My Devils Husband

My Devils Husband
MatteNa: Stella-Arthur



“Bisa tidak sih, kau itu romantis sedikit? Ha?” Stella menatap Arthur dengan bersidekap dada. Dia menatap nyalang laki-laki yang menjadi kekasihnya itu.


“Romantis seperti apanya lagi Stellaaaa?” rasanya kesabaran Arthur sudah mulai menipis. Dia memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang ada di kepalanya karena wanita judes yang ada di depannya ini.


“Cari tau saja sendiri, sudah aku mau pergi!” Stella melenggang pergi meninggalkan Arthur yang mengumpat dan mengejarnya. Laki-laki itu menarik lengan Stella membuat si empunya langsung menoleh ke belakang.


“Apa?” tanya Stella ketus. Dia menepis tangan Arthur yang memegang lengannya dengan sedikit kasar.


“Ada apa, Sayang? Kalau terjadi sesuatu, katakan padaku, biar aku tidak bingung seperti ini.” manik keabuan yang bersinar itu menatap Stella dengan tatapan penuh cinta. Untuk sesaat Stella terpana hingga dia berdehem untuk menormalkan ekspresinya.


“Bukan apa-apa! Minggir!”


Stella yang hendak berjalan, langsung di tarik oleh Arthur ke dalam pelukannya.


“Sayang, aku mohon. Aku bukan laki-laki yang peka, aku laki-laki yang mempunyai banyak sekali kekurangan, dan juga aku tidak bisa membaca pikiran orang lain, jadi katakan kau mau apa?”


Surai panjang kecoklatan milik Stella di usap dengan sayang dan penuh kelembutan. Stella mendongak dengan sedikit mendorong dada bidang milik Arthur.


“Aku mau kau antar pulang, dan berbelanja bersama untuk membeli gaun,”


Stella mengetuk-ngetuk kecil dada bidang Arthur membuat laki-laki itu menggeram. Stella semakin menjadi, dia mengukir pola abstrak dibatas dada bidang yang berbalut kain tersebut.


“Hentikan, Honey, kau jangan mengusiknya!”


Stella mengangkat kepalanya, lalu menatap Arthur bingung.


“Mengusik apa? Aku tidak mengusik siapa-siapa!” jawabnya polos. Arthur menghela napas berat. Ternyata selain judes, kekasihnya ini juga adalah seorang gadis yang polos.


“Kau mau aku mengantarmu pulang? Ayo! Kau mau berbelanja? Kita jalan sekarang, tapi lepaskan tanganmu!”


Stella berbinar senang, dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Arthur yang menyugar rambut kasar.


“Cih, tadi dia bilang aku harus romantis, tapi lihatlah sekarang, bahkan dia meninggalkan aku sendiri disini!”


Dengan langkah lebar, Arthur mengikuti langkah kaki jenjang milik Stella. Dia menekan kunci mobil yang otomatis tersambung. Stella duduk di kursi di samping kemudi, tak lama setelah itu Arthur mengikutinya duduk di kursi kemudi.


...*****...


Mobil yang di bawa Arthur berhenti di basemen sebuah mall yang cukup besar di kota Frankfurt. Setelah mengunci mobilnya, kedua orang itu berjalan untuk bisa masuk kedalam mall.


Tak ada acara pegang-pegangan tangan, ataupun makan es krim berdua, karena es krim terlalu manis untuk Stella yang garang.


“Kita mau kemana?' tanya Arthur yang sudah mulai kesal.


Stella menoleh pada laki-laki yang berjalan cukup cepat untuk mengejarnya itu. “Beli pakaian yang pesta pernikahan Tuan Matt dan Nona Ana.” Arthur mengangguk.


“Kita ke lantai tiga saja,” Stella mengikuti langkah Arthur yang berjalan menuju eskalator yang ada di tengah-tengah mall itu. Untuk bisa naik ke lantai tiga.


“Hemm, kau mau gaun yang mana?” tanya Arthur.


“Apa aku boleh memakai pakaian selain gaun?” tanya Stella dengan menyengir lucu, Arthur langsung menggeleng.


“Bagaimana mungkin? Tidak, pakai gaun!” ujar Arthur tegas.


