
Malam yang semakin larut membuat area rumah sakit tidak begitu ramai. Tapi, kini anggota Black Devils masih berjaga di sekitar sana. Karena, nona besar keluar Alexander sedari tadi sedang berada di ruang perawatan, karena akan melahirkan. Menunggu pembukaan sempurna untuk melahirkan secara normal.
“Kalian beristirahatlah.” ujar Thomas keluar dari ruang Mattea, badannya habis merah-merah karena kuku dari sang istri yang menancap di kulitnya, saat merasakan kontraksi itu datang lagi, Mattea mencengkeram tangan Thomas dengan segala tenaganya. Wanita galak itu semakin galak saat akan melahirkan.
Kelahiran kali ini lebih cepat dari jadwal, karena Mattea sempat stres karena Aletta menghilang.
“Kami menunggu disini saja, Tuan.” Stella menyahut. Arthur mengangguk menyetujui. Boss nya itu tampak kacau. Seharian sudah mencari Aletta, dan kini istrinya akan melahirkan. Nikmat mana lagi ini.
“Tidak usah, disini juga banyak orang. Lebih baik kalian menghabiskan waktu bersama, maaf sudah merepotkan pengantin baru seperti kalian,” wajah Stella memerah. Dia paham dengan kata memanfaatkan waktu itu.
“Sudah, sana pulang. Aku mengerti, lihatlah suamimu sepertinya sudah tidak sabar,” Stella menoleh pada Arthur yang gelagapan mendengar perkataan Thomas. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Thomaaassss ....” suara lengkingan teriakan Mattea terdengar lagi. Tanpa ba-bi-bu, Thomas kembali berlari masuk kedalam ruangan Mattea.
“Aku disini, Sayang.” Thomas langsung memegang tangan Mattea. Wanita yang berambut acak-acakan itu mendelik sinis padanya.
“Apa kau mau lepas tanggung jawab, haa? Kenapa meninggalkan aku sendiri?!” Thomas menggelengkan cepat. Istrinya ini semakin menyeramkan sekarang.
“Bu—bukan begitu, aku hanya menyuruh Stella dan Arthur untuk pulang, sepertinya mereka lelah, karena seharian ini menghabiskan banyak tenaga.” Mattea hanya diam saja. Lalu cengkramannya pada tangan Thomas kembali membuat laki-lakinya itu meringis.
Dokter dan perawat masuk kedalam ruangan VVIP yang ditempati oleh Mattea. Dokter wanita yang menggantikan dokter Patricia itu mengangguk hormat pada Thomas yang sedang meringis.
“Nyonya, saya akan memeriksa pembukaannya, apakah sudah sempurna atau belum?” Mattea hanya mengangguk. Dokter tersebut segera mengerjakan tugasnya.
“Sudah pembukaan ke sembilan, sebaiknya kita pindah ke ruang bersalin sekarang saja, biar nanti bisa langsung melahirkan saat pembukaannya sempurna.” Mattea dan Thomas hanya mengangguk. Mattea segera di pindahkan menuju ruang persalinan. Dalam perjalanan menuju ruang persalinan, mereka bertemu dengan Max dan Stef yang baru saja selesai makan. Bersama dengan David juga. Sedangkan Matt, Ana dan Aletta sudah kembali pulang. Aletta memaksa Zello untuk ikut dengannya, walaupun laki-laki itu sangat terpaksa untuk mau.
“Apa pembukaannya sudah sempurna?” tanya Stef. Thomas menggeleng.
“Baru pembukaan sembilan,” ujarnya, Stef mengangguk. Dia dan Max juga David mengikuti Mattea hingga ke depan ruang persalinan. Rasa sakit yang rasanya sangat luar biasa itu kembali mendera. Mattea kembali mencengkeram lengan Thomas saat rasa sakit itu datang. Bibirnya terkatup rapat supaya tidak berteriak.
Pintu ruang persalinan sudah tertutup. Thomas ikut masuk menemani Mattea didalam. Laki-laki itu rasanya ingin menangis saat melihat wajah pucat sang istri. Peluh membasahi badannya, rambutnya tidak lagi terbentuk.
Perawat menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan, dokter kembali memeriksa jalan lahir si cabang bayi apakah sudah sempurna atau belum.
“Siap-siap, Suster. Jalan lahir sudah sempurna!”
