My Devils Husband

My Devils Husband
42. Liburan



Lusa yang disebutkan oleh Max bukanlah waktu yang lama, karena hari itu cepat berlalu dan kini mereka semua sedang berada di bandara untuk naik jet pribadi milik Max, bukan hanya orang tua Stef saja yang ikut, karena orang tua Max juga ikut, anggap saja ini adalah liburan keluarga setelah beberapa peristiwa yang terjadi diantara mereka semua.


Sedangkan perusahaan Max dipegang oleh Thomas yang tidak ikut bersama mereka, dan mengurus semuanya walaupun tetap dipantau oleh Max melalui laptopnya.


“Ayo sayang,” Max menggenggam tangan Stef untuk berjalan masuk kedalam jet pribadinya.


“Kita akan liburan kemana?” Stef bertanya karena Max belum juga memberitahunya.


“Kemana saja,” Stef menjadi kesal karena Max tidak menjawab pertanyaannya. Lalu Stef berjalan sendiri mendahului suaminya itu dan melepaskan genggaman tangan mereka, membuat lelaki itu mengejarnya.


“Hei, tunggu!” Max mensejajarkan langkah mereka, lalu duduk berdampingan di kursi empuk yang ada disana, dengan fasilitas kelas atas yang tentunya wajar-wajar saja bagi seorang pewaris Luciano Grup.


Stef terus diam, sembari menyimpan ponselnya dan mengaktifkan mode pesawat, lalu melengos begitu saja dari Max yang menatapnya.


“Kau semakin terlihat cantik jika marah seperti ini,” Max berusaha untuk merayu Stef yang membuat pipi kemerahan itu menjadi semakin merah, tapi Stef tetap bersikap acuh pada Max.


“Baiklah, kita akan pergi ke Lombok!” Max akhirnya pasrah dan memberitahu Stef, membuat istrinya itu mendongak dan menatapnya.


(Bucin sekali lelaki ini, digertak begitu saja sudah langsung menciut. Note Author.😅)


“Lombok? Dimana itu?” Stef baru kali ini mendengar kata Lombok membuat Max tertawa.


“Astaga sayang, Lombok itu ada di Indonesia, pemandangannya indah, jadi aku ingin mengajakmu kesana,” Max merasa gemas dengan istrinya tersebut, sedangkan Stef terdiam memikirkan sesuatu.


“Tapi aku tidak bisa bahasa Indonesia,” Max tergelak mendengar perkataan Stef.


“Astaga sayang, kita bisa menggunakan bahasa Inggris disana,” Stef hanya menganggukkan kepalanya.


“Ya kau benar, kau pakai bahasa Inggris saja, aku cukup mendengarkan karena aku tidak bisa," Stef terkekeh geli melihat Max cemberut. “Kan memang benar, aku tidak bisa bahasa Inggris,” sambung Stef lagi.


“Terserah kau saja,” Max lalu menyandarkan kepalanya di bahu Stef membuat istrinya itu merenggut kesal.


“Seharusnya aku yang menyandar padamu pak suami,” refleks saja Max mengangkat kepalanya, lalu menoleh pada Stef.


“Pak suami?” ucap Max mengulang perkataan Stef.


“Kan memang benar, kau suamiku!”


“Tapi aku belum menjadi bapak,”


“Ya sudah, sebentar lagi kau akan menjadi bapak!”


“Hah?” Max terkaget mendengar perkataan Stef, “Apa?” tanya Max pada istrinya itu.


“Apa, kenapa?”


“Kau bilang apa tadi?”


“Apa?” Stef pura-pura tidak tahu membuat Max menjadi kesal.


“Jangan membuatku kesal,”


“Tidak, aku hanya asal bicara,”


“Benarkah?”


“Iya!”


“Semoga saja aku memang akan menjadi bapak,”


“Tidak!”


“Kenapa?”


“Kau bukan menjadi bapak, tapi Daddy!”


“Sama saja itu sayang,”


“Beda dimana?”


“Penulisannya,”


“Terserah kau saja!”


*"*"*"*"*"


Rombongan keluarga besar tersebut turun dari jet pribadi milik Max yang mendarat dengan cantik di bandara Lombok (Bandar udara internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok) dengan waktu tempuh perjalanan dari Frankfurt menuju Lombok adalah 23 jam 35 menit, sungguh itu adalah waktu yang sangat lama hanya untuk berdiam diri didalam jet, membuat Stef terlihat sangat lelah dan juga bosan, begitu juga dengan semua orang yang ikut, walaupun dengan fasilitas yang lengkap dan juga mewah, tapi tetap saja rasanya Stef ingin cepat cepat menginjakkan kakinya di tanah.


