
Flashback saat Antonio, Lie, Maira, dan juga Henry Hill.
“Antonio!” ucap Lucky memanggil pria tampan tersebut untuk datang padanya, saat sedang bermain bersama dengan Justin dan Max.
“Iya, ada apa?” tanya Antonio mendekat pada Lucky. Keduanya duduk di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga Mansion besar keluarga Luciano di Milan Italia.
“Ini!” ucap Lucky menyerahkan sebuah foto pada Antonio, yang diterima langsung oleh lelaki tersebut.
“Kenapa dengan dia?” tanya Antonio menatap Lucky.
“Dia adalah lawan Bisnisku, dia ingin menghancurkan Luciano group!” Antonio menatap foto yang ada didalam genggamannya itu. Foto seorang lelaki tampan dan gagah, yaitu Henry Hill.
“Namanya Henry Hill, aku yakin sekarang dia sedang mengincar aku!” ucap Lucky berkata dengan sangat serius.
“Aku akan selalu melindungimu, apapun yang terjadi nanti!” Antonio berkata dengan sangat serius membuat Lucky mengangguk.
“Aku juga akan berkata pada anggota yang lain, untuk memperketat penjagaan!” Lucky mengangguk mendengar perkataan Antonio.
Setelah itu, Antonio beranjak dari sana memberitahu yang lainnya.
★‡★
Beberapa hari kemudian.
“Ayolah Henry...,” seorang wanita memohon pada Henry Hill.
“Apa Maira?” tanya Henry menatap Maira dengan penuh cinta.
“Putramu mengajak untuk kita bermain bersama di taman!” ucap Maira memberitahu pada Henry.
Setelah itu, seorang anak lelaki berlari pada Henry yang disambut gembira oleh lelaki tersebut.
“Benarkah kau ingin bermain di taman Arion?” tanya Henry yang dijawab dengan anggukan kepala singkat oleh Anaknya yang bernama Arion tersebut.
“Baiklah, mana Aira?” tanya Henry pada Maira.
“Ada di kamarnya, aku akan menjemput dia dulu, kau bersiaplah!” Henry menganggukkan kepalanya, lalu menatap Arion yang berada didalam gendongannya.
“Apa kau sangat ingin ke taman Boy?” tanya Henry sekali lagi, yang dibalas anggukan pasti oleh Arion.
Setelah itu tampaklah Maira datang dari kamar atas dengan menggendong Aira di pelukannya, dengan anaknya itu masih tertidur.
“Kalau dia masih tidur, sebaiknya jangan bawa dia, kasihan. Kita tinggal saja bersama maid disini!” ucap Henry memperingati Maira.
“Tidak sayang, aku rasanya sangat ingin bersama Aira saat ini, aku pasti akan sangat merindukan dia nanti!” Maira berkata seperti itu membuat Henry mengernyit.
“Hey, memangnya kau ingin pergi kemana, hingga sangat merindukan dia! Kita 'kan hanya pergi ke taman saja!” Maira hanya tersenyum mendengar perkataan Henry.
“Tidak apa-apa! Aku hanya ingin bersama anak perempuanku!” Maira tersenyum lagi.
“Ya sudah, ayo kita pergi, karena setelah ini aku juga ada urusan penting!” Henry dan Maira pergi ke taman mengendarai mobil, dengan Aira yang tertidur di jok belakang mobil.
Aira belum juga bangun, tampaknya gadis kecil itu sangat kelelahan setelah puas bermain dirumah mereka tadi. Sebenarnya Henry agak heran pada Arion yang ingin bermain di taman, karena biasanya anak lelakinya itu sangat anti dengan keramaian.
Entah ada angin apa Arion mengajaknya pergi ke taman.
“Maira, kau tunggu disini sebentar, aku akan pergi ke toilet dulu!” Maira mengangguk sebagai jawaban pada Henry. Lelaki tersebut bergegas beranjak dari sana untuk pergi ke toilet.
“Ibu, ada kucing!” Arion menunjuk pada kucing yang ada di tengah jalan, membuat Maira juga ikut melihat pada yang di tunjuk oleh anaknya itu.