Sementara suster bersiap-siap, Thomas juga sedang menyiapkan tubuhnya. Mattea sudah merintih sedari tadi, ada sesuatu yang mendesak untuk keluar dari jalan lahir bayinya. Hingga dokter menyuruh Mattea untuk mengejan. Wanita itu menurut, dengan wajah yang penuh keringat, dan tenaga yang sudah mulai habis, Mattea mengejan sesuai perkataan dokter.
Thomas menggigit bibirnya supaya tidak berteriak, karena Mattea mengigit tangannya.
“Sedikit lagi Nyonya,” ujar dokter tersebut. Mattea kembali mengejan, hingga suara tangisan bayi memecah kondisi yang menegangkan tersebut.
“Bayinya laki-laki, Tuan, Nyonya,” Mattea meneteskan air mata haru. Matanya menangkap bayinya di bawa oleh suster untuk di bersihkan. Sedangkan Thomas mencium keningku berulang kali sembari menggumamkan kata terimakasih.
”Terimakasih untuk semuanya, Sayang. Terimakasih untuk cinta kamu yang besar untuk aku, terimakasih atas semua perjuangan kamu melahirkan anak-anakku, terimakasih karena kamu sudah setia berdiri di sampingku, terimakasih karena sudah mencintaiku sebegitu besarnya, aku sangat mencintaimu dan juga anak-anak kita.” Air mata Thomas tanpa di komando keluar dari kedua pelupuk matanya. Mattea semakin terisak mendengar ucapan tulus dari suamiku itu. Sedangkan suster dan Dokter yang membersihkan Mattea tersenyum melihat besarnya cinta pada kedua orang itu.
Saat Mattea sudah selesai di bersihkan, bayinya juga sudah selesai. Suster menyerahkan bayi laki-laki yang merah tersebut pada Mattea, untuk melakukan inisiasi menyusui dini.
Max, Stef dan David sudah diperbolehkan untuk masuk. Wajah mereka yang semula cemas itu, kini berganti bahagia.
“Cucuku laki-laki atau perempuan?” tanya Stef melihat pada bayi mungil yang sedang merasakan nikmatnya ASI tersebut.
“Laki-laki, Mom.” ujar Mattea. Semuanya tersenyum sumringah.
“Sudah ada namanya?” tanya Max. Mattea menggeleng. Dia menoleh pada Thomas.
“Siapa namanya, Sayang?” Mattea mengelus kepala anak laki-lakinya itu. Thomas terlihat berpikir sebentar, lalu mengusap kepala anaknya yang baru lahir itu.
“Fazio Geoffrey Achilles.” semua orang tersenyum mendengar nama yang di sebutkan oleh Thomas.
“Welcome to the world, baby Zio.”
...***...
Arthur kini membawa Stella ke apartemennya. Rencananya, mereka akan pulang ke rumah Stella besok, untuk mengambil baju-baju wanita yang menjadi istri dari Arthur tersebut.
“Aku tidak punya pakaian ganti disini.” ujar Mattea. Karena kepulangan mereka ini cukup mendadak. Sebab setelah bangun pagi tadi, Stella mendapat kabar kalau Aletta hilang, membuat kedua pasangan suami istri yang baru mengucap jadi kemarin lusa itu tidak bisa mengemas apapun. Dan sekarang, Arthur membawa Stella pulang ke apartemennya tanpa membawa sehelai pakaian pun, kecuali yang ada di tubuhnya.
“Pakaianku banyak, Sayang. Jadi jangan risau kan itu, aku juga bisa menyuruh orang untuk membelikanmu pakaian!” Stella hanya mendengus. Wanita itu berjalan menuju ke sebuah ruangan, dan membuka pintu kamar yang bernuansa maskulin tersebut.
Stella duduk di atas ranjang, membuka sepatu, dan jaketnya. Rambutnya yang semula terikat ekor kuda, di lepaskan hingga tergerai indah. Arthur ikut masuk kedalam kamarnya.
“Aku akan mandi terlebih dahulu, tubuhku sangat gerah!” Stella berlalu ke kamar mandi. Tanpa membawa handuk atau apapun. Arthur hanya menggeleng melihat istrinya itu. Dia juga melepaskan sepatunya, jaket, dan juga kemeja yang tadi dia gunakan. Melepaskan jam tangan mahal miliknya, Arthur kemudian keluar dari dalam kamar.
