
Matahari yang menyilaukan mata, akhirnya berhasil membangunkan kedua pasang pengantin baru yang sedang tertidur tanpa mengenakan sehelai benang itu. Stella yang terbangun lebih dulu, dia menggeliat hingga tubuhnya bersentuhan dengan kulit Arthur yang hangat. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya merona kala dia ingat kegiatan mereka semalam.
“Arthur ....” Stella berbalik menghadap suaminya. Dia perhatikan wajah tampan itu. Bulu-bulu halus yang ada di sekitar rahangnya, membuat suaminya itu terlihat semakin tampan.
“Arthur ....” Stella kembali membangunkan Arthur, tapi laki-laki ini tidak juga bergerak membuatnya mendengus kesal.
Karena sang suami tidak mau bangun juga, akhirnya dia bangun sendiri. Kemudian berjalan dengan sedikit tertatih menuju kamar mandi. Sebelum itu, Stella mengambil handuk terlebih dahulu.
Cukup lama Stella di kamar mandi. Berendam dalam bathtub yang terisi air hangat, di beri sabun yang beraroma aromaterapi. Membuat badannya yang semula terasa remuk itu, menjadi lebih segar. Stella kemudian keluar dari dalam bathtub, dan memakai handuknya. Dia juga mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang ada di sana. Menatap pada cermin besar yang memperlihatkan tubuhnya yang penuh dengan tanda merah.
“Dasar laki-laki itu!” dengus Stella merasa kesal sendiri. Setelah rambutnya kering, Stella keluar dari dalam kamar mandi, melihat suaminya itu masih tertidur.
“Huh, untung sekarang sedang cuti, jadi dia bisa bermalas-malasan seperti itu!” Stella kemudian berjalan menuju ruang ganti. Melihat isi lemari suaminya. Kemeja besar banyak yang tergantung di sana. Stella mengambil sebuah kemeja berwarna hitam besar, lalu memakainya.
Kemeja yang hampir menyentuh lututnya itu Stella bawa keluar. Dengan rambut yang sudah diikat ekor kuda seperti biasanya, Stella berjalan dengan cukup santai, menahan geli pada tubuhnya.
Stella langsung keluar dari dalam kamar, dia menuju ke dapur. Untuk memasak sarapan. Dia membuka isi kulkas. Untungnya ada cukup banyak bahan makanan di sana.
Saat sedang fokus memasak sarapannya, Stella terkejut dengan dua tangan yang melingkar di tubuhnya. Wanita itu kemudian menoleh dan ... Cup....
“Morning kiss, Honey.” walaupun dia mendengus, tapi Stella tetap mengulum senyumannya.
“Kau sudah mandi?” tanya Stella mengalihkan. Arthur kemudian menggeleng.
“Mandi dulu, kemudian sarapan. Kita akan ke rumah sakit, kan, setelah ini?” dalam pelukannya, Arthur mengangguk. Kemudian dia melepaskan kedua tangannya yang memeluk Stella, dan berjalan kembali menuju kamar.
...****...
“Ada apa?” Arthur mendongak menatap Stella saat mendengar pertanyaan istrinya itu.
“Tuan Thomas menyuruh kita ke mansion, untuk mengambilkannya pakaian ganti.” Stella mengangguk saja. Dia melanjutkan makannya. Begitupula dengan Arthur.
“Sayang ... Apa kau ingin pergi bulan madu?” Stella mengangkat wajahnya lalu menatap Arthur heran.
“Memang boleh?” tanyanya. Arthur tertawa mendengar perkataan istrinya itu.
“Kenapa tidak, Sayang. Aku ini tidak miskin, jadi kau tidak perlu khawatir. Uangku masih banyak untuk kau habiskan saat berbelanja dan bulan madu!” Stella kesal sendiri mendengar perkataan suaminya itu.
“Kalau kau punya banyak uang, kenapa tidak memberiku baju?” dengus Stella yang membuat Arthur tertawa.
