My Devils Husband

My Devils Husband
MatteNa: Perjuangan kedua



Pagi ini, Ana mengikuti sang Daddy yang mau ke mansion keluarga Alexander. Karena ada urusan yang ingin di selesaikan oleh Daddy-nya itu.


“Kenapa tidak pergi sendiri Ana? Daddy tidak bisa mengantar ke kampus, pergi sama supir saja, ya?” Ana menggeleng menjawab perkataan laki-laki yang menjadi ayahnya itu. David menghembuskan nafas kasar dengan jawaban Ana.


“Bukannya kau tidak mau dekat dengan Matt akhir-akhir ini? Lalu kenapa kesana lagi?” saat keduanya sudah duduk didalam mobil, David bertanya lagi pada Ana.


“Daddy, jangan bahas itu lagi. Aku menyesal untuk itu. Sudah sebaiknya kita jalan sekarang!” Ana melipat tangannya di depan dada dengan bibir mengerucut kesal. David tak dapat berbuat banyak.


Gadis kecil di sampingnya ini adalah putri satu-satunya. Gadis kecil yang sangat dia cintai dan sayangi.


David takut jika nanti Ana merasakan patah hati, dan gadis itu terluka karena cintanya tidak terbalas. Tapi dia juga tidak bisa memaksakan hati gadis kecilnya itu.


Mobil yang dikendarai David, keluar dari pelataran rumahnya yang megah. Ana bernyanyi riang mengikuti lagu yang di putar oleh Daddy-nya.


“Bagaimana kuliahmu An?” David menatap putrinya sekilas, setelah itu dia kembali menatap pada jalanan.


“Kuliahku baik Dad.” David mengangguk mendengar jawaban singkat dari putrinya itu.


“Oh iya, apa Daddy boleh tau, kenapa kau menghindari Matt beberapa waktu belakangan ini?” Ana terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Daddy-nya. Dia menatap pada jalanan dengan mata menerawang.


“Itu karena aku salah paham Dad. Semuanya baik-baik saja.” David mengangguk-angguk tanda mengerti. Dia tidak akan memaksa Ana untuk bercerita. Karena nanti, pasti anak gadisnya itu akan menceritakan sendiri padanya.


Mobil mewah milik David perlahan mulai memasuki komplek mansion Max. Dia membunyikan klakson saat mobil yang dia bawa berada di depan pintu gerbang besar mansion itu.


Gerbang besar yang menjulang tinggi itu, terbuka secara otomatis. David kembali melajukan mobilnya melewati pancuran air yang menghiasi halaman luas mansion itu.


Ana keluar begitu saja saat mobil sang Daddy sudah berhenti. Pria paruh baya yang masih sangat tampan itu hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak gadisnya yang terlalu semangat.


“Come on Dad!” Ana berjalan di samping David, dan masuk kedalam mansion saat pintu utama mansion terbuka dengan Marko yang sudah menyambutnya disana.


“Dimana Max, Mark?” David bertanya pada Marko yang berdiri dengan menunduk hormat padanya.


“Ada di ruang makan Tuan.” mendengar jawaban Marko, David dan juga Ana berjalan menuju ruang makan untuk menghampiri keluarga tersebut.


Disana ada Max, Stef, Thomas , Mattea, dan juga Matteo tentunya.


Matteo mengabaikan Ana yang menatap padanya. Gadis itu tersenyum kecut, tapi itu tidak lama karena dia segera berlari dan duduk di samping Matt sebelum Daddy-nya duduk disana, membuat laki-laki itu menggeleng melihat tingkah sang putri.


“Hai kak Matt?” Ana menyapa dengan riang. Senyuman lebar ia keluarkan membuat Matteo menoleh sejenak.


“Eh?” tentu saja Matt kaget mendengar sapaan riang dari gadis itu. Dia menatap Ana cukup lama, setelah itu berdehem dan menampilkan wajah cuek lagi.


“Hemm?” walau hanya deheman, tapi Ana cukup senang dengan reaksi laki-laki itu.