Dia mengambil sekotak makanan cepat saji, lalu membolongi atasnya, dan memasukkannya dalam microwave. Dan menyetel waktunya.
Setelah menunggu cukup lama, timer tersebut berbunyi. Arthur segera membukanya lalu mengeluarkan makanan yang tadi dia hangatkan dan meletakkannya di atas meja makan.
Arthur segera kembali ke kamar, tampaknya Stella belum keluar dari dalam kamar mandi, tapi terlihat pintu sedikit terbuka, dan kepala Stella menongol dari sana sembari menggigit bibir bawahnya.
“Ada apa?” tanya Arthur menahan tawanya saat melihat wajah merah padam sang istri.
“Aku lupa mengambil handuk,” cicitnya malu-malu. Arthur tertawa kecil, lalu dia segera berjalan menunduk ruang ganti untuk mengambilkan istrinya handuk.
“Terimakasih.” ujar Stella. Arthur mengangguk. Setelahnya pintu kamar mandi tertutup, Arthur kembali duduk di atas ranjang. Melihat sebentar pada ponselnya.
Ceklek ....
Stella keluar dari dalam kamar mandi, dengan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya. Dia menatap Arthur dengan kesal.
“Aku akan mengambilkan pakaianku!” Arthur segera kembali ke ruang ganti, dan mengambil sebuah kemeja putih miliknya, lalu keluar dan menyerahkannya pada Stella.
“Cih, kau sungguh mau menyuruhku memakai ini, tanpa dalaman apapun?” ujar Stella sinis, Arthur tergelak mendengar perkataan sinis istrinya itu.
“Heem, kau pasti akan semakin seksi dengan memakai itu, Sayang.” Arthur mengedipkan matanya genit, Stella mendengus kesal.
“Sana pergi!” usir Stella. Arthur menurut, dia mengambil handuk terlebih dahulu baru masuk kedalam kamar mandi. Tapi sebelum pintunya tertutup, “Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, ada di atas meja dapur, makanlah!” setelahnya, tubuh tegap itu benar-benar hilang di telan pintu kamar mandi.
...****...
“Apa kau selalu makan ini?” tanya Stella pada Arthur yang tampak sudah segar dengan rambut yang sedikit basah.
“Heem, jika terdesak!” ujar Arthur santai. Stella menghela napas berat.
“Kau tidak boleh memakan makanan seperti ini lagi, ini tidak bagus untuk kesehatan!” Arthur mengangguk saja.
“Kau tenang saja, istriku pandai memasak, jadi aku pasti tidak akan makanan cepat saji lagi!” mendengar perkataan Arthur, Stella mendengus kesal. Dia melanjutkan makannya.
“Apa kau tidak lapar?” tanya Stella. Arthur menggeleng.
“Kau yakin?”
“Heem, aku hanya lapar, ingin memakanmu sekarang!” ujar Arthur membuat Stella terbatuk-batuk. Wajahnya memerah menahan perih.
Stella meminum air yang disodorkan oleh suaminya, mengabadikan Arthur yang tertawa kecil karena reaksinya yang spontan.
Stella sudah selesai makan, dia membereskan bungkus makanan tadi dan memasukkannya kedalam tempat sampah. Arthur duduk menunggu di atas kursi meja makan sembari mengecek ponselnya.
“Apa yang kau lihat?” tanya Stella penasaran. Arthur mendongak.
“Aku sudah memesankan pakaianmu, besok pagi akan datang.” ujar Arthur menjawab, Stella hanya ber oh ria.
“Ayo tidur!” Stella menurut saat Arthur membawanya menuju kamar. Wanita itu benar-benar merasa tidak nyaman karena tidak memakai dalaman apapun. Di tambah lagi, kemeja kebesaran ini membuat tubuhnya geli.
Arthur duduk bersandar di atas tempat tidur, Stella sudah masuk kedalam selimut, laki-laki itu tampak mengetik sesuatu pada ponselnya, dan menghembuskan napas kasar. Setelahnya, dia meletakkan ponsel tersebut di atas nakas dan ikut masuk kedalam selimut.
“Cih, dia benar-benar tidak menyentuhku?” dengus Stella dalam hati. Dia merasa kesal sendiri dengan suaminya ini.
