
Thomas kembali menggendong Mattea keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu memegang ucapannya untuk tidak menyentuh Mattea, karena dia tidak akan tega bila melakukannya lagi.
Laki-laki gagah itu meletakkan istrinya di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Hati Mattea menghangat karena perlakuan suaminya ini.
Mattea menatap Thomas yang saat ini sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. Mattea yang masih memakai kimono itu hanya menatap punggung lebar yang tampak bergerak karena sang pemilik tubuh sedang berbicara.
“Tunggu sebentar sayang, pakaiannya akan tiba sebentar lagi. Aku sangat jengkel kenapa di hotel ini mereka tidak memberikanmu dress, cih, pasti ini kerjaan mertuaku itu!”
Mattea terkekeh gemas melihat Thomas yang kesal. Entah kepada Max atau Stef, dia tidak tau. Karena pasti ini adalah kerjaan salah satu dari mereka yang tidak memberikan pakaian untuk Mattea kecuali Lingerie yang walaupun tidak di pakai oleh wanita itu.
Tok... tok..
Pintu kamar yang ditempati oleh kedua orang itu, diketuk pelan.
“Ah, itu pasti orang yang aku suruh tadi!” Thomas berjalan untuk membuka pintu. Benar, seorang laki-laki berjas hitam berdiri disana dengan memegang sebuah handbag. Yang dapat Thomas tebak itu adalah barang pesanannya tadi.
Setelah mengucapkan kata terimakasih, Thomas berbalik dan menutup pintu, lalu membawa handbag yang ada di tangannya itu ke dekat Mattea.
“Mau aku bantu sayang?” tanya Thomas dengan nada menggoda pada istrinya yang sudah merona itu.
“No. Aku bisa sendiri!” dengan langkah perlahan, Mattea bangkit dan berjalan menuju walk in closed. Dia menenteng handbag yang diberikan oleh Thomas itu dengan langkah pelan.
Sedangkan Thomas, laki-laki itu dengan santainya berganti pakaian di kamar, dia mengganti pakaiannya dengan cepat sebelum Mattea selesai.
Dengan menggunakan dress selutut berwarna merah, Mattea tampak makin cantik dengan warna merona itu. Dia kembali berjalan dengan pelan menuju ranjang.
“Aku sudah memesan makan siang. Kita makan siang di kamar saja?” Mattea mengangguk mendengar perkataan suaminya itu. Dia duduk bersandar di atas tempat tidur, lalu meraih remote tv, dan menyalakannya.
Berita pernikahannya yang megah, sudar tersebar ke seluruh pelosok negeri, membuat wanita itu merona. Dia menatap Thomas yang duduk di sofa, sedang fokus dengan handphonenya.
Bagaimana wajah yang tampan itu, semalam sengat dekat dengan wajahnya. Bagaimana bibir sensual itu bertabrakan dengan bibirnya yang tipis. Bagaimana dia sembunyi di dalam dada bidang suaminya itu. Mattea benar-benar semakin terpesona oleh sosok yang sangat dia cintai itu.
“Kenapa memperhatikanku begitu sayang? Apa yang semalam belum cukup?” mendengar perkataan Thomas, Mattea langsung tersadar dari lamunannya dan melayangkan bantal yang ada di dekatnya pada suaminya itu, tapi sayangnya tidak sampai karena jaraknya cukup jauh.
“Mesuummm!” elak Mattea dengan wajah merona, dia menatap ke arah lain, menghindari tatapan menggoda Thomas padanya, sedangkan Thomas terkekeh gemas melihat istrinya yang malu-malu itu.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara pintu kamar kembali di ketuk, membuat Thomas langsung bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu.
Disana sudah berdiri bellboy dengan sebuah troli untuk meletakkan piringan makanan diatasnya. Dibawa dengan cara di dorong.
Thomas menerima troli itu, lalu memberikan tip pada bellboy tersenyum. Bellboy itu lalu menundukkan kepalanya dengan menggumamkan banyak kata terimakasih.
Sebenarnya Thomas bisa saja menyuruh bellboy itu untuk masuk kedalam dan menyajikannya, tapi dia tidak mau. Karena dia tidak ingin tubuh istrinya yang penuh dengan tanda kemerahan itu tampak oleh bellboy tersebut.
Tadi didalam kamar mandi saja, Mattea sudah menjerit histeris dengan wajah yang merah padam menatap suaminya itu saat melihat kondisi tubuhnya yang penuh dengan bercak merah bekas kissmark akibat perbuatan Thomas semalam.
Dan laki-laki itu tidak akan dapat membayangkan bagaimana respon istrinya saat ada yang melihat tubuhnya seperti itu, ditambah lagi dia hanya menggunakan dress.