“Orangku akan mengantarkannya kesini sebentar lagi, Sayang.” ujar Arthur. “Jadi, bagaimana? Kau mau pergi?” sambungnya bertanya lagi.
“Kita itu sama-sama bekerja, Arthur!” ujar Stella menekankan perkataannya.
“Lalu?”
“Aih, kau ini,”
“Aku bisa meminta izin pada Tuan Max ataupun Tuan Thomas, Sayang. Kau tidak perlu risau kan itu, yang aku tanya, kau mau atau tidak?” Stella mengerutkan keningnya. Arthur menghela napas melihat tingkah istrinya itu.
“Oke, fiks. Kita pergi bulan madu. Kau tentukan saja mau pergi kemana?!” Stella hanya mendengus kesal. Kalau sudah fiks seperti itu, lalu kenapa masih menanyakan padanya. Dasar.
“Aku akan memikirkannya nanti!” Arthur hanya mengangguk saja. Mereka melanjutkan memakan sarapan.
Saat sedang makan, pintu bel apartemen Arthur berbunyi.
“Aku akan membukanya!” ujar Stella sambil berdiri, yang membuat Arthur langsung melotot padanya.
“No! Kau tetap disini. Kau mau orang itu melihat kau yang seksi seperti ini? Tidak boleh, hanya aku yang boleh!” Stella menurut saja mendengar perkataan Arthur. Dia kembali duduk, sedangkan Arthur segera ke depan untuk membukakan pintu apartemen.
“Ini pesanannya, Tuan.” Arthur mengangguk. Lalu mengucapkan kata terimakasih. Kemudian orang itu langsung pergi dari hadapannya.
Arthur kembali berjalan menuju ruang makan. Lalu menyerahkan paper bag yang ada di tangannya pada sang istri.
“Kau bisa ganti baju sekarang, Sayang.” ujar Arthur genit. “Atau kau mau seperti ini saja?” tanyanya sambil tersenyum mesum.
“Mimpi!” ujar Stella ketus.
Memang, ya. Kedua pasangan ini tidak ada manis-manisnya.
“Aku juga akan menelpon ayah dulu!” ujar Stella. Arthur mengangguk saja. Stella sudah menghabiskan sarapannya, begitupun dengan Arthur. Stella langsung mengambil piring kotor bekasnya dan juga Arthur lalu membawanya ke wastafel di dapur.
Stella kembali ke kamar, mengganti bajunya lebih dulu, setelah itu dia menelpon ayahnya.
...****...
Stella dan juga Arthur sudah sampai di mansion keluarga Alexander. Mereka kemudian masuk, dan di sambut oleh Martin.
“Apa kau bisa mengambilkan pakaian tuan Thomas?” tanya Arthur.
“Saya sudah menyiapkannya, Tuan.” Arthur hanya mengangguk. Keduanya mengikuti Martin untuk mengambil tas yang sudah di siapkan itu.
“Arthur, Stella?” baik Arthur maupun Stella langsung menoleh pada asal suara. Matt dan Ana berdiri di atas tangga.
“Selamat pagi, Tuan, Nona.” ujar Arthur dan Stella sopan.
“Pagi apanya? Ini sudah siang!” ujar Matt mendengus. Arthur terkekeh mendengar perkataan atasannya itu.
“Lalu, kalau ini sudah siang, kenapa kalian baru turun?” ujar Stella. Dia tidak menyadari raut wajah Ana yang berubah memerah mendengar pertanyaannya. Sedangkan Arthur hanya menggeleng saja.
“Apa?” tanya Stella bingung.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, Sayang?” tanya Arthur yang membuat Stella mengatupkan bibirnya. Dia paham dengan maksud Thomas. Karena dia juga sudah merasakannya semalam.
“Hehe, aku lupa.”
“Apa kalian sudah sarapan?” tanya Matt. Arthur dan Stella mengangguk.
“Lalu kenapa kalian kemari? Bukannya kalian cuti?’ tanya Boss besar lagi.