“Dia benar-benar tahan?” masih mendengus dalam hati, masih belum mengeluarkan suara. Gengsinya masih tinggi. Tapi, di peluk seperti ini benar-benar membuat Stella tidak bisa tidur. Akhirnya, wanita itu berbalik juga menatap wajah sang suami.
“Tidur, Sayang. Istirahat! Jangan membuatku menerkammu sekarang!” Stella terkejut mendengar suara Arthur. Rupanya suaminya itu masih belum tidur.
“Kenapa kau belum tidur?” tanya Stella. Arthur mengeratkan pelukan pada tubuh sang istri.
“Heem, aku tidak bisa tidur!” jawab Arthur jujur. Iya, jujur. Karena dia sungguh tidak bisa tidur, kalau seperti ini. Menahan diri atas wanita yang sudah sah menjadi miliknya, apalagi dengan tubuh yang menempel seperti ini, hanya saja, Arthur tahu kalau istrinya ini masih lelah karena seharian ini.
“Kenapa kau tidak bisa tidur?” Stella menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Tubuhnya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Arthur membuka matanya, lalu menatap Stella dengan tatapan berkabut.
“Apa aku harus menjawab?” tanya Arthur dengan suara serak. Stella mengangguk.
“Karena kau!” dengan gerakan cepat, Arthur sudah berada di atas tubuh Stella, wanita itu tertawa melihat wajah suaminya yang memerah.
“Kau mau?” tanya wanita itu dengan genit. Arthur tentu saja mengangguk.
“Tapi aku tau kau lelah?” ujarnya. Stella tersenyum.
“Tidak, aku tidak lelah. Kau bisa memulainya sekarang!” mata yang sudah berkabut itu berbinar senang. Arthur langsung mendekatkan bibirnya pada bibir Stella, mencium wanita itu dengan rakus.
“Haha, bernapas, Sayang. Jangan di tahan!” ujar Arthur terkekeh. Stella memerah malu.
“Ajari aku ciuman dulu!” cicitnya dengan suara yang kecil. Arthur hanya mengangguk. Kemudian dia mencium Stella dengan lembut, cukup lama hingga akhirnya wanita itu bisa mengimbangi ciumannya. Decakan lidah yang saling membelit itu mengisi keheningan ruang kamar apartemen dengan lantai tertinggi tersebut.
Kemeja putih yang sebelumnya di pakai Stella, kini kancing atasnya sudah terbuka. Arthur menelan ludah kasar melihat pemandangan menakjubkan tersebut.
Ciuman Arthur daratkan di setiap sudut tubuh wanita yang menjadi istrinya itu.
Suara lenguhan laknat keluar dari mulut Stella, membuat wanita itu menutup mulutnya sendiri. Wajahnya merah padam. Arthur hanya terkekeh gemas.
“Sayang, ini akan sedikit sakit,” ujar Arthur saat pakaian keduanya sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai. Stella menggigit bibir bawahnya.
“Lakukan saja, memang sudah seharusnya, bukan?” tanyanya pada Arthur. Laki-laki itu tersenyum.
Pengenalan pemilik baru dengan tempat tinggalnya berjalan dramatis. Arthur meringis saat kuku-kuku tajam Stella menancap di punggungnya. Laki-laki itu mendengus, apa istrinya ini tidak memotong kukunya? Kenapa di biarkan panjang seperti ini? Kalau tau begini, lebih baik Arthur menyuruhnya untuk memotong kuku terlebih dahulu. Tapi, saat mendengar suara teriakan Stella, membuatnya tidak bisa berkata-kata, karena dari suara teriakan itu dia tahu, kalau sakit yang dirasakan istrinya, tidak sebanding dengan sakit yang dia rasakan.
Saat pemilik sarang yang baru sudah masuk sepenuhnya, sang pemilik berdiam diri sebentar, supaya si sarang bisa bernapas agar tidak sesak, tapi tetap saja itu masih terasa sesak dan juga perih.
“Aku akan pelan-pelan!” begitulah seterusnya, pergerakan yang tadinya pelan itu semakin cepat. Suara teriakan tadi berubah lenguhan. Peluh membanjiri keduanya. Sesuatu yang mendesak untuk keluar dari sana sudah tidak bisa di tahan lagi, hingga akhirnya tubuh sang lelaki tumbang di atas tubuh sang wanita saat kenikmatan dunia itu sama-sama mereka rasakan.
“Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah menjaganya untukku. Aku sangat beruntung.” Arthur menciumnya setiap sudut wajah Stella, wanita itu tersenyum.
“Istirahatlah, aku tau kau masih sakit. Kita bisa melanjutkannya besok.” Stella mengangguk. Dia membenamkan tubuhnya didalam dada bidang Arthur. Hingga hembusan napas teratur dari wanita itu membuat Arthur tersenyum.
“Aku sangat mencintaimu, Stella. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk cintamu, untuk tubuhmu, dan juga hatimu.”
...***...
Pagi menjelang. Aletta sudah berpakaian rapi. Gaun kecilnya yang berwarna pink, membuat gadis imut itu tampak semakin menggemaskan. Bersama dengan pelayan yang ada di mansion, dia keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap. Dia akan pergi ke rumah sakit setelah ini, karena adiknya sudah lahir, dan dia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan adiknya itu dan mengajaknya bermain.
“Bibi, apa Nanny tidak kesini?” Nanny yang dimaksud Aletta adalah, Nanny yang menjaganya selama ini. Wanita yang kemarin meregang nyawa karena kelompok Valder. Thomas sudah membalaskan dendam wanita itu. Dan juga, dia sudah memberikan kehidupan yang layak untuk seluruh keluarganya. Nanny yang selama ini menjaga anaknya dengan sangat baik, menjaga Aletta seperti anaknya sendiri.
Thomas memberikan beasiswa penuh pada adik-adik wanita itu, memberikan biaya pengobatan untuk orangtuanya, juga memberikan mereka rumah yang layak. Sungguh, pengorbanan wanita itu tidak sebanding dengan apa yang sudah Thomas berikan, laki-laki itu berjanji akan terus menjaga keluarga wanita itu dengan baik.
“Tidak, Nona. Nanny sudah pergi ke tempat yang jauh.” wanita itu mengatakannya dengan nada dan juga sorot mata yang sendu. Para pelayan yang ada di mansion ini sudah seperti saudara. Jika yang satu merasa sakit, maka yang lainnya juga ikut merasa sakit.
“Sejauh apa? Apa dia naik jet seperti punya Daddy?” tanya Aletta dengan mendongak. Mereka menuruni anak tangga satu-persatu, Aletta memegang tangan pelayan tersebut dan berjalan beriringan.
“Haha, tidak Nona kecil. Dia tidak memakai jet.” ujar pelayan wanita itu terkekeh kecil.
“Lalu naik apa? Kemarin dia masih bersama denganku, tapi sekarang meninggalkan aku.” bibir mungil itu mengerucut.
“Apa kemarin Nanny menolong Nona?” Aletta mengangguk. Pelayan tersebut tersenyum.
“Heem, dia melindungiku dari orang-orang jahat itu, tidak membiarkan mereka memukulku dan setelahnya orang-orang itu marah, lalu dia di bawa pergi, aku tidak tau dia di bawa kemana, tapi mana sangka dia meninggalkan aku pergi jauh.” rasanya air mata pelayan itu mau tumpah mendengar cerita Aletta, tapi tidak mungkin dia menangis di hadapan Nona kecilku ini, bukan?
“Nona kecil tidak boleh seperti itu. Seharusnya Nona mendoakan Nanny supaya masuk Surga.” pelayan itu berjongkok di depan Aletta. Gadis mungil itu mengerutkan keningnya, sedikit bingung dengan kata Surga yang diucapkan oleh wanita yang ada didepan ini.
“Maksudmu, Nanny pergi ke Surga?” tanya Aletta. Pelayan tersebut mengangguk.
“Apa Nanny kesakitan, sehingga dia mau pergi ke surga?” Pelayan itu mengangguk lagi. “Heem, dia kesakitan. Jadi, supaya dia tidak sakit lagi, dia pergi ke surga. Jadi, Nona kecil doakan Nanny, ya?” Aletta mengangguk cepat. Dia juga sangat menyayangi wanita itu.
“Semoga Nanny tidak sakit lagi selama di surga. Aamiin.” pelayan tersebut tersenyum. Dia kembali berdiri. “Ayo kita sarapan dulu!” Aletta mengangguk setuju. Mereka berjalan menuju ruang makan, yang mungkin sesi jauh.
