My Devils Husband

My Devils Husband
67. Ke dokter.



“Stef, ayo kita ke dokter...,” ajak Max pada istrinya yang saat ini sedang mau bersiap untuk pergi ke kampus.


“Tapi aku setelah ini ada kelas Max,” ucap Stef. Wanita hamil itu duduk di ranjang mereka. David dan Thomas sudah berangkat ke kantor, sedangkan Aira ada di kamar tamu. Dan Justin ikut David dan Thomas ke Alexander Corp.


“Kau izin saja, karena anak kita lebih penting!” ujar Max. Sedangkan Stef hanya mengangguk, walau bagaimanapun ia juga ingin anaknya dalam kondisi yang sehat.


Saat Stef hendak berjalan keluar kamar diikuti oleh Max, ponsel suaminya itu berdering.


“Kau duluan saja,” ujar Max, lantas Stef mengangguk. Dia berjalan ke lantai bawah mansion megah itu.


“Holla?” sapa Max pada orang yang ada diseberang sana.


“(....)”


“Apa?” ucap Max sedikit kaget.


“(....)"


“Baiklah, perketat keamanan, aku dan Stef mau kerumah sakit untuk cek kehamilan Stef,”


“(....)”


“Baiklah!”


Setelah itu Max menutup sambungan telepon tersebut. Dia berjalan menuju lantai bawah untuk menemui Stef.


“Ayo..,” ucap Max pada Stef yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu.


Stef dan Max berjalan menuju garasi mobil.


“Kita pakai supir?” tanya Stef, karena tidak biasanya suaminya ini menggunakan jasa supir untuk mereka. Sedangkan Max hanya mengangguk.


“Kenapa?” tanya Stef lagi.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menjagamu!” perkataan Max itu terlalu ambigu untuk Stef. Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya. Lalu duduk di kursi belakang mobil dengan Max yang juga ikut duduk disampingnya.


Mobil berwarna hitam mengkilap itu mulai melaju meninggalkan garasi. Begitu juga dengan tiga buah mobil yang mengikuti dari belakang.


“Kenapa mereka mengikuti kita Max?” tanya Stef, melirik Max hanya melirik sekilas.


“Sepertinya itu suruhan David, biarkan saja.” ujar Max dengan cuek. Ia tidak ingin membuat Stef khawatir dengan banyaknya pengawalan untuk mereka.


“Ada sesuatu yang kau sembunyikan?” tanya Stef dengan curiga. Dia menatap kembali ke belakang, iring-iringan mobil dengan harga yang Wahh itu banyak menarik perhatian.


“Tidak Stef!” jawab Max, dia memalingkan wajahnya kearah jendela mobil, untuk melihat kondisi jalanan.


“Siapa tadi yang menelponmu?” tanya Stef lagi.


“Aih, sayang. Itu David, kenapa kau jadi banyak bertanya seperti ini sih?” tanya Max. Sedangkan Stef hanya menyebikkan bibirnya kesal.


“Sudahlah!” ujar Stef kesal.


“Aih...,”


“(-.....)”


“Sayang....,”


Krik.. Krikk...


“Sayang...,”


“(--)”


“Aih...,”


“Tadi David yang menelpon sayang, mungkin dia juga yang menyuruh mereka untuk mengawal kita menuju rumah sakit. Kau kan tau, suamimu ini orang yang kaya,” ujar Max dengan sedikit menyombongkan dirinya.


“Jadi pasti banyak yang mengincar keselamatanku, dan juga keselamatanmu. Hanya saja mereka kini belum banyak yang tau kalau kau adalah istriku, jadi aku hanya ingin menjagamu dan juga calon anak kita.” akhirnya max menjelaskan juga alasan kenapa banyak yang mengawal mobil mereka.


“Tapi kenapa aku tidak tau kalau banyak pengawal ada di rumahmu?” tanya Stef lagi.


“Rumah kita! Bukan rumahku, tapi rumah kita, ingat itu!”


“Baiklah, kenapa aku tidak melihat mereka ada dirumah kita?”


“Ya, karena disana ada ruang bawah tanah, dan mereka biasanya istirahat dikamar yang ada disana. Dan mungkin juga kau belum menyelusuri semua ruangan yang ada di mansion kita?”


“Ya ... ya, aku tak punya waktu untuk itu. Mansionmu terlalu besar!”


“Mansion kita!”


“Baiklah-baiklah,😒”


_______


Max keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Stef. Mobil yang tadi mengikuti mereka terparkir didepan rumah sakit, juga di parkiran rumah sakit.