“Tuan Thomas menyuruh kami untuk mengantarkan pakaiannya ke rumah sakit.” Matt mengangguk mengerti.
“Kau tunggu sebentar. Kita sama-sama ke sana. Aku dan Ana mau sarapan dulu!” tidak ada yang bisa dilakukan oleh Arthur dan Stella selain mengangguk. Menurut pada titah boss besar.
Matt dan Ana berjalan menuju ruang makan. Sarapan mereka ternyata sudah tersedia di sana.
...****...
...****...
...****...
Zello dan Aletta pergi ke rumah sakit bersama sopir yang kemarin mengantar Zello. Sedangkan Ana dan Matt belum pergi, karena ada sesuatu yang mendesak yang diinginkan oleh ibu hamil itu. Thomas juga sudah mempercayakan Aletta pada Zello, tapi tetap saja, pengawal keluarga Alexander mengawal mobil Range Rover tersebut menuju rumah sakit. Sungguh, Thomas tidak ingin kecolongan lagi.
Celotehan-celotehan Aletta mengisi keheningan selama di dalam perjalanan. Dia bertanya, seperti ....
“Apa adikku sudah bisa bicara denganku, nanti?”
“Apa dia mau bermain denganku?”
“Apa giginya rapi seperti aku?”
“Apa dia akan mirip denganku?”
“Lalu, apa kita bisa mengajaknya ikut menemanimu berpacaran?”
Zello hanya menghela napas mendengar pertanyaan-pertanyaan pintar tersebut. Dia tersenyum lembut.
“Kau mau diam, atau aku cium?!” ujarnya dengan nada setenang air. Seringai di kedua sudut bibirnya tidak menghilang.
Aletta membekap mulutnya yang sedari tadi mengoceh. Zello semakin tersenyum menyeringai melihat reaksi gadis kecil itu. Tampak semakin imut dan juga semakin menggemaskan. Siapapun tidak akan tahan kalau lama-lama tidak mencubit pipi tembemnya itu.
“Kenapa kau mau menciumiku? Hei, aku tidak mau berciuman dengan pacar orang!” balas Aletta kesal. Dia menatap Zello tajam, tapi bukannya membuat orang takut, tatapannya itu malah membuat orang lain menjadi semakin gemas padanya.
“Siapa yang mengajarimu untuk selalu membahas pacar? Apa kau ingin punya pacar?” Zello menarik satu sisi pipi Aletta, membuat gadis itu mendelik sebal, tapi tetap saja dia terlihat malu pada Zello.
“Hehe, tidak. Aku kan masih kecil,” gadis kecil itu menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Kalau orang sedang malu, pasti ada yang menggaruk hidung, bukan?
“Lalu kenapa kau selalu menanyakan pacarku?” Zello menatap Aletta dengan alis yang terangkat. Gadis itu gelagapan sendiri dengan pertanyaan Zello. Salahkan saja dirinya yang terlalu cerewet ini, mungkin saat sedang hamil, Mommy nya makan sesuatu atau selalu bicara? Entahlah.
“Ya, karena ingin tahu saja!” jawab Aletta sekenanya.
Sopir yang mengantarkan mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apakah pembahasan ini normal, untuk seukuran gadis kecil berusia lima tahun?
“Zello, Aunty Ana bilang, kalau kita ingin punya pacar, harus ada kriterianya. Kriteria pacarmu seperti apa?”
“Aletta, kenapa kau selalu membahas pacar?” Zello kesal sendiri mendengar kata-kata gadis ini. Apa Ana benar-benar sudah mencuci otaknya?
“Aku kan hanya ingin tau. Kau jawab saja, nanti aku katakan juga kriteria pacarku itu seperti apa!” Aletta tersenyum antusias. Pipinya yang menggemaskan, tampak terkembang karena dia tersenyum. Senyuman itu sedikit menular pada Zello, tapi laki-laki itu cepat-cepat mengubah ekspresinya lagi.
