My Devils Husband

My Devils Husband
Eps 46



Hujan lebat mengguyur wilayah sekitar Lombok, termasuk juga hotel tempat Max dan Stef menginap. Dua insan yang masih bergelung dalam selimut tersebut tidak merasa terganggu sedikitpun oleh suara gemericik air hujan yang membasahi tanah.


Keduanya terlalu kelelahan setelah selesai dengan pergulatan panas mereka tadi.


Hari sudah beranjak sore, tapi hujan belum juga reda, sepertinya rencana Stef untuk wisata kuliner harus tertunda terlebih dahulu, melihat betapa besarnya tingkat curah hujan yang turun.


“Max,” Stef terbangun, dan menggeliat didalam pelukan Max, dangan kulit tubuh yang saling bersentuhan secara langsung.


“Kita lanjut tidur saja sayang, hujannya lebat sekali!” Max semakin mendekap Stef dengan erat, membuat wanita tersebut hanya pasrah didalam pelukan suaminya itu.


“Kau menyebalkan Max!”


★‡★


“Ayo Max!” Stef sudah tidak sabaran untuk mengajak Max wisata kuliner, hari sudah berganti, dan siang ini Max, Stef dan juga David akan menjelajahi seluruh tempat yang ada di Lombok. Sedangkan para orang tua memilih untuk tetap tinggal di hotel.


“Stef!” David berjalan mendekati Max dan Stef dengan beriringan bersama Aira.


“Iya? Dia siapa?” tanya Stef heran, karena pasalnya kemarin dia juga melihat wanita ini, berbicara dengan David dan juga suaminya.


“Kenalkan dia Aira, yang akan memandu kita untuk jalan jalan,” alasan tersebut yang diberikan oleh David agar Aira bisa ikut bersama mereka, karena tidak mungkin jika mengenalkan secara langsung.


“Hallo Aira, stell mir Stefani vor!(Hai Aira, kenalkan aku Stefani!)” ucap Stef memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jerman.


“Okay Stefani, stell mich Aira vor!(Baiklah Stefani, kenalkan aku Aira!)” Max dan David tercengang mendengar Aira yang dengan lancar dan sangat baik dalam menggunakan bahasa Jerman.


“K-kau bisa bahasa Jerman?” tanya David tidak yakin. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri mendengar Aira berbicara dengan bahasa Jerman dengan sangat lancar.


“Iya tuan!” jawab Aira.


‘Lalu kemarin, kenapa aku harus berbahasa Inggris? Ah iya, kan teman temannya pasti tidak pandai berbahasa Inggris!’ David meracau dalam hatinya, lalu menatap Aira penuh kagum.


Sedangkan Max tersenyum melihat keduanya. ‘Aku mencium ada sesuatu yang baik diantara mereka berdua,’ ucap Max dalam hatinya.


Mereka akhirnya berbicara dengan bahasa Jerman, dan Stef merasa sangat nyaman mengobrol dengan Aira, dan dia yakin pasti usia Aira ini ada diatasnya, sehingga dia merasa seperti memiliki seorang kakak perempuan.


Mereka berjalan jalan disekitar Lombok, dengan mobil yang dikendarai oleh David dan Aira duduk disebelahnya memandu perjalanan tersebut, sedangkan anggota bodyguard lainnya mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuan Stef tentunya.


★‡★


Berbagai macam makanan khas Lombok dimakan oleh Stef, dimulai dari Nasi balap payung, Bebalung, Sate bulayak, Ayam Taliwang, dan Sate Rembiga, membuat Max menatap Stef heran, nafsu makan istrinya itu terlihat sangat naik akhir akhir ini, dan badannya semakin terlihat berisi.


“Kau mau tambah lagi?” tanya Max, yang di balas gelengan kepala oleh istrinya itu, sedangkan David dan Aira hanya diam melihat mereka berdua, sembari menyantap makanan mereka.


“Aku mau ke toilet sebentar.” ucap Stef berdiri, yang juga diikuti oleh Aira.


“Apa perlu aku temani Stef?” tanya Aira hati-hati.


“Tidak perlu Aira, aku bisa sendiri!” ucap Stef menolak secara halus.


“Kau pergi saja bersama Aira, Stef!” ucap Max memberitahu.


“Tidak! Aku bisa sendiri,” Stef langsung berjalan dan meninggalkan mereka semua.


