
Arthur berdiri di sisi makam mendiang sang istri. Kakinya sangat berat untuk melangkah pergi. Satu persatu para pelayat meninggalkan area pemakaman itu. Hari yang sudah mulai gelap, membuat semua orang segera meninggalkan tempat peristirahatan terakhir dari Nyonya besar Halmington tersebut.
Bahkan, ayah Stella juga sudah dibawa oleh Max untuk segera pergi dari sana. Mereka memberikan waktu untuk Arthur berbincang dengan istrinya.
Ayah dari seorang bayi kecil itu, berjongkok di depan papan nama Stella. Laki-laki itu terkekeh miris.
“Aku tidak menyangka dengan semua kejutan yang kau berikan hari ini, Sayang.” Arthur memegang nisan dengan plang salib itu.
“Kau satu-satunya manusia pembohong yang pernah aku kenal seumur hidupku!” laki-laki itu kini terkekeh sinis. Tapi, walau begitu, air bening turun dari pelupuk matanya.
Tangannya memegang papan salib itu, ada getaran tidak terima di sana. “Padahal aku sudah menyerahkan semuanya padamu, tapi kau masih berani-beraninya membohongi aku. Kau penipu! Kau pembohong besar, Stellaa!!” lagi-lagi Arthur terkekeh sinis.
“Harusnya aku tidak terlalu mencintaimu, hingga aku mengizinkan kau untuk pergi ke tempat sial itu! Harusnya aku mengurungmu di rumah, harusnya aku menyiksamu di rumah, hingga kau tidak bisa kemana-mana dan tidak akan pernah pergi meninggalkan aku seperti ini!”
“Hahaha ...” Arthur tertawa keras. “Bahkan bumi pun menertawakan aku!” sinisnya, saat perlahan puncak kepalanya terasa basah.
Air turun dari langit, seakan mengerti dengan kesedihan penghuni bumi yang hari ini kehilangan cintanya, untuk bisa mengikis air mata yang keluar dari sudut mata laki-laki yang sangat mencintai istrinya itu.
“Haha, Sayang ... Kau pasti sedang tertawa saat ini, bukan? Lihatlah, langit pun menertawakan aku!” Arthur tertawa miris. Langit malam kali ini benar-benar gelap, air yang menetes membasahi tubuhnya benar-benar deras.
Manik mata yang sudah memerah itu menatap gundukan tanah di depannya dengan pedih. Isak tangis yang sedari tadi ia coba untuk redam, akhirnya lolos.
Isakan itu terasa pedih, bagai di sayat sembilu. Siapapun yang mendengarnya, pasti bisa merasakan apa yang sedang laki-laki menyedihkan itu kini rasakan.
Apalagi yang lebih menyayat hati, daripada kehilangan orang yang kita cintai selama-lamanya. Bukan meninggalkan karena ada cinta lain di hatinya, tapi ditinggalkan karena dia lebih di cintai oleh sang pemilik seluruh cinta.
Apalagi yang lebih menyakitkan, saat orang yang kita cintai, meninggalkan sebuah nyawa untuk kita cintai dengan cinta yang sama besarnya dengan cinta yang kita beri untuknya, sedangkan dia melangkah pergi dengan semua kenangan yang mendebarkan hati.
Tolong sebutkan, apalagi yang lebih menyakitkan dari itu? Apalagi yang lebih menyedihkan daripada itu? Sebutkan!
Dia yang awalnya memberikan senyuman bahagianya sebelum kita melangkah, tapi saat kita berbalik untuk membalas senyumannya itu, dia sudah terbujur kaku di depan kita. Apalagi yang lebih menyedihkan daripada kejutan itu? Apalagi?!
“Aku tidak menyangka, aku menikahi seorang pembohong, hahaha.” tawa miris itu benar-benar menyayat hati, hidung mancung yang sudah memerah itu menjadi semburat bukti, betapa menyedihkan tangisnya.
