
Apalagi yang lebih mengagetkan dan menakutkan saat kita sedang berjalan-jalan di sekitaran taman yang tidak ramai pengunjung, ada orang yang tiba-tiba merampas tas yang kalian bawa?
Itu kini yang terjadi dengan Ana. Saat dia sedang berjalan dengan Matt untuk melihat-lihat taman yang tidak ramai itu, ada seorang penjambret yang berusaha untuk merebut tasnya. Membuat Ana maupun Matteo kaget.
Ana berusaha untuk mempertahankan tasnya, tapi ternyata penjambret itu tetap mau tas itu jadi miliknya.
Matt membantu Ana untuk mempertahankan tas milik gadis itu. Matt berkelahi untuk memperebutkan tas Ana, karena terlihat baginya Ana benar-benar tidak mau melepaskan tas itu. Padahal Matt bisa saja membelikan tas yang baru dan lebih mahal tentunya untuk Ana.
“An ... Lepaskan saja!” ujar Matt menggeleng.
Saat acara tarik-menarik itu terjadi, teman sang jambret datang dengan sebuah kayu di tangannya. Baik Matt maupun Ana tidak sadar akan hal itu.
Duk .... (Anggap aja itu bunyi pukulan^_^)
“AANAAA ....” Matt menjerit kaget saat kayu itu melekat sempurna di belakang kepala Ana. Gadis itu terhuyung sebentar setelah itu jatuh pingsan dengan kepala yang berdarah.
Sedangkan kedua jambret ataupun copet itu berlari karena melihat kepala Ana yang berdarah.
Matt tidak lagi mempedulikan copet atau jambret yang kabur tersebut. Dia mengangkat Ana dengan cepat, lalu berlari menuju mobil yang tadi mereka gunakan.
Dengan tergesa-gesa Matt meletakkan Ana di kursi belakang, setelah itu dia memberitahu Max kalau dia dan Ana mengalami inseden itu. Dan Ana harus dibawa ke rumah sakit.
Semua orang ikut panik saat mendengar perkataan Matt, dan laki-laki paruh baya Daddy Matt itu menyuruh anaknya untuk mencari rumah sakit terdekat dengan menggunakan Google map. Dan Matt pun melakukannya.
...******...
Matt memegang tangan Ana dengan erat, karena tidak mau gadis itu kenapa-napa lagi. Sudah cukup cedera yang terjadi pada Ana merenggut ingatan dan kesehatan gadis itu, dan kini Matt berharap semoga luka Ana baik-baik saja.
Dokter sudah selesai memeriksa dan mengobati Ana, dan syukurlah gadis itu hanya mengalami luka luar.
Max dan yang lainnya juga sudah sampaikan di rumah sakit, Matt menceritakan semua kejadian yang mereka alami pada semuanya.
Justin menelpon orangnya untuk mencari keberadaan kedua jambret itu.
Semua orang menunggu Ana siuman. Matt masih setia di samping gadis itu hingga akhirnya dia menggerakkan tangannya dan Matt tersentak karenanya.
“An ....” ujar Matt dengan semangat. Dia mencium kening Ana dengan lembut membuat gadis itu merona.
“Kak Matt, kenapa?” tanya Ana. Matt menggelengkan kepalanya.
“Syukurlah kau sudah sadar An. Aku sangat mencemaskanmu.”
“Benarkah?” tanya Ana. Matt menganggukkan kepalanya. Ana hanya tersenyum, dia hendak duduk, dan di bantu oleh Matt.
“Apa masih pusing, Sayang?” tanya Stef. Ana menggelengkan kepalanya.
“No Aunty,” ujar Ana. Stef sedikit kaget saat mendengar panggilan Ana. Karena beberapa waktu ini dia memanggil Stef dengan embel-embel Bibi.
“Kau tidak memanggilku dengan sebutan Bibi lagi, Sayang?” Ana menggeleng.
“Bukankah dulu, Ana memanggil dengan sebutan Aunty?”
Semua orang yang ada di sana terkaget. Matt langsung mendekat pada Ana.
“Ana, kau sudah ingat kami lagi, kenangan kita dulu?” Matt bertanya penuh harap. Ana menjawab dengan senyum tipis.
