My Devils Husband

My Devils Husband
62. Kau seperti wanita hamil Max!



“Kau menyebalkan! Seperti wanita hamil saja!” gerutu David yang sayangnya terdengar oleh Max.


“Hei! Kau kira aku ini laki-laki macam apa? Mana mungkin aku hamil, kau yang benar-benar saja!” ujar Max kesal.


“Yang mungkin saja. Kau menyebalkan, dan wanita hamil itu menyebalkan.” jawab David seenaknya.


“Mana mungkin aku hamil bodoh! Aku ini laki-laki, kau yang benar saja menuduhku, kalau yang hamil istriku itu baru masuk akal!” Max semakin kesal pada David yang menuduhnya seperti wanita hamil. Tapi kata-kata yang terakhir dia ucapkan itu membuat Max jadi sedikit kepikiran. ‘Kapan ya Stef bisa hamil anakku?’ batinnya.


“Sudah ... Sudah...! Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?” thomas mencoba untuk melerai kedua laki-laki yang sama-sama keras kepala itu.


“Bos, cepat habiskan buah Ceri mu itu, dan kau David, cepat bantu aku. Kita harus secepatnya menemukan biang dari permasalahan ini. Aku akan menuju tempat produksi dan kau ikut denganku.” ucap Thomas yang diangguki oleh David.


“Baiklah!” jawab David singkat.


“Bos apa kau mau ikut kami untuk melihat langsung tempat produksi?” Thomas menawarkan pada Max yang diangguki oleh laki-laki itu.


“Tentu, aku ingin melihat langsung kesana!” ujar Max yang sudah mulai serius lagi. Tapi dia masih memakan buah Ceri yang tadi dicarikan oleh David dan juga Thomas tentunya.


*****


“Aw...,” ujar seorang wanita langsung mengaduh ketika Jus yang saat ini ada di tangannya tumpah dan mengenai bajunya.


“Apa-apaan kau ini? Kenapa kau menabrakku?” tanya wanita itu kesal dan juga tidak terima. Pakaiannya jadi basah dan juga kotor tentunya. Sedangkan Stef saat ini langsung berbalik melihat perdebatan antara teman barunya dan juga Delia tepat dibelakangnya.


“Kau yang tidak lihat-lihat jalan, aku lihat kau hampir menumpahkan Jus mu pada temanku Stef tadi.” ucap Maria kesal. Karena dia sendiri melihat bagaimana wanita ini berjalan dan menatap Stef iri. Dan saat dia hendak berpura-pura seperti orang yang tersandung, Maria sudah terlebih dahulu menabraknya dan menyebabkan Jus yang tadinya ada di tangan Delia menjadi tumpah dan mengotori pakaian wanita itu.


“Tidak! Siapa juga yang mau menyiram Stef.” ujar Delia gugup. Banyak mahasiswa yang sedang memperhatikannya saat ini. Menjadi pusat perhatian karena suatu hal yang buruk tentu saja itu bukan keinginan Delia. Karena dia bermaksud untuk mempermalukan Stef, tapi ternyata wanita yang ada didepannya ini malah mengacaukan rencananya.


“Wah benarkah? Lalu kenapa kau terlihat gugup?” tanya Maria lagi dengan tatapan mengejek.


“Benarkah kau mau menyiram ku Delia?” tanya Stef menatap Delia tajam, membuat wanita itu jadi sedikit takut. Mana mungkin Stef tidak kenal dengan wanita itu. Orang yang selalu saja tidak suka padanya, bahkan dari pertama pertemuan mereka karena hal yang tidak baik.


“Hei! Kenapa kau jadi menuduhku? Aku masih punya banyak pekerjaan selain menyiramkan Jus padamu!” ujar Delia mengelak.


“Benarkah? Tapi kenapa tadi kata temanku kau seperti mau menyiram ku?” tanya Stef memicing. Delia tidak menyangka kalau kini Stef yang dulunya penakut dan juga tidak pernah memberikan tatapan tajamnya itu, saat ini sedang berdiri didepannya dengan menantang membuat Delia semakin kesal.


“Untuk apa aku menghabiskan waktu dan juga tenagaku untuk melakukan hal itu, yang benar saja!” ujar Delia mengelak, sedangkan Stef hanya diam saja, karena dia yakin wanita yang ada didepannya ini pasti merencanakan sesuatu padanya.