“Sayang ... Karena kau membohongi aku, maka aku tidak akan mencintaimu lagi. Tidak, aku tidak akan mencintaimu lagi. Karena ada putri kita yang harus aku cintai, sebesar aku mencintaimu. Bahkan lebih besar dari cintaku untukmu. Haha, kau dengar itu? Aku mencintai orang lain, hahaha....”
Derasnya suara rintik hujan, menenggelamkan suara yang penuh dengan kepedihan itu. Rintiknya terasa menyakitkan, manik yang penuh dengan awan kelabu itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan kesakitannya.
“Arthur, ayo!”
Sang peduka menoleh ke samping, ada seorang laki-laki yang berdiri di dekatnya dengan sebuah payung besar, melindunginya dari rintik hujan yang terasa menyakitkan, menjadi bukti betapa derasnya air yang turun dari langit.
“Aku ... Aku ingin menemani dia disini saja, Matt. Walaupun dia wanita pemberani, dia itu takut petir dan juga takut gelap.” bibir pucat itu bergelatuk, penanda betapa kedinginannya tubuh ringkih itu.
“Menurutmu, kalau kau di sini, lalu siapa yang akan menjaga hati yang dia tinggalkan untukmu? Hem? Siapa? Aku? Kalau begitu, baiklah. Aku akan menjaga permata yang dia tinggalkan itu dengan jiwaku sendiri, kau temani lah dia di sini, biar aku yang mengurus permata kecil itu!”
Matt hendak melangkah melewati air yang sudah mengalir di bawahnya. Tapi, tangan laki-laki itu di cengkram oleh laki-laki yang kini menatapnya dengan sorot sendu.
“Aku akan pulang. Dia pasti akan mengerti ini, kan? Dia sudah dewasa, sedangkan permataku masih kecil. Ayo, ayo pulang, aku takut dia sedang kedinginan saat ini!”
Matt tersenyum samar, seberapapun menyedihkannya kondisi laki-laki di depannya saat ini, tapi ia tetap harus menyadarkannya, masih ada satu buah cinta yang harus dia jaga seumur hidupnya.
Sebelum melangkah, Arthur berbalik. Dia menatap gundukan tanah itu dengan dalam. Matt berdiri di belakangnya untuk memayungi laki-laki itu.
“Sayang ... Aku pulang dulu, kau istirahatlah dengan tenang. Soal tadi ... Aku berbohong, aku tidak benar-benar tidak mencintaimu lagi. Tadi ... tadi aku hanya bercanda.”
Matt memalingkan wajahnya ke arah lain. Menatap pada jalan yang gelap, segelap cahaya mata laki-laki menyedihkan di depannya.
Kedua langkah kaki lebar itu, meninggalkan gundukan tanah yang basah karena langit yang sedang menangis. Secercah cahaya, wanita berparas cantik sedang tersenyum menatap kepergian laki-laki yang amat dia cintai. Hingga perlahan hilang di telan derasnya air yang jatuh membasahi bumi yang gersang.
***
Hujan yang tidak kunjung surut, menjadi bukti, betapa lamanya langit menangis, mengantarkan kepergian salah satu penghuninya yang agung.
Arthur duduk di samping kursi kemudi. Matt membawa mobilnya sendiri, kedua orang itu akan pergi ke mansion sebagai mana yang sudah diperintahkan oleh Max.
Arthur hanya diam sepanjang perjalanan. Matanya menatap kosong ke depan, tak ada cahaya sedikitpun di sana. Semuanya terlalu cepat, dan juga terlalu menyedihkan.
Mobil hitam itu masuk kedalam gerbang besar yang terbuka otomatis. Pengawal dengan sigap membukakan pintu saat mobil itu tiba di lobi depan pintu utama mansion.
Matt keluar dari dalam mobil, di susul oleh Arthur yang berjalan dengan sedikit terhuyung di belakang. Kepalanya terasa sedikit pening, tapi dia paksakan untuk terus melangkah.
Martin membuka pintu utama, menyambut kedatangan dua laki-laki tampan itu. Yang satu terlihat menawan, dan yang satunya lagi terlihat menyedihkan dengan pakaian yang basah kuyup karena terkena air hujan.
