
Max masuk kedalam kamar setelah mengejek David, ia tidak melihat Stef dimana pun, tapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Max berjalan duduk di ranjang setelah sebelumnya ia membuka pakaiannya dan merebahkan dirinya di kasur king size tersebut.
“Hei, mandi dulu sana,” Stef keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian dari dalam koper yang sebelumnya sudah di susun terlebih dahulu oleh pihak hotel. Ia keluar dengan handuk yang melekat di kepalanya dan berjalan menuju Max yang masih terbaring.
“Max, mandi dulu,” Stef merengek seperti seorang anak kecil menyuruh adiknya mandi.
“Aku masih lelah Stef, aku ingin tidur saja,” Max berusaha memejamkan matanya menghindari tatapan menusuk dari Stef.
“Kau yakin?” tanya Stef membuat Max mengernyit,”
“Yakin apa?” tanya Max, menatap Stef dari bawah.
“Baiklah, sepertinya kau tidak akan mendapatkan jatah malam ini,” Max mengernyit mendengar perkataan Stef, ‘Jatah?’
“Jatah apa?” tanya Max.
Stef berjalan mendekat dan menunduk pada Max yang terbaring di ranjang, membuat Max menahan salivanya dengan sulit.
‘Oh, shit, dia sengaja menggodaku,’ Max menggeram dalam hati menatap Stef yang tersenyum jahil padanya.
“Apa?” Stef pura-pura bertanya, padahal dia tahu apa yang ada di pikiran suaminya saat ini karena melihat wajah Max yang memerah dibawahnya. Lalu Stef bangkit dan berjalan kearah meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
“Baiklah, aku akan mandi, tapi setelah aku mandi aku akan mengambil jatahku sepuasnya,” Max bangkit dan berjalan kearah kamar mandi setelah mengambil sebuah handuk kecil yang ada di walk on closed yang ada di kamar hotel tersebut. Sedangkan Stef hanya tertawa kecil melihat Max yang berjalan cepat masuk kedalam kamar mandi.
Max mandi dengan cepat, mengguyur badannya dengan air shower tanpa masuk kedalam bathtub, karena memang tubuhnya sangat lelah karena perjalanan tersebut.
Max keluar dari kamar mandi dan melihat Stef yang sudah terlelap di atas tempat tidur, lalu ia berjalan menuju walk on closed untuk berganti pakaian.
“Sepertinya dia sangat kelelahan,” Max menyelimuti Stef dengan selimut tebal nan lembut yang tersedia disana. “Mimpi indah sayang, Good night,” Max mencium kening Stef lalu ikut berbaring disamping istrinya itu. Rasa lelah membuat kedua insan itu tidak makan.
*"*"*"*"
Sedangkan saat ini, David berjalan jalan keluar hotel, karena dia belum merasa mengantuk karena tertidur cukup lama di dalam pesawat, membuatnya susah untuk mengantuk.
Pria tampan tersebut berjalan disekitar hotel, lalu kembali ke hotel dan masuk kedalam resto yang ada di hotel tersebut untuk memesan makanan.
David duduk sendirian sembari memainkan ponselnya, lalu datang pramusaji ke meja yang ditempati oleh pria itu.
“Please, sir, " ucap pramusaji wanita itu menyerahkan buku menu pada David. Sejenak David termangu melihat wanita pelayan tersebut, lalu kembali mengalihkan fokusnya pada buku menu yang sudah berpindah tangan padanya.
“I want Satay Rembiga,(Saya ingin sate Rembiga,)” setelah melihat lihat menunya, pilihan David jatuh pada makanan lezat yang sepertinya sangat menggugah selera, yaitu Sate Rembiga, makanan khas Lombok, pramusaji tersebut menganggukkan kepalanya.
“The drink, sir?” tanya Pramusaji itu lagi.
“Lemon water,” pramusaji itu menganggukkan kepalanya, lalu berlalu dari hadapan David setelah mencatat semua pesanan David, dan David kembali fokus pada handphonenya.
Setelah beberapa saat menunggu, makanan yang dipesan oleh David pun tiba, setelah mengucapkan selamat menikmati pramusaji tersebut berlalu dari hadapan David yang akan memulai makannya.
*"*"*"*"*"
David berjalan santai menuju lift, tapi ketika ia hendak masuk, dia merasa ada seseorang yang mengikutinya, lantas saja lelaki itu membalikkan badannya dan melihat siapa yang ada di belakangnya, tapi nihil, tak ada satupun orang yang terlihat.
David mencoba untuk merasa acuh, tapi instingnya mengatakan bahwa ada seseorang yang mengikutinya, tapi ia tetap berjalan masuk kedalam lift untuk menuju ke lantai kamar hotelnya.
