My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Quality time



Alooo gaess, sekarang kita ke Arthur Stella ya. Soalnya si pemanis kisah sudah punya buku sendiri. Wkwkwk, walaupun review nya bikin kesel, karena udah dua hari gak lolos lolos, dah lah, jangan bilang aku gak up, ya. Aku udah up, tapi emang dari sononya belum di review 😴


...***...


...****...


...*****...


Arthur dan juga Stella berjalan menuju kamar mereka. Ya, Arthur butuh mandi sekarang. Tubuhnya lelah, dan gerah. Stella menyiapkan semua keperluan Arthur. Seperti baju, celana, bahkan pakaian dalamnya. Setelah itu dia menunggu di atas tempat tidur. Membuka ponsel, melihat Google. Bagaimana caranya supaya suami tidak selingkuh.


“Baiklah, aku hanya harus tampak semakin cantik, seksi, wangi, dan melayaninya dengan baik.” Stella manggut-manggut sendiri. Arthur keluar dari kamar mandi, wanita itu cepat-cepat meletakkan ponselnya dan memberikan baju yang sudah dia siapkan pada suaminya itu.


“Suamiku, ini bajumu. Istrimu ini sudah menyiapkannya.” kening Arthur berkerut lagi. Ada apa dengan Nyonya nya ini, kenapa sikapnya berbeda seperti ini. Arthur hanya mengedikkan bahu acuh. Well, bukankah ini baik?


Arthur segera memakai pakaian yang di siapkan oleh Stella. Setelah itu dia duduk di samping istrinya yang sedang selonjoran di atas tempat tidur.


“Ada apa?” tanya Arthur. Stella mengernyit bingung. “Apanya?” tanya wanita itu.


“Ada apa? Apa yang terjadi, kenapa kau bersikap seperti ini?” Stella tersenyum malu-malu. Dia melirik Arthur dengan senyuman lebarnya. “Apa aku tidak boleh bersikap seperti itu pada suamiku sendiri?” tanyanya. Arthur menghela napas. Pasti ada sesuatu yang membuat ibu hamil ini menjadi seperti itu.


“Sayang.” Arthur menatap Stella dalam, tangan wanita itu ia genggam. “Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakan padaku. Jangan hanya memendamnya sendirian. Kau harus ingat, kita ini adalah pasangan suami-istri, dan setiap suami-istri itu, harus sama-sama berbagi. Baik itu kebahagiaan, masalah, ataupun duka. Sekarang, ayo katakan padaku, apa yang mengganggumu?!”


Stella tertunduk dalam. Dia tersentuh dengan kalimat suaminya barusan. Haruskah dia mencurigai suaminya ini selingkuh? Rasanya tidak mungkin Arthur berbuat seperti itu. Tapi, hormon kehamilannya membuat Stella merasa tidak percaya diri.


“Arthur, aku tidak percaya diri. Aku ... Aku takut kalau nanti kau selingkuh, karena badanku sudah bengkak seperti ini.” Stella menggigit bibir bawahnya, menunggu reaksi yang diberikan Arthur. Laki-laki itu hanya terdiam, membuat Stella semakin tegang. Apakah dia marah? Pikir wanita itu.


Stella mencoba untuk mengangkat wajahnya, melirik Arthur yang tidak menunjukkan reaksi apapun. “A—aku tau aku salah karena sudah mencurigaimu. Maafkan aku,” wanita itu menundukkan kepalanya lagi.


Stella merasakan tangan Arthur membelai rambutnya, sangat lembut dan juga penuh kasih sayang. Wanita itu mendongak menatap Arthur yang sedang tersenyum tipis.


“Apa yang kau pikirkan, Sayang? Bahkan, terbersit sedikitpun tidak ada pikiran tentang itu dalam kepalaku. Kenapa kau jadi berpikiran seperti itu?” Arthur terkekeh kecil. Dia memaklumi pemikiran seperti ini. Istrinya itu sedang tidak percaya diri dengan tubuhnya yang sedang seperti ini. Pasti wanita itu berpikir, kalau dia akan tambah jelek karena semakin gemuk. Tapi percayalah satu hal, wanita itu akan tampak semakin cantik dan juga seksi saat mengandung. Dan Arthur mempercayai itu, karena istrinya demikian.