Matt berjalan menuju ruang keluarga, di sana semua orang sedang berkumpul, kecuali Aletta dan juga balita kecil yang sudah tertidur di kamar mereka.
Arthur berjalan menuju sofa, tapi sebelum tiba di sana, tubuhnya sudah terlebih dahulu terhuyung ke belakang, hingga akhirnya laki-laki itu tidak sadarkan diri saat Matt menangkapnya dengan sigap.
“Astaga ....” semua orang panik. Max langsung mendekat. “Dia terkena demam tinggi! Bawa dia ke kamar yang biasanya dia pakai, panggilkan dokter Bryan!” Max memberikan perintah. Thomas dan Matt memapah Arthur menuju kamar yang biasa ditempati oleh laki-laki itu saat menginap di mansion.
Martin langsung menelpon dokter keluarga Alexander untuk datang ke rumah besar itu, dia juga menyuruh pelayan untuk menyiapkan pakaian ganti.
**
Pakaian Arthur sudah di ganti dengan baju tidur, hujan lebat yang mengguyur jalanan membuat perjalanan menjadi sedikit lebih lambat. Pelayan mengompres kening Arthur dengan air hangat, supaya bisa mengurangi demamnya.
Setelah beberapa lama, dokter Bryan tiba di mansion, laki-laki itu langsung dibawa menuju kamar Arthur, untuk mengecek kondisi laki-laki itu.
“Dia terkena demam tinggi, karena terlalu lama terkena air hujan, dan juga kondisi tubuhnya sejak awal memang sudah tidak fit.” jelas Bryan saat ia sudah selesai memeriksa Arthur.
Max, Thomas, dan Matt hanya bisa bernapas lega. Dokter Bryan juga memasangkan infus pada tangan Arthur.
“Terimakasih dokter!” ujar Max.
Dokter Bryan tersenyum ramah, lalu dia pamit untuk pulang setelah memberikan resep pada Martin.
Selepas kepergian dokter Bryan, Max menghela napas panjang. “Dia benar-benar terlihat menyedihkan!” gumam laki-laki tua itu.
“Kalian istirahatlah, hari ini benar-benar melelahkan!” Max dan Thomas mengangguk. Mereka pergi dari sana. Sedangkan Max masih berdiri di samping tempat tidur yang ditempati oleh laki-laki menyedihkan itu.
Langkah lebar itu perlahan meninggalkan kamar tersebut. Max menutup pintu dengan pelan. Lalu beranjak dari sana. Dia menemui Martin, untuk memberikan tugas pada laki-laki itu, agar selalu memeriksa keadaan Arthur, sekali se jam. Kepala pelayannya itu mengangguk. Max segera berlalu dari sana.
***
Secercah cahaya mentari mulai merasuki gorden besar yang menutupi jendela kaca yang melindungi ruang kamar itu dari hawa luar.
Bunyi kicauan burung menghiasi langit pagi. Tanah yang basah, menjadi bukti kalau semalam langit benar-benar memuntahkan tangisannya.
Daun-daun yang segar terkena hujan, menjadi lebih hijau. Langit pagi yang cerah, menghapus kabut hitam yang semalam menyelimuti.
Sorot manik mata sendu itu terbuka secara perlahan. Tubuhnya sudah tidak sepanas semalam. Pelayan bergilir mengganti kompres yang diletakkan di keningnya.
Menatap lurus ke langit-langit kamar kamar, Arthur berharap kalau saat ini dia terbangun di kamarnya dengan sang istri yang berbaring memeluknya dari samping.
Tapi, saat melihat lampu gantung mewah yang ada di atasnya, Arthur tahu, kalau ini di tempat lain.
Arthur menggerakkan tangannya yang di pasangkan infus. Membuat laki-laki itu sadar, kalau semua yang terjadi kemarin bukanlah mimpi. Itu adalah kenyataan pahit yang harus dia terima walaupun sangat sulit untuk menerimanya.