“Kalian sudah baikan?” Mattea yang sedang bersandar di bahu Thomas dengan sangat manja itu, menatap pada saudara kembarnya dan juga gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu dengan penasaran.


“Baikan untuk apa?” Matteo menyahut dingin. Ana menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum kaku.


“Ya baikan untuk apa saja. Karena aku lihat, belakangan ini kalian seperti bertengkar?” Matt mengangkat bahunya acuh, sedangkan Ana menundukkan kepalanya.


“Sudah-sudah! Ayo cepat selesaikan sarapannya. David, apa kau mau ikut sarapan lagi?” Max menghentikan acara tanya jawab itu. Sedangkan David menggeleng menjawab pertanyaan Max. Dia sudah sarapan bersama dengan Aira tadi. Dan dia masih kenyang saat ini.


Semua anggota keluarga itu melanjutkan sarapan mereka. Kecuali Ana dan David tentunya.


***


“Kak Matt, aku mau ikut kakak ke kampus!” Matteo menatap dingin gadis yang ada di sampingnya ini. Gadis itu menatapnya dengan tatapan tak berdosa, dan juga polos seperti biasanya.


“Apa yang membuatmu bicara seperti ini lagi padaku?” Ana menelan ludah gugup. Otaknya yang berkapasitas seribu Watt itu mulai mencari alasan.


“Memangnya aku kenapa kak Matt?” Matteo mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bisa-bisanya gadis kecil di hadapannya ini bicara dengan begitu polosnya setelah dia merubah sikapnya beberapa waktu belakangan ini.


“Pergilah sendiri. Aku tidak bisa bersamamu ke kampus!” Matteo hendak membuka pintu mobilnya. Tapi Ana menahan.


“Kenapa?”


“Tak ada alasan untuk itu!” saat Matteo membuka pintu mobilnya, Ana berlari pada pintu yang ada di sebelahnya. Gadis itu membuka pintu mobil Matt dan duduk dengan seenaknya disamping kursi kemudi.


“Ana ... Kauuu....” Matt menggeram marah pada Ana yang duduk dengan seenaknya di sebelahnya.


“Ayo jalan kak Matt!” Ana mengabaikan Matt yang menatapnya tajam. Gadis itu sudah kebal dengan tatapan pria itu.


“Keluar Ana! Aku tidak mau pergi bersamamu!”


“Oh ayolah kak Matt. Kalau aku tidak ikut denganmu, lalu aku mau pergi ke kampus dengan siapa?” Ana menatap Matteo dengan memelas. Laki-laki itu menghela napas.


“Kenapa kau melakukan ini Ana? Kau bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun pada kita. Kemarin kau bersikap dingin padaku, dan sekarang kau bersikap seperti gadis bar-bar lagi. Apa besok kau akan mendiami aku lagi?”


Ana terdiam mendengar perkataan Matt. Dia menatap laki-laki yang ada disampingnya ini dengan gusar. Matt terlihat memicingkan mata padanya. Ana sadar, sikapnya yang mendiami Matt beberapa waktu belakangan ini agak sedikit keterlaluan.


“Kak Matt ini bicara apa sih? Kan sudah Ana bilang, kalau Ana tidak akan membiarkan siapapun merebut hati kak Matt. Apalagi kalau Ana mendiamkan kak Matt, itu artinya Ana memberikan celah pada gadis-gadis diluar sana untuk mendekati kak Matt, dan Ana tidak mau itu terjadi. Karena Ana adalah istri masa depannya kak Matt!”


“Percaya diri sekali kau bocah!” Matteo menjitak kepala Ana saat mendengar jawaban yang di katakan oleh gadis itu, membuat Ana memegangi kepalanya.


“Kak Matt, kadang percaya diri itu sangat diperlukan. Apalagi soal Ana. Karena kalau kak Matt nikah sama Ana, Ana yakin, kak Matt tidak akan menyesal!”


Ana melipat tangannya didepan dada, dia menatap Matt dengan sombong.


“Cih, dasar gadis bar-bar!”