Yang benar saja. Mana mungkin dia mau mengizinkan kekasihnya itu untuk memakai pakaian yang pastinya adalah sebuah kemeja ataupun celana jeans. Seorang perempuan memakai itu ke pesta? Mau di taruh di mana muka Arthur nanti.


“Tapi aku tidak terlalu suka gaun!” ujar Stella. Arthur langsung menggeleng.


Dia berjalan masuk kedalam sebuah toko pakaian merek terkenal. Stella mengekor di belakang.


Para penjaga toko menyambut kedatangan Arthur dan Stella dengan senyuman manis mereka, terlebih pada Arthur.


“Selamat datang di toko kami. Ada yang bisa di bantu?” tanya seorang pegawai wanita yang masih muda. Arthur mengangguk.


“Aku mau sebuah gaun untuk ke pesta pernikahan, untuk dia!” pegawai itu meneliti Stella sebentar. Setelah itu dia mengangguk.


“Baiklah, mari ikut kami, Nona!” Stella hanya mengekor di belakang. Sedangkan Arthur memilih untuk duduk di sofa yang tersedia di sana sembari mengecek ponselnya.


Stella masuk kedalam sebuah ruangan yang berisi banyak gaun-gaun yang di pinta oleh Arthur.


“Silahkan di pilih, Nona.” ujar pegawai itu sopan.


Stella menatap nyalang pada gaun-gaun yang ada di depannya ini.


“Apa-apaan ini? Kenapa semuanya terbuka? Lihatlah ini, ini kenapa dadanya rendah sekali? Dan ini juga, kenapa pendek sekali? Dan ini, kenapa punggungnya terbuka lebar seperti ini?”


Stella menatap bergidik pada gaun-gaun yang ada di dalam sana. Dia keluar untuk menemui Arthur, membuat pegawai itu menggelengkan kepalanya.


“Arthur, aku tidak mau pakai gaun, semuanya terbuka! Aku tidak suka!” Stella melipat tangannya di depan dada. Arthur menatapnya dengan kening terkerut.


“Jika kau tidak suka gaun, kenapa mengajakku untuk membeli gaun?” tanya Arthur kesal.


“Ikut aku!” Arthur bangkit berdiri, dia berjalan masuk menuju ruangan tempat Stella tadi memilih gaunnya.


“Kau tau, Ana yang menikah, tapi kau yang sibuk memilih gaun, sungguh kau ini menyebalkan!” Arthur menggerutu sembari memilih gaun-gaun yang menurutnya tertutup.


Pegawai yang tadi melayani Stella, melihat gadis itu menyembunyikan tawanya.


‘Aih, drama sepasang kekasih seperti ini memang merepotkan!’ gerutunya dalam hati. Antara kesal bercampur iri, karena melihat Arthur yang turun tangan sendiri untuk memilihkan Stella gaun.


“Hehe, kalau aku tidak begini, mana mau kau turun tangan sendiri, dasar pacar tidak peka!” Stella tersenyum senang.


“Ini saja. Ini tidak terlalu terbuka, dan juga panjang. Pahamu juga tidak akan terekspos, punggungmu juga, apalagi dada kau yang kecil itu!” Arthur menyerahkan sebuah gaun berwarna biru Dongker pada sang kekasih.


“Apa kau bilang? Dada ku kecil?” tanya Stella menahan kesal.


“Iya!”


“Dadaku tidak kecil!”


“Kalau memang tidak? Mana, aku mau coba tes?!”


“Dasar mesum kau!” umpat Stella saat dia sadar kalau saat ini Arthur sedang menggodanya. Pelayan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi malu sendiri.


‘Dadaku besar tidak, ya?' tanyanya dalam hati, dengan wajah yang memerah.


...*****...


“Ini saja!” Stella memilihkan Arthur sebuah jas yang sewarna dengan gaun yang tadi di pilihkan oleh laki-laki itu.


Malu dong dia, kalau ngaku.


“Bukan cople, tapi memang ini bagus!” ujarnya. Arthur tentu tidak percaya begitu saja.


“Sudah tua, tapi masih seperti anak-anak yang baru jatuh cinta saja!” gerutunya. Arthur berjalan menuju meja kasir untuk membayar jas dan juga gaun yang telah mereka pilih itu. Dia mengeluarkan kartu kredit miliknya dan menyerahkan pada kasir itu.


