
Pagi-pagi sekali Max sudah bangun, karena merasa tidak enak dengan perutnya. Dia berjalan menuju ke kamar mandi dengan tergesa-gesa, lalu mengeluarkan semua isi perutnya. Karena suara Max, Stef jadi ikut terbangun, dan dia tidak mendapati Max ada di sampingnya. Stef bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi, menggosok punggung Max, dengan heran. Heran, ada apa dengan suaminya ini.
“Kau ini kenapa?” tanya Stef pada Max setelah mereka berdua berjalan kembali ke kasur. Max dan Stef duduk di pinggir ranjang.
“Aku tidak tau, aku hanya merasa mual saja!” Max memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya di kasur membuat Stef mengernyit. Sejak kapan si Devils menyebalkan ini jadi pemalas seperti ini? Begitu pikir Stef.
“Hei.. Bangun, bukannya hari ini kau harus ke kantor?” tanya Stef. Max terdiam lalu kembali duduk dengan muka kesal. Dia kembali teringat dengan masalah kemarin, membuat kepalanya pusing.
“Karena masalah itu, aku jadi pusing begini. Bahkan aku juga sampai mengalami masalah dengan pencernaan ku!” Max menggerutu, lalu berjalan meninggalkan Stef menuju kembali ke kamar mandi. Stef terdiam mencoba mencerna ucapan Max, apa katanya tadi? Masalah?
“Masalah apa?” ucap Stef mengikuti Max berjalan, tapi ia tidak sampai masuk ke kamar mandi. Max berdiri didepan pintu kamar mandi, lalu terdiam.
“Sudah, lupakan saja!” Max menjawab singkat, lalu menutup pintu kamar mandi. Stef menggerutu kesal, setelah itu ia kembali berjalan menuju ke tempat tidur sembari berfikir.
“Dia sedang ada masalah? Kenapa tidak cerita padaku?” Stef membereskan tempat tidur mereka lalu berjalan ke balkon kamar untuk menghirup udara pagi. Merentangkan tangannya, dan udara dingin menyeruak menusuk kulitnya, tapi dia merasa segar dengan hal itu. Meskipun suara bising sudah mulai terdengar tapi setidaknya ia masih bisa menghirup udara dingin.
~
“Ehhh, Max apa-apaan kau ini,” Stef menggelinjang dan juga kaget setelah Max memeluknya dari belakang tanpa menggunakan pakaian, dan hanya menggunakan handuk saja untuk menutupi area pribadinya.
Iya, setelah mandi tadi Max melihat Stef sedang termenung melihat kebawah balkon. Max jadi berfikir, ‘Apa sebaiknya dia mulai kuliah hari ini saja? Supaya dia tidak kesepian di Mansion sebesar ini?’ begitu pikir Max.
“Sudah, biarkan saja! Aku suka wangimu.” Max mengendus leher Stef membuat wanita itu semakin geli.
Yang benar saja, bahkan dia belum mandi atau mencuci muka, tapi suaminya ini berkata seolah dia sudah mandi saja.
“Max....,” Stef melepaskan tangan Max yang melingkar di pinggangnya, lalu berbalik menatap suaminya itu.
“Kau sedang ada masalah?” tanya Stef menatap Max dalam. Max hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Stef.
“Max, aku bertanya padamu!” Stef jadi kesal sendiri dengan suaminya itu.
“Tidak sayang, aku tidak ada masalah apapun!” ucap Max yang lebih memilih untuk berbohong.
“Benarkah? Kau tidak sedang berbohong padaku?” tanya Stef menatap Max menyelidik.
“Tidak! Sudah, sebaiknya kau siap-siap, hari ini aku akan mengantarmu ke kampus untuk melanjutkan kuliahmu!” Max memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Stef menatap Max berbinar, lalu memeluk suaminya itu.
“Aku sangat rindu dengan teman-temanku!” ucap Stef didalam pelukan Max.
“Apa teman-temanmu ada yang lelaki?” tanya Max menatap Stef menyelidik.
“Tentu saja! Kau ini bagaimana, itu 'kan kampus, ya pasti ada lelakinya!” Max mengernyit menatap Stef. Ia merasa tidak suka jika Istrinya ini dekat dengan lelaki lain, selain dirinya.
“Ya sudah, kalau begitu kau tidak usah kuliah saja!” Max menatap Stef cemberut. Moodnya berubah-ubah hari ini, membuat dia menjadi bingung sendiri.
Stef mengerling, ‘Ada apa dengan dia?’ Stef bersungut-sungut lalu menatap Max mendongak.
“Enak saja! Aku kan harus menyelesaikan kuliahku!” Stef kesal lalu berjalan masuk ke kamar, diikuti oleh Max di belakang.
“Kenapa kau jadi marah?” tanya Max. Sungguh dia bukan lelaki yang peka.
“Sudahlah! Kau ini menyebalkan. Pokoknya aku akan kuliah hari ini!” Stef menatap Max sengit, membuat Max sedikit takut.
“Kau boleh kembali kuliah, asal tidak dekat dengan teman-teman lelakimu disana! Kalau sampai aku tau, aku akan menghentikan kuliahmu, dan menyuruh dosen yang mengajar disana untuk mengajar privat saja!” Stef menatap Max jengkel.
“Apa kau cemburu?” tanya Stef dengan senyuman menggoda.
“Tidak!” jawab Max cepat.
“Kau berbohong! Aku tau kau sedang cemburu!” Stef tersenyum senang.
“Lupakan! Aku tidak cemburu!”
“Ah, senangnya aku,”
.
.
.
🌚🌝