Tanpa menjawab perkataan nyeleneh Ana, Matteo akhirnya menjalankan mobilnya keluar dari area mansion.


“Kak Matt, apa selama Ana cuekin kak Matt, kakak udah sadar kalau sebenarnya kakak cinta sama Ana?”


Mata hitam pekat itu menatap Ana tajam. Gadis itu hanya menampilkan senyumannya yang menawan, yang sayangnya, Matteo sangat menyukai senyuman itu.


“Tidak! Aku malah bersyukur kau mendiamiku! Karena aku merasa tenang, tidak ada makhluk seperti dirimu di sisiku yang terus saja menempel kemanapun aku pergi.” Matteo menjawab dengan ketus, dia tidak melirik Ana sedikitpun, matanya fokus menatap pada jalanan yang dia lewati.


‘Cih, bahkan untuk mengakui hal seperti ini saja, gengsinya sangat tinggi!’ Ana mendengus dalam hati. Laki-laki yang ada di sampingnya ini pandai sekali menyembunyikan ekspresinya.


“Yahhh, sayang sekali!” Ana pura-pura mendesah sedih. Sedangkan laki-laki yang ada disampingnya tampak tidak melirik sedikitpun padanya.


“Kak, apa selama Ana gak jagain kak Matt, banyak cewek yang deketin kak Matt? Atau kak Matt yang deketin mereka?”


“Jaga seperti apa maksud kamu? Kamu jagain aku dari cewek-cewek itu, dengan cara mengatakan pada mereka semua kalau aku itu bau badan, dan juga panuan?” Matteo menatap tajam Ana yang hanya menampilkan cengiran kakunya saat laki-laki itu menatap dengan kesal


“Ihhh, kak Matt. Tapi itu kan dulu. Lagi pula, Ana kan cuma mau jagain calon suami masa depan Ana, dari wanita-wanita tak berbobot diluaran sana itu!”


“Kau ini!” Ana kembali mendapatkan jitakan di kepalanya dari seorang Matteo.


“Kak Matt sakit! Nanti kalau Ana geger otak, dan ngelupain kak Matt gimana?” dengan masih mengusap-usap kepalanya, Ana mendelik ketus pada Matt.


“Bagus kalau seperti itu, biar tidak ada gadis kecil menyebalkan seperti dirimu lagi yang menggangguku!”


“Ih kak Matt, kan Ana cuma becanda. Lagian ya, mau sampai Ana kecelakaan dan amnesia sekalipun, Ana gak bakal lupain kak Matt, soalnya kak Matt emang ga bisa dilupain!” Ana mengedipkan matanya genit pada Matteo yang duduk disebelahnya.


Entah sadar atau tidak, tapi Matteo tersenyum mendengar kata-kata sederhana yang keluar dari mulut gadis itu.


“Diamlah bocah, jangan banyak bicara. Mau aku turunkan kau disini?” Matteo mengancam Ana, karena dia sungguh pusing mendengar celotehan gadis itu yang dari tadi terus saja bicara asal.


“Ya gak maulah! Nanti kalau ada yang jahatin Ana, terus Ana di culik, dan Ana di nikahin sama om-om CEO kaya dan ganteng gimana?”


“Mimpi!”


“Kan mimpi Ana emang seperti itu!”


“Diamlah, aku pusing mendengar celotehanmu itu. Ah, harusnya kemarin aku bersyukur karena kau mendiamkan aku!”


Setelah terdiam cukup lama, kedua orang itu akhirnya tiba di parkiran kampus.


“Mau apa lagi bocah? Sudah sana turun!” Matteo menatap kesal pada Ana yang masih saja duduk dengan tenang di sampingnya.


“Kak Matt gak mau, buat bukain Ana pintu gitu? Kayak orang-orang gitu, biar romantis?!”


“Dih, iya-iya. Untuk romantis sedikit saja tidak bisa!” dengan menggerutu, Ana melepaskan seat belt dan turun dari dalam mobil Matt. Setelah gadis itu turun, Matt juga ikut turun dan mengunci mobilnya


Matteo berjalan menuju fakultasnya, diikuti oleh Ana di belakang. Laki-laki dengan sorot mata tajam dan tegas itu, mampu membuat gadis-gadis yang berlalu lalang di sekitar sana terdiam sejenak untuk mengambil nafas.