“Kau harus ingat ini. Aku tidak pernah memiliki niat seperti itu. Dan juga, ketahuilah, saat ini menurutku kau itu sangat seksi, Sayang. Kau mengalami kenaikan berat badan itu wajar, karena kau sedang mengandung anakku. Aku tidak akan sejahat itu untuk selingkuh di belakangmu saat kau sedang mengandung anakku seperti ini. Jangan memikirkan hal ini lagi, kau membuat anak kita meragukanku. Dia tidak tahu saja, bagaimana perjuanganku ini untuk membuat ibunya jatuh cinta padaku.”


Stella tertawa mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Arthur. Dia memukul lengan laki-laki itu, Arthur ikut tertawa kecil. Setelah itu, Stella diam, menatap suaminya dengan sangat dalam. Lalu dia memeluk laki-laki luar biasa tersebut.


“Terimakasi, Sayang. Terimakasih karena sudah mencintai aku seperti ini. Maaf kalau aku sempat meragukanmu, tapi sungguh aku takut dengan hal itu.” Arthur balas memeluk Stella. Laki-laki itu mengusap punggung istrinya. Ya, Stella hanya butuh keyakinan, dan juga pembuktian. Tapi percayalah, Arthur tidak akan melakukan hal menjijikkan itu, menduakan istrinya yang sedang hamil seperti ini, hanya laki-laki bodoh dan juga tidak tahu diri yang menyelingkuhi istrinya saat mengandung anaknya.


“Yakinilah satu hal ini dalam hatimu. Bahwa aku, Arthur, suamimu ini sangatlah mencintai Stella, istrinya.” Stella terkekeh pelan. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada dada bidang itu, kehangatan yang selalu membuatnya nyaman, adalah berada didalam dekapan laki-laki yang menjadi suaminya ini.


“Ya sudah, ayo, sekarang kita makan malam. Aku sudah lapar!” Stella mengangguk. Dia dan Arthur keluar dari kamar. Nemi yang memang sudah menyiapkan makan malam untuk kedua majikannya itu segera menghidangkannya di atas meja makan. Kedua orang itu segera duduk di atas kursi.


“Nemi, kau sudah makan?” tanya Stella. Wanita itu mengangguk. “Sudah Nyonya.” ujarnya. Stella ber oh ria.


“Kalau kau masih lapar, sini kita makan bersama!” Nemi langsung menggeleng. “Tidak Nyonya, terimakasih. Saya tidak lapar, hehe, saya tadi makan cukup banyak.” ujar wanita itu terkekeh kecil. Stella ikut terkekeh, begitupun Arthur.


“Baiklah,” ujar Stella.


Mereka berdua makan malam dengan damai. Stella menghabiskan makanannya, Arthur hanya tersenyum tipis melihat cara makan wanita itu. Hemm, dia lebih suka Stella yang seperti ini daripada Stella yang tidak bisa makan waktu trisemester pertama kehamilannya.


“Kenapa memperhatikan aku seperti itu?” tanya Stella yang menyadari kalau sedari tadi suaminya memperhatikan dirinya. Apa dia makan terlalu banyak? Tapi, kan Arthur sendiri yang menyuruhnya untuk makan banyak.


“Kau semakin cantik, bahkan disaat makan pun kau terlihat sangat cantik." pipi yang sudah tembem itu tersenyum malu-malu. Stella memukul lengan suaminya itu, dan mendelik kesal. Bukan! Bukan kesal, hanya malu saja.


“Aku bicara jujur!” ujar Arthur. Laki-laki itu tertawa melihat wajah istrinya yang memerah karena ucapannya.


