My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 131. Merona



My love is sillie


Episode 131



Cup!


Willy mengecup bibir Aurora secara tiba-tiba, Sasha yang melihatnya amat terkejut tak menyangka jika Willy berani melakukannya disana.


"Jangan ngambek lah! Aku pasti makan kok sandwich kamu ini, sekarang kita masuk dulu yuk!" ucap Willy sambil tersenyum.


Entah mengapa Aurora luluh, dia pun mengiyakan ajakan Willy dan tidak jadi marah pada kekasihnya itu.


Mereka langsung melangkah masuk ke dalam, sedangkan Sasha masih terdiam di tempatnya dan menatap ke arah mereka dengan tatapan tak suka.


"Ish, Willy malah jadi mesra-mesraan sama Aurora! Padahal niat gue kesini kan karena gue pengen deket lagi sama Willy, eh tapi si perusuh malah datang!" batin Sasha.


Willy dan Aurora tak sengaja berpapasan dengan Bu Ani yang baru selesai menyiapkan sarapan.


"Loh loh, ada nak Aurora??" ujar Bu Ani.


"Ah iya Bu, assalamualaikum!" Aurora langsung menyala Bu Ani dan mencium tangan sang ibu dari kekasihnya itu.


"Dari kapan kamu kesini? Kok ibu gak dengar sih?" tanya Bu Ani.


"Barusan aja Bu, tadi yang buka pintunya itu Sasha. Terus baru deh Willy datang dan bolehin aku masuk," jelas Aurora.


"Oh iya, nak Sasha nya kemana sekarang?" tanya Bu Ani kebingungan.


"Ada di depan kok Bu," jawab Willy.


"Loh kenapa gak diajak masuk kesini juga?" tanya Bu Ani.


"Iya maaf Bu, aku lupa. Tadi kan juga Sasha udah di dalam, ngapain disuruh masuk lagi?" ujar Willy.


"Yaudah, biar ibu yang ke depan. Kamu ajak aja Aurora ke meja makan ya!" ucap Bu Ani.


"Siap Bu! Yuk sayang!" ucap Willy.


Aurora mengangguk sambil tersenyum, Willy merengkuh pinggangnya dan mulai melangkah menuju meja makan.


"Wil, emang Sasha masih sering datang ke rumah kamu ya?" tanya Aurora.


"Eee gak juga sih, baru kemarin sama hari ini. Emangnya kenapa? Kamu cemburu?" jawab Willy.


"Ah eee enggak lah ngapain?!" elak Aurora.


"Masa sih? Kelihatan loh dari wajah kamu, pasti kamu cemburu kan? Udah sayang, ngaku aja kali kalo kamu cemburu!" ucap Willy.


"Apa sih?! Kamu gausah kege'eran deh, aku gak cemburu! Aku tuh cuma tanya dan penasaran aja, ngapain gitu Sasha masih datang ke rumah kamu. Aku gak ada maksud lain," ucap Aurora.


"Iya iya sayangku, aku percaya aja deh sama kamu mah!" ucap Willy seraya memeluk kekasihnya.


"Jangan peluk-peluk ah gak enak tau kalo diliat ibu atau bapak kamu!" ujar Aurora berontak.


"Gapapa, tenang aja!" ucap Willy sambil tersenyum.


"Iya nak Aurora, gak perlu malu di depan bapak mah." keduanya sama-sama kaget mendengar suara seorang lelaki yang muncul dari arah dapur mendekati mereka.


"Hah bapak??!" Aurora tersentak kaget, ia coba melepas pelukan Willy tetapi gagal karena pria itu malah menahannya.


"Ih Willy lepas, malu tau ada bapak kamu!" ujar Aurora coba berontak.


"Kamu kenapa sih? Bapak aku perasaan biasa-biasa aja gak marah, ya kan pak?" ucap Willy dengan santai.


"Iya, udah gapapa nak Aurora namanya juga anak muda. Dulu bapak sama ibunya Willy juga begitu kok," ucap pak Gunawan.


Aurora terbelalak mendengarnya.


"Pantas aja anaknya begini," batin Aurora.


******


"Hah? Kita dimana sayang??!" ujar Mia panik.


Thoriq mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan itu, dalam sekejap saja mereka sudah masuk kesana tanpa disadari.


"Duh, gimana ini sayang? Aku gak mau tersesat disini cuma sama kamu!" rengek Mia.


"Tenang cantik! Selama ada aku di sebelah kamu, aku pasti bakal jagain kamu!" ucap Thoriq.


"Iya iya, tapi sekarang gimana ini caranya kita buat keluar dari hutan ini? Aku gak mau ya lama-lama ada disini, aku pengen keluar!" ujar Mia.


"Sabar ya sayang! Kita cari jalan keluar di sekitar sini, aku janji sama kamu kalau kita pasti bisa keluar dari tempat ini!" ucap Thoriq.


"Aku percaya sama kamu, tolong kamu bawa aku keluar ya dari sini!" ucap Mia.


