
Pria gagah dan tampan itu keluar dari dalam mobil. Mobil yang berdiri dengan gagah di depan lobi Perusahaan Halmington itu menarik perhatian para karyawan yang berlalu lalang di sana.
Dengan tampang yang sangat Coll dan juga penampilan yang sangat sempurna, Arthur berdiri di depan pintu mobil. Mengambil Athanasia yang juga turun dari dalam mobil hitam metalik tersebut.
Arthur langsung menggendong Atha, dan gadis kecil itu melingkarkan tangannya di leher sang ayah.
“Ayah ... ternyata banyak ya, karyawan Ayah yang suka dengan Ayah?” bibir kecil itu berbisik di telinga Arthur. Saat mereka melewati lobi dan masuk ke dalam gedung itu.
Hot Daddy yang tampan dan juga kaya raya itu, selalu menjadi trending topik panas yang menjadi pembicaraan para karyawan.
Wajah tampan yang penuh karisma itu benar-benar membius para karyawan, terkhususnya wanita. Mereka seperti ingin berlomba-lomba untuk dapat menarik perhatian si hot Daddy, tapi wajah datar dengan ekspresi dingin itu, membuat para wanita harus memikirkannya berulang kali.
Karena semenjak di tinggal oleh mendiang sang istri, Arthur menjadi orang yang sulit untuk didekati. Pembawaannya yang terkesan tegas, membuat para karyawan sangat segan padanya. Ada beberapa yang secara terang-terangan menyatakan ketertarikannya, tapi laki-laki itu abaikan.
Arthur masuk kedalam lift, Atha masih didalam gendongan pria itu.
Para karyawan perempuan yang melihat Arthur sudah masuk kedalam lift, memegang pipi mereka yang terasa panas saat melihat betapa memesonanya laki-laki itu.
‘*Aakkhhh ... aku ingin sekali mengelus rahang tegasnya itu.’
‘Aku sangat ingin berjalan bersanding dengannya, sembari menggendong nona kecil.’
‘Dia sangat tampan, dan juga panas!’
‘Nona kecil, mau ibu baru tidak, ya?’
‘Huuhhh, dia benar-benar menggoda*!’
Barisan itu akhirnya bubar dengan sendirinya. Arthur dan Athanasia keluar dari dalam lift.
“Paman Jack!” Aletta beralih pada gendongan pria muda yang di bawah Arthur. Jack adalah asisten Arthur, dan juga tangan kanan pria itu.
“Selamat pagi, Nona kecil!” sapa Jack, tersenyum lembut sembari menerima uluran tangan Athanasia.
“Selamat pagi, Nona kecil!” Moly, sekretaris Arthur ikut memberikan sapaan selamat pagi.
“Pagi, Moly!” balas Atha ramah.
Arthur masuk kedalam ruangannya, Jack dan Atha mengekor, sedangkan Moly kembali pada tempat duduknya.
“Atha, pergi bermain dulu, ayah ada yang ingin dibicarakan dengan paman Jack!” Arthur duduk di kursi kebesarannya.
Athanasia mengerutkan bibirnya kesal, gadis kecil itu kemudian turun dari gendongan Jack, lalu berjalan pada sisi bagian ruangan Arthur itu, yang tersedia tempat bermain kecil untuknya.
“Jack, kau katakan pada Moly, untuk menjaga Atha, kita akan mengadakan rapat setengah jam lagi, beritahu semuanya!” perintah Arthur. Laki-laki itu benar-benar tampak sangat berwibawa. Jack segera mengangguk, dia segera keluar dari ruangan Arthur.
Arthur menoleh pada Athanasia, yang tambak sibuk menyusun kubik yang menjadi mainannya, gadis kecil itu bahkan sampai menggigit bibir bawahnya saking fokusnya dengan benda kota yang ada di tangannya itu.
Arthur terkekeh kecil, “Atha, nanti Ayah ada rapat, kau main dengan Moly di sini, ya? Ingat jangan nakal?!” Athanasia yang tampak fokus itu kemudian menoleh pada Arthur. Dia mengangguk saja, lalu menoleh lagi pada mainannya itu.
***
“Bibi Moly, ayo kita keluar. Atha lapar!” Moly yang sedang menemani gadis mungil itu menghembuskan napas berat. “Tapi Tuan Arthur tidak memperbolehkan kita keluar, Nona.” ujarnya lembut.
Athanasia menggeleng, “Tapi aku lapar. Ayo dong, Bibi Moly, kau mau aku mati kelaparan di sini karena tidak makan?” tanyanya. Mata keabuan itu mengerjap lucu, Moly rasanya tidak tahan untuk tidak mengusap wajah menggemaskan itu.