“Aku tidak percaya!” ujar Stella ketus. Dia meminum susu yang sudah di buatkan oleh Nemi. Keduanya sudah selesai makan, Nemi kembali membereskan semua yang ada di atas meja makan itu, agar dirinya bisa segera istirahat.


“Kau mau nonton?” tanya Arthur, saat melihat Stella yang sudah duduk di sofa ruang keluarga. Di depan televisi besar yang tipis itu.


“Hemm ....” ujar Stella berdehem singkat. Dia menyalakan televisi tersebut, Arthur duduk di samping Stella memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh istrinya tersebut.


Banyak channel TV yang di otak-atik oleh ibu hamil itu, tapi tidak ada satupun yang menarik di hatinya, hingga akhirnya wanita itu mendesah pasrah. Arthur hanya diam memperhatikan.


“Tidak ada yang bagus!” ujar Stella. Stella meletakkan kembali remote itu di atas meja kaca di depan sofa, bersidekap dada karena kesal. Arthur mengambil kembali remote yang ada di atas meja itu dan memilih untuk menonton salah satu saluran televisi yang menayangkan film action.


“Arthur, coba yang lain!” rengek Stella saat melihat pilihan film yang di pilih suaminya itu. Arthur menghela napas. Laki-laki itu menggeleng. “Perhatikan saja ini, Stella. Nanti kau pasti akan suka juga! Bukannya kau selalu suka dengan film action?” ujar laki-laki itu. Stella hanya bisa mendesah pasrah.


Ibu hamil itu merebahkan kepalanya di atas paha sang suami. Melirik televisi yang sedang berkicau itu. Orang-orang berkelahi di sana membuat Stella bergidik ngeri, padahal biasanya dia sangat suka dengan adegan perkelahian, tapi entah kenapa, sekarang dia tidak suka dan cenderung takut. Wanita itu lebih memilih untuk memainkan ujung baju kaos yang digunakan oleh suaminya.


“Jangan bergerak-gerak, Stella!” ujar Arthur yang merasa sedikit terganggu, tapi matanya masih terlihat fokus pada film yang sedang di tontonnya, mencoba untuk mengabaikan Stella.


Sebenarnya bukan Arthur yang terganggu, tapi adik kecilnya yang merasa tidak suka saat Stella memainkan ujung bajunya.


“Tapi aku bosan!” ujar Stella mengerucutkan bibir. Arthur mendesah pasrah. Dia mengalihkan tatapan matanya ke bawah, melihat istrinya yang sedang cemberut itu. “Kau mau jalan-jalan keliling komplek apartemen ini?” tanya laki-laki itu akhirnya. Stella kemudian cepat-cepat bangkit, duduk dengan benar dan melirik jam. Hemm, sudah pukul sembilan malam. Apa ini tidak apa-apa?


“Tapi ini sudah cukup malam?!” ujar Stella yang merasa tidak rela saat mengatakannya. Dia sangat ingin pergi keluar malam ini, bisa menghirup udara malam dengan bebas.


Arthur tersenyum. “Satu jam tidak apa-apa. Ayo!” Stella mengangguk antusias. Dia bangkit dan berjalan menuju kamarnya, mengambil jaket, dan juga mengganti pakaian. Yang lebih penting, mengganti celananya dengan celana panjang, agar kakinya tidak kedinginan.


Arthur mematikan televisi, dia mengikuti Stella berjalan ke kamar, mengambil jaket cople yang pernah dibelikan orang sang istri.


“Ayo!” ujar Stella dengan semangat. Arthur mengangguk. Kedua orang itu akhirnya keluar dari apartemen. Untuk mencari angin segar di luar. Hemm, ibu hamil memang perlu angin segar supaya tidak stres saat menjalani masa kehamilannya.


