
My love is sillie
Episode 71
•
Martin datang ke rumah pamannya, yakni Johan untuk mengecek apakah benar Aurora sudah dibawa kembali kesana oleh Johan.
Sesampainya di depan pintu, Martin langsung bertemu dengan Aurora yang baru saja hendak keluar rumah.
"Kak Martin?" Aurora terkejut saat melihat sepupunya itu ada di rumahnya.
"Kamu ngapain disini? Mau ketemu papa ya? Papa belum pulang kak, papa masih di kantor." sambung Aurora bertanya kepada Martin.
"Enggak, saya mau ketemu kamu." jawab Martin.
"Ketemu aku? Ada apa ya kak?" tanya Aurora.
"Iya, tadinya saya cuma mau mastiin aja bahwa kamu benar-benar sudah kembali kesini. Saya ikut senang lihatnya, karena kamu mau menurut dan lebih memilih untuk pulang ke rumah." ucap Martin.
"Iya kak, aku terpaksa. Aku gak ada pilihan lain selain ikut sama papa, lagipun papa juga udah bolehin aku buat berteman sama Willy lagi kok." ucap Aurora sambil tersenyum.
"Apa??" Martin langsung dibuat syok mendengar ucapan Aurora, ia menatap gadis itu dengan tajam dan mendekatinya.
"Kamu gak salah bicara kan Aurora? Masa iya om Johan kasih izin kamu buat dekat sama Willy? Yang benar aja!" tanya Martin.
"Enggak dong kak, papa beneran bilang gitu kok tadi di hotel. Makanya aku mau ikut sama papa pulang ke rumah, ya karena papa udah gak permasalahin lagi kedekatan aku sama Willy." jawab Aurora.
"Gak, ini gak bener! Papa kamu itu pasti cuma bohongin kamu, dia gak mungkin beneran izinin kamu buat dekat sama Willy. Harusnya kamu paham dong Aurora!" ucap Martin.
"Apa sih kak? Papa beneran kok bilang begitu, jangan ngarang deh!" ujar Aurora.
"Saya gak ngarang, tapi memang begitu adanya. Om Johan itu benci sama Willy dan anak-anak geng motor, jadi gak mungkin dia setuju kamu dekat sama Willy!" ucap Martin.
"Kak, kamu itu kenapa sih? Kayaknya kamu gak suka banget deh sama Willy, ada masalah apa sih sebenarnya diantara kalian?" tanya Aurora.
"Kamu gak perlu tau," ujar Martin.
"Yaudah, tapi kamu juga jangan hasut papa buat benci sama Willy! Awalnya papa baik-baik aja tuh dan gak marah walau aku dekat sama Willy, tapi setelah ketemu kamu, papa malah jadi kayak gini. Udah pasti kamu kan yang hasut papa!" ucap Aurora kesal.
"Iya, emang saya kok yang ngelakuin itu. Saya gak pengen aja keluarga saya dekat-dekat dengan anggota geng motor seperti Willy, nanti kalian bisa celaka loh. Niat saya ini baik, saya mau lindungin kamu!" ucap Martin.
"Aku gak butuh perlindungan dari kamu, kak! Aku bisa jaga diri dan aku juga bisa jamin kalau Willy gak kayak gitu!" ujar Aurora.
"Kamu tahu apa soal Willy? Saya kenal Willy lebih lama dibanding kamu," ujar Martin.
"Oh ya? Terus, kenapa kamu malah bilang Willy jahat? Seharusnya kamu bisa tau sikap Willy yang sebenarnya, dia itu gak jahat seperti yang kamu kira tau!" ucap Aurora.
"Sudahlah Aurora, saya malas berdebat! Baiknya kamu ikuti saja perkataan saya, jauhi Willy kalau kamu mau selamat!" tegas Martin.
"Gak akan! Aku gak akan pernah jauhi Willy, justru aku pengen dekat terus sama dia!" ujar Aurora.
"Kamu udah gak waras ya? Atau kamu udah diguna-guna sama tuh anak?" ujar Martin.
