
My love is sillie
Episode 66
•
Hajar dia!" perintah Billy.
"Hiyaaa..."
Willy terkejut ketika Billy dan para anggota black jack langsung menyerangnya begitu saja secara membabi buta.
Bahkan semua orang yang ada disana ikut terkejut, guru-guru kompak histeris dan berteriak minta berhenti.
Akibat suara teriakan itu, membuat seisi sekolah cemas dan panik. Mereka keluar dari kelas masing-masing untuk melihat apa yang terjadi.
"Eh, itu si Willy. Dia diserang sama siapa tuh?"
"Gak tahu, ayo kita bantuin dia!"
"Gas!"
Akhirnya rombongan siswa-siswa itu kompak turun ke bawah untuk membantu Willy, walau tak diizinkan oleh guru mereka.
Sementara Willy masih kesulitan menghadapi serangan geng black jack, ia beberapa kali terkena pukulan serta tendangan mereka.
Bughh...
Willy pun kembali terkena pukulan para anggota black jack, ia terhuyung ke belakang sembari memegangi perutnya.
"Hahaha, kali ini lu bakal mati Wil! Lu gak mungkin bisa selamat!" ujar Billy dengan lantang.
Mereka kembali menyerang Willy dengan bersemangat, Willy hanya bisa menutupi wajahnya karena sudah tidak kuat lagi.
Bruuukkk...
Willy pun terjatuh ke lapangan dengan posisi terlentang, ia masih terus memegangi perutnya sambil meringis pelan.
"Aakhhh!!" pekik Willy memejamkan mata.
Guru-guru disana hanya bisa menyaksikan semua kejadian itu tanpa dapat berbuat apa-apa.
Kebanyakan dari mereka tidak berani mendekat dan hanya menutup mulut.
Billy serta yang lainnya tertawa puas, mereka kembali bergerak mendekati Willy.
"Heh! Kalian itu mau apa sih?" ujar Willy lemas.
"Gue kan udah bilang tadi, kita mau habisin lu di depan teman-teman sekolah dan guru-guru lu! Supaya mereka semua tahu betapa lemahnya diri lu!" jawab Billy dengan tegas.
"Cih! Justru lu yang lemah, karena beraninya keroyokan dan gak berani buat lawan gue sendirian." ucap Willy tersenyum smirk.
"Kurang ajar lu!" ucap Billy kesal.
Disaat Billy hendak kembali memukul Willy, ia terkejut karena tiba-tiba suara teriakan keras muncul dari depan sana.
"STOP!"
Sontak Billy serta yang lainnya langsung mengalihkan pandangan ke asal suara tersebut.
Mereka saling pandang begitu melihat cukup banyak siswa melangkah mendekati mereka.
"Heh! Kalo lu berani, jangan main keroyokan! Ayo sini kalian semua maju dan hadapi kita sama-sama!" ucap siswa itu.
"Sial! Gimana nih Bil?" bisik Geri panik.
"Mereka banyak banget, kita gak mungkin bisa menang. Sebaiknya kita cabut aja dari sini!" jawab Billy yang tidak kalah takut.
"Oke!"
Karena takut, akhirnya Billy dan para anggota black jack itu pun kabur dari sana dengan tergesa-gesa.
"WOI JANGAN KABUR KALIAN!"
Murid-murid itu hendak mengejar Billy, namun tidak jadi lantaran Willy mencegahnya.
"Tahan! Jangan dikejar!" pinta Willy.
"Tapi Wil, mereka udah bikin rusuh di sekolah kita. Mereka juga barusan ngehajar lu kayak gini, kita gak bisa tinggal diam!"
"Santai aja! Gue gak gapapa kok, lagian mereka juga udah kabur." kata Willy yang sudah bangkit.
"Oh syukur deh!"
"Willy!"
Willy terkejut saat kepala sekolah menegur dan mendekat ke arahnya dengan raut emosi.
Willy tahu jika kepala sekolah pasti akan marah besar padanya atas kejadian ini.
"Iya pak, ada apa ya?" tanya Willy.
"Kamu ikut saya sekarang!" jawab kepala sekolah.