“Iya, Ana sudah ingat lagi kak.” Matt langsung mengucap syukur bahagia dan memeluk gadis itu. Semua orang memperlihatkan senyuman bahagia mereka.
Akibat pukulan benda tumpul yang mengenai kepala Ana, membuat ingatan Ana kembali. Gadis itu menahan sakit hingga pingsan tadi, karena bayangan masa lalu berputar-putar di kepalanya.
“Ana tidak mau disini.” ujar Ana memecah keheningan. Matt mengangkat alisnya.
“Lalu? Kau belum sembuh, Sayang ....” Ana menggeleng.
“Kau membuatku berhutang terlalu lama, An. Padahal dari dulu aku ingin membayarnya.” Ana menundukkan kepalanya.
“Maaf karena tidak memberitahu kak, Matt.” Matt mengangguk mengerti. Lagipula dia tidak akan membahas ini, disaat suasana bahagia ini.
...******...
“Kak, An. Kenapa tidak menikah disini saja, sih?” Jenita merengek pada Ana. Sedangkan gadis itu hanya menghembuskan napas, lalu menatap pada adik sekaligus temannya selama di Indonesia itu.
“Tapi dari dulu aku ingin menikah di sana, Jen.” Jenita menghela napas.
“Bukankah kau juga bisa terbang ke Jerman, nanti bersama Paman dan Bibi?” Jenita mengangguk lesu.
“Hemm, ini terlalu cepat. Padahal baru saja kita menyusun rencana, kau bahkan sudah membatalkannya.” gerutu Jen. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur melihat Ana berkemas untuk pulang.
“Iya, maafkan aku. Itu karena aku tidak ingat dia dulu, makanya aku ikuti permainanmu, tapi kan sekarang aku sudah ingat.”
Jenita mendengus. Dia melipat tangannya di dada.
“Rencana apa yang kalian bicarakan?” Matt yang membuka pintu kamar tiba-tiba, membuat kedua gadis itu kaget. Ana maupun Jen gelagapan.
“Rencana apa?” tanya Ana polos.
“Aku mendengar kalian menyebutkan rencana tadi, kalian punya rencana apa?” mata hitam pekat itu, menatap Ana dan Jen bergantian.
Baik Ana maupun Jen sama-sama diam.
“Tidak ada apa-apa kak. Ya sudah, aku ke bawah dulu. Permisi,” Jenita tanpa aba-aba langsung bangkit dan berlari meninggalkan kamar Ana.
“Bisa jelaskan, Sayang?” tanya Matt memicingkan matanya.
“I—ituu ....” Matt mengangkat alisnya.
“Ini rencana Jen, Kak. Bukan rencanaku!” Ana melipat tangannya di depan dada, dan menatap Matt kesal, dan juga merutuki Jen yang meninggalkannya sendiri bersama Matt.
“Apa, Sayang?” tanya Matt lagi.
“Jen menyuruhku untuk membuat Kak Matt kesal, dan juga cemburu.” Matt mengangkat alis tanda tidak mengerti.
“Itu ... Yang waktu itu di kafe.” Mulut Matt membulat tanda mengerti.
“Jadi, James itu?” tanya Matt.
“Pacarnya, Jen.”
“Kenapa dia bisa kenal Jen? Dia orang Jerman, kan?” Ana mengangguk.
“Dia yang membantu mengantarkan aku ke rumah paman Justin, saat baru sampai di Indonesia. Dan ternyata dia itu bekerja di kantor paman Justin. Dan Jen yang kebetulan beberapa waktu belakangan ini sedang magang di perusahaan papanya, bertemu dan kenal dengan James.”
Matt mengangguk. “Aku mengerti.”
****
Satu episode lagi, tamat.^_^
Tergantung tanggapan kalian.
Jujur, aku kehilangan semangat, tulisanku kacau, ide melar kemana-mana. Ntahlah, kalo kalian mau ini tidak tamat, bilang ya.
Jujur aku tau tulisanku beberapa hari belakangan ini benar-benar kacau, aku sadar itu. Setidaknya kasih semangat, kalau kalian mau aku memperbaikinya^_^✌️