My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Mendebarkan lagi



Pulang dari acara ulang tahun Aletta, Stella dan Arthur kembali ke rumah mereka. Ibu hamil itu merengek, menginginkan pasta buatan Nemi. Arthur tidak masalah, dia langsung menjalankan mobilnya menuju arah pulang.


“Kenapa kau tidak minta pada salah satu pelayan di mansion, Tuan Max tadi?” tanya Arthur, melirik sang istri yang duduk di sampingnya. Hanya melirik sekilas, setelah itu dia kembali fokus pada kemudi mobil yang sedang di pegangnya.


Stella menoleh, “Anakku maunya buatan Nemi,” ucap Stella. Arthur hanya mendengus kecil. Alasannya itu banyak sekali. Bilang saja kalau ia yang ingin, kenapa harus bawa-bawa anak segala?


“Oh iya, besok kan akhir pekan, apa kau bisa menemani aku untuk ikut senam ibu hamil?” tanya Stella. Arthur terdiam sebentar mendengar perkataan sang istri.


“Jam berapa?” tanyanya.


“Pukul sepuluh pagi!” jawab Stella. Arthur mengangguk-angguk. “Aku akan menemanimu besok!”


Mobil hitam yang dikemudikan oleh Arthur berbelok menuju komplek rumah megahnya. Di pos, penjaga yang sudah mengenali kalau itu adalah mobil Arthur, langsung membiarkan laki-laki itu untuk melanjutkan kemudi mobilnya.


Turun dari dalam mobil, Stella di sambut oleh Nemi di pintu masuk. Tadi Arthur sudah memberitahu pada wanita tua itu, untuk menyiapkan pasta sesuai keinginan sang istri. Dan tampaknya, wanita itu sudah membuatkannya.


“Apa pastanya sudah siap?” tanya Stella. Dia berjalan beriringan dengan Nemi, mengabaikan Arthur yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah istri dan juga asisten rumah tangganya itu.


Nemi mengangguk cepat. “Sudah, Nyonya. Semuanya sudah beres!” Stella tersenyum sumringah. Wanita itu langsung berjalan menuju ruang makan, yang dekat dengan dapur. Stella duduk di atas kursi, diikuti oleh Arthur setelahnya. Nemi kemudian langsung menghidangkan pasta sederhana buatannya pada sang Nyonya rumah. Wanita paruh baya itu terlihat bahagia saat melihat Stella memakan pasta buatannya dengan begitu lahap.


“Tuan mau juga?” tanya Nemi pada Arthur, yang sedari tadi hanya diam memperhatikan cara makan sang istri. Laki-laki itu mendongak. Lalu menggeleng. “Untuk istriku saja!” ujarnya. Nemi mengangguk mengerti.


“Apakah enak, Nyonya?” tanya Nemi. Stella mengangguk antusias. Wanita hamil itu tersenyum lebar, senyuman di wajahnya sungguh memesona, membuat orang yang ada di dekatnya ikut tersenyum.


Setelah menghabiskan dua piring pasta, Stella meminum air putih yang sudah disiapkan oleh Nemi. Arthur hanya diam saja saat melihat interaksi kedua wanita tersebut.


“Aku kenyang sekali!” ujar Stella tersenyum tipis. Wanita itu mengusap perutnya yang buncit, Arthur ikut tersenyum melihat istrinya tersenyum seperti itu.


Nemi segera membereskan piring makan Stella, wanita itu menyelesaikannya dengan cepat. Stella menoleh pada Arthur. “Ayo kita ke kamar, aku mau mandi!” Arthur mengangguk saja, dia bangkit dan menggandeng tangan sang istri, lalu melangkahkan kaki mereka menuju kamar.


Stella duduk di atas tempat tidur, tersenyum tipis melirik Arthur yang sedang membuka jasnya. “Ada apa?” tanya Arthur saat dia sadar kalau dirinya sedang di perhatikan.


“Arthur, kenapa kau tampan sekali?” ujar wanita itu, sembari memegang pipinya. Arthur mengernyit bingung, laki-laki itu kemudian mendengus, “Apa yang kau inginkan?” tanyanya. Stella langsung menggeleng.