Di meja makan, Aletta melihat Zello sedang duduk dengan segelas air di depannya. Laki-laki itu tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Tapi dia tetap menoleh pada Aletta yang tiba di sana. Sungguh, kewaspadaan diri laki-laki remaja ini sangat tinggi.
“Zello, apa kau sudah sarapan?” tanya Aletta. Dia duduk di samping Zello, dan pelayan tadi berlalu dari sana untuk membuatkan keduanya sarapan. Laki-laki yang bernama Donzello itu meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengangkat Aletta untuk dia dudukkan di atas meja, menghadap pada dirinya, membuat gadis kecil itu tertawa.
“Apa aku terlalu pendek, sehingga kau meletakkan aku di atas meja?” tanya Aletta dengan terkekeh. Pelayan yang ada di sana tertawa mendengar perkataan Aletta, begitupun dengan Zello.
“Iya, kau ini pendek sekali!” ujar Zello. Dia mencubit pipi tembem Aletta dengan gemas. Bau bedak bayi tersebar di tubuh gadis kecil itu. Membuat orang ingin lama-lama menciuminya.
“Kau tenang saja, nanti aku akan tumbuh besar dan jadi wanita yang tinggi!” Aletta bersidekap dada. Zello mengacak rambut Aletta gemas, membuat gadis itu cemberut.
“Kau ini, Nanny ku sudah menyisirnya dengan rapi, tapi kau mengacak rambutku begitu saja, kau ini menyebalkan sekali!” pelayan yang tadi menyisir rambut Aletta tersenyum mendengar perkataan gadis kecil itu, sedangkan Zello mengangkat bahunya acuh.
“Aku bisa menyisirnya lagi, dan juga mengikatkannya!”
“Apa kau terbiasa menyisir rambut pacarmu?” tanya Aletta berbinar. Salahkan lah ajaran Ana yang membuat otak gadis kecil ini selalu menjurus pada hubungan yang romantis. Karena aunty nya itu selalu mengatakan, supaya nanti Aletta memiliki pacar yang banyak, tidak seperti dirinya yang hanya tergila-gila pada Matt seorang.
“Tidak! Tapi mungkin nanti ‘Iya’.” jawab Zello. Aletta mengangguk saja tanda mengerti.
“Apa kau mau mengantarku ke rumah sakit? Adikku sudah lahir, kau mau menemani aku, kan?” Zello terlihat berpikir sebentar. Dia menoleh pada ponselnya. Setelahnya dia mengangguk.
“Hemm, aku akan mengantarmu!” Aletta tersenyum bahagia. Pelayan meletakkan sarapan di atas meja. Tapi Aletta tetap duduk di atas meja, menghadap pada Zello.
“Setelah mengantarku, kau akan kemana?” Aletta mengambilkan roti yang sudah diberi selai strawberry tersebut, dan melahapnya.
“Berpacaran!” sahut Zello singkat.
“Pacarmu ada disini?” tanya Aletta berbinar. Dia menghentikan makannya dan menatap Zello dengan serius. Laki-laki itu mengangguk acuh.
“Tentu saja.” jawabnya singkat. Aletta terdiam sebentar, ragu untuk bertanya, tapi mulut mungilnya mungkin akan gatal kalau tidak bertanya.
“Dengan siapa kau pergi?” tanyanya akhirnya.
“Tentu saja denganmu!” sahut Zello. Dia menyuapi Aletta dengan roti yang tadi dia makan, gadis itu dengan santai memakannya.
“Apa aku nanti tidak akan menganggu kalian?” tanya Aletta setelah roti yang ada didalam mulutnya sudah terkunyah habis. “Aku nanti bisa bermain dengan adikku saja, kau pergilah dengan pacarmu itu.” sambungnya lagi.
“Tentu saja kau pergi, kalau kau tidak pergi, lalu aku akan pergi pacaran dengan siapa?” Aletta tampak mangut-mangut.
“Ah iya, kau benar juga. Aku akan menemani kalian nanti.” putus Aletta akhirnya. Zello tersenyum kecil.
.
.
...***...
Hayo jujur, kalian suka scan nya siapa? Hayuk jawab😂