Arthur menggenggam tangan sang istri saat berjalan keluar dari dalam lift. Stella menatap jemarinya yang di genggam oleh sang suami. Terasa hangat dan juga mendebarkan. Dia seperti merasa sedang pergi berpacaran dengan kekasihnya. Bergandengan tangan di malam yang penuh bintang. Andai saja dia tidak sedang hamil sekarang, pasti ia akan mengajak Arthur untuk pergi makan es krim saja. Hemm, Arthur tidak memperbolehkan Stella untuk makan es krim di malam hari.


Kedua orang itu berjalan kaki. Cahaya lampu yang terang benderang di sekitar komplek mewah itu membuat Stella benar-benar senang. Pikirannya terasa fresh kembali. Ya, sesederhana ini untuk membuat perempuan seperti Stella bahagia. Saat suaminya meluangkan waktu untuk jalan-jalan bersama dengannya. Tidak perlu barang mewah, tidak perlu jalan-jalan ke luar negeri, cukup dengan bergandeng tangan saja, itu sudah membuatnya sangat bahagia.


“Apa kau ingin sesuatu?” tanya Arthur menoleh pada sang istri. Kini mereka sedang berada di depan sebuah supermarket besar yang ada di kawasan komplek tersebut. Stella mencoba untuk memikirkan apa saja yang diinginkannya saat ini. Dan, ya, yang dia inginkan sangat banyak.


‘Hehe, kalau aku menghabiskan uangnya untuk jajan, dia tidak akan marah padaku, kan?’ batin ibu hamil yang sedang tersenyum licik itu. Stella langsung mengangguk. Dia dan Arthur segera masuk kedalam supermarket itu. Arthur mengambil keranjang belanjaan, dia sudah menebak isi kepala istrinya itu tadi, saat dia melihat senyuman licik tersebut.


Stella mengambil semua makanan yang dia inginkan. Semua camilan asin dan juga yogurt. Keranjang yang dipegang Arthur bahkan sudah penuh. Laki-laki itu berjalan menuju kasir, dan meletakkan keranjang itu di sana. Lalu dia mengambil keranjang yang baru untuk menampung semua makanan yang masih diinginkan oleh sang istri.


Kasir supermarket itu hanya bisa menggeleng saat Arthur meletakkan keranjang kedua di depannya, dan membawa keranjang satu lagi menuju istrinya.


“Sudah?” tanya Arthur pada Stella yang sudah tampak sedikit lelah itu. Wanita itu mengangguk, dengan senyuman lebar.


"Ayo!" ujar Stella. Arthur menurut. Mereka berdua berjalan menuju meja kasir. Stella membelalakkan matanya saat melihat dua kantong plastik besar di atas meja, dan masih ada satu keranjang di tangan suaminya.


“Aku belanja sebanyak ini?” tanya Stella tidak percaya. Kasir itu mengangguk, begitupula dengan Arthur. Ibu hamil itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Ya sudah. Ayo bayar suamiku! Uangmu banyak, kan?” Arthur lagi-lagi terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang berada di luar nalarnya itu. Dia meletakkan keranjang ketiga di atas meja kasir. Kasir wanita itu mulai menghitung semua belanjaan kedua orang tersebut. Arthur mengeluarkan kartu kreditnya, dan segera di proses oleh sang kasir.


“Apa kalian bisa mengantarkannya ke alamatku?” tanya Arthur. Wanita kasir itu mengangguk. Dia menerima alamat yang di tuliskan oleh Arthur.


“Terimakasih, kami pergi dulu!” Arthur dan Stella beranjak pergi dari sana.


“Masih ada lagi yang kau inginkan, Sayang?” tanya Arthur lembut.


“Untuk saat ini, tidak!” ujar Stella tertawa kecil. Jemarinya di genggam oleh sang suami.


“Sudah lelah?” tanya Arthur saat Stella berhenti untuk duduk di atas bangku yang ada di sekitar jalanan itu. Stella mengangguk.


“Ayo kembali pulang!” Stella memegang tangan Arthur lagi. Mereka berdua segera berjalan pergi dari sana.


***


Stella dan Arthur masuk kedalam apartemen. Di ruang keluarga, tampak Nemi sedang mengemas semua belanjaan yang sudah di kirim pihak supermarket.