Tersenyum kecil, “Baiklah, kalau begitu ayo. Tapi saya gendong, ya, Nona kecil?” ujar Moly.
Athanasia menggeleng, “Tidak! Aku sudah besar,” ujarnya dengan melipat tangan di depan dada.
Mengerling jahil, “Lalu, tadi yang di gendong sepanjang jalan itu, siapa?” tanya sekretaris muda itu, dengan senyuman menggoda.
Athanasia terkekeh kecil. “Itu beda lagi Bibi, kalau pria tampan yang menggendong, kan Atha tidak mau menolak!” ujarnya malu-malu.
Moly tertawa, dia mengusap rambut pirang itu dengan gemas, “Berarti Jack, tampan?” tanyanya, karena tadi dia melihat Atha langsung menempel dengan laki-laki itu.
Athanasia menyeringai, “Kalau Paman Jack tidak tampan, tidak mungkin Bibi sekretaris suka padanya, kan?” Athanasia mengerling jahil. Moly terkaget, wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hehe, Nona kecil tidak boleh bicara sembarangan!” ujarnya malu-malu.
Athanasia tertawa. “Ayo bibi!” gadis kecil itu menyeret tangan Moly keluar dari ruangan besar itu. Keduanya masuk kedalam lift.
“Nona kecil, mau makan dimana?” Athanasia mencoba untuk berpikir. Kini mereka sudah ada di dalam mobil, tapi sebelumnya Moly sudah memberitahu Arthur kalau Atha minta makan, dan laki-laki itu mengijinkan untuk mereka makan di luar.
“Makan daging sapi panggang!” ujar Athanasia cepat. Moly mengangguk. Dia segera menyuruh sopir untuk pergi kesebuah rumah makan dengan menu yang disebutkan oleh Atha tadi.
“Bibi ... apa Bibi sekretaris kenal dengan ibuku?” Athanasia melirik Moly yang sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
Wanita muda itu berdehem. “Saya tidak pernah mengenalnya, Nona. Tapi saya hanya tau tentang dia dari cerita orang-orang. Karena saya belum lama bekerja dengan Tuan Arthur.” jawabnya. Pembahasan tentang Stella memang masih terasa begitu sensitif.
Athanasia menghela napas, dia melirik Moly dengan sendu. “Aku rindu ibu, Bibi sekretaris!” ujar Athanasia dengan sendu.
Moly langsung membawa gadis kecil itu kedalam dekapannya. “Nona kecil jangan bersedih, nanti ibunya Nona juga pasti sedih di surga, kalau Nona kecil seperti ini.” wanita itu mengusap-usap rambut Athanasia dengan sayang.
Atha mengangkat kepalanya, “Apa nanti aku cari saja, ibu baru sebagai pasangan ayah?” ujar gadis kecil itu dengan penuh semangat. Moly terdiam, “Jangan bahas ini lagi, Nona. Tuan Arthur bisa marah nanti!” peringatnya. Atha mengerutkan bibirnya sebal.
Mobil yang membawa kedua wanita yang berbeda generasi itu tiba di sebuah rumah makan yang menyediakan menu daging sapi panggang.
Atha dan juga Moly keluar dari dalam mobil, mereka masuk kedalam restoran tersebut.
“Nona jadi pesan daging sapi panggang?” tanya Moly. Athanasia mengangguk antusias. Moly segera memesankan makanan tersebut.
Cukup lama pesanan mereka datang, hingga akhirnya para pelayan itu mengantarkannya ke meja mereka.
“Ayo Nona, biar saya suapi!” Athanasia mengikut saja. Dia menerima suapan dari Moly dengan semangat.
Kedua orang itu makan dengan lahap.
Bruk ...
Saat sedang makan, Atha terkejut dengan dua orang yang bertabrakan, membuat salah satunya terjatuh di samping Atha.
Dengan sigap, gadis kecil itu menolong orang tersebut.
“Ahh, bibi tidak apa-apa?” tanya Atha, pada seorang wanita yang di tolongnya itu.
Wanita itu mengangguk, “Bibi tidak apa-apa.” ujarnya tersenyum. Atha ikut tersenyum, “Ayo, aku bantu bibi untuk membereskan ini!” bungkus makanan yang di beli oleh wanita itu sudah jatuh, dan berserakan. Tapi, orang yang tadi menabraknya hanya berlalu begitu saja, tanpa menghiraukan hal tersebut.
Wanita dengan senyuman yang teduh itu mengusap rambut Atha dengan lembut, “Terimakasih.” ujarnya dengan senyuman yang menenangkan. Athanasia tertegun melihat senyuman itu dan juga usapan tangan di kepalanya.
Para pelayan restoran tersebut juga ikut membantu, begitupun Moly, makanan yang terserak itu juga sudah di bersihkan.
