My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Tentu saja Kau!



Thomas memukul kemudinya dengan kesal. Kini dia masih belum mengetahui dimana Mattea. Perasaan cemas menghantui dirinya. Dia takut orang yang menculik gadisnya itu melakukan hal-hal yang membuat Mattea trauma.


Sedangkan di mobil yang berbeda, Max juga menyetir mobilnya dengan perasaan cemas.


Iring-iringan mobil mewah itu melintasi jalanan kota Frankfurt yang lumayan ramai, karena sudah lama masuk jam pulang kerja.


Thomas mengambil handphone miliknya yang tergeletak di kursi samping kemudi. Lalu mencoba untuk menghubungi Nicko.


“Hallo ketua?” Nicko sedikit bergetar menjawab telepon dari Thomas itu. Kini dia sudah berada di tempat Arthur, untuk mengetahui dimana nona mudanya berada.


“Kau sudah menemukan petunjuk?" tanya Thomas tanpa basa-basi. Laki-laki itu terdengar sangat cemas sekali. Bagaimanapun juga, Mattea adalah seorang gadis yang akan menjadi istrinya sebentar lagi, dan dia tidak tau, apa niat buruk orang yang telah menculik gadisnya itu.


Thomas mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nicko, kedua tangannya semakin terkepal erat. Emosinya memuncak, dia tidak ingin terlambat sedikitpun, karena itu pasti bisa berakibat fatal untuk dirinya dan juga Mattea.


Thomas memberitahu apa yang dikatakan oleh Nicko pada Max. Lewat sambungan telepon, Thomas dengan jelas mendengar Max menggeram marah saat mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki yang dicintai oleh putrinya itu.


“Kirim lokasi pada seluruh anak buahmu, kita kesana sekarang!”


Thomas mengirim lokasi yang tadi diberikan oleh anak buahnya pada seluruh anggota yang dia kerahkan.


Kemampuan Arthur dalam melacak memang tidak bisa di ragukan lagi, karena itulah dia sangat di butuhkan di Black Devils, laki-laki itu bisa mencari dengan cepat dimana lokasi Mattea melalui satelit yang dia retas. Karena itulah, bayarannya sangat tinggi.


Setelah dia menemui Arthur, Nicko beserta yang lainnya ikut mengawal mobil Max dan Thomas. Mereka akan pergi ke titik yang tadi disebutkan oleh Arthur.


Hari yang mulai senja membuat Thomas semakin gusar. Ini sudah beberapa jam dari hilangnya Mattea, dan sedikit lagi dia akan sampai di tempat yang tadi disebutkan.


Tapi......


Ponsel Thomas berbunyi. Arthur langsung yang menelponnya membuat laki-laki itu sedikit cemas.


“Kenapa?” tanya Thomas saat sambungan telepon itu sudah dia angkat.


“Lokasi berpindah, mereka kini menuju ke pinggir kota!”


“Hah? Apa?!” Thomas terkejut dengan hal itu, membuatnya menghentikan mobil secara mendadak, dan tentu saja mobil-mobil yang mengikutinya dari belakang ikut menghentikan lajunya.


“Mereka kini sedang bergerak ke pinggir kota, secepatnya kau segera bergerak!”


“Kenapa?”


“Mereka pergi ke Gereja!”


“Apa? Untuk apa mereka ke gereja?!”


“Aku tidak tau pastinya, tapi ku harap kau segera tiba disana!”


Tanpa mengatakan apapun, dia melajukan mobilnya berjalan menuju arah yang berbeda. Membuat anak buahnya yang lain merasa heran. Sedangkan Max dibelakang mengikuti Thomas, dan juga diikuti oleh yang lainya.


“Awas saja kau sampai melakukan hal yang gila pada gadisku, tidak akan aku ampuni kau, bedebah kecil!”


.


.


______


.