"Baik pak!" ucap Willy.
Willy terpaksa menurut dan mengikuti langkah kaki kepala sekolah menuju ruangannya walau harus dengan tertatih-tatih menahan sakit.
Sementara yang lainnya diminta bubar dan melanjutkan aktivitas belajar mengajar karena semua masalah sudah selesai.
***
Willy sudah berada di ruang kepsek bersama sang kepala sekolah yang tadi memanggilnya, ia tampak gugup dan jantungnya terus berdebar kencang.
Kepala sekolah duduk di hadapan Willy, menatap Willy penuh emosi disertai tangan terkepal yang ia taruh di atas meja.
"Willy, pasti kamu tahu kan apa alasan saya bawa kamu kesini?" ujar kepala sekolah.
"Iya pak, saya ngerti kok." jawab Willy pelan.
"Baguslah, jadi sekarang cepat kamu jelaskan ke saya siapa orang-orang tadi dan kenapa mereka bikin rusuh di sekolah ini! Saya yakin ini ada hubungannya dengan kamu, karena mereka mencari kamu." kata kepala sekolah.
"Eee iya pak, mereka itu salah satu geng motor liar yang suka berkeliaran di jalanan. Banyak orang sudah diganggu sama mereka, termasuk pedagang kaki lima." ucap Willy.
"Lantas apa hubungan kamu dengan mereka?" tanya kepala sekolah.
"Gak ada pak, saya sama sekali gak punya hubungan apa-apa sama mereka." jawab Willy.
"Lalu kenapa mereka kelihatan benci sekali sama kamu, sampai kamu dihajar begitu?" tanya kepala sekolah penasaran.
"Saya juga gak tahu pak, mungkin mereka dendam sama saya karena saya pernah usir mereka sewaktu mereka lagi melancarkan aksinya memalak pedagang-pedagang di jalan." jelas Willy.
"Apa saya bisa percayai kata-kata kamu itu? Bukannya mereka itu adalah musuh kamu dan kamu juga termasuk ke dalam kelompok geng motor jalanan?" tanya kepala sekolah.
"Ah enggak pak, saya bukan orang begitu. Saya ini anak baik-baik loh pak," jawab Willy berbohong.
"Yasudah, saya pegang omongan kamu. Tapi, tetap saja saya harus memberikan sangsi ke kamu. Kejadian barusan itu benar-benar membuat saya kecewa dan kesal, jadi kamu harus terima konsekuensi untuk itu!" ucap kepala sekolah.
"Waduh! Kenapa jadi saya yang dihukum pak? Saya ini korban loh, bapak gak lihat nih muka sama tangan saya luka-luka begini?" ujar Willy.
"Ya saya lihat, tapi itu juga bukan kesalahan pihak sekolah. Suruh siapa kamu punya urusan dengan anggota geng motor yang brutal seperti mereka? Masih mending saya hanya akan berikan sangsi, daripada nantinya saya keluarkan kamu dari sekolah ini." kata kepala sekolah.
"Hah? Aduh, jangan dong pak! Iya deh iya, saya terima sangsinya." ucap Willy pasrah.
"Bagus! Kalau begitu, nanti siang kamu harus bersihkan seluruh toilet di sekolah ini dan musholla sekolah dengan benar! Kamu tidak boleh pulang kalau semuanya belum bersih!" ucap pak kepsek.
"Apa? Itu gak kebanyakan pak kayak gitu? Toilet sekolah aja udah banyak banget, eh malah ditambah sama musholla." kata Willy.
"Kamu mau saya tambahkan lagi hukumannya, ha?" ujar kepala sekolah.
"Yasudah, kamu boleh pergi sekarang dan lanjut belajar!" ucap kepala sekolah.
"Baik pak, saya permisi dulu!" ucap Willy bangkit dari duduknya.
Willy pun melangkah keluar dari ruangan itu dengan memegangi perutnya, ia berdecak kesal setelah hukuman yang ia dapatkan dari kepala sekolah.
"Aaarrgghh sial! Awas aja kalian black jack!" umpatnya dalam hati.