“Astaga gadis kecil, kau tidak boleh memikirkan pacar sekarang, kau masih kecil!” Zello mengacak-acak rambut Aletta karena gemas. Gadis itu memanyunkan bibirnya yang pink kecil, sangat menggemaskan.
“Aku memikirkan pacar untuk masa depan. Bukan untuk sekarang. Jadi, kau jawab saja pertanyaanku!” Aletta menjawab dengan cengengesan. Dia melirik Zello yang menghela napasnya, mungkin merasa kesal dengan kelakuannya yang serba ingin tahu.
“Kriteria pacarku hanya satu. Dia harus perempuan!” jawab Zello singkat, padat, dan jelas.
“Kriteria macam apa itu, tidak mungkin kau mau berpacaran dengan laki-laki, kan? Atau pacarmu sekarang itu memang laki-laki, ya?” Aletta menunjuk Zello dengan jari tangannya yang kecil, laki-laki itu menggeleng.
“Diam atau aku cium?!”
“Baiklah-baiklah. Kau menyebalkan sekali!” Aletta duduk diam di samping Zello. Sedangkan laki-laki itu bermain ponsel. Keheningan yang tercipta hanya sebentar, karena si cerewet Aletta sudah kembali membuka suara.
“Zello, kau benar tidak mau tau seperti apa kriteria pacarku?” Zello menoleh pada Aletta dengan mengangkat alisnya. Hembusan napas berat terdengar. Dia menatap Aletta geli. Pemikiran gadis kecil ini benar-benar menakjubkan.
“Aku mau tau, katakanlah!” ujar Zello akhirnya, lebih baik mengalah. Karena mengalah bukan berarti kalah. Aletta tersenyum antusias mendengar perkataan Zello.
“Kriteria pacarku itu harus tampan, dewasa, gagah, baik, pintar, kaya. Harus lebih kaya dari Daddy dan Grandpa. Supaya nanti aku bisa keluar negeri setiap natal.” Zello hanya mengangguk-angguk saja tanda mengerti. Aletta tampak terdiam, ”Terus apa lagi ya? Aunty Ana cuma bilang itu!” sambungnya yang membuat Zello mendengus kesal. Kan, Aunty Ana lagi!
“Hah? Jadi itu sebenarnya kriteria pacarmu atau pacar Aunty mu itu?” lama-lama kesal juga Zello jadinya. Aletta cengengesan. mendengar pertanyaan Zello.
“Sudah, jangan bahas pacar lagi, kau ini masih kecil tapi pikiranmu itu benar-benar! Jangan pikirkan itu lagi!” Zello mendengus, dia melirik lagi pada ponselnya. Ada banyak yang harus dia pastikan dengan ponsel mahal tersebut, tapi Aletta selalu membuatnya kehilangan fokus.
“Kau membahas pacar lagi, aku akan benar-benar menciummu dan menggigit bibirmu yang selalu berceloteh itu sampai habis!” Aletta sedikit meringsut mendengar perkataan Zello, membuat laki-laki itu tersenyum kecil. Pandangannya kembali ke arah ponsel.
“Kejam sekali kau ini. Aku tidak akan bicara denganmu lagi.” Aletta melipat kedua tangannya di depan dada, dia menoleh pada kaca jendela mobil. Sepertinya sebentar lagi mereka akan sampai. Mobil-mobil yang beriringan di belakangnya membuat Aletta mendesah kesal. Sedangkan Zello hanya mengangkat bahu acuh.
“Paman sopir, apa laki-laki yang ada di sampingku ini, laki-laki kejam?” sopir yang mendengar pertanyaan Aletta menjadi kaku sendiri. Aletta melirik Zello dengan sinis, sedangkan laki-laki itu hanya menyeringai.
‘Dia sangat kejam, Nona!’ ingin sang sopir untuk menjawab seperti itu, tapi dia masih sayang dengan nyawanya.
“Tidak Nona, tuan muda sangat baik!”