Setelah tadi berdebat dengan Austin, Mattea memberontak untuk keluar dari kamar yang dia tempati itu, membuat Austin geram. Gadis ini sungguh keras kepala.


“Apa untungnya kau menculikku? Aku tidak pernah punya urusan denganmu!” mata tajam itu menatap Austin dengan kesal. Dia sudah banyak membuang waktu disini. Saat ini, dia sangat yakin kalau Thomas dan juga yang lainnya pasti sangat mencemaskan dirinya.


“Tunggu sebentar lagi, dan aku akan melepaskanmu!” Mattea melirik tidak percaya pada laki-laki yang ada di depannya ini. Laki-laki yang lumayan tampan, tapi menurut Mattea pesona Thomas lebih mematikan.


“Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan? Kau menculikku hanya untuk menahanku di kamar besar ini?” Mattea memandang Austin dengan marah. Dia belum mengetahui apa rencana laki-laki yang ada di depannya ini.


“Ya, tunggu saja sebentar lagi. Kau akan mengetahuinya!” lalu setelah itu, laki-laki yang bernama Austin itu, memukul pundak Mattea dengan cukup keras hingga membuat gadis itu langsung pingsan seketika. Saat Mattea akan roboh, dia menyambutnya dan membawa ke ranjang.


Austin memandang gadis yang sedang pingsan itu dengan dalam. Cantik, dia sangat cantik. Perpaduan yang sangat sempurna antara Max dan Stef.


Setelah puas memandangi gadis itu, dia menghubungi orang yang tadi masuk kedalam kamar itu.


“Cepatlah kemari! Kita mulai semuanya!” laki-laki yang di seberang sana tetap mengangguk walaupun tuannya tidak dapat melihat itu. Setelah mengatakan baiklah, sambungan telepon itu akhirnya terputus.


Austin menatap Mattea yang sedang pingsan itu dengan dingin. Senyum palsu yang tadi dia perlihatkan kini sudar sirna, berganti dengan senyuman mengerikan.


Pintu yang memang tidak tertutup, membuat beberapa orang yang dibawa oleh laki-laki tadi, langsung saja masuk kedalam. Ada empat orang perempuan yang masuk kedalam kamar itu.


“Kalian tahu apa yang mesti kalian lakukan?” pertanyaan laki-laki itu, di jawab oleh anggukan kepala oleh ke empat perempuan itu.


“Bagaimana dengan Max?!”


“Mereka sudah bergerak tuan, mungkin sebentar lagi mereka menemukan kita. Tapi mereka masih belum menuju kemari!” Austin mengangguk mendengar perkataan laki-laki itu. Semua harus sesuai dengan rencananya, dia akan melakukan akhir dari segalanya saat Max dan juga Thomas tiba di tempatnya nanti.


_______


“Hei, kalian membawaku kemana, lepaskan benda ini dari mataku!” Mattea memberontak saat dia sedang duduk didalam sebuah mobil. Matanya yang ditutup dengan kain, membuat dia tidak tau, kemana dia akan dibawa. Dan juga, dia merasakan kalau baju yang dia gunakan tadi, sudah berganti dengan sebuah gaun.


“Lepaskan, kau akan membawaku kemana?!” Mattea terus berusaha untuk memberontak, membuka penutup matanya. Tapi karena tangannya ditahan oleh seseorang membuatnya tidak bisa melakukan itu.


“Bisa kau diam!” suara dingin itu?! Mattea kenal suara itu. Itu adalah suara yang sama dengan suara yang dia dengar saat keluar dari mulut laki-laki yang telah menculiknya.


Kini Mattea tidak dapat menunjukkan ekspresi tenangnya lagi, dia menunjuk kemarahannya.


“Apa mau mu hah? Kenapa kau menculikku? Kau mau uang? Tapi aku tau kau bukan seseorang yang membutuhkan uang?!” Mattea mengeretakkan giginya dengan keras. Tampak sekali kalau saat ini dia sedang emosi.