Laki-laki itu perlahan bersandar di kepala ranjang. Tangan kekarnya mengusap keningnya yang terasa pening. Laki-laki itu menghembuskan napas berat. Hidupnya benar-benar berat.
Arthur menyadari, kalau kini ia berada di kediaman keluarga Alexander, laki-laki itu berusaha untuk membuka infus di tangannya dengan sedikit paksa. Setelah itu, dia berjalan begitu saja keluar dari kamar.
Para pelayan yang melihat Arthur keluar kamar, langsung mendekat. “Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya salah satu dari mereka. Arthur langsung menggeleng, Dia berjalan menuju ruang keluarga. Tidak ada siapa-siapa di sana, laki-laki itu duduk di salah satu sofa besar yang terletak di ruang itu.
Martin yang melihat Arthur duduk di ruang keluarga, langsung menghampirinya. “Tuan sudah bangun? Maafkan saya, apa Tuan mau sarapan sekarang?” Martin bertanya dengan penuh hormat.
Arthur menggelengkan kepalanya. “Aku tidak lapar!” jawabnya singkat.
Martin menghela napas berat, dia sangat memahami kondisi laki-laki tampan di depannya ini.
“Saya akan mengambilkan sarapan, untuk, Tuan!” ujar laki-laki itu memutuskan. Dia segera berjalan menuju dapur, tanpa mendengar jawaban Arthur. Laki-laki itu mendesah.
Tubuhnya masih terasa cukup lemah, tapi sungguh dia tidak selera untuk makan apapun saat ini.
“Silahkan, Tuan!” Arthur mendelik kesal pada Martin. Laki-laki tua itu terus saja memaksanya.
“Aku tidak mau makan, aku tidak lapar!” desis Arthur sedikit kesal. Tapi Martin tampak tidak peduli.
“Kalau Tuan tidak memikirkan diri Tuan sendiri, tidak apa-apa. Tapi, setidaknya pikirkan putri Tuan yang sedang berjuang hidup di rumah sakit. Dia butuh penyemangat untuk bertahan hidup!”
Arthur terhenyak mendengar perkataan Martin. Putrinya! Ya, putrinya bersama dengan wanita yang sangat dia cintai. Bagaimana mungkin dia melupakan putri kecilnya itu.
Dengan perlahan, tangan Arthur meraih piring yang ada di atas nampan. Laki-laki itu rasanya sangat tidak mau untuk makan, tapi ... demi Athanasia dia harus makan. Dia harus menjaga putri kecilnya itu dengan nyawanya sendiri. Itulah buah cinta yang di tinggalkan Stella untuknya. Dan Arthur harus merawatnya dengan baik.
Dengan perasaan malas, Arthur memakan sedikit demi sedikit makanan yang ada di atas piring itu, Martin tersenyum tipis. Dia menyodorkan air pada Arthur dan diterima dengan baik oleh laki-laki itu.
Walaupun masih ada sedikit sisa, tapi Martin bisa bernapas lega, karena laki-laki yang ada di depannya ini memakan makanan yang sudah dia siapkan. Martin membawa kembali piring kotor itu ke dapur.
Matt turun dari kamarnya. Laki-laki itu melihat Arthur berada di ruang keluarga, dia perlahan mendekat.
“Kau sudah mendingan?” Arthur menoleh pada Matt yang bertanya. Laki-laki itu mengangguk singkat, Matt menghembuskan napas lega.
Matt duduk di sofa samping Arthur. “Kau mau ke rumah sakit?” tanyanya. Arthur menoleh lagi pada laki-laki yang masih menjadi boss nya itu. Kemudian dia menggeleng.
Matt mengangguk-angguk, “Aku akan mengantarmu, kau sudah sarapan?” tanyanya lagi. Arthur mengangguk lagi. Rasanya, dia tidak mempunyai cukup banyak tenaga untuk bicara hari ini.