“Dan kau,” tunjuk Delia pada Maria yang berdiri didekat Stef.


“Cepat ganti pakaianku yang kotor karena ulahmu, kau tahukan? Ini bukan baju yang murah, jadi kau harus menggantinya karena kau yang sudah menabrakku dan juga membuat pakaianku kotor seperti ini.” Delia memicing menatap Maria yang terlihat biasa saja pada perkataannya.


“Hei! Kau dengar aku tidak?” tanya Delia kesal.


“Untuk apa aku membayar untuk sesuatu yang tidak aku rusak sama sekali? Bukankah sebenarnya kau yang mau menyiram Stef, kenapa kau jadi meminta ganti padaku?” perkataan Maria tentu saja membuat Delia kesal.


“Kau...! Bayar pakaianku sekarang juga. Kau tau kan ini baju mahal, tentu saja kau tidak sanggup membayarnya!” Delia menatap Maria dengan meremehkan. Bukannya malu atau sebagainya, Maria malah tersenyum mengejek pada wanita itu.


‘Bagaimana wanita tomboi ini tau?’ pikir Delia.


“Kau jangan menuduhku seenaknya seperti itu. Kalau kau tidak mampu, tinggal katakan saja, jangan malah membual seperti ini!” ujar Delia kesal.


“Sudah ... Sudah! Berapa harga pakaianmu itu?” tanya Stef melerai keduanya.


“Stef?” panggil Maria menggelengkan kepalanya. Sedangkan Delia terlihat memberikan senyum meremehkan pada Stef.


“Apa kau sanggup membayarnya jika kau mendengar harga yang aku sebutkan?” tanya Delia, yang tentu saja disambut dengan tawa oleh Stef.


“Sebutkan saja!” ujar Stef yakin.


“500 Euro.” ujar Delia dengan santainya dan tersenyum licik menatap Stef yang terlihat biasa saja, sedangkan Maria terkejut mendengar perkataan wanita itu.


“Kau...,” tunjuk Maria pada Delia. “Jangan bercanda kau, untuk apa Stef mengeluarkan uang sebegitu besarnya, karena aku tau, bajumu ini hanya seharga 50 Euro saja!” ujar Maria sangat kesal. Bisa-bisanya wanita itu memoroti mereka. Yang benar saja, Jika di Kurs kan, 500 Euro itu melebihi 8 juta rupiah , yang benar saja, baju yang terlihat biasa saja itu seharga 500 Euro


“Hei! Ini baju mahal, cepat bayar!” ujar Delia pada Stef. Ia tidak mau ketahuan, jika ini baju KW yang dia beli dan tidak sebanding dengan harga yang dia katakan.


Terlihat Stef membuka tasnya, lalu mengambil dompet. Delia terkejut melihat dompet Stef, terlihat sangat elegan dan juga sepertinya sangat mahal, karena dia tau itu salah satu brand ternama dari perusahaan Alexander Corp yang berjalan di bidang tekstil dan juga fashion.


Stef mengeluarkan uangnya lalu menyerahkan pada Delia.


“Kau ambil saja kembaliannya!” ujar Stef dengan sedikit sombong. Lalu dia menyeret tangan Maria bersama dengannya.


Sedangkan Delia mematung di tempatnya, ini bukan 500 Euro, tapi 1000 Euro, dan Stef memberikan begitu saja uang sebanyak ini padanya, membuat Delia oleng dan benar-benar tidak bisa mempercayainya.


“Apa-apaan ini?” batinnya. Sedangkan semua teman kampus Stef yang melihat kejadian itu, melongo tidak percaya. Benarkah itu Stef, wanita yang selama ini bekerja paruh waktu untuk biaya hidupnya, kini memberikan uang sebegitu banyaknya pada Delia tanpa pikir panjang. Ini tidak dapat di percaya.


.


.


.


.


.


😗😗😗Miss you all😗


jangan lupa dukungannya ya, author kembali lagi nih😗Ada yang kangen gak ya?😅Eh bukan author sih, Tapi si Max sama Stef😗😅


ada yang kangen mereka gak nih🥺Semoga aja ada, kalo gak ada, nangis nih author 🥺