Para orang tua berjalan terlebih dahulu didepan dengan disusul oleh Max, Stef dan juga David dibelakang, beserta beberapa bodyguard Lucky yang menjaga mereka.


Rombongan tersebut melangkah menuju mobil yang sudah disiapkan oleh pihak hotel tempat mereka menginap, dengan menggunakan beberapa mobil, juga untuk bodyguard Lucky.


“Apa kau lelah?” tanya Max pada Stef yang duduk disebelahnya dengan David di depan menemani sopir yang tetap fokus pada jalanan didepannya.


“Iya, aku ingin segera beristirahat,” Stef menyandarkan kepalanya di bahu Max, refleks suaminya itu mengusap kepala Stef lembut.


*"*"*"*"


“Ibu, ayah dan juga Papi momy langsung saja masuk ke kamar kalian, aku sudah mengurus semuanya,” kini mereka semua sudah berada di hotel tempat mereka menginap, Max memberikan instruksi pada para orang tua tersebut, yang diangguki oleh semuanya.


“Ibu, kalau ibu lelah langsung beristirahat saja ya, tidak baik terlalu capek untuk kesehatan ibu,” Stef berkata dan menatap ibunya lembut.


“Kau tenang saja Stef, aku akan menjaga ibumu dengan sangat baik,” Jhon menatap Lie dengan penuh sayang, sedangkan Stef menganggukkan kepalanya.


“Dan kau David, sepertinya kau harus istirahat ditemani oleh guling setiap hari disini,” Max berbicara seperti itu pada David setelah para orang tua beranjak ke kamar mereka masing-masing, begitu juga dengan Stef yang sudah terlebih dahulu meninggalkan Max untuk masuk ke kamar mereka.


“Jangan mengejekku Max, aku akan mendapatkan wanita disini, kau tenang saja,” David berbicara dengan sangat yakin membuat Max kembali melayangkan senyuman mengejeknya.


“Dan aku tidak akan percaya sebelum melihat buktinya,” sontak saja perkataan Max tersebut membuat David merasa tertantang membuat lelaki gagah dan juga tampan tersebut berkata dengan sangat yakin.


“Aku akan menunjukkannya padamu nanti, kau tenang saja,” Max hanya tersenyum pada David yang juga di balas senyuman oleh David.


‘Semoga saja memang begitu, aku ingin kau segera menemukan kebahagiaanmu David,’ Max tersenyum dan bicara sendiri di dalam hatinya.


“Ya baiklah, aku tunggu saat itu tiba,” Max berjalan meninggalkan David setelah menepuk pundak lelaki yang menjadi sahabatnya itu. “Semoga nanti nyamuk mau untuk menemanimu,” Max menampakkan kepalanya sedikit dibalik pintu dan bicara cepat lalu langsung menutup pintu kamarnya dari David yang kesal mendengar perkataannya.


“Sialan kau Max,”


David berjalan juga untuk masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintu, dan duduk di tepian ranjang.


“Semoga aku menemukan kebahagiaanku disini seperti yang kau inginkan Max, tapi akan aku pastikan kebahagiaanmu terlebih dahulu, setelah itu baru kebahagiaanku!” lalu pria tersebut berdiri kembali dan berjalan menuju kamar mandi, dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.


Sedangkan diluar, ada seseorang yang menelepon pada bos-nya dan melaporkan apa yang dia lihat disana.


“Mereka ada di Lombok bos,” lelaki tersebut mengatakan dengan singkat dan tersenyum puas pada pekerjaan yang sudah dia lakukan dengan baik.


“Bagus, terus pantau mereka!” ucap suara seorang pria diseberang sana. “Aku juga akan segera kesana,” sambungnya lagi.


“Baik bos,” ucap seseorang tersebut menjawab sigap. Lalu sambungan telepon tersebut pun terputus.


“Akan aku pastikan, kau akan membayar semua rasa sakit hati ibuku padamu Lie dan juga anakmu, yang sayangnya sudah membuat aku jatuh cinta dan menjadi bodoh seperti ayahku karena jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya,” lelaki tersebut meremas ponselnya, dan menatap nyalang kedepan.


“Tunggu aku disana Stef,”


.


.


.


.


Love❤️❤️❤️ EgaSri