“Nyonya belanja untuk tiga bulan?” tanya wanita itu, Arthur tertawa mendengar perkataan asisten rumah tangganya itu, sedangkan Stella mendelik sinis.


“Cih, awas saja kalau nanti kau minta, ya!” ujar Stella ketus. Sedangkan Nemi tertawa takut-takut. “Saya tau, Nyonya bukan orang yang pelit!” ujar Nemi tertawa canggung, sedangkan Stella mendengus.


“Saya simpan ini di dapur dulu, Nya.” Stella mengangguk. Nemi segera berlalu dari sana.


“Sudah lelah? Mau istirahat sekarang?” tanya Arthur. Stella mengiyakan. Kedua pasangan suami-istri itu berjalan meninggalkan ruang keluarga, dan juga Nemi yang istirahatnya terganggu karena kedatangan kurir yang mengantarkan belanjaan Stella.


Stella berbaring di atas tempat tidur. Pakaiannya sudah berganti lagi dengan baju tidur. Dia sedang menunggu Arthur yang berada didalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukan suaminya itu, Stella tidak tahu.


Stella memainkan ponselnya. Melihat banyaknya variasi baju-baju bayi yang ada di situs belanja online. Wanita itu berbinar melihat baju-baju yang lucu itu. Tanpa di sadari oleh Stella, suaminya sudah keluar dari kamar mandi. Arthur melirik Stella yang tampak tersenyum-senyum sendiri melihat ponsel tersebut. Keningnya mengernyit.


Arthur mendekat, dia menundukkan kepalanya untuk melihat isi ponsel yang sedang di pegang sang istri. Stella tampak sedikit terkejut, tapi langsung berubah ekspresi.


“Apa? Aku hanya melihat-lihat baju bayi!” ujar wanita itu, seakan tau kalau Arthur sedang penasaran dengan apa yang sedang dilihatnya. Laki-laki itu mengangguk.


Arthur merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, di samping sang istri. Stella yang sedang melirik ponsel itu, menatap Arthur yang sedang memeluk perutnya, senyuman terkembang dari kedua sudut bibir wanita itu.


“Aku selalu merasa tenang saat mendengar detak jantungnya!” ujar Arthur terkekeh. Stella ikut terkekeh. Wanita itu segera menyimpan ponselnya di atas nakas, dan membalas pelukan sang suami.


“Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?” tanya Stella. Arthur mengangguk pasti. Laki-laki itu mencium kening Stella dengan sangat lembut. Sedangkan wanita itu memejamkan matanya menikmati ciuman sang suami.


“Siapa namanya?” tanya Stella. Arthur menggeleng. “Nanti saja saat dia lahir aku beritahu!” Stella cemberut mendengar perkataan suaminya itu. Arthur terkekeh gemas.


“Apa kau menyukai baju-baju bayi yang kau lihat tadi?” tanya Arthur. Stella mengangguk.


“Kita tunggu satu bulan lagi untuk membelinya. Oke?!” lagi-lagi Stella mengangguk saja. Kedua orang yang masih belum memejamkan mata itu, terdiam dengan pikiran masing-masing.


“Sayang ....” Stella memainkan jarinya di atas dada bidang sang suami.


“Hemm?” jawab Arthur. Dia menunduk, menangkap tangan jahil istrinya itu. “Ada apa?” tanyanya. Stella menggigit bibir bawahnya.


“Apa di kantor, kau baik-baik saja?” Arthur mengerutkan kening. “Maksudmu?” tanyanya.


“Apa di kantor, kau tidak menggoda wanita lain?” Arthur tertawa kecil. Sedangkan Stella langsung memukul dada bidang suaminya itu.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya wanita hamil itu. Arthur tersenyum lembut.


