
Kini, pasangan pengantin baru yang baru menikah beberapa bulan yang lalu itu, kini sedang berada di pulau Kuta, Bali. Untuk pergi berbulan madu, yah, walaupun sudah lewat sih, tapi mereka tetap melakukan perjalanan itu.
Kini, dengan pakaian pantai Ana berjalan di tepi pantai Kuta, dengan memakai topi lebar supaya wajahnya yang putih bersih itu tidak terkena sinar matahari.
“Sayang ... ayo, sini!” seru Ana dengan gembira pada Matt yang mengekor di belakangnya. Dengan menggunakan kemeja pendek dan juga celana jins selutut.
Ana berlari di sekitar tepi pantai dengan gembira, membiarkan kakinya basah terkena air yang pasang surut.
“Hati-hati, An! Nanti kau jatuh!” seru Matt melihat istrinya yang tampak bahagia itu. Ana berdiri berkacak pinggang menatap Matt dengan kesal.
“Ayo, Sayang! Aku masih mau makan setelah ini!” Matt menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya itu.
“Padahal sebelum kemari, dia baru selesai makan, tadi!” gerutu Matt. Laki-laki yang menjadi suami Ana itu mempercepat langkahnya untuk mensejajarkan jalannya dengan sang istri.
“Pemandangan disini indah sekali, aku sangat suka disini! Sayang, kenapa kita tidak tinggal disini saja?” Matt menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, akhir-akhir ini Ana selalu saja membuatnya pusing dengan permintaannya yang aneh-aneh.
“Tidak bisa, Sayang. Lagipula aku harus mengurus perusahaan Daddy, kan kau tau sendiri, sekarang Daddy sudah pensiun katanya!” Bibir merah muda yang dilapisi lipstik tipis itu mengerucut sebal.
“Sayang, ayo kita beli minum disana!” Matt menunjuk pada kedai yang ada di sana, Ana menatap Matt berbinar lalu wanita itu mengangguk.
Kedua pasang suami istri itu berjalan melangkah menuju kedai yang cukup besar itu, lalu membeli minuman untuk mereka berdua.
“Apa sudah puas, jalan-jalannya? Mau ke hotel sekarang?” Matt yang melihat Ana sudah tampak berkeringat itu tidak tega, karena tadi istrinya itu tampak benar-benar semangat sekali, dan sekarang terlihat lelah.
“Heem, aku mau tidur siang!” Ana beranjak berdiri, diikuti oleh Matt.
Dengan berjalan kaki, Ana dan Matt kembali ke hotel. Matt meminta kunci kepada resepsionis hotel yang mencuri-curi pandang padanya, membuat Ana kesal.
“Heh, bule! Ingat, kau itu sudah punya istri, jangan tebar pesona disini!” Ana berkacak pinggang menatap Matt yang terkekeh.
Matt mengucapkan terimakasih pada resepsionis hotel itu, lalu menggenggam tangan sang istri berjalan menuju lift.
“Ingat, Sayang! Kita sama-sama bule disini!” Matt dan Ana masuk kedalam lift, lalu menekan tombol angka yang menjadi lantai tujuan mereka.
“Iya, tapi wanita itu tadi selalu curi-curi pandang padamu!” kesal Ana. Dia melipat kedua tangannya didepan dada, lalu memalingkan wajahnya dari Matt.
‘Sejak kapan dia jadi menyebalkan seperti ini, sih?!’
Matt mengacak-acak rambut Ana yang pendek, setelah dia membuka topi yang dipakai oleh istrinya itu.
“Walaupun dia mencuri pandang padaku, tapikan pandanganku hanya padamu, Sayang?” Ana memalingkan wajahnya ke arah diding sebelahnya. Dasar, suaminya itu pandai sekali membuatnya tersenyum lagi, uhhh, Matt menyebalkan.
Ting ....
Bunyi lift berdenting membuat Ana tersenyum cerah, pintu lift yang terbuka lebar membuat Ana cepat-cepat keluar. Sedangkan Matt berjalan keluar setelahnya, untung hanya ada mereka berdua didalam lift itu.
“Ayo, mana kuncinya!” Matt menempelkan access card itu pada pintu kamar hotel mewah tersebut, dan setelahnya Ana membuka pintunya, lalu segera masuk kedalam.
Ana langsung berjalan menuju ranjang dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur empuk tersebut.
“Ahh, aku lelah sekali! Nanti aku tidak mau jalan kaki lagi!” gerutu Ana yang didengar oleh Matt yang duduk di tepian ranjang.
‘Cih, padahal kan dia yang merengek ingin jalan-jalan di tepi pantai, di tengah terik sinar matahari siang! Sekarang malah menggerutu seperti itu!’ Kata-kata itu hanya tertelan didalam hati Matt, karena bisa habis dia nanti kalau mengeluarkan suaranya dengan perkataan seperti itu. Bisa-bisa tidak dapat jatah dia nanti.
“Apa kau lapar, Sayang?” tanya Matt yang melihat Ana memejamkan matanya. Perlahan bulu mata lentik itu terangkat, lalu bola mata itu perlahan menatap Matt.
“Tidak!” jawab Ana singkat, lalu memejamkan matanya kembali.
Matt ikut merebahkan tubuhnya di samping Ana.
“Apa kita tidak akan membuat junior disini, Sayang?” tanya Matt dengan suara yang serak-serak basah. Dalam mata yang terpejam, Ana mendengus pada suaminya itu.
“Tidak! Aku lelah! Semalam kau menggempurku sangat keterlaluan!” kerus Ana. Dia berbalik memunggungi Matt.