“Baiklah, aku tidak akan menutupi ini darimu!” terdiam sebentar, Austin melihat reaksi yang akan di tunjukkan oleh wanita itu. Tapi Mattea hanya diam, dia menunggu apa yang akan di katakan oleh austitn.


“Kita akan melakukan pemberkatan di Gereja!”


Hening.....


1..


2...


3......


“Apa maksudmu!” tanya Mattea berteriak dengan syok.


“Aku tau kau tidak sebodoh itu Mattea, kau tau apa yang aku maksud!” Mattea semakin memberontak saat mendengar perkataan Austin.


“Aku tidak mau menikah denganmu! Lepaskan aku! Aku tidak sudi menikah denganmu baji**an!” Mattea memberontak. Tapi tenaganya tidak seberapa kuat dari tenaga Austin yang menahannya.


“Apa kau tidak sayang dengan Uncle dan juga daddymu?!” Mattea terdiam dengan apa yang ditanyakan oleh Austin. Dia tau, ada maksud dari ucapan laki-laki itu.


“Apa maksudmu? Kenapa dengan Daddy dan Uncle?” Mattea tampak mulai tenang. Kini pikiran buruk bersarang di kepalanya. Apa yang sudah laki-laki ini lakukan pada kedua orang tersayangnya itu?


“Tentu saja akan ada sesuatu yang terjadi pada mereka, kalau kau tidak menurut denganku!” Mattea merasakan akan ada sesuatu yang buruk, yang akan di katakan oleh laki-laki yang ada di sampingnya ini.


“Apa?” Mattea mencoba untuk menahan emosinya. Dia menghirup udara dengan pelan, dan itu membuatnya tenang.


“Aku meletakkan benda kecil di mobil mereka, dan kalau aku aktifkan, mungkin akan meledak!”


Degg...


Mattea diam mematung. Dia tau apa yang dimaksud oleh laki-laki yang ada di sampingnya ini, dengan benda kecil yang dia sebutkan itu.


“Kau meletakkan Bom disana?!” Mattea menahan geram saat mengatakannya.


“Hahaha, kau benar-benar pintar ternyata!” Austin mengusap rambut Mattea, tapi langsung di hindari oleh gadis itu.


“Jadilah gadis baik hari ini! Kalau tidak, maka kau akan tau, apa yang akan terjadi!” suara dengan nada dingin itu, kembali keluar dari mulut Austin.


“Dan juga, kau harus siap-siap untuk mengucapkan janji suci denganku, kalau kau tidak mau dua orang laki-laki yang kau cintai itu, meledak bersama dengan mobil mereka!”


Mattea menahan bahunya untuk bergetar. Kini sikap tenang yang di tunjukkan, sirna. Ketenangan itu hilang, saat bersamaan dengan kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Austin.


Sedangkan laki-laki itu membuka penutup mata Mattea.


“Hahaha, mereka cukup cepat ternyata!” Mattea melirik pada ponsel yang kini ada di tangan Austin. Penutup mata yang baru saja dilepas oleh laki-laki itu, membuat Mattea bisa melihat kalau dia sudah di dandani dengan sedemikian rupa, sebagai seorang pengantin.


Di dalam hp Austin, Mattea melihat ada beberapa titik merah yang sedang bergerak, dan dia tidak sebodoh itu, untuk tidak mengetahui apa titik itu. Itu adalah kendaraan Max, Thomas dan yang lainnya yang sudah mengetahui keberadaan mereka.


“Sebenarnya apa yang kau inginkan? Aku tau kau tidak menyukai aku?!” mata hitam pekat itu menatap mata abu milik Austin.


“Tentu saja kau!”


Hah?


“Kehancuran Max!”


_____


Duh, aku tau, bakal banyak yang protes ini😂


Aku lagi sembunyi di bawah pohon pisang, jadi jangan di cariin ya, aku ga sanggup liat kalian natap aku dengan tatapan mematikan 🤣