
Max keluar dari dalam mobil, diikuti oleh David. Terlihat dimatanya bagaimana Stef begitu kesakitan sudah berada diluar Mansion dengan dibantu beberapa orang pelayan. Memang mulai malam tadi, Max memperhatikan istrinya itu sudah tampak gelisah dan juga menahan sakit, tapi saat Max bertanya ada apa, Stef selalu menjawab dia tidak apa-apa dan menenangkan Max untuk tidak cemas.
Mobil yang akan membawa Stef ke rumah sakit juga sudah berdiri kokoh didepannya, Stef di bantu Martin di bawa masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Martin. Max ikut masuk, dan dia menyuruh David untuk mengikuti dari belakang. Keringat dingin berjatuhan dari pelipis pria yang akan menjadi ayah itu. Dia ikut bergetar melihat Stef yang sedang menahan sakit.
“Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai.” Max terus mencium tangan Stef, bahkan sopir yang mengendarai mobil juga ikut merasakan suasana tegang itu. Dia memacu mobil yang dibawanya untuk bisa segera tiba di rumah sakit.
Stef menatap Max tersenyum.
“Aku tidak apa-apa sayang,” bahkan disaat menegangkan seperti ini, wanita cantik itu masih berusaha untuk menenangkan suaminya.
“Maafkan aku sayang, aku tidak bisa membantumu untuk mengurangi rasa sakitnya, maafkan aku,” Max meneteskan air matanya melihat Stef yang begitu kesakitan. Dan istrinya itu masih menggelengkan kepalanya mengatakan kalau dia tidak apa-apa.
Setelah sekian lama, akhirnya mobil mereka tiba di rumah sakit. Dokter yang bertugas disana sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Stef, untuk melahirkan pewaris kerajaan bisnis Luciano maupun Alexander.
Perawat berlarian menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Keadaan rumah sakit saat ini sedang sibuk. Bagaimanapun, Nyonya besar pemilik rumah sakit akan melahirkan, tentu saja ini menjadi lebih berat karena mereka tidak mau melakukan satu kesalahan pun yang akan berimbas pada kehidupan mereka pada akhirnya.
Stef di pindahkan ke atas brankar rumah sakit, didorong menuju ruang pemeriksaan terlebih dahulu. Max ikut mengiringi istrinya dengan mata yang sudah memerah. David sudah sampai disana, dia beriringan dengan Jhon dan Lie tiba di rumah sakit.
“Kami akan memeriksa nyonya Stefani dulu tuan,” ujar dokter Patricia bmenghentikan Max. Laki-laki itu mengangguk. Dia tidak tahan untuk melihat Stef yang tadi sangat kesakitan.
Dokter masuk kedalam ruang pemeriksaan, dia menutup pintu. Stef yang terbaring disana hanya tersenyum menahan rasa sakit.
“Nyonya Stef, saya akan memeriksa anda sudah di pembukaan berapa ya?” Stef tidak menjawab dengan suara, melainkan dengan sebuah anggukan kepala. Dokter yang di bantu perawat membuka celana Stef, dan memasukkan jarinya untuk mengetahui kalau saat ini Stef sudah bukaan berapa.
“Sembilan sus!” ujar dokter Patricia pada suster yang menemaninya. Suster itu mengangguk, lalu menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk proses persalinan Stef. Dia keluar dari ruang pemeriksaan untuk membawa Stef menuju ruang persalinan.
“Tuan Max, apa anda mau menemani Nyonya Stefani melahirkan?” tanya suster dengan sopan pada Max yang terus saja bolak balik di tempatnya. Dengan cepat Max mengiyakan perkataan suster, setelah sebelumnya dia melihat pada Lie, dan juga Jhon yang menganggukkan kepala mereka.
Max mengikuti suster masuk kedalam ruang persalinan. Disana dia melihat Stef mencengkeram tepian tempat tidurnya, setelah itu dia tersenyum menatap Max dengan penuh cinta.
“Bukaannya masih 9, mungkin sebentar lagi akan sempurna.” ujar Dokter Patricia memberitahu. Karena pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, Stef maupun Max sudah diberitahu proses persalinan itu seperti apa.
Tidak lama setelah itu tampak Stef semakin kesakitan, sedangkan Max tak hentinya menciumi kening sang istri, berharap dengan ciumannya itu dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Stef.
