My Devils Husband

My Devils Husband
38. Jadi dia...



Makanan yang dipesan oleh Max datang, ada beberapa orang yang membawakannya secara bergantian, sedangkan Stef hanya menganga tidak percaya melihat apa yang ada di depannya.


"Astaga Max, kau benar-benar menyebalkan," ucap Stef dengan nada frustasi menatap kepada suaminya itu dengan jengkel yang hanya dibalas kedikan bahu oleh pemilik manik gelap itu.


"Bukannya kau yang bilang sendiri mau memakan yang enak disini?" ucap Max balik bertanya membuat Stef bungkam, ia lalu melirik kearah ponselnya yang yang tergeletak tak bersalah di atas meja.


"Ini gara-gara ponsel ini, aku jadi tidak fokus saat kau bertanya," ucap Stef merenggut kesal. Lalu ia melirik kearah hidangan yang sudah tersedia disana berjejer rapi. Tapi Stef bingung kenapa begitu banyak kursi yang tersedia di meja makan tersebut sedangkan yang ada disana hanya dirinya dan juga Max.


"Kenapa banyak sekali kursinya?" ucap Stef bertanya pada Max yang sedang mengecek pesan dari David.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah jika kursinya banyak?" tanya Max santai.


"Aish, kau ini benar-benar, sudah menjadi suamiku masih saja menyebalkan," Stef mengerling kesal, lalu menatap hidangan didepannya, lalu mencoba sedikit makanan itu. "Aihh, kenapa ini enak sekali?" ucap.Stef bertanya pada dirinya sendiri.


"Tentu saja enak, itu adalah makanan paling mahal disini!" Max menjawab tapi matanya masih fokus pada layar ponselnya. Saat ini Max sedang berkirim pesan pada David, karena tidak mungkin ia menelepon David disaat ada Stef di sampingnya.


"Ya, orang kaya mah bebas," ucap Stef tapi tetap melanjutkan makannya. "Ayo cepat makan bersama, aku tidak akan sanggup menghabiskan semua ini," sambung Stef lagi.


"Kau duluan saja jika sudah lapar," jawab Max singkat.


"Baiklah," setelah itu Stef mencoba sedikit demi sedikit makanan tersebut hingga terdengar suara langkah mendekat, ia pun mendongak menatap orang tersebut yang ternyata adalah ibunya, dan juga Papi dan Momy Max yang kini sudah sah menjadi mertuanya.


"Ibu, papi, momy!" ucap Stef berdiri memeluk ibunya dan juga momy mertuanya. Sedangkan Lucky sudah berdiri disamping Max.


"Bagaimana kabarmu Stef?" tanya Masseria pada menantu satu satunya itu, ia memperhatikan Stef yang tampak berbinar membuatnya menghela nafas lega, berarti menantunya ini merasa bahagia menikah dengan anaknya.


"Kabarku sangat baik mom," ucap Stef.


"Benarkah?" kini giliran Lie yang bertanya.


"Iya ibu, seharian ini pekerjaanku hanya makan saja," ucap Stef jujur.


"Benarkah? Apa kau tidak takut gemuk?" tanya Masseria, dan Lie hanya diam saja melihat interaksi mereka, ia merasa senang karena anaknya mendapatkan keluarga yang baik pada dirinya. Wanita paruh baya yang sangat pucat itu, tapi disamarkan dengan lipstik yang membuatnya seperti orang sehat kebanyakan sehingga membuat Stef tidak menyadari bibir pucat ibunya itu.


"Tidak mom, aku tidak takut gemuk," ucap Stef dengan nada yakin.


"Benarkah? Jika nanti kau gemuk dan Max melirik perempuan lain bagaimana?" tanya Masseria membuat Stef berfikir sejenak lalu menjawab dengan sangat yakin.


"Akan aku potong kanggurunya itu sampai habis," ucap Stef berapi-api membuat Max refleks memegang sesuatu yang berada dibalik celananya itu, sedangkan para orang tua mengernyit heran dengan kanguru yang dimaksud oleh Stef itu.


"Kanguru?" ucap Masseria memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Iya kanguru," ucap Stef.


"Sudah mom, tidak perlu dengarkan Stef, dia hanya bercanda, tidak ada kanguru disini," ucap Max mengalihkan pembicaraan.


"Aku pergi ke toilet sebentar," ucap Max pamit yang diangguki oleh semuanya.


Max berjalan keluar tapi tidak untuk ke toilet, tapi dia pergi keruang khusus yang ada disana untuk menemui David yang ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepadanya.


"Bagaimana?" tanya Max saat ia sudah duduk didepan David yang terlihat tampak sangat serius itu


"Aku sudah menyelidiki semuanya," ucap David singkat.


"Semuanya?" ucap Max dengan nada bertanya, yang dibalas anggukan pasti oleh David.


"Jelaskan," ucap Max singkat.


David menjelaskan alasan kenapa Justin mengincar Stef, juga tentang Jhon yang membuat Max terkejut.


"Apa?" ucap Max menatap David tidak percaya. "Jadi selama ini...?" tanya Max tergantung tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Iya Max!" jawab David singkat dengan yakin.


"Apa kau yakin dengan informasi yang kau ketahui ini?" tanya Max.


"Aku sangat yakin, aku sudah menanyakannya berulang kali, dan juga mencari bukti-bukti, aku juga sudah mencari informasi yang akurat," ucap David menjelaskan pada Max membuat lelaki itu menganggukkan kepalanya.


"Lepaskan dia, obati semua luka-lukanya, bawa dia pulang ke mansion ku," perintah Max yang cepat diangguki oleh David.


"Tentu, kita menyakiti orang yang salah," ucap David dengan nada menyesal menatap Max yang juga menatapnya dengan sorotan mata penuh penyesalan.


"Semoga dia memaafkan aku," ucap Max pada dirinya sendiri.


"Ya sudah, kau kembalilah, biar aku yang mengurus semuanya," ucap David yang mengingatkan Max akan makan malamnya.


"Baiklah,"


.


.


.


.


TBC.


Love ❤️❤️❤️ EgaSri