“Apa kau yakin, tadi dia bilang mau menggigitku? Itu kan termasuk kejam!” balas Aletta, karena merasa tidak terima dengan pernyataan sopir itu.
“Kalau masalah itu, saya tidak tau, Nona.” jawab sang sopir yang lebih memilih jalan aman.
“Kalian berdua sama saja!” ketus Aletta, dengan bibir yang mengerucut lucu.
Semua orang terdiam. Aletta sibuk menggulung rambutnya. Otak kecilnya yang serba ingin tahu, seperti memaksanya untuk terus bertanya dan mengeluarkan suara.
“Zello, kapan kau akan kembali pulang?” Zello yang semulanya menatap ponsel, kemudian menoleh pada Aletta.
“Nanti!”
“Dengan siapa? Apa kau tidak takut pulang sendiri?” Zello terkekeh. Dia mengusap rambut Aletta dengan gemas.
“Aku tidak takut dengan apapun!” balasnya acuh.
“Kau pulang untuk kembali ke sekolah?” Zello mengangguk.
“Kau sudah kelas berapa?”
“Semester akhir, menengah atas!”
“Benarkah? Kau kan masih lima belas tahun?” tanya Aletta berbinar.
“Heem, aku masuk kelas akselerasi,”
“Wow. Berarti kau pintar?” Zello tertawa mendengar pertanyaan itu. Lalu dia mengangguk sebagai jawaban.
Mobil mewah itu berbelok menuju parkiran rumah sakit. Zello turun terlebih dahulu, lalu dia berputar dan membukakan pintu mobil untuk Aletta. Laki-laki remaja itu menggendong Aletta, sudah seperti adiknya.
“Zello, apa aku masih berat?” tanya Aletta. Dia mengalungkan tangannya di leher Zello.
“Tidak!”
“Aku masih menimbang-nimbang untuk diet atau tidak!” Zello berhenti. Dia menoleh pada Aletta yang menampilkan cengirannya.
Tuk....
“Awwsshh ... Kenapa kau menyentilku?” tangan kecil Aletta mengusap keningnya yang tidak sebegitu sakit. Dia melihat Zello dengan kesal.
“Kau tidak boleh diet! Kau ini masih kecil sudah memikirkan diet!” Zello kembali melanjutkan jalannya. Sedangkan Aletta hanya memanyunkan bibirnya. “Baiklah,” ujar gadis itu.
Aletta dan Zello masuk ke dalam lift, menuju lantai teratas rumah sakit, tempat dimana ruangan Mattea dan Baby Fazio berada.
Ketika keluar dari lift, Aletta langsung turun dari gendongan Zello dan berlari saat melihat Max duduk di kursi luar, sedang fokus dengan ponselnya.
“Grandpa ....” gadis kecil itu berlari dan berteriak memanggil Max, sontak saja laki-laki tua itu menoleh pada cucu perempuannya itu. Dia langsung berdiri menyambut Aletta yang merentangkan tangannya, dan langsung mengangkat gadis kecil itu membuatnya tertawa.
“Kau berdua saja dengan dia?” Max melirik Zello yang berdiri tegak di sana. Aletta mengangguk.
“Apa adikku sudah bisa aku ajak bermain sekarang?" tanyanya. Max terkekeh kecil. Lalu memberikan ciuman di kedua pipi Aletta, membuat gadis itu kegelian.
“Aaaa, aku tidak mau di cium Grandpa, pipiku jadi gatal!” Max mendongak.
“Gatal? Memangnya Grandpa ulat bulu?” tanyanya tertawa. Aletta memanyunkan bibirnya.
“Bukan itu, tapi ini!” Aletta menyentuh bulu-bulu halus yang ada di sekitar mulut dan rahang Grandpa nya itu. Max tertawa lebar.
“Aku akan menciummu terus kalau begitu!” Max kembali melayangkan ciumannya pada Aletta membuat gadis itu kegelian kemudian tertawa. Mendengar suara anaknya di luar, Thomas keluar dari ruang rawat Mattea.
