My Devils Husband

My Devils Husband
40. Terbongkar



“Dulu aku dan ayahmu menikah tanpa restu dari kakek ayahmu Stef,” Stef mengernyit mendengar perkataan ibunya.


“Lalu bagaimana kalian bisa menikah? Apa alasan kakek untuk tidak merestui kalian?” Stef bertanya pada ibunya. Pagi ini Lie benar benar memegang ucapannya, menceritakan semuanya pada Stef, untung saja Max sudah pergi untuk bertemu dengan David alasan urusan pekerjaan.


“Kami menikah tanpa restu, ayahmu kabur dari rumah dan semua fasilitas dari kakekmu ditinggalkan demi untuk menikahi ibu, kakek-mu malu untuk mengakui ibu sebagai menantunya karena ibu bukan orang kaya dan terpandang seperti dia. Karena dia adalah pengusaha kaya raya dan sangat jaya pada masanya.” Lie menghela nafas lalu menatap Stef dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sedangkan Stef berusaha untuk tidak menangis menahan perih pada matanya, dia sudah membayangkan bagaimana perjuangan dan pengorbanan ayah dan ibunya saat itu.


“Kakek mu bernama William Cristian, pemilik Cristian Corp, tapi semenjak kami menikah ayahmu mengganti nama menjadi Antonio Axelsen, melepaskan nama Cristian dibelakang namanya, sebenarnya kita dulu tinggal di Italia, bukan di Frankfurt. Ayahmu bekerja sebagai bodyguard di keluarga Luciano, melindungi tuan Lucky dari musuhnya Henry Hill, musuh bisnisnya.” Lie menatap Stef dalam, seakan sulit baginya untuk memberitahu anaknya itu semua kebenaran yang selama ini ditutup-tutupinya.


“Lanjutkan ibu, aku ingin dengar,” ucap Stef, matanya kini sudah memerah mendengar perkataan ibunya.


“Tapi, saat itu ayahmu membawa ibu keluar untuk berjalan-jalan, tidak sengaja Henry Hill melihat kami bersama, lelaki itu jatuh cinta pada ibu pada pandangan pertama, padahal saat itu dia sudah memiliki anak dan istri, tapi ambisi memenuhi kepalanya untuk memiliki ibu, hingga dia tidak mengincar Lucky lagi melainkan ayahmu untuk melenyapkan dia, untuk bisa memiliki ibu sepenuhnya.” Lie mengusap air matanya dikala dia mengingat saat terakhir dia bersama sang suami sebelum akhirnya tewas karena lelaki tak berhati yang bernama Henry Hill tersebut.


“Lalu bagaimana ibu dan ayah Jhon bisa menikah, bukannya Henry Hill yang menginginkan ibu?” Stef bertanya membuat Lie kembali menghembuskan nafasnya berat.


“Kami menikah di saat-saat terakhir ayahmu Stef,” jawab Lie.


“Maksud ibu?” tanya Stef tidak paham.


“Ayahmu Antonio yang menginginkan kami untuk menikah disaat-saat terakhirnya, karena dia dan Jhon adalah bersahabat, dan Jhon sangat menyayangimu!” penuturan Lie membuat Stef terkejut bukan main, dia mengingat semua perlakuan ayah tirinya itu selama ini pada dirinya.


“Tapi, kenapa dia seperti tidak menyayangi aku ibu?” tanya Stef bingung.


“Kau salah Stef, dia menyayangimu lebih dari dirinya sendiri,” Stef semakin terkejut mendengar ucapan Lie.


“Benarkah?” tanya Stef tidak percaya.


“Apa kau ingat dengan orang yang mendonorkan ginjalnya padamu dulu saat kau kecelakaan?” tanya Lie membuat Stef kembali mengingat masa suramnya tersebut.


“Iya, aku ingat,” ucap Stef, “Tapi apa hubungannya ibu?” sambung Stef bertanya.


“Tapi perlakuannya selama ini padaku ibu? Kenapa dia seperti itu?” Stef kembali bertanya.


“Karena dia ingin kau menjadi perempuan yang kuat nak, dia ingin kau tidak takut dengan apapun, dia ingin kau bisa melakukan apapun, dia ingin kau bisa hidup tanpa kami jika nanti Henry Hill membalaskan dendam nya, karena saat itu pasti akan datang,” Stef memeluk ibunya kuat, menahan segala sesak di dadanya mendengar semua kebenaran ini.


“Apa dia mencintai ibu? Dan apa ibu mencintai dia?” pertanyaan Stef membuat Lie terdiam sesaat.


“Ya, dia mencintai ibu, dan kini ibu juga sudah mencintai dia,”


“Ibu, kenapa dia menjual ku pada Max?” kini Stef jadi teringat saat dia pertama kali bertemu dengan Max di club malam itu.


“Dia sengaja, karena dia sudah tau bahwa Henry Hill menyuruh anaknya untuk balas dendam padamu, jadi dia berbuat seolah-olah sudah berkhianat pada Max, lalu kabur, setelah itu Max akan datang ke club' untuk menenangkan dirinya, dan dia sengaja mengatakan pada Edward untuk memberikanmu pada Max, bahkan dia memastikan sendiri kau aman ditangan Max nak,” Stef semakin menitikkan air matanya dengan deras mendengar semua kebenaran ini.


“Ibu, aku sudah berfikir yang tidak-tidak pada ayah Jhon ibu, aku anak yang tidak baik,” Stef terisak di pelukan ibunya, mengingat segala sesuatu yang terjadi dengan segala kebetulan yang ternyata dirancang untuk melindungi dirinya selama ini.


“Dia sangat menyayangimu Stef, apa kau tau? Setiap malam setelah kau tidur dia selalu datang kedalam kamarmu bersama dengan ibu hanya untuk mencium keningmu sebelum dia tidur, dan kau tau apa yang dia katakan?” Stef menggeleng sebagai jawabannya.


“Dia berkata, Stef, anakku sayang, maafkan ayah yang selama ini sudah berlaku tidak baik padamu, tapi kau harus tau satu hal nak, aku sangat menyayangimu melebihi diriku sendiri,” Stef menangis sejadi-jadinya mendengar perkataan ibunya.


“Ibu, aku ingin bertemu dengan ayah Jhon, aku ingin memeluknya ibu” Stef menghapus air matanya, menatap Lie dengan tatapan permohonan.


“Sebentar lagi dia akan datang,”


“Benarkah?”


“Iya,”