My Devils Husband

My Devils Husband
68. Jenna



“Steeeeeffff.....,” itu adalah suara Masseria yang berteriak dengan semangat memanggil nama menantunya itu.


“Nona Stef ada di kamar nyonya,” ucap Martin. Dia membawakan koper Masseria dan juga Lucky yang di bantu supir lalu meletakkan di kamar yang memang disiapkan oleh Max untuk mereka. Sedangkan Lucky hanya menggeleng melihat kelakuan istrinya itu.


“Benarkah?” tanya Masseria. Lalu wanita paruh baya tersebut langsung berlalu menuju kamar Stef di lantai atas. Sedangkan Lucky menelpon Jhon dan Lie untuk datang ke mansion Max.


“Stef...,” panggil Masseria. Stef yang saat ini sedang tertidur pun merasa terganggu karena Masseria mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Mengucek matanya dengan menguap, Stef bangkit lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.


“Momy..,” ucap Stef. Dia memeluk ibu mertuanya itu.


“Momy, kapan sampai?” tanya Stef. Dia melepaskan Masseria dari pelukannya. lalu berjalan keluar kamar dan menutup pintu.


“Baru saja. Momy sama Papi langsung kesini saat tau kau hamil dari Justin. Sungguh anak sialan itu tidak memberitahu Momy, dan malah Momy tau dari kakakmu.” ucap Masseria kesal. Sedangkan Stef hanya tersenyum.


“Maklum lah Mom, Max yang mengalami morning sicknes, dan dia juga yang mengidam. Mungkin dia lupa!” ucap Stef yang membuat Masseria kaget.


“Eh? Benarkah? Dia ngidam apa?” tanya Masseria antusias. Pasti akan sangat menyenangkan saat melihat Max meminta permintaan yang aneh-aneh.


“Kalau kata pelayan sih ngidam Iga bakar. Tapi waktu itu aku tidak tau kalau Max menginginkan Iga bakar!” ujar Stef. Karena dia tertidur menunggu Max, dan saat dia terbangun ia sudah berada didalam kamar pada pagi hari.


“Momy penasaran, seperti apa anak sialan itu ngidam.” ujar Masseria terkekeh. Kini mereka sudah tiba di lantai bawah. Stef dan Masseria berjalan mendekat pada Lucky, yang saat ini sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


“Papi..,” ucap Stef. Lalu Lucky berdiri dan memeluk menantu kesayangannya itu.


“Bagaimana keadaanmu Stef?” tanya Lucky, setelah itu dia melepas pelukannya.


“Aku baik Pi. Kalau papi sendiri bagaimana?” tanya Stef. Masseria memegang tangan menantunya itu lalu membawanya duduk.


“Papi baik..,”


Lama mereka berbincang-bincang, hingga terdengar suara mobil yang berhenti tepat didepan pintu utama.


“Ah, mungkin itu Ayah dan Ibumu Stef.” ujar Lucky.


“Ah astaga, aku bahkan lupa memberitahu ayah dan ibu.” ujar Stef. Dia lalu berdiri diikuti oleh lucky dan Masseria, berjalan menuju pintu utama. Sedangkan Martin sudah tiba didepan terlebih dahulu, menyambut kedua orang tua dari nyonya rumah tempatnya bekerja itu.


“Ayah.. Ibu ...,” Stef mendekat pada Lie dan Jhon, lalu memeluk keduanya bergantian.


“Kau disini juga Lucky, Seria?” tanya Lie.


“Ya iyalah sayang. Kan Lucky yang menyuruh kita kesini!” ujar Jhon.


“Hehe, iya sayang.” wanita paruh baya yang terlihat pucat itu hanya tersenyum. Stef tahu, kondisi ibunya saat ini sedang tidak baik.


“Bagaimana keadaanmu sayang?” tanya Lie. Sedangkan Stef hanya tersenyum.


“Aku baik ibu.”


Mereka yang ada disana kembali ke sofa yang ada di ruang tamu.


Berbincang-bincang hingga pelayan mengantarkan camilan untuk mereka.


Saat sedang asik mengobrol, terdengar suara gaduh dari luar.


“Pokoknya kalau kau tidak mau mendekati dia, berarti kau tidak gentle Justin,” itu adalah suara Max.


“Percuma kau jadi batangan!” dan ini suara David.


“Hahaha....,” sedangkan Thomas hanya tertawa mendengar pembicaraan mereka.


“Berisik kalian semua, dasar menyebalkan!” Justin berlalu saja menuju pintu utama.


Stef membuka pintu, disana sudah berdiri Martin, tapi Stef menyuruhnya untuk kembali kebelakang saja, yang tentunya dituruti oleh laki-laki itu.


Stef lalu menoleh pada Max, Justin, David dan juga Thomas yang ada diluar.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Stef dengan tatapan menyelidik.


“Kami tidak membicarakan apa-apa!” ujar Justin menjawab. Tak lama Lie dan Jhon pun ikut menyambut kedatangan mereka.


