
“Apa aku melewatkan sesuatu?” Matt berdiri didepan Arthur dan Stella yang sedang tergugu. Arthur dan Stella tampak salah tingkah. Keduanya mendekat pada Matt.
“Anu— tidak ada apa-apa Tuan muda!” Matt memicingkan mata. Jelas-jelas tadi dia melihat kedua orang itu berciuman, tapi lihatlah sekarang. Mereka menutupinya.
“Baiklah, terserah kalian saja, dan sebaiknya pernikahan kalian di percepat saja, sebelum jebol duluan!” Arthur dan Stella saling pandang. Lalu serempak menggaruk tengkuk masing-masing karena paham dengan apa yang diucapkan oleh boss mereka itu.
“Aku mau ke bawah dulu, Ana merengek membangunkan aku untuk membelikan sesuatu tadi, kalian sekarang bekerja dengan baik!”
Wajah kesal Matt tampak jelas. Saat tadi sudah hampir terlelap, Ana membangunkan dia, karena wanita itu menginginkan gulali, dan harus Matt sendiri yang membelinya, dan meminta foto orang yang menjual gulali itu, membuat Matt pusing sendiri.
Arthur dan Stella hanya mengangguk, tidak banyak bertanya, karena ini menyangkut Nona muda. Matt berlalu pergi dari sana, lalu kedua pasangan yang selalu seperti Tom dan Jerry itu sama-sama menoleh.
“Mau apa kau disini? Sana pergi!” Stella mendengus melihat Arthur membuat laki-laki itu ikut mendengus.
“Hei, lihatlah! Siapa yang mendatangiku? Kau malah mengusirku!” Stella malu sendiri mendengar perkataan Arthur. Saat mengingat dialah yang mendatangi laki-laki itu.
“Biasa saja! Aku pergi!” cih, sudah seperti pergi ke segitiga Bermuda saja! Padahal hanya beberapa langkah untuk ke mejanya. Dasar Kelinci galak!
****
Matt sedang berdiri didepan super market. Untuk membeli gulali yang ada di deretan permen manis perusak gigi itu. Ada banyak tangkai gulali di sana.
“Apa aku beli semuanya saja?” tanya Matt manggut-manggut pada dirinya sendiri. Dia memutuskan untuk menyuruh kasir supermarket untuk mengemasi semua gulali itu untuknya.
“Apa aku boleh minta foto?” semakin terkejutlah kasir perempuan itu. Sudah tadi dia terpesona oleh ketampanan pelanggannya, sekarang laki-laki tampan itu memintanya untuk berfoto bersama.
“Bo—boleh, Tuan!” malu-malu dengan wajah merona merah, membuat pelanggan lain salah paham.
“Dia beruntung sekali, di minta foto oleh pemuda tampan itu!”
“Iya, benar. Aku jadi iri!”
“Apa mereka berkencan? Tapi sepertinya aku mengenal laki-laki itu?!”
Matt mengabaikan kicauan burung tak jelas di belakangnya. Yang jelas, dia harus segera mendapatkan foto itu, agar Ana tidak menangis lagi. Uhh, ternyata perempuan hamil itu merepotkan.
Cekrek ... Cekrek....
Baiklah, dua foto sudah cukup, Matt segera membayar belanjaannya dan memberikan tip pada kasir itu.
“Terimakasih sudah menolongku, istriku sedang mengidam saat ini, sekali lagi terimakasih!” Matt menunduk sekilas, lalu berlalu dari sana, meninggalkan sang kasir yang terkejut dan juga patah hati sebelum jatuh cinta.
“Mirisnya nasibku!”
Matt segera kembali ke kantor. Setibanya dia di depan ruangannya, tampak Stella dan Arthur fokus pada pekerjaan mereka, dan setelah mereka menyadari kedatangan Matt, kedua orang itu segera berdiri dan mengangguk hormat.
Matt masuk menemui Ana, rupanya wanita itu sedang tertidur di kamar, seperti yang tadi dia tinggalkan. Matt menghela napas.
“An, Sayang, ini gulalinya,” Matt menggoyang tubuh Ana supaya wanita itu terbangun, tapi sepertinya sulit. Menghela napas, Matt membiarkan Ana tertidur. Dan kini kantuknya sudah lenyap, Matt keluar dari kamar yang ada di ruangan itu lalu segera menyentuh laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya.