Deg!
Saat ia keluar dari ruangan kepala sekolah, Willy justru bertemu dengan Max yang sudah berdiri di depan sana.
"Ngapain lu disini?" tanya Willy ketus.
"Mau ketemu pak kepsek, udah awas!" jawab Max singkat lalu pergi begitu saja.
Willy menatap heran ke arah Max yang masuk ke dalam ruangan kepala sekolah itu.
"Ngapain ya dia?" batin Willy.
***
Singkat cerita, Willy pulang ke rumah sehabis Maghrib karena ia baru menyelesaikan hukuman yang diberikan kepala sekolah sebelumnya.
Saat Willy memarkir motornya, Aurora muncul dari dalam dan menemuinya disana dengan wajah khawatir.
"Willy!" ucap Aurora berteriak sembari menghampiri Willy.
"Wil, kamu kemana aja sih? Kok baru pulang jam segini? Ah pasti kamu abis main dulu ya sama anak-anak the darks?" ujar Aurora bertanya pada Willy.
Pria itu masih terdiam menatap Aurora tanpa melepas helmnya.
"Cantik banget!" batinnya.
Aurora yang heran pun memukul dada bidang sang kekasih hingga Willy meringis sakit.
"Awhh sshh.." rintih Willy.
"Hah? Masa cuma dipukul gitu aja sakit sih? Biasanya juga kalo berantem tahan tuh lama-lama," tanya Aurora bingung.
"Eee gue..." Willy tampak gugup dan bingung menjelaskan pada Aurora, ia tak mau membuat gadis itu makin khawatir.
"Kamu kenapa? Buka dong helmnya, biar aku bisa lihat muka kamu dengan jelas!" pinta Aurora.
"Iya iya, sabar dong sayang! Kamu kayaknya udah gak sabaran banget pengen lihat muka aku, kangen ya?" goda Willy.
"Ish, gausah mulai deh!" bentak Aurora.
"Hehe..."
Willy pun melepas helmnya, seketika Aurora menganga lebar melihat kondisi wajah Willy yang penuh lebam.
"What? Kamu kok lebam-lebam begini sih? Kamu abis berantem? Sama siapa Wil?" tanya Aurora panik.
"Hahaha, cie khawatir nih ye sama pacarnya! Mulai kelihatan nih kalau kamu udah jatuh cinta sama aku, duh seneng banget deh aku dengarnya!" ucap Willy menggoda Aurora.
"Aih kamu mah malah bercanda terus! Serius Wil jawab pertanyaan aku!" ujar Aurora.
"Iya sayang, kamu gausah khawatir ya! Tadi tuh geng black jack datang ke sekolah dan nyerang aku disana, makanya muka aku jadi begini deh. Bukan cuma muka sih, bagian tubuh aku yang lain juga pada sakit gara-gara dipukulin." jelas Willy.
"Apa? Black jack serang kamu di sekolah? Kok bisa?" tanya Aurora kaget.
"Entahlah, aku juga gak ngerti. Tapi, tiba-tiba mereka datang di jam pelajaran dan langsung nyerang aku gitu aja." jawab Willy.
"Kamu serius Wil? Gak lagi bercanda atau ngarang cerita kan?" tanya Aurora memastikan.
"Iyalah sayang, buat apa juga aku ngarang? Kamu kan lihat sendiri nih luka-luka di tubuh aku, masa iya aku ngarang? Lagian nih ya, aku pulang jam segini juga gara-gara mereka tuh." jawab Willy.
"Hah? Emangnya geng black jack ada di sekolah sampai jam segini?" tanya Aurora.
"Hahaha, ya enggak lah sayang. Tapi, gara-gara geng black jack dateng ke sekolah dan bikin rusuh disana, jadinya aku dihukum deh sama pak kepsek. Aku disuruh bersihin toilet sama musholla di sekolah, aku gak boleh pulang kalau semuanya belum benar-benar bersih." jelas Willy.
"Serius? Ih tega banget sih itu kepala sekolah! Padahal itu semua kan bukan salah kamu, kenapa kamu yang dihukum coba?!" geram Aurora.