“Bibi duduk disini dulu saja!” ujar Atha. Wanita itu mengangguk. Dia duduk di kursi kosong disebelah Atha.
Wanita itu tersenyum lembut, “Untuk menutupi aurat.” ujarnya.
Atha mengernyit, “Aurat? Aurat itu apa?” tanyanya lagi. Moly hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat obrolan didepannya itu.
“Aurat itu adalah tubuh kita yang tidak boleh di lihat oleh orang lain!” jawab wanita itu.
“Oh iya, nama Bibi siapa?”
“Annisa! Panggil saja Bibi Nisa!”
“Bibi Nisa? Kenalkan, aku Athanasia, panggil aku Atha.” Atha menyodorkan tangan di depan Nisa, dan di sambut baik oleh wanita itu. “Oh, iya. Bibi Nisa, kenalkan ini Bibi Moly, sekretaris ayahku.” Nisa tersenyum pada Moly yang juga membalas senyumannya.
“Nona sepertinya bukan dari negara ini, ya?” tanya Moly. Nisa mengangguk. “Iya, saya dari indonesia.” ujarnya. Menjawab pertanyaan itu dengan sangat lancar. Dia fasih berbahasa Jerman.
“Kenapa Bibi ke sini?” tanya Atha.
Nisa tersenyum, “Untuk mengunjungi keluarga saja. Dan ada sedikit pekerjaan juga.” ujarnya.
Nisa, gadis cantik yang berusia 25 tahun. Wanita bergamis dengan jilbab panjang itu kini sedang berada di Jerman, untuk mengunjungi kakek dan neneknya. Dan kebetulan tadi dia sedang pergi berjalan-jalan di sekitar kota, hingga dia mampir di sebuah restoran halal yang ada disana. Dan bertemu dengan Nisa.
“Bibi Nisa, gaya berpakaian bibi sedikit aneh, apa karena menutup aurat itu?” tanya Atha. Nisa mengangguk.
“Oh, iya. Atha, bibi harus segera pergi karena ada sedikit urusan. Bibi tinggal, ya?”
“Atha ....”
Belum sempat Athanasia menjawab, dia mendengar namanya di panggil, dia menoleh ke asal suara, ada ayahnya yang berdiri dengan Jack di sana. Nisa ikut menoleh, begitu dia melihat ada dua pria yang mendekat, dia langsung mengalihkan tatapannya.
“Ayah,” ujar Athanasia senang. Arthur menoleh pada wanita berhijab yang duduk depan Atha, yang sepertinya hendak pergi.
“Maaf, Tuan, Moly, saya permisi.”
“Atha ... Bibi pergi dulu, ya? Kalau berjodoh, nanti kita bertemu lagi.” ujar Nisa sembari tersenyum, Atha ikut tersenyum. Nisa mengusap kepala ayah sekali lagi dengan penuh kasih sayang.
Setelahnya Nisa segera berlalu dari sana, Arthur memperhatikan gerak jalan wanita dengan pakaian yang benar-benar tertutup itu. Ada yang sedikit aneh dengan dirinya, saat melihat wajah teduh nan bercahaya itu.
“Atha, kenapa kau bicara dengan orang asing?” tanyanya. Atha menoleh pada Arthur, karena sebelumnya dia juga memperhatikan langkah kaki Nisa.
Moly segera bangkit, dia berdiri di samping Jack. Arthur duduk di kursi bekas Moly tadi.
“Dia bibi Nisa, aku baru kenalan dengannya tadi, ayah.” ujar Atha.
Arthur mendesah, “Lain kali, jangan bicara seperti itu lagi dengan orang asing!” ujar Arthur. Athanasia hanya mengangguk.
“Oh iya, bagaimana ayah tau, kami disini?” tanya Atha. “Bukankah ayah sedang rapat?” sambungnya.
Arthur mendesah lagi, “Rapatnya sudah selesai, makanya ayah susul kalian ke sini!” jawabnya. Atha hanya mengangguk saja.
“Jack, cari meja lain, kalian makanlah. Aku akan makan juga!” Arthur memberi perintah pada Jack, laki-laki itu langsung mengangguk.
****
“Apa ayah merindukan ibu?” Athanasia yang berada didalam gendongan Arthur itu bertanya, saat mereka sedang berjalan menuju makam Stella.
Arthur tersenyum, “Tentu saja, Sayang. Bagaimana mungkin ayah tidak merindukan ibumu.” ujarnya. Atha hanya diam saja.
Mereka sampai pada makan yang tampak sangat terawat itu, Arthur menurunkan Atha dari gendongannya. Gadis kecil itu berdiri di depan tanah makam itu, sedangkan Arthur berjongkok.