"Iya, sekarang coba deh kamu cek hp kamu! Siapa tahu kita bisa minta bantuan dari orang pemilik kuda," suruh Thoriq.


"Iya sayang," Mia menurut dan membuka ponselnya.


"Hah??!" gadis itu terkejut hebat mendapati ponselnya tidak memiliki sinyal sama sekali.


"Ke-kenapa sayang? Ada masalah??" tanya Thoriq penasaran.


"Sayang, ini gak ada sinyal di hp aku. Gimana caranya kita minta bantuan coba?" jawab Mia.


"Waduh, sial banget dong kita! Kenapa mesti gak ada sinyal sih?" ujar Thoriq.


"Ya mana aku tahu! Mungkin karena kita lagi ada di hutan kayak gini, jadi susah sinyal. Coba aja kamu cek hp kamu barangkali ada!" ujar Mia.


"Aku gak bawa handphone sayang, tadi hp nya aku tinggal di tempat kuda. Aku pikir lebih baik aku gak bawa hp, supaya fokus sama kamu. Eh ternyata malah kayak gini," ucap Thoriq.


"Yah terus gimana dong sayang?" tanya Mia.


"Kita turun dulu yuk sayang! Supaya kudanya juga bisa istirahat," jawab Thoriq.


Mia mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari kuda dan duduk bersandar di bawah pohon besar setelah mengikat kuda itu.


"Sabar ya sayang!" ucap Thoriq lirih.


"Aku sabar kok sayang, tapi aku gak mau kita terus terjebak disini sampai malam. Kita harus cepat-cepat keluar, sebelum hari mulai gelap!" ucap Mia dengan sangat panik.


"Iya iya, aku bakal pikirin cara supaya kita bisa keluar disini. Sekarang kamu tenang dulu, jangan panik ya sayang!" ucap Thoriq.


Mia mengangguk lesu, membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih. Thoriq tersenyum merasakan wajah Mia di bahunya, ia pun mengusap wajah Mia dengan lembut dan sesekali mengecupnya.


Cup!


"Kamu tenang ya cantikku! Aku disini bakal jagain kamu, kita berdua juga pasti bisa kok keluar dari hutan ini!" ucap Thoriq.


"Iya sayang, aku percaya kamu!" ucap Mia.


"WOI!!!"


******


Seseorang itu membuka helmnya, menatap ke arah anggota the darks dengan senyum tersungging di bibirnya.


Seketika Zafran dan yang lainnya terkejut begitu melihat siapa yang ada di depan mereka saat ini, sedangkan orang itu masih tetap tersenyum.


"Chalvin? Ini beneran lo??" ujar Zafran dengan wajah tak percaya.


"Iyalah bro, masih ingat kan lo sama gue?" jawab si pria bernama Chalvin itu.


Chalvin turun dari motornya, menghampiri Zafran serta anggota the darks lainnya dengan terus tersenyum.


"Pasti ingat lah, gimana gue bisa lupa sama lo?!" ujar Zafran sambil tersenyum.


"Hahaha, mantap lah!" ucap Chalvin sembari melakukan tos dengan para anggota the darks.


"Ayo duduk dulu bro, biar nanti dibeliin minum sama si Jeki!" ajak Zafran.


"Siap!" Chalvin menurut saja, lalu ikut terduduk di kursi yang tersedia bersama yang lainnya.


"Yah elah bro, dia itu si Chalvin mantan anak the darks juga. Dulu Chalvin yang jadi wakil ketua di geng kita, sebelum akhirnya dia putusin buat keluar dan tinggal di luar negeri," jelas Leo.


"Nah, udah dijelasin tuh sama si Leo. Lo ngerti kan sekarang Rif?" timpal Zafran.


"Hehe, iya iya ngerti gue. Sorry ya bang, gue anak baru soalnya!" ucap Arif.


"Santai aja! Gue kan udah lama gak kumpul disini, ternyata banyak anak-anak baru ya yang masuk the darks?" ujar Chalvin.


"Iya gitu deh," jawab Zafran menganggukkan kepala.


"Oh ya, omong-omong ini si Willy kemana dah? Gue pengen ketemu dan ngobrol lagi sama dia," tanya Chalvin sambil celingak-celinguk.


"Dia mah datang kesini nya gak nentu, kadang siang sehabis pulang sekolah, tapi kadang juga malam-malam baru datang. Kalau pagi-pagi begini, dia pasti masih asyik pacaran sama ceweknya," jawab Zafran.


"Betul tuh, si Willy udah jarang banget kumpul sama kita! Ya mungkin dia lagi dimabuk cinta, wajar sih ceweknya cakep banget udah kayak bidadari khayangan," sahut Leo.


"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.


"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.


"Okelah!" ucap Chalvin singkat.


"Eh ya, ini perasaan gue doang atau emang geng the darks makin sepi? Si Randi, Thoriq sama Farrel pada kemana dah?" tanya Chalvin heran.


