My Devils Husband

My Devils Husband
45. Satu atau tidak sama sekali



Stef mengajak Max untuk bermain air, bukan mengajak sih, lebih tepatnya memaksa. Karena Max yang terlihat ogah-ogahan untuk ikut bermain air bersama istrinya itu.


Sedangkan David hanya berjalan-jalan disekitar pantai, dan bodyguard yang tadi sudah diberikan arahan oleh Max, tampak juga berjalan di sekitar pantai, dengan gerak gerik seperti pengunjung lainnya, dengan menggunakan pakaian santai untuk di pantai.


Stef mencipratkan air pada Max, membuat lelaki itu refleks berlari menghindari istrinya itu.


“Berhenti Stef!” ucap Max tertawa menghindari Stef yang semakin mengejarnya.


“No!” ucap Stef singkat.


“Aih, kau ini! Seperti tau bahasa Inggris saja!” Max meledek Stef membuat wanita itu cemberut dan semakin mengejarnya.


“Stef, sudah! Aku sudah terlalu basah ini!” Max semakin menghindari Stef, membuat wanita itu tergelak dan berhenti. Sedangkan para orang tua sudah berhenti terlebih dahulu, karena hari juga sudah mulai siang. Stef memilih duduk dan bermain air, sedangkan Max tetap berdiri didekat istrinya itu.


“Sepertinya aku harus mandi lagi nanti!” ucap Max yang melihat pakaiannya sudah terkena air keseluruhannya.


“Memang! Apa kau ingin hanya dengan mengganti pakaian saja?” Stef mencibir pada Max membuatnya tampak terlihat semakin imut dimata Max.


“Tentu saja sayang! Kita bisa mandi bersama nanti,” Stef langsung menghentikan tawanya, lalu menatap pada Max yang tersenyum penuh arti.


“Ah, aku menyesal sudah bermain air!” Stef mencebikkan bibirnya, lalu menatap lagi pada Max.


“Sudahlah, ayo kita kembali!” Stef berdiri dan berjalan mendahului Max.


“Apa kau sudah tidak sabaran untuk mandi bersamaku sayang?” tanya Max menggoda Stef membuat wanita itu refleks menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan mengejar Max lagi dan memukul badan tegap suaminya itu, meskipun Max tidak merasakan sakit yang berarti dari pukulan istrinya itu.


Lucky, Masseria, Lie dan juga Jhon melihat interaksi mereka.


“Semoga mereka selalu bahagia seperti itu!” ucap Masseria memegang dadanya menatap penuh dengan binar kebahagiaan pada kedua pasangan tersebut.


“Semoga saja, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua,” Lie menyahuti perkataan Masseria, membuat wanita tersebut tersenyum.


Sedangkan Lucky dan juga Jhon, mereka bertatapan satu sama lain, menyelami isi pikiran masing-masing, yang seperti sama.


‘Aku tidak akan membiarkan kebahagiaan putriku hancur hanya karena dendam masa lalu yang tidak diperbuatnya sama sekali. Putriku, aku akan selalu menjagamu apapun yang terjadi, karena kau adalah kesayanganku, dan tidak ada satu orangpun yang boleh menyakitimu!’ Jhon meremas tangannya, lalu menatap Stef dengan penuh kasih sayang. Begitupula halnya dengan Lucky.


‘Anakku baru saja menemukan kembali kebahagiaannya yang dulu sempat menghilang, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya kembali, akan aku pastikan bahwa kebahagiaannya itu selalu menyertai dirinya, apapun yang terjadi!’ Lucky lalu menatap pada Masseria yang sedang memperhatikan Max dan Stef.


Sedangkan David menghampiri mereka berempat setelah selesai berjalan-jalan disekitar pantai, melihat pemandangan eksotis dari pantai yang sudah mulai ramai tersebut, dengan sesekali menatap Aira dari kejauhan yang juga tampak bahagia bermain air, tapi dengan mata yang juga memperhatikan sekelilingnya, melihat apakah ada hal yang terlihat mencurigakan disana.


Wanita itu terlihat seperti seorang bodyguard profesional yang sangat terlatih di bidangnya, hingga siapa saja pasti tidak akan menyangka bahwa dirinya adalah seorang pelayan di restoran hotel tersebut.