Thomas meletakkan makanan-makanan itu diatas meja dekat dengan sofa. Dia menghidangkannya dengan sangat hati-hati, lalu berjalan mendekat pada istrinya.
Dan tanpa aba-aba, Thomas menggendong wanita itu membuat Mattea menjerit karena terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
“Sayangg... Lepaskan, aku bisa jalan sendiri, lagi pula sudah tidak sakit lagi! Heeiii! Turunkan aku!” Thomas terkekeh dengan reaksi istrinya itu. Membuat Mattea yang berada dalam gendongan Thomas hanya bisa terdiam dengan wajah bersemu merah.
Wanita itu tidak dapat mengungkapkan kebahagiaannya saat ini. Perlakuan Thomas, benar-benar membuatnya semakin jatuh dalam pesona laki-laki itu.
Cara Thomas memperlakukannya, membuat Mattea selalu berdebar. Semakin banyak kejutan yang dia dapat setelah menikah dengan laki-laki itu. Dengan perlakuan kecil yang manis, sukses membuat Mattea semakin terperosok akan cintanya pada Thomas.
Thomas mendudukkan Mattea di atas sofa, dia mengambilkan makanan untuk sang istri.
“Aku bisa sendiri!” cicit Mattea dengan malu-malu.
Kedua orang itu makan dengan sangat lahap. Keduanya butuh banyak asupan nutrisi, untuk mengembalikan tenaga mereka yang sudah terkuras habis semalam. Makanan ini benar-benar enak. Di tambah dengan segelas jus melon, membuat Mattea benar-benar menikmati makanannya.
“Pelan-pelan sayang, aku tidak akan minta.” goda Thomas pada sang istri sedangkan Mattea hanya menampilkan deretan giginya disertai dengan cengiran yang manis.
.
.
__
.
Mattea berjalan dengan menggandeng tangan Thomas, menuju lift. Mereka masuk kedalam Lift khusus. Iya, lift yang hanya akan mengantarkan pada lantai teratas gedung pencakar langit itu. Yang di puncaknya ada papan nama dengan Luciano's group.
Keduanya kini berencana mau pulang ke mansion keluarga Mattea yang kini juga jadi keluarga Thomas, walaupun sebenarnya Thomas sudah seperti keluarga bagi seluruh anggota keluarga Max sendiri. Dan Mattea yakin semua keluarganya saat ini berada di mansion.
Penampilan Mattea yang mencolok dengan gaun merahnya yang mewah dan berkelas juga karena sebuah syal membalut lehernya, membuat semua orang yang berada disekitarnya hanya mengu*llum senyuman mereka.
Bayangan adegan liar dengan tubuh liat itu membuat para wanita disana menelan ludah kasar. Wajah tampan dengan tubuh yang sangat sempurna itu benar-benar mengagumkan. Apalagi dengan wajah dewasa Thomas membuat para wanita rasanya ingin sekali untuk bisa bertukar tempat dengan Mattea.
Yah, walaupun tidak ditutup kemungkinan para lelaki juga sangat iri pada Thomas. Bagaimana laki-laki itu dapat menaklukkan hati seorang Mattea Martha Alexander Luciano. Tuan Putri satu-satunya pewaris bisnis Daddy dan Kakeknya itu.
Siapa yang tak mau ada di posisi sebagai pangerannya tuan Putri? Pasti tidak akan ada yang akan menolak.
Sebuah Limosin hitam mengkilap sudah menunggu untuk dinaiki oleh kedua pasangan pengantin baru itu di loby hotel. Seorang supir membukakan pintu mobil untuk keduanya. Thomas menuntun istrinya yang masuk kedalam Limosin hitam itu.
Limosin hitam itu membawa keduanya menuju mansion megah milik Maxim Alexander.
.
.
___
.
“Hohoho, lihatlah siapa yang datang? Pengantin baru kita, baru datang siang-siang begini.” Masseria menggoda kedua orang yang baru saja menginjakkan kaki mereka di lantai mansion. Keduanya tampak salah tingkah karena godaan yang dikatakan oleh Masseria, karena mereka benar-benar datang sangat terlambat. Matahari bahkan sudah berada di puncaknya.
“Apa dia membuatmu benar-benar lelah Sayang?” Mattea melototkan matanya pada sang Mommy. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, tampak tersenyum menggoda pada anaknya yang sudah tidak perawan lagi.
Mattea hanya diam, dia tidak mau menjawab. Karena apa yang dikatakan oleh Mommy- nya itu benar. Dia benar-benar kelelahan semalam, akibat keganasan suaminya itu.