"Eee Thoriq sama Farrel udah keluar dari the darks bro," jawab Zafran.


"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.


******


"Hey!!"


Ucapan Ilham terjeda karena tiba-tiba seseorang berteriak keras ke arah mereka, semuanya pun kompak menoleh menatap asal suara dengan wajah bingung.


"Gue Rimba, ketua geng thunder. Gue kesini buat bahas perjanjian kerjasama kita kemarin, gue udah gak sabar pengen abisin si Willy!" ujar Rimba.


Ilham serta yang lainnya langsung bangkit dan berdiri tegak lalu menghampiri Rimba yang ada di depan sana sendirian.


"Kenapa lo datang sendiri? Mana anak-anak thunder yang lain?" tanya Ilham keheranan.


"Mereka ada urusan lain, lagian kalau cuma membahas rencana kerjasama kita cukup gue aja yang datang kesini. Gimana? Kalian bisa kan terima kehadiran gue disini?" jelas Rimba.


"Santai aja bro! Yuk duduk sini, kita bicara santai sambil minum-minum!" ajak Ilham.


"Oke!" Rimba mengangguk pelan lalu ikut duduk bersama yang lain.


"Dimana leader kalian? Siapa tuh namanya? Martin ya?" tanya Rimba.


"Ah iya, bang Martin belum datang. Mungkin agak siangan dia baru kesini," jawab Ilham.


"Ohh, tapi lo semua ngerti kan yang harus dibahas?" tanya Rimba.


"Santai aja!" jawab Ilham.


"Kalau begitu, kita harus gimana nih dan rencana kalian buat abisin geng the darks kayak apa? Pasti udah ada kan rencananya?" tanya Rimba.


"Eee sebenarnya kita juga belum tahu sih, kita masih nunggu bang Martin. Karena kita gak berani buat rencana tanpa sepengetahuan dia, biar gimanapun dia kan leader kita," jawab Ilham.


"Yah berarti percuma dong gue datang kesini, karena gak ada si Martin?" ujar Rimba.


"Sabar bro! Mungkin sebentar lagi bang Martin bakal datang kesini," ucap Ilham menenangkan.


"Iya bro, lo tunggu aja dulu sambil minum!" sahut Billy.


Rimba mengangguk-angguk saja, lalu meminum minuman yang sudah disediakan oleh anggota black jack untuknya.


"Gue mau tanya deh sama lo, sebenarnya masalah lo sama anak the darks tuh apa?" tanya Rimba.


"Hah? Lo nanya begitu ke gue bro? Asal lu tahu ya, black jack dan the darks itu musuh bebuyutan! Kita gak akan pernah damai sama mereka sampai kapanpun, karena Willy udah bikin kita sengsara!" jelas Ilham dengan keras.


"Oh begitu, pantas aja lo kelihatan emosi banget. Gue suka nih yang begini, anak-anak the darks emang harus dikasih pelajaran supaya mereka gak semena-mena terus sama kita!" ucap Rimba.


"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.


"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.


"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.


******


Cup!


"Iya sayang, aku janji gak akan apa-apain kamu sebelum kita menikah!" bisik Randi sensual.


"Oke, aku percaya sama kamu! Tapi, awas aja ya kalo kamu macam-macam!" ancam Ayna.


"Mana berani aku macam-macam sama kamu sayang? Kita kan baru pacaran sehari, masa iya aku udah lancang aja?" ujar Randi.


"Terus tadi itu apa? Kamu kan sentuh-sentuh puncak aku," kesal Ayna.


"Eee iya itu tadi aku gak tahan aja sayang, abisnya punya kamu kenyal banget sih. Mending sekarang kamu cepat deh ganti baju, biar aku bisa tahan diri!" ucap Randi.


"Iya iya, kamu tunggu aja di kasur gih! Kalau kamu mau tiduran juga boleh kok," ucap Ayna.


"Oke sayang!" ucap Randi menurut.


Pria itu memajukan bibirnya, kembali mengecup singkat bibir ranum Ayna dan mengusap rambutnya.


Cup!


"Bibir kamu enak banget, aku kayaknya kecanduan sama bibir kamu deh!" goda Randi.


"Bisa aja kamu, udah ah sana jauh-jauh!" usir Ayna.


"Hahaha.." Randi tertawa kecil sembari memundurkan langkahnya menuju ranjang empuk milik Ayna.


Ayna pun mulai mengganti pakaiannya di hadapan Randi, terlihat gadis itu malu-malu saat melakukannya, sedangkan Randi sendiri justru mengamati dengan serius.


Setelah selesai, kini keduanya kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Tak terjadi apapun di dalam kamar itu, karena Randi juga tidak berani melakukan hal buruk pada Ayna.


"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.


"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.


"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.


"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.


"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.


"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.


"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.


"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.


Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.


Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.


"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.


"Oke!" Ayna mengangguk singkat.


Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.


"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.


"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.


Bersambung....