Ana menatap gadis-gadis yang melihat Matt dengan tatapan lapar. Gadis itu mengepalkan tangannya.


“Kak Matt!”


“Apa lagi bocah?!”


Tanpa aba-aba, Ana memegang tangan Matt tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Bahkan gadis itu juga tidak mempedulikan Matt yang menatap tajam pada dirinya.


“Lepaskan!” Matt berusaha untuk melepaskan tangannya dari Ana, tapi sayang, gadis itu tidak mau untuk melepaskannya.


Ana menatap pada gadis-gadis yang menatap pria yang sudah diklaim miliknya itu dengan tajam.


Dari matanya, dia seperti mengatakan, ‘Beraninya kalian menatap milikku! Aku congkel mata kalian!’


Sedangkan Matt hanya mendengus pasrah melihat kelakuan bar-bar gadis kecil yang sedang menggenggam tangannya posesif itu.


Sudut bibir pria itu, melengkung samar. Hanya sedikit, hingga orang lain tidak menyadarinya.


“Ayo kak Matt!”


Karena memang fakultas keduanya sama, Ana berjalan bersama Matt dengan kedua tangan yang masih menggenggam. Banyak pasang mata yang melihat pada kedua orang itu.


‘Dasar murahan, padahal waktu itu dia sudah tidak mengganggu Matt lagi. Kenapa dia bersikap seperti itu lagi sekarang?’


‘Dasar gadis bar-bar!’


Ana tidak menghiraukan bisik-bisik saat dia dan Matt lewat. Dan juga sepertinya, Matt tidak terganggu dengan itu.


Ana berjalan riang dengan tangan menggenggam tangan Matt.


“Sudah, lepaskan bocah!” Ana cemberut saat Matt melepaskan tangan mereka.


Ana sudah tiba di kelasnya terlebih dahulu.


“Bye kak Matt, ingat Ana terus ya.”


***


Ana bersama dengan temannya berjalan di koridor kampus. Gadis itu berjalan tanpa ada beban sedikitpun. Dia tersenyum riang, membuat sahabatnya heran.


“Cie, yang sudah baikan, riangnya!” Ana hanya terkekeh mendengar ucapan Jinny.


“Ayo kita ke kantin!” tanpa menjawab perkataan Jinny tadi, Ana menarik tangan gadis itu menuju kantin kampus, yang pastinya kini sudah sangat ramai.


Kantin besar yang makanannya hampir sama dengan restoran kelas atas itu benar-benar sesak oleh mahasiswa lainnya yang ingin mengisi perut mereka yang kosong.


Ana dan Jinny duduk di kursi pojok. Jinny berjalan ke depan untuk memesan makanan. Tak lama setelah itu, gadis itu membawa nampan berisi makanan untuk dia dan Ana.


“Terimakasih Jinn.” Jinny hanya mengangguk dan tersenyum. Ana menatap makanan yang ada di depannya dengan berbinar.


“Hai An, Jinny....” Ana mendongak pada kedua laki-laki yang ada di depannya. Ada Rico dan Kelvan yang sedang berdiri disana.


“Holla baby....” Rico duduk di samping Jinny. Karena kedua orang itu adalah sepasang kekasih sejak mereka SMA.


“Hai, An....” Kelvan tersenyum tipis pada Ana, begitu pula dengan Ana.


“Hii Van....”


Rico berdiri dari duduknya untuk memesan makanan juga.


Ana sudah mulai memakan makanannya tanpa menghiraukan kedua orang yang sedang duduk di depannya dan juga Jinny yang di sampingnya.


“Hei pelan-pelan, kami tidak akan minta,” Ana terkekeh mendengar perkataan Kelvan.


