
Perkembangan perusahaan Max sudah menunjukkan angka normal kembali. Beberapa bulan terakhir ini Justin dan juga Aira ikut serta membantu. Mencari akar permasalahan bagaimana kesalahan fatal yang merugikan itu bisa terjadi, dan ternyata itu ada campur tangan orang dalam. Dan tentu saja Max, David dan Thomas sudah mengurusnya. Membawa ke markas Black Devils dan tentunya mengintrogasi terlebih dahulu.
Laki-laki yang sampai saat ini masih tergeletak tak berdaya dalam sel tahanan itu tetap tak mau membuka mulut tentang siapa yang mengutusnya untuk menjadi mata-mata di perusahaan Max.
Mulai bosan bermain-main dengan tawanannya, Max menginjak tangan laki-laki itu membuatnya tampak sangat menyedihkan. Suara rintihannya tidak membuat Max iba. Karena ini pilihan laki-laki itu, dan dia tidak akan memberi kesempatan lagi.
“Katakan sekarang atau kau nanti akan menyesal!” habis sudah kesabaran max selama ini. Laki-laki dihadapannya ini sungguh sangat setia membuat Max kesal karena dia tidak mau membuka mulut.
“Kau tau kan? Saat ini keluarga mu ada dalam genggamanku?” Max berjalan menjauh, duduk di sebuah kursi menyaksikan bagaimana pria itu menahan sakit di tubuhnya. David hanya mengalihkan pandangannya. Inilah yang sangat menyeramkan dari seorang Maxim Alexander. Pria yang kejam, berhati dingin dan tentunya sangat berbahaya.
“Apa kau masih tidak mau mengatakannya? Apa kau rela anak dan juga istrimu menjadi korban seperti dirimu?” tampak laki-laki itu mengangkat kepalanya. Dia berusaha untuk duduk. Memikirkan semua perkataan Max, tak apa dirinya mati disini, tapi jangan anak dan istrinya. Dia tidak akan sanggup melihat itu. Karena dia sangat mencintai istri dan anak laki-laki satu-satunya yang dia miliki.
Max melihat bagaimana laki-laki itu mulai goyah dan kembali memikirkan tawarannya. Bagaimanapun, bagi seorang laki-laki yang mencintai keluarganya, Istri dan anak adalah nomor satu, begitu juga dengan Max yang saat ini sedang menunggu kelahiran anak pertamanya yang diprediksi sepasang laki-laki dan perempuan itu dua Minggu lagi.
Mengingat saat dia kembali mengantarkan Stef untuk cek up pada dokter Patricia, dan melakukan USG, dan dokter Patricia mengatakan kalau dia akan memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan membuat Max senang bukan main. Kebaikan apa yang sudah dia perbuat hingga tuhan memberikannya kejutan yang sangat membahagiakan seperti ini. Karena dia tidak pernah menyangka tuhan akan sebaik itu padanya dengan memberikan dua anak sekaligus.
Justin yang saat itu menemani Max mengantarkan Stef menjadi korban bagaimana Max memeluknya dengan berjinjit bahagia berputar-putar dan menumpahkan kebahagiaannya yang membuat Dokter Patricia dan juga Stef menahan tawa mereka yang hampir meledak.
Sedangkan Justin yang saat itu sedang mengalami patah hati sepatah-patahnya karena wanita tercintanya sudah melangsungkan pernikahan dua hari sebelum Stef cek up, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berusaha untuk menghindari Max. Melepaskan pelukan iparnya itu membuatnya sesak dan tidak nyaman.
“A-aku hanya di s-suruh!” akhirnya laki-laki itu membuka suara walaupun serak, membuat Max kembali menatapnya setelah tadi terbayang wajah istri tercintanya. David memberikan minum dan di teguk oleh laki-laki itu dengan cepat. Air mengaliri kerongkongannya, dan kini dia memiliki sedikit tenaga untuk mengatakan pada Max yang sejujurnya.
“Siapa?” satu pertanyaan lolos dari mulut Max, menunggu pria itu membuka mulutnya lagi. Tampak laki-laki itu meremas tangannya yang penuh luka, sakit kini tak lagi dia rasa. Rasanya sungguh sangat menakutkan bagaimana manik hitam gelap itu menatapnya meminta jawaban dari pertanyaan atas apa yang kini menjadi sebab dirinya ada di dalam sel dingin yang menakutkan ini.
“Adelardo!” hening. Tak ada yang bersuara lagi. Bahkan David yang berdiri dibelakang Max pun hanya diam. Karena dia tau siapa itu Adelardo.
“Obati dia!” setelah cukup lama terdiam, Max bangkit dan memberikan perintah pada David. David bergerak cepat, bangkit mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Thomas untuk membawa Laki-laki yang tampak tak berdaya itu untuk pergi ke rumah sakit.
“Kenapa kau tidak membunuh saya saja tuan?” tentu saja laki-laki itu heran, karena dia tau bagaimana seorang Max. Yang selalu menghabisi lawannya tanpa ampun, dan kini dia yang sudah optimis akan mati di tangan Max dibuat kaget karena laki-laki itu malah menyuruh anak buahnya untuk mengobati dirinya.