"Kamu kali yang gak waras! Udah deh, kamu stop ganggu kehidupan aku! Urusan aku mau dekat sama Willy atau siapapun, itu bukan urusan kamu!" ucap Aurora.
"Jelas urusan saya, karena kamu dekat dengan musuh saya dan saya sebagai saudara harus melindungi kamu dari kejahatan Willy! Saya gak mau kamu ikut kebawa-bawa sikap buruk dia!" ucap Martin.
"Selama aku dekat sama Willy, aku gak pernah diajarin keburukan tuh." ucap Aurora.
Martin geleng-geleng kepala seraya mengusap wajahnya, ia mulai frustasi untuk menasehati gadis di hadapannya itu.
******
Disisi lain, Willy serta para anggota the darks sudah berkumpul di jalanan untuk siap menjebak pelaku pengeroyok Thoriq dan yang lainnya.
Willy pun meminta Arif sebagai pancingan untuk mulai bergerak seorang diri, sedangkan yang lain bersembunyi untuk sementara waktu.
"Rif, cepat sekarang lu pergi bawa motor lu! Terus aktifin GPS sama telponnya!" ujar Willy.
"Siap Wil! Tapi, ini beneran aman kan? Gue gak bakal bernasib sama kayak Thoriq dan yang lain kan? Jujur aja nih Wil, kaki gue gemetar banget tau." ucap Arif cemas.
"Tenang aja! Ada gue sama yang lain disini, kita bakal standby buat jagain lu kok!" jawab Willy.
"Iya Rif, santai aja rileks!" sahut Tedy.
"Ah rusuh lu! Ini gara-gara lu tahu gak, harusnya kan lu yang jadi pancingan bukan gue!" ucap Arif sedikit mendorong tubuh Tedy.
"Hehe, kan lu pemberani Rif.." ujar Tedy.
"Udah udah, jangan ribut! Cepetan lu pergi, gue yakin orang-orang itu udah pantau dari jauh. Mereka pasti langsung muncul begitu lihat lu di jalan sendiri, jadi cepat lu bawa motor lu sana!" perintah Willy.
"Iya Wil iya," ucap Arif pasrah.
Arif berdoa terlebih dahulu sebelum naik ke motornya, ia sangat cemas dan jantungnya pun berdetak kencang saat ini.
"Bismillah, semoga gue gak kenapa-napa!" batin Arif.
Setelahnya, Arif pun memakai helmnya dan langsung melaju pergi meninggalkan teman-temannya disana.
"Wil, lu yakin ini bakal berhasil?" tanya Randi.
"Semoga aja!" jawab Willy singkat.
Mereka semua langsung ambil posisi untuk bersembunyi disana sembari menunggu kabar dari Arif yang sedang memancing orang-orang itu.
Sementara Arif kini sudah berada di jalan raya, ia terus celingak-celinguk ke kanan kiri serta belakang untuk memastikan apakah ada orang mencurigakan atau tidak yang mengikutinya.
"Duh, kok masih belum ada tanda-tanda si pengeroyok itu ya?" batin Arif cemas.
Tak lama kemudian, dari samping muncul beberapa pemotor yang mengagetkan Arif karena langsung mendekat ke arahnya.
"WOI BERHENTI LU!" teriak orang itu.
"Waduh mampus gue! Itu pasti si pengeroyok, gue harus bilang ke Willy sekarang!" batin Arif.
Arif pun memacu motornya lebih cepat, sembari memberi kabar pada Willy mengenai keadaannya saat ini melalui telpon yang masih tersambung.
📞"Halo Wil! Gawat Wil, mereka udah muncul dan sekarang mereka lagi kejar gue! Cepetan lu ikutin gue Wil, gue takut banget!" ucap Arif panik.
📞"Oke oke, gue sama anak-anak berangkat sekarang! Lu tenang aja ya, bawa mereka ke tempat yang udah gue kasih tahu tadi!" ucap Willy.
📞"Siap Wil, jangan lama-lama tapi!" ujar Arif.
📞"Iya iya.." ucap Willy.
Arif menambah kecepatan motornya dan bergerak menuju tempat yang sudah diberitahu oleh Willy sebelumnya untuk menjebak orang-orang itu.
