"Nak, kalian ini sebenarnya mau apa? Kalau kalian cuma pengen ketemu Willy, kan bisa dengan cara baik-baik. Kenapa kalian harus pakai cara kasar kayak gini?" ujar kepala sekolah.


"Ini belum apa-apa, pak tua. Kalau Willy gak muncul dalam beberapa menit ke depan, kita bakal ratain satu sekolah ini!" ucap orang itu.


"Siapa nama kamu?" tanya kepala sekolah.


"Bilang aja sama Willy, dicari sama Billy and the black jack!" jawab orang itu tersenyum smirk.


Kepala sekolah pun menggeleng pelan, jujur ia juga takut geng motor itu benar-benar akan meratakan sekolahnya.


"Bil, kenapa kita gak rusak aja salah satu fasilitas disini biar mereka makin takut?" bisik Geri.


"Sabar Ger! Ada waktunya buat kita lakuin semua itu. Tahan dulu!" balas Billy.


"Oke!"


***


"Baiklah anak-anak, sekarang kita akan membahas mengenai cara kecoak bertahan hidup dari zaman purba sampai sekarang ini."


Willy masih di dalam kelasnya, namun entah mengapa ia terus saja melamun memikirkan siapa pelaku yang sudah mengeroyok anak-anak the darks sampai masuk rumah sakit.


Willy merasa bersalah dan tidak becus dalam melindungi teman-temannya, padahal statusnya saat ini adalah ketua geng the darks yang mana seharusnya ia mampu melakukan itu.


"Gue bodoh banget! Ketua macam apa gue ini?" umpatnya dalam hati.


"Permisi pak!"


Tiba-tiba saja ada seorang guru yang datang ke kelas mereka dengan wajah panik dan nafas terengah-engah.


"Iya, ada apa ya pak?"


"Begini pak, saya mau pinjam Willy nya sebentar buat ikut ke bawah."


"Willy?"


"Iya pak, dia ada kan?"


"Oh ada kok,"


"Willy, ayo sini kamu!"


Sontak Willy beranjak dari kursinya, melangkah ke depan menghampiri guru tersebut dengan wajah heran.


"Ini kenapa ya pak?" tanya Willy bingung.


"Di bawah ada yang cariin kamu, ayo ikut sama saya!"


"Hah? Siapa pak?" tanya Willy.


"Saya juga gak tahu, tapi mereka bilangnya pengen ketemu kamu."


"Eee yaudah pak, saya mau ikut." ucap Willy.


"Oke, ayo kita pergi!"


Willy pun pergi mengikuti guru tersebut menuju lapangan di bawah sana.


Sementara yang lain tetap melanjutkan pelajaran disana biarpun mereka semua penasaran.


"Cin, itu kenapa ya si Willy dipanggil gitu? Siapa coba yang mau ketemu sama dia?" tanya Elsa pada Cindy temannya.


"Gak tahu deh, gue juga bingung." jawab Cindy.


***


"Itu dia orang yang cari kamu,"


Willy langsung mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh guru itu, ia terkejut melihat gerombolan anggota black jack ada disana.


"Hah? Black jack?" ucap Willy spontan.


"Kamu kenal sama dia?"


"Eee saya..." ucap Willy terbata-bata.


Tanpa disadari, rupanya Billy serta yang lain sudah melihat keberadaan Willy disana.


"WOI, ITU WILLY!" teriak mereka.


Mereka semua langsung menghampiri Willy dan berdiri tepat di hadapan pria itu sambil terkekeh.


"Hahaha, lu gak bisa kemana-mana lagi sekarang Wil. Lu bakal habis di tangan kita!" ucap Billy.


Willy hanya terdiam, ia bingung harus melakukan apa saat ini karena semua mata memandang ke arahnya seperti tidak suka.


"Hajar dia!" perintah Billy.


"Hiyaaa..."


Willy terkejut ketika Billy dan para anggota black jack langsung menyerangnya begitu saja secara membabi buta.


Bahkan semua orang yang ada disana ikut terkejut, guru-guru kompak histeris dan berteriak minta berhenti.


Akibat suara teriakan itu, membuat seisi sekolah cemas dan panik. Mereka keluar dari kelas masing-masing untuk melihat apa yang terjadi.


"Eh, itu si Willy. Dia diserang sama siapa tuh?"


"Gak tahu, ayo kita bantuin dia!"


"Gas!"


Akhirnya rombongan siswa-siswa itu kompak turun ke bawah untuk membantu Willy, walau tak diizinkan oleh guru mereka.


Sementara Willy masih kesulitan menghadapi serangan geng black jack, ia beberapa kali terkena pukulan serta tendangan mereka.


Bughh...


Bersambung....