“Baiklah, kau ganti baju dulu. Aku akan sarapan dulu, setelah itu kita pergi ke rumah sakit!” Matt berdiri, dan dia segera berlalu pergi dari sana. Arthur perlahan bangkit, tenaganya sudah cukup terisi karena makanan yang diberikan oleh Martin tadi.
Dia memutuskan untuk mandi, pakaiannya yang masih ada didalam lemari yang ada dikamar itu, ia gunakan. Setelahnya dia keluar dari kamar, dan tampaknya Matt sudah selesai sarapan bersama dengan yang lainnya.
“Kau mau ke rumah sakit?” tanya Max. Arthur mengangguk, Max mangut-mangut.
“Hati-hati! Jangan tunjukkan kesedihanmu di depan putrimu, dia pasti juga bisa ikut merasakan kesedihan itu nanti!” ujar Max. Arthur hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Matt dan Arthur segera berangkat menuju rumah sakit, jalanan yang cukup padat hari ini membuat perjalanan mereka sedikit lambat.
Tiba di parkiran VIP rumah sakit, Matt keluar. Di susul oleh Arthur setelahnya. Rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit tempat Stella melahirkan kemarin.
Arthur berpikir, mungkin Max yang sudah memindahkan tempat perawatan putrinya ke rumah sakit Luciano.
Mereka berjalan masuk, para dokter dan juga perawat yang kebetulan lewat saat mereka masuk menundukkan kepala hormat. Matt hanya menjawab dengan senyum kaku, sedangkan Arthur tidak menghiraukannya sama sekali.
Mereka berjalan menuju ruang khusus bayi. Baby Athanasia tampak sedikit berbeda dari bayi lainnya, karena tempatnya lebih besar dan juga lebih dekat dengan ruang dokter. Max memberikan pelayanan nomor satu untuk bayi perempuan yang sangat mungil itu.
Arthur merasa terharu dengan apa yang sudah keluarga itu berikan. Disaat dia sendiri yang sudah hampir melupakan putrinya, nyatanya ada orang lain yang sangat memperhatikan putri kecilnya itu.
“Kau masuklah. Temui dia lagi, dia pasti merindukanmu!” Arthur mengangguk saja. Matt menunggu di luar, Arthur masuk kedalam ruang bayi itu.
Bayinya yang sudah tampak lebih kuat dari sebelumnya, menyambut Arthur dengan badan yang terus dia gerak-gerakkan. Arthur tersenyum tipis saat melihat itu, hatinya menghangat. Bagaimana dia bisa sempat melupakan makhluk kecil ini, karena rasa putus asanya kemarin?
“Selamat pagi, Atha. Ayah datang menjengukmu, apa kau sudah merasa lebih sehat hari ini?” laki-laki itu sedikit menunduk melihat dalam inkubator itu. Bayinya semakin bergerak cepat saat mendengar suaranya, mungkin dia merindukan suara itu untuk menyapanya.
“Maafkan ayah, ya. Kemarin ayah sempat putus asa, dan melupakanmu. Tapi ayah janji, ayah tidak akan berbuat itu lagi.” ingin rasanya Arthur memegang tangan yang bergerak-gerak itu. Tapi kini dia dan putrinya masih di batasi.
“Oh iya, kau harus cepat sehat. Untuk mencobakan kamar barumu. Ayah dan ibu sudah menyiapkannya untukmu.” Arthur menepis rasa itu lagi. Dia tidak mau mengeluarkan air matanya lagi, sudah cukup. Hidupnya harus tetap berlanjut, ada malaikat kecil yang harus ia besarkan dan ia jaga.
Arthur tidak mau menjadi laki-laki pengecut bagi putrinya.
Arthur menghela napas, “Ayah pamit dulu, ya, Sayang. Ada hal yang harus ayah selesaikan hari ini. Kau cepatlah sehat, lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.” Arthur menjeda ucapannya sejenak. “Ayah akan datang lagi nanti. Ayah sangat merindukanmu, cepat besar putriku!”
***
🥀🥀
3 hari lagi, end🥀
leganya🎉