“Ibu..,” ucap Justin langsung. Dia memeluk Lie erat. Membuat wanita paruh baya yang pucat itu tersenyum. Dia mengusap kepala Justin dengan sayang. Setelah itu melepaskan pelukan mereka. Justin lalu memeluk Jhon hingga ayah sambungnya itu menepuk punggungnya lembut.


Justin juga ikut memeluk Masseria dan juga Lucky sekilas. Lalu mereka masuk kedalam rumah.


“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Stef memicing menatap pada suaminya.


“Itu ... Membicarakan kakakmu!” ujar Max melirik pada Justin membuat laki-laki itu mengerling kesal.


“Apa?” tanya Stef lagi.


Mereka duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


“Benarkah?” tanya Stef. Dia melirik pada Justin yang merenggut.


“Kak, aku tau, kau mencintai dia kan?” tanya Stef mengerling jahil. Sedangkan para orang tua hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


“Lie, sepertinya kau akan memiliki menantu lagi.” ujar Masseria, sedangkan Lie hanya tertawa mendengar ucapan besannya itu.


“Oh iya, Aira kemana?” tanya Justin yang mencoba mengalihkan pembicaraan. David langsung mendongak dari ponselnya menatap Justin.


Benar! Aira dari tadi tidak terlihat sama sekali.


“Dia istirahat! Mungkin lelah!?” ujar Stef.


“Owh, baiklah.”


“Kakak, jawab aku. Kau senang bertemu dengan gadis yang bernama Jenna itu?” tanya Stef jahil.


“Heh anak kecil. Jangan bertanya seperti itu, kau masih bocil!” ujar Justin yang membuat Stef langsung mengeluarkan tatapan lasernya.


“Heh dasar tua. Orang yang kakak bilang anak kecil ini sebentar lagi akan memberikan kakak keponakan,” ujar Stef membuat Justin melengos.


“Dih,😒”


“Apa maksudmu Stef?” tanya Lie. Sedangkan Stef hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kau belum memberitahu ibu Stef?” tanya Max yang membuat Stef melotot tajam padanya.


“Hehe ... Iya ibu, aku sedang hamil sekarang.” ujar Stef memberitahu membuat Lie kaget.


“Benarkah?” tanya Lie dengan mata yang berbinar. Sedangkan Stef menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan ibunya itu.


“Astaga, kenapa kalian tidak memberitahu kami langsung?” tanya Lie setelah dia melepaskan pelukannya dari Stef.


“Hehe, maaf ibu. Mungkin kami terlalu senang hingga lupa memberitahu kalian.” ujar Stef.


_______


Sekarang para orang tua sedang beristirahat di kamar yang sudah dipersiapkan oleh pelayan. Masseria dan juga Lucky tentunya lelah karena perjalanan udara mereka, di tambah lagi mereka belum beristirahat sejak tiba.


Sedangkan Jhon mengajak Lie untuk beristirahat karena kondisi tubuhnya yang kurang sehat.


“Kakak, jawab aku. Kau tadi bertemu dengan Jenna dimana?” tanya Stef lagi.


“Aku bertemu di kafe saat makan siang,” ujar Justin.


“Kami berempat bertemu dengan dia sayang. Tapi aku sebagai ipar yang baik membiarkan dia bicara di cafe itu berdua.” ujar Max mengerling jahil.


“Lalu apa yang kakak bicarakan dengan dia?” tanya Stef lagi.


“Dia kesini karena disuruh untuk menemui orang yang akan dijodohkan dengan dia.” ujar Justin. Wajahnya terlihat muram, itu terlihat jelas diwajahnya membuat Max yang sedari tadi meledeknya terdiam.


“Dia dijodohkan?” tanya Stef, Justin hanya mengangguk.


“Malang sekali nasibmu kak, baru jatuh cinta dan sekarang harus merelakan orang yang kau cinta.” ujar Stef. Setelah itu dia tertawa membuat Justin mengerling kesal.


“Tapi aku sudah berjanji pada dia untuk membantunya mencari laki-laki itu!” ujar Justin membuat Stef diam.


“Woahh, kakakku ini baik sekali,” goda Stef. “Mau mencarikan pria yang mau dijodohkan dengan orang yang kakak cintai,” sambung Stef lagi.


“Dasar kau, menyebalkan!”


“Berjuanglah kakak, kalau kau mencintai dia, kau harus mau berjuang untuk dia.” ucap Stef memberikan semangat.


“Entahlah, karena aku sendiri sudah berjanji padanya untuk mencari laki-laki itu.” ucap Justin.


“Apa kau tau siapa namanya?” tanya Max.


“Aih, aku lupa menanyakannya tadi!” ujar Justin.


“Inilah, definisi bodoh tak bertulang.” ujar Stef.


“Hah?”


“Lupakan!”


_________


Nih, dasar si Justin. Mau bantu nyariin orang tapi ga tau namanya, itutuh, bodohnya Ampe ke tulang, Awokawokwok.