Stef mencengkeram tangan Max hingga memerah, tapi Max seperti tidak merasakan sakitnya, karena dia tau istrinya lebih sakit daripada dirinya, dan Stef tidak mengeluh sedikitpun.
Dokter Patricia kembali memeriksa Stef, dan ternyata bukaannya sudah sempurna. Mungkin ini terlalu cepat, tapi Stef sebenarnya sudah merasakan mulas dari kemarin, dan puncaknya tadi, dan dia tidak dapat lagi menahannya.
Dokter Patricia dibantu beberapa orang perawat membantu proses persalinan Stef. Sedangkan Max sudah tidak dapat menahan tangisnya. Dia ingin kedua jagoan kecilnya selamat, begitupula dengan sang Istri.
“Nyonya Stef, silahkan mengejan,” ujar dokter Patricia memberikan instruksi. Stef menuruti perkataan dokter Patricia. Dia mengejan, dan rasanya sungguh luar biasa. Stef mencakar lengan Max, membuat laki-laki itu sedikit meringis.
“Lagi nyonya, mengejan lebih kuat lagi,” dokter Patricia semakin memberikan instruksi.
“Eeennggggg...,” (Anggap aja itu suara orang yang lagi mengejan🙄) Stef kembali mengejan dengan sekuat tenaganya hingga dia merasakan ada sesuatu yang lolos dari bawah bagian tubuhnya. Rasa sakitnya sedikit berkurang, tapi itu hanya sebentar karena ada satu lagi malaikat kecil dalam perutnya.
Bayi pertama Stef laki-laki yang saat ini sedang dibersihkan oleh suster. Dan kini dokter Patricia sedang membantu Stef untuk kembali melahirkan malaikatnya yang satunya lagi.
“Ayo Nyonya, mengejan lagi,” dokter Patricia memberikan instruksi. Sedangkan Max tak dapat membendung rasa bahagianya saat malaikat kecil berjenis laki-laki itu mengoek memenuhi ruangan saat dibersihkan. Dia mencium kening Stef berulang kali, dan mengucapkan terimakasih.
Stef kembali mengejan, ini terasa lebih mudah, hingga suara bayi kembali terdengar memenuhi ruangan. Sedangkan kini rasa sakit yang tadi dirasakan oleh Stef sudah tidak terasa lagi. Dia tersenyum pada Max yang terus menerus menciumi puncak kepalanya menggumamkan kata terimakasih.
Bayi perempuan yang masih merah itu juga sedang dibersihkan oleh suster. Sedangkan kini Max mantap Stef ketakutan. Karena mata istrinya itu mulai redup, tapi senyuman masih mengambang di bibirnya.
“Stef?” Max panik, melihat Stef yang perlahan menutup matanya.
“Jaga anak kita Max,” satu kalimat singkat itu dijawab gelengan kepala oleh Max. Laki-laki itu panik. Begitupula dengan dokter Patricia.
Stef kehilangan banyak darah, Max menatap istrinya dengan penuh rasa bersalah. Mata Stef kini benar-benar sudah tertutup dengan deru nafas yang lemah.
“Dokter, bagaimana ini. Selamatkan istriku!” Max menggila, wajahnya memerah menahan tangis. Sedangkan kini, kedua buah hatinya sudah dipindahkan keruangan bayi.
“Silahkan keluar dulu Tuan Max, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan nyonya Stef.” Max awalnya menolak untuk keluar, dia mau untuk menemani istrinya. Tapi suster yang membantu dokter Patricia mendorong Max keluar yang disambut tangis bahagia oleh Jhon dan Lie.
“Bagaimana cucu cucu kami Max?” tanya Lie antusias. Sedangkan Max hanya mengangguk tersenyum. Dia tidak akan memberitahu kondisi Stef pada Lie, karena kondisi mertuanya itu juga sedang tidak stabil.
“Mereka sangat sehat, Tampan dan juga cantik ibu.” ujar Max mempertahankan senyumannya.
Lie memeluk Max, tapi dia curiga saat melihat wajah Max yang terlihat sangat tidak bersemangat.
“Ada apa Max? Terjadi sesuatu pada Stef?” tanya Lie curiga.
“Tidak ada apa-apa, semuanya baik,” Max mempertahankan senyumannya. Tapi David yang berdiri disamping Lie tau, kalau itu adalah sebuah senyuman kesakitan.
Sedangkan kini Masseria dan juga Lucky masih berada di perjalanan menuju Jerman. Begitupula dengan Justin.
________
Huaaahhhh, lega rasanya 😶