“Iya sayang, kucingnya imut sekali!” setelah Maira mengatakan hal tersebut, Arion langsung berlari menuju ke arah kucing imut itu, refleks saja Maira kaget, dengan Arion yang tiba-tiba beranjak dari sisinya.
Maira mengejar Arion, hingga saat itu bertepatan dengan sebuah mobil yang melintas disana yang seperti kehilangan keseimbangan karena rem blong, membuat kedua ibu dan anak tersebut terkejut. Arion melemparkan kucing yang sudah berhasil didapatkannya ke tepi jalan, hingga ia dan Maira tidak bisa menghindari tabrakan naas tersebut.
Henry yang baru saja kembali dari toilet yang ada di sekitar sana, merasa heran dengan orang-orang yang berkerumun dijalan, hingga dia melihat seorang pria menggendong seseorang yang mengenakan pakaian yang sangat mirip dengan pakaian yang digunakan oleh istrinya masuk kedalam mobil dengan berlumuran darah.
Lantas saja Henry mendekat, dan ia sangat terkejut melihat Arion yang juga berada didalam gendongan seorang wanita dengan seorang anak lelaki yang mengikutinya.
“Arion!” ucap Henry memanggil anaknya yang sudah dibawa masuk kedalam mobil untuk dibawa kerumah sakit.
Wanita yang ternyata adalah Lie tersebut mendekat pada Henry.
“Maaf tuan,” ucap Lie memanggil Henry. Sedangkan pria tersebut masih terbayang dengan wanita yang berpakaian seperti istrinya itu, dan juga anak lelakinya yang terlihat tak berdaya di dalam gendongan wanita yang kini ada di hadapannya dengan berlumuran darah, dan kepalanya terasa sakit saat membayangkan hal tersebut.
“Kenapa ini? Ada apa? Apa yang terjadi dengan anak dan istriku?” Henry bertanya beruntun pada Lie, sedangkan Antonio sudah membawa Maira dan Arion ke rumah sakit terlebih dahulu bersama beberapa orang yang ikut membantu.
“Apa yang tadi adalah istri dan anak anda?” tanya Lie dengan hati-hati.
“Bukan, istriku tidak kecelakaan, anak ku tidak apa-apa, mereka tidak apa-apa!” Henry bicara berteriak membuat Lie iba.
“Tidak, istriku bukan dia, iya bukan dia! Kau pasti istriku 'kan?” tentu saja Lie terkejut mendengar perkataan Henry.
“Maaf tuan, aku bukan istrimu. Tadi aku dan suamiku yang menolong istrimu dan juga anakmu, dan kini suamiku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat dari sini!” Henry menggelengkan kepalanya pada Lie.
“Tidak! Kau adalah istriku, aku mencintaimu, iya aku mencintaimu!” ucap Henry tidak terima dan menganggap Lie adalah istrinya.
“Maaf tuan, tapi aku bukan istrimu!” ucap Lie lagi meyakinkan Henry, membuat lelaki tersebut terdiam.
“Sebaiknya kita menyusul kerumah sakit tuan,” ucap Lie yang dijawab anggukan kepala oleh Henry.
Lie bergerak dan diikuti oleh Henry. Mereka pergi menyusul kerumah sakit dengan menggunakan mobil Henry.
Saat Lie dan juga Henry menutup pintu mobil, Aira terbangun dan tidak mendapati ibu dan kakaknya ada disana melainkan hanya dua orang asing.
“Ayah, dimana ibu dan kakak?” tanya Aira polos, sedangkan Henry terus saja menatap Lie dan meyakinkan bahwa istrinya tidak meninggalkannya.
“Dia ibumu Aira!” ucap Henry yang membuat Lie dan juga Aira kaget.
“Bukan ayah! Dia bukan ibuku!” ucap Aira tidak terima.
“Sayang, aku memang bukan ibumu, kini kita sedang menuju ke rumah sakit untuk melihat ibumu!” Aira terdiam mendengar perkataan Lie, sedangkan Henry langsung menjawabnya.