Sudah dua jam lamanya Matt berkutat dengan pekerjaannya, dan dia mendengar suara pintu di buka, ternyata itu adalah Ana. Ana mendekat pada Matt, lalu duduk di pangkuan suaminya itu.
“Kenapa tidak membangunkan aku?” bibirnya mengerucut. Matt terkekeh geli. Semenjak hamil, Ana menjadi lebih agresif. Dan lihatlah sekarang, dengan beraninya dia duduk di pangkuan Matt.
“Aku sudah membangunkanmu tadi, Sayang! Tapi kau tidak mau bangun,” Matt menyelipkan rambut pendek Ana ke belakang telinga wanita itu. Rambut pirang yang dulu panjang, kini sudah menjadi pendek. Tapi, walaupun begitu, Ana tampak masih begitu cantik dengan rambut pendeknya.
“Mana gulaliku?” tanya Ana, mengabaikan perkataan sang suami. Matt mengambil bungkusan yang tadi dia letakkan di atas meja kerjanya. Lalu menyerahkan pada Ana.
Wajah wanita cantik itu tampak berbinar senang. Dengan cepat, dia mengambil gulali itu, dan membukanya. Lalu menjilati gulali itu dengan senyuman secerah mentari, Matt hanya geleng-geleng kepala.
“Mana foto kasirnya?” Matt mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkan pada Ana. Wanita itu mengerucutkan bibir saat melihat foto Matt dan kasir itu.
“Hapus!” ketus Ana. Matt mengernyit bingung, tapi tak hayal dia menuruti perkataan istrinya itu.
“Jangan perlihatkan foto jelek itu lagi padaku!” Ana memanyunkan bibir. Secepat kilat, Matt menyambar bibir manis itu, dan membuat Ana kaget.
Tok ... Tok....
Aktifitas Matt di hentikan oleh suara ketukan pintu.
“Masuk!” ada nada geram di sana, membuat Arthur dan Stella yang berdiri di depan pintu menelan Saliva kaget melihat posisi duduk Ana.
”Ada apa?” tanya Matt langsung, mengabaikan ekspresi kedua orang itu.
“Ini sudah jam makan siang, Tuan muda.” Matt menghela napas. Dia lupa, akibat terlalu asik duduk dengan Ana.
“Ayo kita makan siang dulu, Sayang.”
Ke empat orang itu akhirnya keluar untuk makan siang. Ana meminta untuk makan siang di restoran Jepang. Permintaan ibu hamil itu banyak sekali, membuat Matt hanya bisa menghela napas. Sedangkan Arthur dan Stella hanya mengekor saja. Melihat keromantisan kedua orang itu.
Makan siang singkat itu berakhir dramatis, karena Ana menyuruh Matt menghabiskan sisa makanannya. Lagi-lagi Matt hanya bisa menurut saja.
Sepeninggal Matt dan juga sang Nyonya.
“Apa kau tidak bisa romantis sedikit saja padaku Tuan muda Arthur?” tanya Stella mendelik sinis pada Arthur. Laki-laki itu memicingkan mata.
“Apa aku harus bersikap romantis ketika bersama dengan Tuan muda?” tanya Arthur kesal.
“Kau kan bisa bersikap romantis padaku sekarang, Tuan muda!”
“Jangan panggil aku Tuan muda, Nona!”
“Ahhh, terserah kau! Terserah!" Stella bangkit dari duduknya lalu berjalan menunggu Arthur. Sedangkan sang tunangan, hanya bisa menghela napas, lalu ikut berdiri. Untung saja makanannya sudah di bayar terlebih dahulu oleh Tuan muda mereka.
Stella dan Arthur kembali ke kantor, untuk melanjutkan pekerjaan mereka lagi. Untungnya Matt sudah membatalkan jadwal hari ini, membuat kedua orang itu bisa menghela napas, dan tentunya hari esok sudah menunggu mereka.
...***...
Kini, pertunangan Stella dan Arthur sepertinya akan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi. Karena Max sudah menyarankan mereka untuk menapaki jenjang yang lebih serius lagi. Terlebih ayah Stella juga sudah setuju, kalau anak gadisnya di sunting oleh seorang pemuda yang mencintainya.
