My Devils Husband

My Devils Husband
Exp. Ulang tahun



Stella kini sedang berada di mansion besar keluarga Alexander. Usia kandungan Stella yang sudah masuk bulan ke delapan, membuat wanita itu harus banyak-banyak bergerak. Karena dia menginginkan kelahiran normal.


Stella menggandeng tangan Arthur saat Martin menyambut kedatangan mereka. Dua orang itu langsung diarahkan menuju ruang keluarga. Di sana, sedang ada dekorasi pesta untuk ulang tahun Aletta. Gadis itu kini genap berusia enam tahun. Kedua baby Fazio dan Jeo sedang asik bermain dengan mainan mereka masing-masing. Sedangkan Aletta sedang mengejar kelincinya untuk diberi makan.


Pesta kecil-kecilan yang sesuai dengan permintaan Aletta itu sedang di dekor. Beberapa pelayan bolak-balik untuk memastikan semuanya beres.


Stella bergabung duduk bersama dengan Ana dan Mattea yang sedang mengobrol di sofa. Ibu hamil itu menarik perhatian keduanya.


“Hati-hati Bumil!” goda Ana tertawa. Mattea juga ikut tertawa, sedangkan Stella hanya tersenyum malu. Arthur bergabung dengan para pria. Laki-laki itu tampak asik mengobrol, meski sesekali dia tetap menoleh ke arah istrinya yang sedang duduk bersama Mattea dan Ana itu.


“Sudah delapan bulan, kan?” tanya Mattea. Stella mengangguk. Tangannya mengusap perutnya yang buncit itu, sembari tersenyum tipis.


“An, kau tidak mau menambah anak lagi?” tanya Mattea pada Ana yang duduk di sebelahnya. Wanita itu menggeleng.


“Untuk sekarang belum, Kak. Kasihan Jeo masih terlalu kecil, tapi tidak tau nanti!” Mattea tertawa, begitupun dengan Stella.


Si Princess tampak asik bermain dengan kelincinya. Bahkan sepertinya gadis itu mengabaikan pestanya kali ini. Dan keberadaan kelinci itu lebih menyenangkan dari pesta yang sudah di buatkan oleh Max sang Grandpa.


“Al, jangan lari terus. Nanti kelincinya lelah!” Aletta menoleh pada Mattea yang berteriak. Gadis kecil itu cemberut, lalu menggiring dua ekor kelinci itu menuju kandang mereka yang ada di taman belakang. Max bahkan membuatkan taman khusus untuk kedua hewan peliharaan cucunya itu.


Dekorasi pesta yang penuh dengan balon berwarna pink itu benar-benar tampak indah. Kini semua dekorasi sudah selesai. Aletta juga sudah mandi dan juga berdandan, di temani oleh sang Mommy.


Gadis kecil itu melirik pada gaun kecilnya, berwarna pink, warna kesukaannya. Mahkota kecil yang ada di kepalanya membuat dia seperti seorang putri, dan itu memang benar adanya.


“Mom, apa Zello akan datang?” tanya Aletta dengan suara kecil. Mattea menghela napas. Wanita itu membenarkan gaya letak rambutnya. Lalu tersenyum tipis.


“Dia pasti datang!” ujar Mattea. Aletta hanya mengangguk saja. Kedua ibu dan anak itu keluar dari kamar sang princess. Aletta menggenggam tangan Mattea berjalan menuruni tangga. Gadis kecil itu melirik ke sekeliling. Tidak ada Zello nya di sana.


Acara yang memang hanya di hadiri oleh keluarga besar itu, tampak sedikit kurang ceria. Karena si pemilik acara hanya cemberut saja.


Kevano bahkan sampai menggoda gadis kecil itu.


“Apa yang mengganggumu, Al?” laki-laki yang berbeda jarak usia dengan Aletta hanya beberapa tahun itu bertanya. Aletta menoleh pada Kevano. Lalu menggeleng.


“Aku hanya menunggu dia!” ujar Aletta singkat. Kevano mengernyit keningnya heran. “Dia siapa?” tanyanya. Aletta mendengus. “Tentu saja malaikatku!” ujar gadis itu sebal.


“Oh, si Zello—Zello yang sering kau bicarakan itu?” ujarnya mangut-mangut. Aletta mengangguk.


“Sudahlah, jangan pikirkan itu sekarang. Aku yakin dia akan tiba, lebih baik kau tiup lilinnya sekarang juga!” Aletta mendesah pasrah. Dia berjalan menuju kue besar yang ada di atas meja.


“Ayo, Sayang, tiup lilinnya sekarang!” ujar Thomas. Laki-laki tua itu tersenyum lembut pada sang anak.


Aletta segera meniup lilin yang ber-angka enam itu. Semua orang bertepuk tangan, sembari terus menyanyikan lagu ulang tahun. Aletta tersenyum melihat semua orang bahagia. Gadis kecil itu kemudian memotong kuenya di bantu oleh Thomas dan Mattea.


“Ayo, mau diberikan pada siapa?” tanya Ana menggoda. Thomas dan Mattea terkekeh, mereka mundur beberapa langkah ke belakang membuat Aletta heran.


“Mom ... Dad, ayo makan ku— e nya!” Aletta membulatkan matanya tidak percaya, saat melihat pria pujaan hatinya berada di depannya. Tepat di depannya, membelakangi Mattea dan Thomas.