Beberapa orang dokter menunggu mereka di loby, membuat Stef menghembuskan nafas. Dia melihat pada papan nama rumah sakit itu.


“Luciano's Hospital.”


Baiklah, sepertinya suaminya ini mau unjuk kekayaan lagi😒.


“Ayo..,” ajak Max pada istrinya itu. Stef berjalan disamping Max yang memegang pinggangnya posesif.


“Willkommen, Herr Luciano.” sapa kepala rumah sakit, menunduk hormat pada Max.


“Bersikap biasa saja!” ujar Max pada dokter wanita itu.


“Also gut, lass mich liefern.”


“Ayo sayang.” Max mengajak Stef mengikuti kepala dokter muda itu.


Tanpa menunggu lama, ataupun antri Max dan Stef langsung saja masuk kedalam ruangan dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau disingkat 'obgin'. Karena tadi David sudah menginfokan pada pihak rumah sakit jika dia akan datang untuk memeriksakan kehamilan istrinya.


Dokter itu mempersilahkan Max untuk duduk di kursi yang ada didepan mejanya. Sedangkan dia membawa Stef ke sebuah ruangan yang diberi kain pembatas untuk memeriksakan kehamilan Stef. Sedangkan Max yang penasaran, dia ikut masuk kedalam ruangan itu, membuat dokter itu sedikit canggung.


“Saya usia 19 tahun dokter.” ujar Stef. Dokter itu mengangguk. Dia mengoleskan Gel pada bagian bawah perut Stef, dia mengambil sebuah alat, lalu memutarnya di atas perut Stef, hingga Gel itu merata.


Dokter itu menunjukkan Max dan Stef pada layar monitor USG, terlihat disana ada gumpalan kecil yang berdetak, sekecil biji kacang. Max terharu melihat hal itu. Dia tersenyum bahagia.


“Usianya baru sepuluh hari tuan.” ujar Dokter itu. Dia membersihkan perut Stef dengan menggunakan tisyu. Lalu membantu Stef untuk duduk.


“Oh iya, apa Nyonya Stefani mengalami morning sicknes?” tanya Dokter yang bername tag Patricia itu.


“Tidak dokter. Tapi suami saya yang mengalaminya.” ujar Stef melirik pada Max. Dia terkekeh kecil mengingat hal itu. Dengan Max yang selalu mual di pagi hari, tidak suka dengan bau badan David, dan juga suka sekali membuat kedua anak buahnya, David dan Thomas susah dengan permintaannya yang aneh-aneh.


“Waaahh, benarkah?” tanya dokter itu ikut tertawa kecil. “Karena biasanya jarang sekali suami yang mengalami morning sicknes itu Nyonya, berarti Tuan Max salah satu suami yang beruntung untuk merasakan ngidam.” ujar dokter Patricia dengan tersenyum.


“Beruntung apanya Dokter. Aku jadi tersiksa karena harus merasakan mual setiap hari!” ujar Max mengerutkan bibirnya cemberut membuat Stef gemas.


“Tapi itu karena anak anda tuan.” ujar Dokter Patricia membuat Max diam. Baiklah, karena anaknya yang masih dalam perut Stef, dan Max tidak masalah untuk hal itu.


Stef dan Max duduk didepan meja kerja dokter itu.


“Apa bayi kami sehat dokter?” tanya Stef. Dokter cantik itu mengangguk.


“Iya Nyonya. Janin kalian sangat sehat. Tapi...,”


“Tapi apa dokter?” tanya Max cepat. Dia khawatir ada sesuatu yang terjadi pada istri dan anaknya.


“Saya khawatir, karena usia Nyonya Stef masih sangat muda. Karena hamil di usia 19 tahun itu, sedikit rentan Nyonya, Tuan.” ujar Patricia menjelaskan dengan tenang. Dia melirik pada Max yang tegang mendengar hal itu.


“Maksud anda?”


“Iya, karena kehamilan Nyonya Stef rentan untuk mengalami resiko Abortus, atau bisa juga disebut dengan resiko keguguran,” ujar Dokter Patricia menjelaskan.


“Bisa juga mengalami resiko Hipertensi, ada juga bayi yang lahir prematur dengan berat badan rendah, juga bisa menimbulkan resiko kematian Nyonya, Tuan.” Patricia menjelaskan semuanya. Dia tidak ingin menyampaikan itu kemudian hari, karena Max dan Stef harus diberitahu lebih awal, agar bisa menjaga kehamilan ini dengan baik.