“Aku sangat lapar, maaf.” Kelvan hanya tersenyum tipis. Dalam diam, laki-laki itu tersenyum menatap Ana yang sangat menikmati makanannya. Tak lama setelah itu, Rico datang dengan membawa nampan berisi makanan untuk dia dan Kelvan.


“Thanks Ric....” Rico mengangguk dan tersenyum tipis


Ana yang mendengar suara gaduh mengangkat kepalanya. Disana dia dapat melihat, Matteo, Arion, dan Erick yang duduk di salah satu bangku kantin.


Ana hanya tersenyum sinis saat melihat banyak wanita yang menatap lelaki yang dia nyatakan miliknya itu dengan lapar.


Tentu saja, siapa yang akan bisa mengalahkan pesona seorang Matteo? Pewaris lelaki kerajaan bisnis Alexander dan Luciano. Bahkan kampus tempat mereka kuliah ini pun, adalah milik keluarga konglomerat itu.


Kelvan yang melihat Ana menatap tajam pada wanita-wanita yang melihat Matt dengan lapar itu, hanya tersenyum kecut.


“Kau sudah baikan dengannya Ana?” Ana kembali tersadar saat mendengar suara Kelvan yang bertanya.


Ana mengangguk menjawab pertanyaan Kelvan, sedangkan laki-laki itu tersenyum masam.


‘Kami tidak berbaikan, karena memang ini salahku. Dan kami juga tidak bertengkar!’


Ana merutuki kebodohannya beberapa waktu belakangan ini.


“Jinn, aku pindah ya?” mendengar Ana yang berbisik seperti itu, Jinny hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan perkataan gadis itu.


Dengan langkah tegap, Ana berdiri dengan mengangkat mangkuk makanannya lalu berjalan menuju meja yang di tempati Matt.


“Dia mendekat!” Arion berbisik pada Matt yang kala itu mendelik karena melihat gadis kecilnya, duduk satu bangku dengan laki-laki lain.


Pria itu hanya menghembuskan nafas kasar.


“Hai calon suami?” Ana mengeraskan suara, hingga perkataannya itu terdengar oleh beberapa orang yang dekat dengannya. Sedangkan Arion dan Erick terkekeh mendengar sapaan gadis itu.


“Pindah Kak Erick!” selalu saja seperti itu. Erick akan selalu bergeser jika Ana menempati tempat duduk di samping Matt.


“Dasar, bocah ini!” walaupun menggerutu, tapi Erick tetap berpindah tempat.


“Kak Matt, suapi Ana makan dong....” Ana menatap Matt dengan berbinar. Laki-laki itu hanya mendengus.


“Kau kan punya tangan? Makan sendiri, jangan manja!” Ana mengerucutkan bibirnya membuat gadis itu tampak menggemaskan. Setelah itu, dia kembali menyendokkan makanannya mengabaikan orang sekitarnya.


“An, kalian sudah baikan?” Ana mendelik pada Arion dan Erick yang terkekeh menertawakan dirinya.


“Diam kalian!” sentak Ana dengan tampang marah. Tapi, walaupun seperti itu, dia tampak menggemaskan dengan bibir yang mengerucut lucu dan mata tajam itu.


“Woohh, beraninya kau bocah!” goda Erick. Kedua laki-laki yang menjadi teman Matt itu menertawakan Ana membuat gadis itu semakin kesal.


“Kak Erick, walaupun Ana ini menurut kalian masih bocah, tapi Ana sudah bisa bikin bocah loh!” Ana mengatakan dengan senyuman menggoda, membuat kedua laki-laki itu terdiam dan menelan salivanya susah.


“Sialan!” decak Erick kesal.


“Dan, kak Matt, ukuran dada Ana udah 36D, sudah seperti yang kak Matt bilang waktu itu! Jadi kapan kita menikah?” Ana berbisik dengan suara menggoda pada Matt.


Matt terbatuk-batuk mendengar perkataan Ana, laki-laki itu menatap tajam pada gadis yang ada disampingnya ini.


“Sialan kau bocah!”


.


.


.


Di part MatteNa, ini Mattea bakal sering muncul kok. Tenang aja😉