“David?” ucap Masseria, lalu David duduk didekat Masseria.


“Iya bibi?” ucap David dengan nada bertanya.


“Siapa mereka?” tanya Masseria menatap pada sembilan orang bodyguard yang berpencar tersebut, lalu David juga kembali menatap Aira yang tampak sangat bahagia bermain air dengan teman-temannya tersebut.


“Aku rasa pengunjung juga bibi!” ucap David berbohong.


“Benarkah? Tapi tadi aku lihat mereka mengobrol denganmu dan juga Max!” David tidak tahu akan menjawab apa, hingga suara Max membuatnya bernafas lega.


“Ayo kita kembali ke hotel!” ajak Max pada mereka semua, yang akhirnya mengalihkan perhatian Masseria. Sedangkan Jhon dan juga Lucky juga menghembuskan nafas dengan lega.


Saat ini mereka ada di Pantai Gili Trawangan, yang memiliki pesona yang sangat indah, dengan pemandangan yang akan memanjakan mata siapa saja, hingga membuat Max sekeluarga benar-benar merasa sangat bahagia berada disini untuk beberapa hari kedepan yang belum dipastikan kapan mereka akan kembali ke Jerman.


“Max!” ucap Stef saat mereka berjalan kembali ke hotel yang sangat dekat dengan pantai tersebut.


“Aku ingin berburu kuliner disini!” Stef berkata dengan penuh harap agar keinginannya ini dikabulkan oleh Max.


“Tentu! Kenapa tidak!” Stef senang bukan main mendengar jawaban suaminya itu.


“Benarkah?” tanya Stef tidak percaya. “Kau akan menemani aku kan?” tanya Stef lagi.


“Iya! Lagipula kita disini untuk berlibur, jadi pergunakan waktumu sebaik mungkin!” Max dan Stef berpisah dari orang tua mereka dan juga David, yang sudah masuk kedalam kamar hotel masing-masing.


“Ayo kita mandi!” ucap Max tidak sabaran karena sudah merasa lepek dengan pakaian yang digunakannya, karena sudah basah terkena air, jadi dia ingin cepat-cepat untuk membersihkan badannya.


“Iya!” jawab Stef singkat, lalu berjalan untuk mengambil kimono yang tersedia disana, lalu mengikuti Max yang sudah masuk kedalam kamar mandi.


“Kau mandi duluan saja ya?” tanya Stef dengan penuh harap.


“Tentu saja tidak sayang!” ucap Max cepat dan menarik tangan Stef, dan menutup pintu kamar mandi tersebut.


Max membuka pakaiannya, diikuti oleh Stef, membuat Max benar-benar harus menahan dirinya.


Tubuh Stef yang terlihat semakin berisi, membuatnya semakin tampak seksi Dimata Max, pemandangan indah didepannya itu tidak disia-siakan secara percuma oleh Max, ia langsung membawa dirinya dan juga Stef untuk berdiri dibawah guyuran air shower, menyelesaikan mandinya dengan cepat tanpa berendam dalam bathtub yang ada disana.


“Ayo!” Max mengambil handuk dan melilitkan ke pinggangnya, lalu menggendong Stef yang terlihat pasrah dibawa oleh Max keluar dari kamar mandi.


“Aku akan mengambil jatahku sekarang sayang!” Stef menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Ia selalu saja seperti ini, dia akan merasa selalu gugup jika akan memulai hal ini bersama dengan Max.


“Satu kali saja!” ucap Stef menatap Max yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Max.


“Empat!” ucap Max, membuat Stef membelalakkan matanya, lalu menggeleng dengan cepat.


“Tidak! Pokoknya hanya sekali saja!” ucap Stef kekeuh dengan pendiriannya.


“Tiga!” ucap Max lagi bernegosiasi.


“Satu, atau tidak sama sekali?” Max bungkam dengan pilihan yang diberikan oleh istrinya itu.


“Terserah kau saja, tapi aku yakin kau akan meminta lebih nanti!” Max menatap Stef dengan senyuman menggoda, membuat istrinya itu tampak salah tingkah.


“Tidak akan!” jawab Stef tidak yakin.


“Ah, aku tau kau akan memintanya lagi nanti!”


“Tidak!”


“Kita lihat saja nanti!”


.


.


.


.


★Love❤️❤️❤️ EgaSri