"WOI BERHENTI!!" teriak mereka makin keras.
Arif tak memperdulikan itu, ia terus fokus ke jalan sambil berharap-harap cemas. Ia takut jika mereka berhasil mencegatnya sebelum ia tiba di tempat yang Willy mau.
"Aduh! Ya Allah, selamatkan lah nyawa hamba!" batin Arif ketakutan.
Motor-motor itu semakin mendekat ke arahnya, membuat Arif cemas tak karuan.
"WOI BERHENTI!"
"GAK AKAN!" balas Arif.
******
Arif memelankan laju motornya begitu sampai di tempat yang sudah ditentukan oleh Willy.
"Hahaha, lu gak akan bisa kabur dari kita!" ucap orang itu menunjuk ke Arif.
"Turun lu!" ucap yang lain sambil turun dari motor dan langsung menyeret tubuh Arif.
"Eh eh eh, santai dong! Kalian itu sebenarnya siapa sih? Mau apa kalian kejar gue?" ucap Arif.
"Gausah banyak omong lu!" ucap orang itu.
Bughh...
Pukulan langsung dilayangkan ke perut Arif hingga membuat pria itu kesakitan dan perlahan-lahan terduduk di aspal.
"Akhh!" Arif memekik kesakitan memegangi perutnya.
"Bangun lu! Jangan jadi pengecut!" ujar orang itu.
"Sial! Ini Willy kemana sih? Gue jadi kena kan pukulan mereka, mana sakit banget lagi." batin Arif.
Orang-orang itu kembali menarik tubuh Arif untuk berdiri seperti sebelumnya.
"A-ampun, jangan pukulin gue!" pinta Arif.
"Diem lu! Ini balasan untuk geng motor yang suka cari masalah kayak lu, jadi terima aja!" ucap orang itu yang kemudian kembali memukul perut Arif.
Bughh...
Lagi dan lagi Arif terduduk di aspal memegangi perutnya, namun kembali ditarik oleh orang yang lain dan bersiap memukulnya kembali.
"WOI BERHENTI!" teriak seseorang dari belakang mereka.
Ya itulah Willy serta para anggota the darks lainnya yang telah tiba disana, membuat orang-orang itu ketakutan dan tampak bingung.
Arif merasa lega, walau ia harus merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutnya setelah dua kali terkena pukulan tadi.
"Jadi, kalian yang udah keroyok anggota the darks sampai masuk UGD. Emang kurang ajar kalian!" ucap Willy emosi.
"Hahaha, terus kenapa? Lu mau apa, ha?" ujar orang itu tertawa lebar.
"Dasar sialan!" umpat Willy. "Seraanggg!!" teriaknya sambil berlari ke arah enam orang itu.
Willy serta anak-anak the darks pun langsung menyerang keenam orang yang tadi hendak mengeroyok Arif, pertarungan pun tak dapat dihindarkan disana.
Memang Willy menang jumlah, namun tetap saja tak semudah itu mereka untuk mengalahkan enam orang yang tubuhnya besar-besar dan ahli dalam beladiri.
Sementara Arif tetap tersungkur di jalan, ia terus memegangi perutnya dan meringis menahan sakit sembari juga memperhatikan Willy serta yang lainnya melawan orang-orang itu.
"Semoga Willy bisa menang!" batin Arif.
Bruuukkk...
Satu persatu dari enam orang itu akhirnya ambruk di depan Willy dan anggota the darks, mereka tak mampu lagi berdiri.
"Bangun lu! Kasih tahu gue, siapa yang udah suruh kalian semua!" bentak Willy.
"Gue gak akan pernah kasih tahu lu!" ucap orang itu tegas dan yakin.
"Oh gitu, yaudah kalo gitu kita bakal abisin kalian semua dan bikin kalian masuk ke liang lahat!" ucap Willy sembari menarik tubuh salah seorang tersebut untuk berdiri.
Bughh... bughh...
Willy kembali menghajar orang itu berkali-kali tanpa ampun, ia benar-benar emosi saat ini.