“Sayang. Sudah berapa kali aku bilang, kalau aku tidak tertarik dengan wanita manapun, kecuali kau! Kau pasti tau, kalau aku ini tipe laki-laki yang setia. Dan, aku juga bekerja dengan laki-laki seperti tuan Matt. Yang setia pada istrinya. Mana mungkin aku melakukan apa yang ada di dalam pikiranmu itu!” Arthur mencubit hidung istrinya itu dengan gemas. Stella menepuk tangan kekar itu supaya melepaskan cubitannya. Bahkan hidung Stella jadi sedikit memerah.


“Itu hukuman, karena kau sudah berpikiran macam-macam tentang aku!” ujar Arthur. Stella tersenyum malu. “Maafkan aku!” ujarnya.


“Baiklah, ayo sekarang kita tidur. Kau butuh banyak istirahat, supaya bayi kita juga istirahat, tidak memikirkan tentang Papi nya yang selingkuh lagi!” Stella tertawa kecil. Dia mengeratkan pelukannya di dada bidang Arthur. Hemm, tempat ternyaman baginya setelah menikah. Ya, di dalam pelukan sang suami.


Tapi, mata ibu hamil itu tidak kunjung terpejam. Pikirannya menari-nari di atas kepalanya. Stella memainkan jarinya di atas dada bidang Arthur yang sedang mendekap tubuhnya itu.


“Tidurlah, Sayang. Aku tau kau lelah!” ujar Arthur dengan suara serak. Tangan Stella yang menari-nari di atas tubuhnya, membuat sesuatu yang lain yang ada di dalam diri Arthur bangun. Laki-laki itu mendesah berat.


“Sayang ... ayo istirahat!” ujar Arthur lagi.


“Tapi aku masih belum mengantuk!” cicit Stella dengan suara kecil. Arthur membuka matanya yang semula terpejam. Ia melihat Stella yang sedang dalam dekapannya.


“Ini sudah hampir jam sebelas, Sayang!” ya, ini halo pukul sebelas malam. Angka itu yang di tunjuk oleh jarum jam yang ada di dinding kamar besar itu.


“Aku mau minta itu, boleh?” Stella mengigit bibir bawahnya saat mengatakan 'itu'. Arthur mengernyit bingung, tapi saat melihat wajah sang istri yang memerah malu, laki-laki itu segera paham dengan 'itu' yang di maksud sang istri.


“Kau yakin? Kita baru melakukannya tadi siang. Apa tidak akan apa-apa dengan bayinya?” ujar Arthur. Stella segera menggeleng. “Kalau kau pelan-pelan pasti tidak akan apa-apa!”. ujarnya takut-takut. Arthur tertawa gemas.


“Tapi kau tau aku, kan? Aku kalau sudah memulai, maka aku sangat tidak suka untuk berhenti!” Stella mengangguk cepat. Pipinya masih memerah, Semerah buah persik yang indah.


“Ini kau yang meminta, ya! Bukan aku!” duh, rasanya Arthur sangat suka menggoda wanita judes ini. Tampangnya terlihat semakin menggemaskan saat malu-malu seperti sekarang ini.


Arthur segera bangkit, dia menopang tubuhnya dengan tangan kanan agar tidak menghimpit Stella yang berada di bawahnya. Laki-laki itu tersenyum lembut, di matanya tampak banyak sekali cinta. Memandang Stella dengan penuh kasih sayang.


Perlahan bibir laki-laki itu mendekat pada bibir tipis Stella, semakin mendekat hingga akhirnya saling menempel. Awalnya hanya menempel, tapi kini sudah saling mengecup dan menyesap rasa manis dari masing-masing bibir yang sedang di nikmati.


“Masih selalu manis!” ujar Arthur saat dia melepaskan ciuman itu. Stella tersenyum lagi. “Kita akan main cukup lama kali ini. Siap-siaplah, Sayang!”


***


skiiipppppp ... aku ga tau, reader di sini usia berapa, aku takut dosa, wkwk, walaupun dulu sering khilaf sih


😆btw aku masi muda loh, Tante😳 baru bikin KTP kemarin—kemarin lagi. pokoknya😆