“Ingin apa? Aku hanya memuji suamiku sendiri!” jelasnya. Arthur menggeleng tidak percaya. Laki-laki itu ikut duduk di atas tempat tidur.


“Kenapa kau tiba-tiba memujiku? Kau ingin sesuatu?” tanyanya. Arthur menyeringai saat melihat istrinya tersenyum malu-malu. Laki-laki itu mengusap rambut pirang Stella dengan lembut.


“Ayo kita mandi dulu, kau pasti gerah, kan?” Stella mengangguk lemas. Dia mengikuti langkah kaki Arthur menuju kamar mandi.


****


Pagi ini, kedua pasangan suami-istri itu, sedang berkemas untuk pergi ke tempat senam ibu hamil yang akan di ikuti oleh Stella. Wanita itu tampak semakin seksi dengan baju olahraga yang melekat di tubuhnya yang sudah bengkak dimana-mana.


“Apa baju ini jelek?” tanya Stella mengerucutkan bibirnya. Arthur cepat-cepat menggeleng, “Tidak, ini sangat cocok untukmu!” ujarnya. Stella mendelik, “Kau serius?” tanya wanita itu.


Arthur menghembuskan napas kesal, “Aku serius, Sayang!” ujar Arthur dengan menekankan kata-katanya.


“Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat!” Arthur menggandeng tangan sang istri, keluar dari kamar mereka. Nemi menyambut di ruang keluarga.


“Tuan dan Nyonya, jadi pergi ke tempat senam?” tanya wanita itu. Stella dan Arthur mengangguk.


“Ya sudah, kami pergi dulu, Nemi!” Nemi mengangguk. Dia mengantar Stella dan Arthur sampai ke depan pintu.


Mobil yang dikendarai oleh Arthur, keluar dari pintu gerbang utama, kedua pasangan itu akan pergi ke sebuah tempat senam ibu hamil, tidak jauh dari rumah mereka.


Tidak ada obrolan selama dalam perjalanan, Stella sibuk melihat ponselnya, mencari di Google tentang gerakan senam yang akan dia ikuti.


Arthur sesekali menoleh pada sang istri, laki-laki itu hanya tersenyum tipis melihat Stella yang tampak antusias karena akan pergi senam.


Mobil Arthur berhenti tepat di depan lobi bangunan yang cukup besar itu. Keduanya turun dari dalam mobil, Stella menggandeng tangan Arthur, saat matanya menangkap banyak wanita yang ikut senam di sana, bukan hanya senam ibu hamil juga ada yoga. Tubuh mereka sangat indah.


Stella dan Arthur melakukan pendaftaran, setelah selesai dengan semua administrasinya, mereka di giring berjalan menuju ruangan yang sedang di pakai oleh ibu hamil lainnya untuk melakukan senam.


Stella melirik takjub pada wanita-wanita berbadan besar yang sedang melakukan gerakan senam itu.


***


Meminum minumannya, Stella duduk di kursi luar ruangan senam tadi. Menunggu Arthur yang sedang pergi ke toilet. Wanita itu melihat-lihat ponselnya, tubuhnya terasa lebih segar saat ini, apalagi senam tadi terasa menyenangkan untuknya.


Cukup lama Stella menunggu, tapi Arthur tidak kunjung kembali. Wanita itu tidak sabar, hingga akhirnya dia berjalan ke arah toilet laki-laki, celingak-celinguk tidak ada orang.


“Arthur?” panggil Stella. Arthur menyahut dari dalam. Stella merasa lega, dia berbalik melangkah, tapi saat ini juga kakinya terpeleset, karena lantai yang licin.


“Akkhhh ....” Stella menjerit saat dia terduduk di lantai, perutnya terasa sakit sekali. Arthur yang mendengar suara jeritan itu langsung bergegas keluar dari kamar mandi. Mata terbelalak melihat Stella terduduk di sana, dan yang lebih mengejutkan, ada darah yang keluar antara kungkungan kaki wanita itu.


“Stellaaa....” Arthur syok bukan main. Orang-orang berdatangan, bahkan cleaning servis yang berkerja di sana pun ikut melihat, tubuhnya panas dingin saat melihat ada seorang wanita hamil yang jatuh, di tempat dia mengepel tadi.