“Berterima kasihlah pada anakmu, karena dia kau selamat hari ini!” singkat tapi mampu membuat laki-laki yang sekarat itu meneteskan air matanya.
Dia tidak akan menghabisi pria itu! Tidak, karena dia tidak ingin mengotori tangannya. Dia tidak ingin anak laki-laki dari pria itu jadi tidak memiliki ayah karena tangannya. Dia tau rasanya, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
“Tu-tuannn,” Laki-laki bernama Jacky itu menatap Max penuh tatapan terimakasih.
Max tidak menghiraukan, dia keluar dari sana. Tak lama setelah itu, Thomas datang lalu membawa Jacky kerumah sakit milik keluarga Max.
_______
“Kau sudah mencari tahunya David?”
“Sudah Max!” David menyerahkan sebuah dokumen pada Max. Diterima dengan baik oleh laki-laki itu. Max memeriksa semua yang ada dalam dokumen itu.
“Adelardo Halmington. Pemilik Halmington Inc, Suami dari Anastasia Halmington, dan juga ayah dari Austin Halmington berusia 5 tahun. Lalu ada masalah apa dia menyuruh orang untuk mengacaukan perusahaanku?! Bahkan jalan gerak perusahaannya jauh berbeda dariku!” Max meremas berkas yang ada di tangannya dengan geram. Bagaimana tidak, bahkan dia tidak memiliki permasalahan apapun dengan Adelardo, bahkan hubungan keduanya terlihat baik.
“Saya juga tidak yakin tuan, tapi sepertinya ada yang disembunyikan oleh Jacky tadi!” David mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
“Kalau dia benar-benar mau mati, pasti dia akan diam. Tapi kalau dia ingin anak dan istrinya selamat aku tau, dia pasti akan mengatakan padaku. Aku tau dia di ancam hingga membuatnya susah membuka mulut!”
Max melemparkan kertas itu keatas meja kerjanya. Merenggangkan tubuh lalu bersandar di kursi kebesarannya. Memikirkan semua masalah yang kini dia hadapi membuat kepalanya terasa sakit.
“Halo Stef?” Max mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari istrinya itu.
“Ha—halo Max,” Stef menjawab dengan terputus-putus diseberang sana. Membuat Max langsung berdiri tegak. Begitu pula dengan David yang terkejut melihat Max yang sepertinya sangat cemas.
“Mm—max, sepertinya a—aku akan melahirkan!”
Deg..
“Ada apa Max?” David berjalan mendekat pada Max.
“Cepat siapkan mobil, kita pulang sekarang. Stef akan melahirkan!” David pun tidak kalah terkejutnya dari Max, bukankah sesuai prediksi Stef melahirkan satu atau dua Minggu lagi? Kenapa majunya signifikan sekali.
Tanpa butuh waktu lama, David menghubungi petugas parkir untuk mengeluarkan mobil Max, sedangkan dia mengikuti Max berlari keluar menuju Lift.
“Thomas kau dimana sekarang?” tanya David saat panggilan telepon tersambung pada Thomas.
“Aku masih di rumah sakit? Kenapa David? Ada apa? Terjadi sesuatu?” Thomas jadi ikut cemas mendengar nada suara David seperti orang yang terburu-buru.
“Siapkan ruangan untuk Stef melahirkan. Beritahu pihak rumah sakit!” Thomas kaget mendengar perkataan David, tapi dengan cepat dia mengiyakan perkataan David.
Kini Max dan David sudah berada di lantai dasar gedung. David langsung mengarahkan Max menuju mobil, tadi David juga sudah memberitahu pada Justin dan Aira. Juga orang tua keduanya.
“Cepat David!” David yang sedang mengemudikan mobil hanya mengangguk. Dia melajukan mobil dengan cepat menuju mansion. Orang tua Max saat ini sedang berada di Italia, dan Justin saat ini sedang berada di Indonesia karena mendapat utusan dari Lucky untuk menjalankan bisnisnya disana.
Mendengar adiknya akan melahirkan tentu saja membuat Justin kaget, hingga dia memutuskan untuk kembali ke Jerman saat itu juga. Begitupula dengan kedua orang tua Max, mereka kaget dan segera menyiapkan segalanya dan berangkat menuju Jerman.
Jhon dan Lie juga sudah diberitahu, mereka berdua segera bergegas menuju mansion Max.
“Bertahanlah sayang, tunggu aku sebentar lagi di rumah.” Max meremas tangannya gugup, bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama baginya.
“Cepat sedikit David!” David menambah laju kendaraannya, yang ada di pikiran kedua laki-laki itu saat ini hanyalah bagaimana mereka bisa cepat sampai dirumah dan mengantarkan Stef ke rumah sakit.
____
Aku deg-degan 😭Serius, deg-degan banget. Kek mau melahirkan juga, aduh bagaimana ini?
Ada gambaran gak 🥺
**Dan kalau ada yang bertanya, kok cerita Justin ketemu sama calon si Jenna ga ada Thor?
Maap ya guys, itu karena aku udah bikin cerita sendiri buat si Justin, jadi tenang aja😆
Doain aja cepet rilis 😐Aamiin
Kok ceritanya jauh amat loncatnya Thor?
Ya itu karena aku ga mau cerita ini bertele-tele 🙄Jadi ya gitu**.