★‡★


“Kenapa dia belum juga kembali?” tanya Max cemas, lalu berdiri dari duduknya diikuti oleh David dan Aira, mereka bertiga menyusul Stef ke toilet, tapi orang yang dicari tidak ada disana.


“Kemana dia? Astaga, harusnya tadi aku tidak membiarkan dia sendirian!” Max mengusap rambutnya kasar, berjalan mondar-mandir dengan cemas.


Max mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungi Stef, telepon tersebut tersambung tapi tidak diangkat, membuat Max jadi semakin khawatir, karena tidak biasanya Stef seperti ini.


Mereka bertiga beranjak dari sana dengan pikiran yang sama-sama kacau.


“Harusnya tadi aku menemani dia!” ucap Max lagi, sedangkan Aira merasa tidak enak hati pada Max, karena merasa sudah lalai menjaga Stef.


“Lacak ponselnya David, aku sudah mengaktifkan GPS di ponselnya kemarin!” David kembali mengeluarkan ponselnya untuk melacak keberadaan Stef.


“Dia sedang bergerak Max, aku kira dia ada didalam mobil sekarang, lokasinya masih belum jauh dari sini, ayo!” ketiganya bergegas beranjak dari sana, keluar.


David juga sudah meng-Share lokasi Stef pada bodyguard dan juga anak buah Lucky, agar secepatnya mereka bisa menemukan Stef. Mereka semua bergerak cepat, mengikuti arah laju Stef melalui GPS yang dipakai David.


★‡★


“Lepaskan aku!” Stef berontak didalam mobil yang melaju dengan sangat kencang, tangannya diikat kebelakang membuat pergelangan tangannya memerah dan itu rasanya perih.


“Diam!” ucap suara lelaki berwajah sangar yang sudah geram melihat Stef yang memberontak dari tadi.


“Kalian mau membawa aku kemana?” Stef melihat kearah jendela mobil, jalanan yang kini dilaluinya sudah masuk kedalam kawasan hutan, dengan pohon rindang disekitarnya.


“Siapa yang menyuruh kalian? Kalian tidak tahu siapa suamiku?” orang orang yang ada didalam mobil tersebut hanya diam, karena mereka sangat mengetahui Max, pengusaha tampan kaya raya dari Jerman, tapi mau apalagi, mereka sudah terlanjur masuk dalam permainan balas dendam ini.


“Diam!” hanya itu yang dikatakan oleh salah satu dari mereka. Sedangkan air mata Stef sudah mengalir deras dari pelupuk matanya, sungguh dia sangat takut saat ini, takut jika orang-orang ini memperlakukan dirinya dengan tidak baik.


‘Max, bantu aku. Aku takut!’ Stef menangis, memanggil nama Max dalam hatinya, berharap suaminya itu mendengar kata hatinya.


★‡★


“Duduk!” Stef disuruh duduk disebuah sofa yang ada di dalam ruangan. Ia dibawa ke villa yang ada di tengah hutan di Lombok. Villa tersebut digunakan untuk berlibur oleh orang-orang pecinta alam dan akses disana memang tidak terlalu sulit.


“Lepas!” Stef mencoba berontak, tapi tak digubris sedikitpun oleh beberapa lelaki bertubuh tegap itu.


“Hallo Stef!” suara seorang lelaki mengubah fokus Stef, wanita cantik itu berbalik melihat sosok pria tampan tersebut.


“Justin!” ucap Stef menganga tidak percaya, “Kenapa kau ada disini?” tanya Stef lagi.


“Menurutmu, untuk apa aku disini?” tanya Justin tersenyum, tapi membuat Stef bergidik ngeri.


“Kau bos dari mereka semua? Kenapa kau lakukan ini padaku?” tanya Stef bingung, air matanya menetes begitu saja menerima kenyataan ini.


“Menurutmu kenapa?” ucap Justin kembali bertanya.


“Aku rasa tidak punya salah padamu Justin!” Justin tertawa mendengar perkataan Stef.


“Kau punya satu kesalahan Stef!” ucap Justin membuat Stef mengernyit.


“Apa?”


“Kesalahanmu yaitu telah membuat aku jatuh cinta padamu!”


.


.


.


★‡★


Maafkan daku ini yang mungkin udah bikin cerita yang menurut kalian tak sesuai ekspektasi 😌 tapi kemampuan author ya, emang segini.


Salam Sayang EgaSri 💋💋**