“Tapi semua itu hanya resiko kan dokter? Karena aku akan menjaga Stef dengan sangat baik, juga menjaga pola makan Stef, dan mengajak istriku ini untuk senam ibu hamil.” ujar Max dengan cemas. Dia melirik pada Stef yang tersenyum hangat padanya. Bisa-bisanya istrinya ini tidak cemas sama sekali, membuat Max ikut tersenyum.


“Itu harus tuan. Karena ini sangat berpengaruh untuk ibu dan bayi. Oh iya, Tuan juga tidak boleh untuk melakukan hubungan badan dengan Nyonya Stef untuk beberapa bulan ke depan.” ujar Patricia dengan sedikit menekuk kepalanya.


“Apa?” ujar Max cepat.


“Iya tuan, karena kehamilan di trimester pertama ini sangat rentan. Jadi lebih baik untuk tidak melakukan hubungan terlebih dahulu.” ujar Patricia meyakinkan.


“Berapa lama?” ucap Max lemah. Sedangkan Stef sedang berusaha menahan tawanya melihat ekspresi pasrah Max yang seperti itu.


“Tiga bulan Tuan.”


“APAAAA...?”


________


“Aku tau Stef, dia pasti bohong. Tidak mungkin aku harus berpuasa selama tiga bulan.” ujar Max yang terus saja mengoceh didalam mobil membuat Stef kesal.


“Heh! Tidak mungkin dokter Patricia berbohong Max.” ujar Stef kesal. Karena sejak keluar dari rumah sakit tadi, dia tidak berhenti mengoceh karena tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu.


“Tapi kenapa harus selama itu Stef?” ujar Max lemah. Sedangkan Stef hanya mengangkat bahunya.


“Maaf Tuan, tapi biasanya memang seperti itu!” ucap Sopirnya, yang ikut mengiyakan apa kata dokter tadi. Karena dia gemas sendiri dengan Bos-nya yang sedari tadi terus saja merengek akan hal 'Itu'.


“Hee? Kau dulu juga seperti itu?” tanya Max. Sopir itu mengangguk, membuat Max menghela nafas pasrah. Baiklah, demi istri dan juga anakku, batin Max.


Mobil yang mereka tumpangi, masuk kedalam gerbang mansion megah itu. Stef dan juga Max turun dari dalam mobil.


“Kau harus hati-hati sayang,” ujar Max yang memegang pinggang Max. Mereka menaiki beberapa undakan tangga lalu memasuki pintu utama, dengan kepala pelayan dan juga beberapa pelayan lainnya menyambut kedatangan mereka.


“Oh iya Max, apa kau sudah memberitahu orang tua kita?” tanya Stef. Sedangkan Max menggeleng.


“Astaga!” decak Stef kesal.


“Baiklah, aku akan menghubungi Papi dan Momy dulu.” ujar Max. Stef mengangguk. Lalu perempuan itu duduk disofa yang ada disana. Sedangkan para pelayan sudah kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.


“Hallo...,” ujar Max.


“Hei, dasar kau..! Anak kurang ajar!” Max langsung menjauhkan ponsel yang dia pegang dari telinganya.


“Kenapa Momy?” tanya Max dengan santainya.


“Kau ... Kau benar-benar kurang ajar. Bahkan menantuku hamil, kau tidak langsung memberitahu aku!” ujar Masseria dengan berapi-api.


“Hee? Siapa yang memberitahu Momy?” tanya Max.


“Tentu saja Justin. Siapa lagi!” ujar Masseria yang masih kesal pada anaknya itu.


“Aih, dasar laki-laki itu!” gerutu Max.


“Sudah, matikan teleponnya. Momy mau Cek in!” ucap Masseria.


“Eh? Momy mau kesini?” tanya Max.


“Tentu saja Bodoh. Astaga, aku harus menemani menantuku, aku tidak yakin kau bisa menjaganya dengan baik!” ucap Masseria. Sedangkan Max hanya menghela nafas. Dia senang Momy nya mau kesini, karena masalah yang beberapa hari belakangan ini membuatnya sedikit sibuk, dan juga dia sedikit cemas memikirkan apa yang dikatakan oleh dokter Patricia tadi.


“Baiklah-baiklah, terserah Momy saja!” ujar Max akhirnya. Dia mematikan sambungan telepon tersebut.


.


.


.


.


_____


Naninaninunina...🎶🎶🎶🎶🎶


Lalalalalalaala...🎶🎶🎶🎶🎶


Author udah up Rajin loh, Readers ga mau gitu buat kasih Vote nya😌Hehe.