“Al ....” Aletta mendongak menatap Thomas. Gadis itu menutup mulutnya tidak percaya.
“Apa Daddy habis bertengkar dengan harimau?” tanyanya. Thomas tertawa mendengar pertanyaan gadis kecilnya.
“Sepertinya begitu, Sayang. Ayo, kita temui Mommy.” Aletta mengangguk. Kemudian berpindah ke dalam pelukan Thomas.
“Zello, ayo ikut aku!” ujar Aletta pada Zello yang hanya berdiam diri.
“Kau duluan saja, aku ada perlu sebentar!” Aletta mengangguk saja. Thomas dan Aletta masuk kedalam ruang rawat Mattea. Sedangkan Max dan Zello duduk di kursi tunggu di luar.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Max. Zello mengangguk pasti.
“Aku merasa masih ada seseorang yang memata-matai Aletta, kau harus memperketat lagi penjagaannya. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi.” remaja pria itu mengatakan dengan sorot mata yakin dan raut wajah datar. Max mengangguk.
“Aku sudah menyiapkan pengawal untuknya. Meskipun tidak terlihat dari dekat, tapi mereka akan menjaganya, berbaur seperti orang lain.” Zello mengangguk.
“Aku sudah mencari tahu juga, nanti sebelum kembali aku akan membereskannya." sorot mata itu menjadi dingin. Tidak ada kehangatan seperti saat bersama Aletta tadi, Max mengangguk saja, sedikit ngeri dengan laki-laki yang ada di sampingnya ini.
“Oh iya, bagaimana kau bisa ada disini dan membantu mencari Aletta?” tanya Max.
“Daddy yang menyuruhku kerena mendapat telepon dari mu. Pemberitaan tentang Al dan juga kelompok kalian yang mengamuk menyebar luas, dan menjadi trending topik, bahkan sampai ke negaraku, begitu juga foto-fotonya. Aku langsung terbang ke sini, dan mencarinya. Mereka cukup bodoh dalam bersembunyi.” Max kesal sendiri mendengar perkataan laki-laki ini. Karena secara tidak langsung, laki-laki muda di depannya ini juga mengatainya bodoh, karena lebih lambat dalam mencari Aletta daripada dirinya.
“Ahh, sombong sekali kau ini!”
“Haha, aku akan membawa Aletta jalan-jalan setelah ini. Aku masih mewanti-wanti supaya dia tidak mengalami trauma. Untungnya cucumu itu anak yang cerewet, sehingga dia bertanya banyak hal dan melupakan rasa takutnya. Aku takjub dengannya.” Max mangut-mangut.
“Hemm, kau benar. Aku awalnya juga takut kalau dia akan mengalami trauma. Untung ada kau yang menemaninya untuk berceloteh. Bahkan, saat di mansion pun aku kewalahan sendiri mendengar pertanyaan-pertanyaannya itu.” Max terkekeh kecil saat mengatakan itu. Saat mereka sedang berbincang, Stef keluar dari ruangan Mattea, dia tersenyum pada Zello dan di balas oleh laki-laki itu.
“Aku mau mandi, ayo kita pulang.” Max mengangguk. Dia kemudian berdiri.
“Kabarkan jam berapa kau pulang, anak buahku akan mengantarmu.” Zello kemudian ikut berdiri.
“Tidak perlu, aku membawa jet ku sendiri!” Max mengangguk mengerti.
“Terimakasih atas bantuannya. Aku tidak menyangka kau menghabisi kelompok Weighto seperti itu.” Max terkekeh saat mengatakannya. Dia tidak percaya saat melihat bocah yang ada di hadapannya ini, adalah orang yang sudah membantai kelompok Weighto cukup banyak. Sedangkan Zello hanya tersenyum menyeringai.
Max dan Stef berlalu dari sana. Sedangkan Zello kembali duduk di kursi itu. Dia mengetikkan pesan dari ponselnya. Setelah pesan tersebut terkirim, dia berdiri lagi dan berjalan mendekat menuju pintu.