Arthur segera mengangkat Stella, menuju mobilnya. Bahkan dia tidak mempedulikan tas istrinya yang tertinggal di sana. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, bagaimana dia bisa membawa wanita yang sangat dia cintai ini menuju rumah sakit secepatnya.


Darah masih mengalir dari jalan lahir sang bayi, Stella bahkan sudah pingsan. Arthur merutuki dirinya karena sudah membawa Stella ke tempat itu, semua ini tidak akan terjadi kalau mereka tidak kesana. Dan istrinya ini tidak akan seperti ini kalau dia tidak menyusul Arthur ke kamar mandi.


Arthur membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Semua kendaraan dia salib, bahkan saat itu terdengar sirine polisi yang mengejarnya, laki-laki itu tidak menghiraukan tapi tetap membawa istrinya menuju rumah sakit terdekat.


Bertepatan dengan mobil Arthur yang masuk parkiran rumah sakit, mobil polisi pun tiba di sana. Kedua orang berpakaian seragam itu mendatangi mobil Arthur.


Arthur keluar dari dalam mobil, dia membuka pintu di sebelahnya, wanitanya sudah lemas, bahkan menutup mata. Arthur berdoa pada Tuhan, semoga bayi dan juga istrinya tidak apa-apa.


“Selamat siang ...”


“Apa kau tidak bisa lihat aku pergi ke mana? Kau tidak lihat Istriku sedang sekarat karena akan melahirkan?” Arthur berteriak. Dia mengangkat tubuh istrinya keluar dari dalam mobil, polisi itu tercengang saat melihat banyaknya darah yang ada di atas tempat bekas Stella duduk tadi.


Kedua polisi itu mengawal Arthur masuk ke dalam, mencari brangkar untuk wanita malang itu. Dokter segera membawa Stella ke ruang operasi. Dua polisi itu menenangkan Arthur yang sedang mengamuk, karena tidak di perbolehkan untuk ikut masuk kedalam.


“Tenanglah Tuan!” ujar salah satu polisi. Arthur mendelik marah. “Bagaimana aku bisa tenang kalau istriku sedang sekarat di dalam!” ujarnya dengan berteriak. Dua polisi tidak bersalah itu hanya bisa mengusap dada. Arthur berjalan bolak-balik di depan ruang operasi.


Seorang suster menghampirinya untuk segera melakukan pembayaran administrasi. Arthur mengekor, polisi yang tadi bersamanya tidak ikut, mereka bahkan ikut menunggu Stella di depan ruang operasi.


“Aku takut dia kenapa-napa, darahnya banyak sekali tadi!” seorang polisi yang masih muda bertanya pada rekannya yang sudah cukup umur dan menikah.


“Kita berdoa saja, semoga Tuhan memberikan mukjizatnya!” dua polisi itu duduk di bangku tunggu di depan ruang operasi.


Arthur kembali dari ruang administrasi. Laki-laki itu mengabaikan dua polisi yang sedang duduk menemani dirinya.


Arthur mengepalkan tangan saat mengingat, Stella terjatuh di tempat senam tadi.


Sedangkan di tempat insiden tadi, cleaning servis yang tadi tidak memberikan papan pemberitahuan di dekat lantai kamar mandi, kalau lantainya masih basah sedang menundukkan kepalanya takut. Dia memang sangat ceroboh, melupakan memberikan plang itu. Yang mengakibatkan seseorang terjatuh karenanya.


“Kita tunggu saja apa yang akan terjadi nanti! Kau tidak tau siapa dia?” wanita paruh baya tapi dengan tubuh yang masih bugar itu menatap cleaning servis itu dengan tatapan marah. Cleaning servis itu menggeleng.


“Dia nyonya Stella Halmington. Suaminya Arthur Halmington! Pemilik perusahaan besar Halmington group!” ujarnya sarkas. Wanita tua itu mengusap wajahnya kasar, dia tidak yakin dengan keadaan tempat ini kedepannya.


Kembali ke Arthur, laki-laki itu berjalan bolak-balik di depan pintu ruang operasi. Kedua polisi yang melihat hal itu hanya diam, mereka memakluminya.


“Ya Tuhan, kalau terjadi apa-apa dengan istriku, aku bersumpah akan membuat mereka hancur!”


***


🥀🥀