“Jangan ganggu aku! Aku mau istirahat!” Matt terkekeh geli melihat reaksi istrinya itu, lalu ikut memejamkan matanya, setelah sebelumnya dia menaikkan suhu AC supaya tidak panas, disaat terik seperti ini.
...****...
“Sayang, bangun!” Ana menggoyang-goyangkan tubuh Matt agar laki-laki itu terbangun, tapi akibat dari sejuknya AC membuat Mata Matt tidak mau terbuka.
“Sayang, aku lapar! Tadi siang aku tidak jadi makan! Ayo bangun!” Ana masih berusaha untuk membangunkan Matt dengan sangat kesal, laki-laki tampan itu perlahan membuka mata, dia menatap Ana yang sedang melihatnya dengan mata melotot.
“Aku masih mengantuk, An!” ujar Matt serak. Laki-laki itu hendak memejamkan matanya kembali, tapi langsung terkejut saat Ana menggigit tangannya.
“Aw ... Sshhh, sakit, An!” Matt langsung duduk dengan mengusap tangannya yang pedih karena terkena gigitan sang istri.
“Aku kan sudah bilang, kalau aku lapar, tapi kak Matt malah mau tidur lagi!” Ana menundukkan kepalanya. Setelah itu bahunya tampak bergetar karena menangis, membuat Matt yang semula kesal langsung kaget menatap istrinya itu.
“An ... Ana, Sayang. Maafkan aku, jangan menangis, aku akan pesankan makanan pada pihak hotel, jangan menangis, Sayang!” Matt panik sendiri melihat istrinya yang masih tidak berhenti menangis itu.
“Ana, maafkan aku, ayo kita makan di luar saja!” Ana mendongak menatap Matt, lalu menggeleng.
“Aku mau makan disini, tapi kak Matt yang membelikannya keluar, aku mau sambal matah!”
“Hah?! Apa? Sambal apa?” tanya Matt yang masih sangat asing dengan nama makanan itu.
“Sambal matah! Aku mau sambal matah!” Matt menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Jenis makanan apa itu? Aku baru dengar namanya,”
“Itu jenis makanan khas Indonesia, waktu itu saat aku tinggal sama uncle Justin, bibi pelayan pernah membuatkan sambal itu, dan aku menginginkannya sekarang!”
“Sejenis makanan dengan daging, kah?” tanya Matt, Ana menggeleng kesal.
“Bukan! Namanya saja sambal, mana mungkin pakai daging! Sudah sana cepat carikan aku makanan dengan sambal matah! Aku sangat lapar!” Matt langsung beranjak turun dari atas kasur, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
“Sambal matah?! Namanya saja aneh, semoga saja aku tidak sulit menemukannya!” Matt keluar dari dalam kamar mandi, lalu mengambil dompetnya yang ada di atas meja nakas, lalu keluar dengan menggunakan sandal jepit, karena hanya akan ke lantai bawah saja.
“Jangan kembali sebelum mendapatkannya!” seru Ana sebelum Matt menutup pintunya.
...***...
Tidak sulit memang, mendapatkan sambal matah di Bali ini, karena sambal itu memang berasal dari daerah eksotis tersebut. Tapi yang membuat Matt tidak percaya adalah, sambal yang di maksud istrinya itu hanyalah berupa potongan-potongan beberapa bahan yang diberi minyak kelapa, membuat Matt berpikir keras, bagaimana cara memakannya?
Dengan langkah ragu, Matt kembali ke kamar hotel dengan menenteng sebuah plastik. Matt ragu untuk memberikan makanan yang didapatnya itu pada Ana, karena takut tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
“Lebih baik berikan saja, kalau salah nanti aku carikan lagi!” Matt mengetuk pintu kamar tempatnya menginap dengan sang istri itu, entah ketukan yang ke berapa kalinya, pintu kamar itu terbuka, Ana keluar dengan melihat Matt menenteng sebuah plastik.
“Mana?!” Matt menyerahkan plastik itu pada Ana, lalu mengikuti langkah sang istri duduk di meja makan yang memang tersedia di kamar termewah itu.
“Kenapa kak Matt tidak minta pada petugas hotel saja?” tanya Ana sembari membuka plastik itu. Matt menggeleng tidak percaya mendengar perkataan istrinya yang mungkin sudah pikun itu, padahal dia sendiri tadi yang menyuruh Matt untuk mencari sendiri makanan yang menurut Matt aneh itu.
“Apa itu benar, sambal matah yang kau maksud?” tanya Matt ragu, saat melihat tatapan berbinar istrinya itu. Ana mengangguk antusias.
“Terimakasih, Sayang!” dengan sambal yang memang sudah di beri nasi itu, Ana memakannya dengan sangat lahap. Matt yang melihat itu hanya bergidik, bagaimana mungkin Ana terlihat sangat menikmati sambal itu, padahal hanya potongan-potongan kecil yang diberi minyak.
“Ahhh, ini enak sekali!” ujar Ana dengan girang. “apa kak Matt mau?” sambung Ana bertanya, Matt langsung menggelengkan kepalanya menolak perkataan Ana.
“Kau habiskan saja, Sayang. Aku bahkan sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan!” Matt mengacak rambut Ana gemas, sembari menatap istrinya yang tampak bersemangat itu.
...****...
Hiiii, bagaimana kabar kalian semua? Masih adakah yang baca cerita ini? Wkwk, kelamaan libur akutuh, maapkeun yah gaess, kondisi emang gak memungkinkan buat cepet-cepet kasih Exp nya.
Welcome November^_^