"Ya udah lah sayang, aku mah pasrah aja terima hukumannya. Tapi, sekarang badan aku pegal-pegal banget nih. Kamu mau gak pijitin aku sayang?" ucap Willy sambil tersenyum genit.
"Gausah ngaco deh! Ayo kita masuk aja dulu, kamu mandi terus baru nanti aku obatin luka kamu ya!" ucap Aurora.
"Oke deh, aku nurut aja sama pacar aku yang cantik ini!" ucap Willy seraya mencolek pipi gadisnya.
Aurora tampak malu-malu kucing saat digoda oleh Willy, namun tangannya tetap bergerak memapah tubuh Willy untuk masuk ke dalam rumah dengan perlahan.
******
Disisi lain, Martin dan Kiara tiba di rumah Johan untuk menemui paman dari Martin itu.
Martin sengaja membawa kekasihnya kesana, karena Kiara tahu banyak mengenai Willy.
Kini ketiganya sudah duduk di sofa bersama-sama dan membahas tentang Aurora.
"Jadi, gimana Martin? Apa kamu sudah bisa dapat info tentang keberadaan Aurora saat ini? Dia ada di sekolah atau enggak tadi?" tanya Johan.
"Eee maaf om! Tapi, saya gak berhasil temui Aurora di sekolah dan kata Kiara juga Aurora hari ini emang gak sekolah." jawab Martin.
"Iya om, aku sudah cari-cari Aurora keliling sekolah tapi gak ketemu juga. Terus kata temannya, Aurora itu izin gak masuk karena sakit." sahut Kiara.
"Izin sakit? Wah udah kelewatan ini Willy, pasti semuanya rencana dia supaya Aurora gak bisa pulang ke rumah!" ujar Johan.
"Iya om, saya juga mikir begitu. Tapi, om gausah khawatir! Abis ini saya dan Kiara akan datangi rumah Willy buat ngecek apakah disana ada Aurora atau enggak," ucap Martin.
"Loh, memangnya kalian tahu rumah Willy ada dimana?" tanya Johan.
"Bukan saya yang tahu om, tapi Kiara. Dia ini pernah datang kesana beberapa waktu lalu, makanya Kiara masih hafal dan ingat dimana rumah Willy." jawab Martin.
"Oalah, syukurlah kalau begitu! Om hafal kalian bisa temukan Aurora disana dan bawa dia pulang!" ucap Johan.
"Aamiin om!" ucap Martin.
Kiara menundukkan wajahnya, sebenarnya ia masih ragu untuk mengantar Martin ke rumah Willy karena takut terjadi perselisihan disana.
Singkat cerita, Kiara dan Martin sudah keluar dari rumah Johan dan hendak pergi ke rumah Willy untuk mencari Aurora.
Namun, Martin merasa heran lantaran Kiara nampak sedang memikirkan sesuatu. Ia pun meraih tangan Kiara lalu menggenggamnya.
"Kiara sayang, kamu lagi mikirin apa? Kok bengong begitu?" tanya Martin dengan lembut.
"Eh eee aku gak lagi mikirin apa-apa kok, tuan. Aku cuma lagi ingat-ingat arah ke rumah Willy, soalnya aku agak-agak lupa kan udah lama juga aku gak kesana." jawab Kiara.
"Oh gitu, kirain kamu ragu buat antar saya kesana karena kamu gak mau ketemu Willy. Yaudah, kalo gitu kita masuk ke dalam yuk!" ucap Martin.
"Iya tuan," ucap Kiara menurut.
Martin tersenyum sembari membukakan pintu mobilnya, Kiara pun masuk ke dalam dan duduk dengan bersandar.
Martin ikut masuk ke dalam, duduk di sebelah Kiara sambil terus memandangi wajah cantik gadisnya itu dan tersenyum renyah.
"Kamu udah siap kan sayang?" tanya Martin.
"I'm always ready!" jawab Kiara sambil tersenyum.
"Good girl!" ucap Martin seraya mencolek hidung Kiara dan memasangkan seat belt di tubuhnya.
Martin pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi dari sana.
Bersambung....