Kandungan Mattea yang sudah sangat besar membuat wanita itu tidak bisa bergerak banyak, yah walaupun wanita itu tetap bergerak sesukanya karena keras kepala, dan tentunya Thomas semakin posesif lagi untuk terus berusaha menjaganya. Begitupun dengan Ana, wanita itu tidak banyak meminta hal-hal yang merepotkan, membuat Matt benar-benar lega dan senang, karena istrinya itu tidak banyak meminta seperti halnya Mattea.
“Apa benar-benar tidak apa-apa, Sayang?” Thomas yang melihat perut Mattea bergoyang seperti itu ngilu sendiri. Bagaimana bisa wanita itu terlihat begitu santai seperti itu?
“Dad, kalau kau khawatir, kenapa bukan kau saja yang hamil?” celotehan polos Aletta membuat Thomas tergeletak. Dia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang buah hati.
“Mana mungkin Daddy bisa mengandung, Sayang. Yang Daddy bisa, hanya membuat Mommymu hamil!”
“Kurang ajar! Jangan racuni otak anakku dengan hal yang seperti itu!” Thomas tergelak. Istrinya itu semakin garang sekarang. Bahkan lebih garang dari Stella. Tapi sayangnya wanita itu tidak bisa bela diri.
“Aku hanya berkata jujur!” cicit Thomas takut-takut, saat mata hitam pekat itu menatapnya tajam.
“Waahh, benarkah, Dad? Apa aku bisa melihat bagaimana Daddy membuat perut Mommy besar seperti itu?” Mattea menutup mulutnya tidak percaya. Sedangkan Thomas sudah tergelak terlebih dahulu.
“Haha, tidak boleh Baby girl. Kau masih terlalu kecil untuk itu,” setelah mengatakannya Thomas mendekat pada telinga Aletta dan berbisik.
“Benarkah?” tanya gadis kecil itu berbinar senang. Those mengangguk yakin.
“Baiklah, aku ke bawah dulu!” dengan langkah penuh semangat, Aletta berlari keluar kamar orangtuanya. Dan berjalan menuruni tangga dan menemui Arthur dan Stella yang kebetulan ada di mansion.
“Aletta, jangan berlari, Sayang! Nanti kau jatuh!” Matt yang kebetulan juga ada di sana melarang bocah itu. Aletta menurut. Dia mendekat pada Arthur dan Stella membuat kedua orang itu sedikit heran.
“Aunty, Uncle, apa aku boleh meminta sesuatu?” tanyanya sedikit takut-takut. Stella mendekat, lalu memegang tangan kecil Aletta.
“Minta apa, Sayang?” tanya Stella lembut.
“Apa uncle dan aunty bisa memperlihatkan padaku, bagaimana caranya supaya hamil dan punya adik bayi, seperti mommy dan Aunty Ana?”
“A—APAA?”
“Ma—maksudnya?” tanya Arthur tergagap. Matt menyembunyikan tawanya.
“Bisakah Uncle memperlihatkan padaku, bagaimana caranya supaya Aunty Stella bisa hamil?”
“Hahaha ....” tawa Matt lepas juga akhirnya. Dia menyembunyikan wajahnya, supaya tidak melihat Aletta.
“Tuan muda, bagaimana aku menjelaskannya?”
“Itu urusanmu, diakan bertanya padamu, bukan padaku!” Matt segera berlalu dari sana, meninggalkan Arthur dan Stella dengan wajah memerah.
“Sayang, kau tidak boleh bicara seperti itu, kau masih kecil!” Stella menampakan senyuman manisnya, memberi kode pada Arthur.
“Tapi kata Daddy, kalian boleh memperlihatkan padaku, bagaimana cara membuat adik bayi, seperti Mommyku!”
“Haha, habislah aku! Aku serasa ingin memukul kepala laki-laki tua itu! Apa dia sedang balas dendam padaku sekarang?” tanya Arthur pada dirinya dengan wajah nelangsa. Stella hanya bisa menggigit bibirnya, menahan tawa.
“Uncle, ayo tunjukkan padaku! Ayo!”
“Aku serasa ingin memakan orang sekarang!”
.
.
...***...
...Dahlah, aku kehabisan ide, sakit pala Barbie 😗🐱...
Aku ngerasa de Javu untuk chapter ini😶