“Kak Atea?” mendengar suara Ana membuat Mattea lega, karena tidak harus menjawab pertanyaan sang Mommy.
“Apa Ana?” tanya Mattea melirik pada gadis itu.
“Kenapa kak Atea memakai syal? Ini kan lagi musim panas?” mendengar pertanyaan Ana, membuat Mattea kembali memerah. Sedangkan Stef, Masseria, Aira dan juga Ara hanya terkekeh mendengar pertanyaan polos dari gadis bar-bar yang berisik itu.
Thomas tidak mengetahui kalau istrinya merasa malu saat ini, karena laki-laki itu sedang berbincang dengan Max, David, Justin, dan juga Matteo di sofa ruang keluarga.
“Jangan tanya seperti itu Ana. Aku mau ke kamar dulu!” Mattea segera pergi dari sana menuju kamarnya. Dia tidak tahan digoda seperti itu terus. Bisa-bisa wajahnya akan sangat panas nantinya. Beginilah nasib pengantin baru. Banyak orang yang akan melancarkan serangan untuk menggoda mereka.
“Tidak mau mengajak suamimu sayang?” goda Stef yang semakin membuat Mattea memerah. Dia berhenti lalu berbalik menatap pada sang Mommy.
“Mommy!” cemberut Mattea membuat wanita paruh baya yang ada disana terkekeh.
Mattea melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamar. Dia ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian lain, dan dia juga ingin memakai poundation untuk menutupi tubuhnya yang merah-merah karena ulah suaminya yang ganas itu.
Tidak mungkin kan? Kalau dia harus memakai syal terus sepanjang siang ini? Apalagi sekarang sedang panas.
“Ck, dia benar-benar ganas!” rutuk Mattea sembari berjalan menuju walk in closed yang ada di kamarnya. Dia mengambil sehelai kaos longgar dan juga celana jeans pendek di atas lutut untuk dia kenakan.
Setelah selesai mengganti dress yang tadi dia pakai dengan pakaian yang menurutnya sangat nyaman itu, Mattea keluar dari walk in closed dan duduk di kursi meja rias besar miliknya. Lalu memoleskan poundation pada area sekitar lehernya.
“Ckckck, bahkan tidak ada yang tidak dia beri tanda di leherku ini!” Mattea geleng-geleng kepala melihat hasil karya suaminya itu.
Setelah merasa semuanya sudah tertutupi, Mattea menguncir rambutnya, lalu berjalan menuju ranjang.
“Aku sangat lelah. Tenagaku benar-benar habis semalam!” Mattea membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Lalu berusaha untuk memejamkan matanya. Saat dirasa dia sudah mulai masuk ke alam mimpi, Mattea merasa ada seseorang yang naik ke atas ranjang dan tidur di sampingnya.
“Kau tidak mau mengajakku untuk tidur siang bersama Sayang?” Mattea kembali membuka matanya, dan dia berbalik menatap Thomas yang kini sedang tersenyum manis didepannya.
“No. Aku mau tidur dengan tenang, tanpa ada yang mengganggu!” Thomas terkekeh dengan reaksi Mattea.
“Memangnya siapa yang mau mengganggumu? Kan aku cuma bertanya, apa kau tidak mau mengajakku untuk tidur siang bersama, tidur siang loh, bukan yang lain!” wajah Mattea merona mendengar ucapan Thomas. Apa sekarang suaminya ini sedang berfikir kalau dirinya memikirkan hal lain dan tentu saja yang Iya-iya? Jika mereka tidur siang bersama?
Jika iya, maka tebakan suaminya itu benar sekali.
“Kau sekarang mudah sekali merona sayang.” Thomas memberikan kecupan di kening Mattea. Dia selalu merasa bahagia saat melihat wajah gadis kecilnya yang sangat dia cintai memerah karena dirinya. Mattea terlihat sangat menggemaskan saat seperti itu.
“Tidak! Siapa juga yang memikirkan hal yang aneh-aneh! Baiklah, mari tidur siang bersama!” Mattea menyembunyikan wajahnya yang merona didalam dada bidang Thomas.
Laki-laki itu menyambutnya, dan membawa wanita yang semalam diperawaninya itu kedalam pelukannya.
Siang yang hangat, mereka isi dengan pelukan yang hangat. Dalam tidur, kedua insan yang di mabuk cinta itu, saling tersenyum dengan keadaan saling memeluk satu sama lain.
.
.
__
Reviewnya lama amat😐Yang MP, dari hari Jumat siang, sampai Sabtu sore aku kirim chapter ini, masih belum lolos🥴Hadeeuuhh:|