Setelah keluar dari lift David berjalan santai dan bersikap acuh tak acuh, sembari bermain ponsel, tapi mata tajamnya sekilas melihat kebelakang.
“Ternyata dia,” David tersenyum sinis, “Kita lihat sampai kapan kau akan mengikuti aku,” setelah itu, David masuk kedalam kamarnya, setelah terlebih dahulu menempelkan kartu hotelnya, dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur, ia berbaring dan melihat langit-langit kamar hotel tersebut.
“Aku akan selalu melindungi kau dan Stef apapun yang terjadi Max!”
*"*"*"*"
Stef terbangun terlebih dahulu dari Max, ia mendongak saat merasa tubuhnya ada didalam pelukan seseorang yang ternyata adalah suaminya, Max.
Stef menatap wajah tampan yang ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar rahang kokoh tersebut, membuat siapa saja ingin rasanya untuk membelai wajah maskulin tersebut.
“Apa kau sudah puas untuk menatapku sayang?” Stef terkejut bukan main saat tiba-tiba Max membuka matanya, dan menampilkan senyum cerah yang menawan.
“Siapa yang memandangi mu? Aku tidak memandangmu, jangan GR!” Stef mengelak saat Max memandangnya dengan senyuman jahil.
“Terserah kau saja,” Stef berusaha untuk keluar dari pelukan Max, tetapi lelaki itu menahannya.
“Aku ingin mandi Max,” ucap Stef menatap Max kesal, karena tingkah suaminya itu.
“Apa kau tidak ingin memberikan aku morning kiss?” Max menatap Stef dengan penuh harap seperti seorang anak yang meminta permen pada ibunya.
“Hanya morning kiss! Tidak yang lain,” tentu saja Stef harus memperingati Max terlebih dahulu, karena tidak mau kecolongan seperti pagi—pagi sebelumnya, yang berakhir dengan perhelatan ranjang.
“Aku tidak bisa jamin,”
“Tidak ada morning kiss kalau begitu!” Stef mengatakan dengan tegas membuat Max menatap dengan memohon.
“Oh, ayolah sayang,”
“Tidak! Aku ingin cepat cepat melihat semua pemandangan yang ada disini, aku juga ingin bermain pasir, jadi kau tahan saja, aku masih ingin berjalan,” Max cemberut mendengar perkataan Stef, tapi tak urung ia tetap melakukan apa yang dikatakan oleh istrinya itu, dia hanya mencium bibir Stef sekilas, lalu melepaskannya.
“Aku yang duluan mandi,” Stef segera beranjak dari tempat tidur dan berlari meninggalkan Max yang frustasi sendirian.
“Awas kau nanti Stef,” Max berdecak kesal, karena ia merasakan apa yang dirasakan oleh setiap pria dewasa setiap bangun pagi. Oh ayolah, siapa yang tidak tahu itu, Stef saja tahu dengan kuasa alam tersebut, tapi kini dia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu.
*"*"*"*"
Max dan Stef memutuskan untuk sarapan bersama dengan keluarga besarnya, karena tidak ingin melewatkan momen yang penuh dengan kebersamaan tersebut, tak ketinggalan juga David ikut bersama mereka.
“Max," panggil David singkat. Max menatap David “Apa?” tanya Max singkat.
“Aku ingin bicara sebentar!” Max mengangguk, lalu berjalan keluar dari resto tersebut mengikuti David yang berjalan menuju kearah private room, setelah ia menatap Stef sekilas yang tampak sangat antusias melihat makanan khas Lombok.
“Ada apa?” tanya Max langsung to the point.
“Ada yang mengikuti kita sampai kesini,” Max menganggukkan kepalanya, membuat David mengernyitkan.
“Kau sudah tahu?” tanya David yang dibalas gelengan kepala oleh Max.
“Lalu?” tanya David lagi.
“Aku sudah menduganya, jadi aku tidak terlalu terkejut mendengarnya,” David menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya David serius.
“Menjaga mereka semua, terutama Stef. Karena dia menginginkan istriku,”
“Baiklah,”
“Kau sewa juga bodyguard tambahan untuk menjaga mereka semua, karena aku yakin dia mengerahkan anak buahnya untuk menyakiti kita semua, dan bodyguard papa saja tidak akan cukup,”
“Baiklah,”
“Dia tidak tahu saja siapa aku sebenarnya,” Max tersenyum Devils saat mengatakannya, membuat David bergidik ngeri.
“Hentikan senyumanmu itu,”
“Tapi aku suka tersenyum seperti ini,”
“Terserah kau saja,”
.
.
.
.
Love❤️❤️❤️EgaSri