“Hai Letta?” sapa Zello dengan senyuman lebar. Laki-laki itu bahkan sampai mengangkat tangannya khas orang menyapa. Aletta meneliti pakaian yang di pakai Zello, hemm sedikit berantakan.


“Kenapa kau baru sampai sekarang?” Aletta mengabaikan sapaan Zello. Gadis itu mendengus kesal pada laki-laki itu. Tapi tangannya tetap menyendok kue yang ada di dalam piring kecil itu, lalu memberikannya pada Zello.


Zello menerima kue itu dengan senyum lebar, sangat tampan, dan juga memesona.


Aletta menyuapi Thomas dan Mattea kue. Max, Stef, dan semuanya. Gadis kecil itu menyuapi semua orang yang hadir di sana dengan semangat dan juga tersenyum bahagia.


***


“Ku mohon, jangan tanyakan hadiah sekarang, Letta! Aku sangat lelah, aku mau istirahat sebentar!” Zello merebahkan tubuhnya di atas ranjang Aletta yang sudah di ganti dengan ukuran Queen size. Sprei berwarna pink itu sebenarnya sangat mengganggu Zello, tapi apa daya, dia sungguh sangat lelah hari ini.


Aletta melipat tangannya di depan dada, melirik Zello dengan cemberut kesal.


“Kau ini sebenarnya mau merayakan ulang tahunku atau mau numpang tidur!” ketus gadis kecil itu. Zello menggeliat kecil, dia memeluk bantal guling milik Aletta dengan erat.


“Mau istirahat!” ujar laki-laki itu dengan terlampau jujur. Aletta meradang mendengarnya. Gadis kecil itu mengambil salah satu bantal yang ada di sisi ranjang, lalu memukul Zello dengan brutal. Tidak sakit sebenarnya, tapi Zello nya saja yang pura-pura meringis.


“Al ... Kau mau membunuhku? Kau mau jadi janda sekarang?” ujar Zello yang berusaha untuk menahan serangan Aletta. Gadis itu terdiam.


“Janda itu apa?” tanyanya. Zello menghela napas, dia memperbaiki posisi tidurnya Dan menatap gadis kecil itu dari bawah.


“Janda itu seorang istri yang di tinggal oleh suami!” jawab Zello.


“Tapi aku bukan istri!” ujar Aletta tidak paham. Zello kembali berusaha menahan serangan dari Aletta, laki-laki itu meringis kecil.


“Hei siapa bilang kau bukan seorang istri! Aku ini suami masa depanmu! Kalau aku mati, maka kau akan jadi janda sebelum menjadi istri. Karena kalau aku mati pun, kau hanya boleh menjadi milikku!”


“Pemikiran orang dewasa memang rumit. Minta aku nomor telepon pacarmu, aku akan mengatakan padanya kalau kau itu laki-laki genit!”


“Genit apanya, Al?” dengus Zello. Kapan dia bersikap genit? Ia rasa tidak pernah. Dia hanya menyatakan kepemilikan, bukan merayu atau apapun.


“Tadi kau sedang merayu aku, kan?” tuduh Aletta. Zello hanya menghela napas.


“Lebih baik kau temani aku tidur, kepalaku sakit mendengar ucehanmu itu, aku sedang butuh banyak istirahat sekarang!” Zello menarik tangan Aletta untuk berbaring di sampingnya. Gadis kecil itu hanya menurut, dia memejamkan matanya di samping Zello. Bahkan ia tidak merasa takut sedikitpun.


Setelah cukup lama, hembusan napas Aletta yang teratur terdengar oleh Zello. Laki-laki itu tersenyum tipis. Mengusap surai piring milik Aletta dengan sangat lembut.


Dengan tangan yang terus mengusap rambut pirang itu, akhirnya Zello memejamkan mata. Dalam tidurnya, laki-laki itu terlihat sangat tampan, dan damai.


“Apa kau yakin, mereka tidak akan apa-apa?” Mattea yang berdiri di depan kamar Aletta, berbisik pelan ke arah Thomas. Suaminya itu mengangguk yakin. “Aku tau dia sangat menyayangi Aletta kita. Kau juga harus percaya padanya!” Thomas menggenggam tangan Mattea dengan lembut. Menuntun jalan istrinya itu, untuk kembali ke kamar mereka.


Mattea mendongak, “Apa kau yakin, kalau itu bukan sebuah obsesi?” tanya wanita itu. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya. Kedua pasang suami istri itu masuk kedalam kamar mereka.


“Aku bisa membedakan mana yang obsesi dan juga rasa yang tulus!” ujar Thomas. Mattea menghembuskan napas pasrah.


“Apa putri kita tidak terlalu kecil, saat dia menyatakan kepemilikan seperti itu?” tanya Mattea lagi.


“Dia sudah berjanji, untuk menunggu anak kita sampai usia dua puluh satu tahun!” ujar Thomas. Mattea membulatkan matanya. “Dia bahkan sudah membicarakan itu denganmu?” tanya Mattea tidak percaya. Thomas mengangguk.


“Dan kau pasti tidak akan percaya ini, tapi dia sudah menentukan tanggal pernikahannya nanti!” kali ini Mattea membekap mulutnya tidak percaya. Laki-laki yang bernama Zello ini benar-benar berbahaya. Dia bahkan sudah menentukan tanggalnya? Benar-benar gila!


***


Si Zello, ganti judul gaesss. Jadi, Suamiku Misterius.


Hehe, baca terus, ya🤗