“Tidak! Istriku tidak masuk rumah sakit! Kau istriku! Kau harus tau, aku sangat mencintaimu, kau istriku!” Lie semakin tidak mengerti dengan perkataan Henry hingga membuat wanita tersebut memilih untuk diam, karena Lie berpikir bahwa saat ini pasti Henry sedang terpukul menerima kenyataan ini.
Henry memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, dan Lie melihat ada mobil yang tadi digunakan oleh Antonio bersama beberapa orang yang membawa Maira dan Arion ke rumah sakit.
Rasanya kaki Henry tidak mau digerakkan untuk masuk menuju kedalam rumah sakit, karena sebenarnya lelaki tersebut memiliki trauma mendalam saat melihat darah dan mencium aroma rumah sakit. Henry akan sangat ketakutan saat melihat darah hingga membuat pikirannya tidak stabil seperti saat ini, hingga dia menganggap Lie adalah istrinya, dan Lie tidak tahu kalau ternyata Henry memiliki kelainan tersebut.
“Ayo tuan!” Lie mengajak Henry untuk masuk, tapi lelaki tersebut tidak mau hingga dia menggendong Aira dan Justin dan berlalu dari sana untuk masuk kedalam mobil.
Lie berteriak hingga mengundang perhatian banyak orang termasuk Antonio yang memang hendak berjalan keluar, dan ingin memberitahu istrinya bahwa Maira dan Airon tidak selamat, dan tewas.
“Lie, ada apa? mana Justin?” Antonio berjalan mendekat pada Lie yang berusaha mengejar mobil Henry yang sudah mulai bergerak.
“Justin ada bersama lelaki itu, ayo kita kejar, Antonio ayo!” Lie dan Antonio masuk kedalam mobil mengejar mobil Henry yang sudah melaju terlebih dahulu.
“Kenapa Justin bisa bersama lelaki itu? apa yang terjadi?” tanya Antonio.
“Aku tidak tahu, lelaki itu mengira aku adalah istrinya dan Justin adalah anaknya, aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu, aku tidak tau Antonio,” Lie menangis didalam mobil, Antonio berusaha untuk menenangkan Lie, dan menelpon Lucky yang kini ada di mansion bersama dengan Max dan Stef kecil.
Antonio juga menelepon Jhon, sahabatnya untuk membantu mencari Justin yang dibawa oleh Henry, yang dijawab sigap oleh lelaki tersebut.
“Ayo Antonio, cepat kejar dia! Aku tidak tahu siapa dia dan mengira aku adalah istrinya dan Justin adalah anaknya!” Lie mengusap wajahnya kasar, hingga ia tidak sengaja melihat foto yang diberikan oleh Lucky beberapa hari yang lalu ada di dalam kotak kecil didalam mobil yang kini dikemudikan oleh Antonio.
“Antonio, kenapa foto lelaki itu ada disini?” tanya Lie menatap foto yang kini sudah berada didalam genggamannya.
“Apa maksudmu? Dia yang membawa Justin?” tanya Antonio yang dibalas anggukan kepala oleh Lei membuat Antonio bertambah terkejut.
“Astaga, kebetulan macam apa ini!” ucap Antonio memukul stir kemudi mobil yang dibawanya.
“Ada apa? Kenapa memangnya?” tanya Lie penasaran.
“Dia Henry Hill, musuh Tuan Lucky, dan kini kita sudah berurusan dengannya! Aku tidak tau, apakah ini sebuah kebetulan atau takdir yang membawa kita padanya!”
.
.
.
.
.
Gimana? Udah jelas belum asal muasal perkara Henry dan Lie ini?😂 Jadi gitu ceritanya 🤣 Dan sepertinya Flashback ini akan ada dalam beberapa Bab, untuk menjelaskan sejelas-jelasnya agar Readers tidak bingung dengan kenapa Justin yang tiba-tiba bisa menjadi anak dari Lie, dan Henry yang mengira Lie adalah istrinya hingga Jhon yang akhirnya menikahi Lie dan pergi dari kota Milan meninggalkan Justin bersama Henry😎
.
.
Salam sayang dari Lihu, Author amatiran ini untuk para readers semua💋
Love❤️❤️❤️ EgaSri. Queen MyliHu.