"Aakkkhhh!!" orang itu langsung memekik kesakitan.
"Sekali lagi gue minta, kasih tahu ke gue siapa yang udah suruh lu!" bentak Willy.
Orang-orang itu terdiam saja, Willy semakin kesal dan emosi dibuatnya.
"Jawab!!" teriak Willy.
"I-i-iya, gue bakal kasih tahu." ucap orang itu.
******
"Kita disuruh sama kang Asep, dia itu orang yang punya jasa buat menghajar dan menghabisi orang-orang sesuai permintaan klien. Kita semua ini cuma anak buahnya, kita dibayar sama dia."
Ucapan pria itu masih terngiang-ngiang di telinga Willy, kini Willy dan anggota the darks lainnya sudah melaju menuju lokasi Asep berada.
Ya sebelumnya orang-orang itu sudah menghubungi Asep dan mengajak Asep untuk bertemu di tempat biasa.
"Gue barusan udah telpon kang Asep, katanya dia lagi dalam perjalanan ke tempat biasa. Lu pada bisa kesana dan temuin langsung kang Asep! Tanya aja langsung ke dia, siapa yang udah suruh dia buat habisin anak-anak the darks!"
"Dimana tempatnya? Kasih tahu ke gue!" ucap Willy.
"Udah gue shareloc ke nomor lu, kita gak bisa anterin lu karena badan kita sakit banget!"
"Yaudah, lu semua boleh tetap disini. Terserah kalau mau ke rumah sakit juga, ayo gengs kita cabut sekarang!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap Randi.
Saat ini Willy telah tiba di sebuah taman yang sepi, taman itulah tempat Asep biasanya meminta anak buahnya untuk datang.
"Wil, kira-kira Asep yang mana ya?" ujar Randi.
"Tenang aja! Kan kita udah dikasih tahu ciri-cirinya sama orang tadi, terus nomor telponnya juga gue punya. Jadi, kita bisa cari tahu lewat itu." jawab Willy sambil tersenyum.
"Oke Wil!" ucap Randi mengangguk.
"Ciri-cirinya, kang Asep itu rambutnya cepak dan mukanya agak datar. Lebih jelasnya lu bisa lihat foto yang gue kirim ke nomor lu!"
Willy pun membuka hp nya setelah mengingat omongan orang tadi, ia melihat foto Asep yang sudah dikirimkan oleh orang itu.
"Guys, itu dia si Asep. Biar gue dulu yang datengin dia, kalian tunggu disini aja!" ucap Willy.
"Tapi Wil, lu yakin bisa urus semuanya sendiri?" tanya Tedy ragu.
"Gausah cemas! Kalaupun gue gak bisa, kan kalian bisa langsung maju bantu gue!" jawab Willy.
"Iya juga sih, yaudah lu hati-hati Wil jangan sampe si Asep bisa kabur!" ujar Tedy.
Willy mengangguk pelan, lalu melangkah maju ke dalam taman tersebut menghampiri Asep yang sudah terduduk disana sedari tadi.
"Ehem ehem.." Willy berdehem pelan.
Asep langsung berdiri dan terkejut hebat saat melihat Willy disana, Willy pun tersenyum smirk mendekati Asep dengan tatapan tipisnya.
"Kenapa? Kok kaget gitu sih lihat gue? Kenal ya sama gue?" tanya Willy.
"Mau apa kamu kesini? Memangnya kamu tahu siapa saya?" ujar Asep gemetar.
"Oh jelas, gue tahu banget. Lu yang namanya kang Asep kan? Lu otak dibalik pengeroyokan anggota the darks belakangan ini, iya kan?" ujar Willy.
Asep terdiam memalingkan wajahnya, ia nampak cemas saat Willy mengatakan itu.
"Dengar ya Asep, semua anak buah lu udah berhasil gue tangkap. Mereka sekarang gak bisa bantu lu lagi, jadi sekarang lu jelasin ke gue apa maksud lu lakuin ini semua!" ucap Willy.
"Saya cuma melakukan permintaan pelanggan," ucap Asep.
"Siapa pelanggan itu?" tanya Willy.
Bersambung....