Ceklek....
Semua orang menoleh pada Zello yang baru masuk. Aletta merentangkan tangannya meminta untuk di gendong.
“Zello, adikku tidak mau bermain denganku. Dia bahkan tidak mau bangun!” bibir kecil itu mengerucut. Zello tertawa mendengar pengaduan Aletta. Sedangkan Thomas dan Mattea ikut tertawa.
“Dia masih kecil, Al. Kau tidak bisa mengajaknya bermain sekarang.” Aletta membenamkan wajahnya di dalam tubuh Zello. Tangannya memeluk leher laki-laki itu.
“Tapi aku mau bermain dengannya!" ujarnya dengan suara yang sedikit tidak jelas. Zello hanya menghela napas.
“Kau tidak boleh seperti itu, nanti saat adikmu besar, pasti kalian akan bermain bersama.” Aletta mengangkat kepalanya, menatap pada Zello.
“Itu pasti akan sangat lama!” ujarnya. Dunia seperti milik mereka berdua. Thomas dan Mattea hanya menumpang. Apalagi si kecil Fazio.
“Kalau kau menjaganya dengan baik, itu pasti tidak akan lama! Ayo, sekarang cium adikmu dulu!” Aletta mengangguk. Zello berjalan menuju box bayi, tempat bayi mungil itu tertidur.
“Adik, kau cepatlah besar. Aku ingin bermain bersamamu. Kau harus mencoba lipstik Mommy!” Mattea menatap Aletta tajam. Sedangkan gadis kecil itu langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
“Hehe, aku hanya bercanda, Mom.” ujarnya takut-takut. Sedangkan Thomas sudah tertawa mendengarnya.
“Pantas saja lipstik Mommy cepat habisnya, ternyata kau, Al.” Mattea hanya geleng-geleng mendapatkan fakta itu.
“Bukan aku saja, Mom. Dad juga!” Thomas langsung terdiam kaku. Dia menoleh pada Mattea yang melirikku dengan tatapan maut.
“Haha, aku akan membelikannya lagi nanti, Sayang. Kalau perlu pabriknya sekaligus!” ujar Thomas menggaruk tengkuknya.
“Mom, Dad, aku dan Zello mau pergi sebentar.” Thomas dan Mattea melirik Aletta.
“Mau pergi kemana, Sayang?” tanya Thomas.
“Membeli es krim, Zello katanya mau es krim!” mata tajam itu melotot pada Aletta, sedangkan yang di pelototi hanya menampilkan cengirannya.
“Kau yakin? Zello yang menginginkan es krim?” tanya Mattea mengulum senyumnya. Aletta mengangguk lucu, membuat Mommy nya itu tertawa.
“Pergilah, tapi harus dengan pengawal!” ujar Thomas. Aletta mengangguk menyetujui.
“Zello, ayo!” ujarnya dengan bersemangat. Zello dan Aletta akhirnya keluar dari ruangan Mattea.
“Apa dia hafal dengan daerah sini?” tanya Mattea pada suaminya.
“Aku rasa, ya!” ujar Thomas. Mattea hanya diam saja, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sedangkan saat ini,
“Kenapa kau bilang, aku yang mau es krim?” Zello melayangkan protes pada Aletta.
“Hei, tidak mungkin aku bilang pada Mommy dan Daddy untuk menemanimu pergi pacaran, mereka pasti tidak akan membolehkan aku untuk ikut!” ujar Aletta sewot.
“Astaga, pacaran lagi!” decak Zello kesal.
“Benar, kan?”
“Heemm, mari kita pergi pacaran sebelum aku kembali!”
...***...
Huahh, kalau Zello udah balik ke Italia, berarti part mereka udah mau habis ya! Nanti, ada buku khusus untuk mereka sendiri:-*
Maafkan ya gays, kalau ada yang Typo, mohon di maklumi ya^_^ Maaf juga kalau ga nyambung 😂