“Sayang ... aku mengunjungimu bersama dengan putri kita. Bagaimana kabarmu disana?”
“Kau tau, putri kita sekarang sudah besar, dia juga sangat cantik sepertimu!” Arthur memegang nisan itu, dia tersenyum pedih.
Athanasia memegang pundak ayahnya. Kalau mereka sudah mengunjungi makam ini, maka nanti ayahnya itu pasti akan menangis.
“Stella, walaupun kau sudah pergi selama tiga tahun, tapi aku masih belum bisa melepaskanmu.” laki-laki itu terdiam. Dia mengangkat kepalanya, “Tapi ... putri kecil kita ini, selalu tau cara bagaimana membuat aku bahagia, aku beruntung memilikinya.” Arthur menggenggam tangan kecil Atha. Gadisnya itu tersenyum, dia memeluk leher Arthur dan membenamkan wajahnya di sana.
Laki-laki itu mengusap puncak kepala Athanasia dengan penuh kasih sayang.
“Aku mengunjungimu karena aku tadi tiba-tiba teringat denganmu. Aku tidak bisa lama-lama di sini, aku akan pergi!” Arthur berdiri. Dia menoleh pada Atha. “Ayo, Sayang.” ujarnya.
Gadis kecil itu menggeleng, “Ayah duluan saja, aku ada yang ingin aku katakan dengan ibu, hanya tiga menit saja.” ujarnya. Arthur terdiam, lalu laki-laki itu mengangguk. “Baiklah, ayah tunggu di sana!” Athanasia mengangguk.
Arthur berjalan pergi dari makam itu, dia menjauh dari sana, meninggalkan Atha yang sedang ingin berbicara dengan ibunya itu
“Ibu ... Atha rindu.” Athanasia berjongkok. Kepalanya menunduk, tangannya bergerak gelisah. “Atha sangat rindu.” ujarnya lagi. Suaranya terdengar parau.
“Ibu ... maafkan Atha. Karena Atha, ibu jadi pergi meninggalkan ayah.” kepala kecil itu semakin menunduk.
Air mata mengalir di kedua sisi pipi tembem itu.
“Ibu ... tadi Atha bertemu dengan seorang Dewi.” wajah yang semula tertunduk itu kemudian terangkat. “Atha merasakan ada kehadiran ibu didalam dirinya, saat dia mengusap kepala Atha tadi.” wajah kecil itu perlahan berubah, dia menunjukkan senyuman termanisnya.
“Apa mungkin dia orang yang ibu kirim untuk menggantikanmu?” tanyanya tersenyum, tapi setelah itu dia kembali menunduk. “Tapi ... aku rasa tidak, karena kita berbeda keyakinan dengannya.” manik ke abuan itu memerah menahan air mata.
“Ibu ... Atha pulang dulu, ayah sudah menanti di sana. Atha janji, akan membuat ayah bahagia, agar ibu bisa tenang di surga sana.” tubuh kecil itu perlahan bangkit. “Atha pulang dulu, Bu. Nanti Atha akan sering-sering ke sini!”
Atha berjalan meninggalkan pusara itu, dia mendekat pada Arthur. “Sudah bicaranya?” tanya laki-laki itu. Atha mengangguk.
Arthur menggendong anak gadis kecilnya itu, lalu berjalan menuju mobil. Sopir sudah menunggu di sana begitupun dengan Jack yang tadi ikut.
“Kita ke mansion keluarga Alexander!” ujar Arthur. Saat dia sudah duduk di kursi belakang, bersama dengan Atha.
“Baik, Tuan!” sopir itu menjawab cepat. Dia segera menjalankan mobil mewah itu, meninggalkan area pemakaman.
Di bawah langit sore yang berwarna jingga, cahaya terang yang berbayangkan seorang wanita cantik, sedang tersenyum manis melihat kepergian kedua orang yang dicintainya itu. Kemudian hilang di sapu oleh gemerisik angin yang menggugurkan dedaunan.
Mobil hitam mewah itu menyusuri jalanan padat di sore hari. Memang inilah kebiasaan Arthur. Kalau dia sehabis mengunjungi makam Stella, maka dia akan pulang ke rumah keluarga besar itu.
Rumah sebuah keluarga yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri. Keluarga yang selalu membantu dia di saat-saat terberatnya.
Keluarga yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Keluarga yang melakukan apapun untuk membangkitkannya, memberikannya semangat. Memberikan kasih sayang Ayah-ibu, Kakak-adik padanya.
Hal yang paling di syukuri oleh Arthur saat ini adalah, memiliki orang-orang baik yang berjalan seiring dengannya. Memiliki seorang gadis kecil yang sangat dia cintai. Walaupun tanpa cintanya, tapi Arthur merasa hidupnya begitu sempurna.
***
End