Pakaian pilihan Arthur dan Stella telah selesai di bungkus. Kedua orang itu keluar dari toko pakaian setelah kartu milik Arthur di kembalikan oleh kasir.


“Kau mau kemana lagi? Apa ada yang mau di beli lagi?” tanya Arthur. Kini mereka berjalan beriringan, tidak seperti tadi.


“Aku rasa tidak, aku sudah punya sepatu, jadi lebih baik kita pulang saja.”


“Apa kita tidak makan dulu?” tanya Arthur.


“No, aku akan memasak untukmu, tapi sebaiknya kita beli bahan makanan saja,” Arthur mengangguk antusias.


Dia sudah beberapa kali memakan masakan Stella, dan masakan perempuan itu sungguh lezat sekali, tapi dia tidak pernah sama sekali memujinya. Gengsi dong, kan dulu mereka musuh, beda lagi kalau sekarang.


Mereka berdua berjalan menuju bagian mall yang menjual bahan makanan. Stella membeli beberapa bungkus daging yang di balut plastik itu, dia juga membeli spaghetti dan masih banyak yang lainnya.


“Waahh, kalian pengantin baru, ya?” tanya seorang ibu-ibu yang juga sedang berbelanja di sana. Stella dan Arthur melirik sekitar, tapi ibu-ibu itu terkekeh.


“Saya ngomongin kalian,” ujarnya.


“Ah, itu kami — .....”


“Iya Madame, saya sedang menemani istri berbelanja, dia itu manja sekali, makanya merengek untuk di temani.”


Mata Stella sukses melotot pada Arthur. Sedangkan sang laki-laki yang menjadi kekasihnya itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


“Semoga pernikahan kalian langgeng sampai tua ya, dan cepat dapat anak.” ujar ibu-ibu itu tersenyum tulus, setelah itu dia pergi dari sana setelah Arthur mengucapkan terimakasih.


“Apa-apaaan kau, mengatakan aku manja? Dan kapan aku menjadi istrinya?” tanya Stella memicing tajam.


“Ucapan itu adalah doa, Sayang. Aku memang berharap untuk bisa segera menikahimu.” tatapan tulus itu mampu membuat Stella membisu.


“Bagaimana kau mau menikahi aku, melamar saja tidak!”


...****...


Baik Arthur maupun Stella sama-sama diam selama di dalam perjalanan menuju rumah Stella. Keduanya mungkin capek karena terus saja bertengkar.


Halaman rumah yang cukup luas itt menyambut kedatangan keduanya. Arthur memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


“Apa kita jadi makan malam bersama?” tanya Stella. Arthur mengangguk saja, karena ini memang sudah cukup malam dan dia cukup capek hari ini.


“Tapi apa kau tidak lelah? Kalau kau lelah, mungkin bisa kapan waktu saja,” Stella menggeleng.


“Ayo ....” gadis itu menarik tangan Arthur untuk menuju pintu rumahnya, setelah itu dia mengeluarkan sebuah kunci yang ada di dalam tasnya.


Kedua orang itu langsung berjalan menuju dapur untuk meletakan barang belanjaan Stella.


“Apa ayahmu sudah tidur?” tanya Arthur.


“Mungkin saja, ya sudah kau duduk di sini dulu, aku mau ganti baju.” Arthur mengangguk. Dia duduk di kursi meja makan sembari memainkan ponselnya. Sebenarnya bisa saja dia memesan makanan online, tapi dia juga merindukan masakan sang kekasih.


...*****...


Stella tampak seksi dengan peluh yang menempel di sekitar pelipisnya, dengan rambut yang selalu di kuncir kuda. Dia memasak cukup cepat. Memasak spaghetti yang tadi di belinya, karena hanya itu yang memakan waktu sedikit.


Dua piring spaghetti panas terhidang di atas meja makan.


“Ini terlihat sangat lezat ....” ujar Arthur yg sudah memegang sendok dan juga garpu. Stella terkekeh gemas.


“Ayo dimakan, aku tidak jamin rasanya,”


“Aku tau, ini pasti sangat lezat,”


Arthur mulai memasukkan gulungan spaghetti itu ke dalam mulutnya, setelah sebelumnya dia meniup terlebih dahulu.


“Ini benar-benar enak.”


“Sudah, makanlah cepat, ini benar-benar sudah larut.”


Arthur hanya mengangguk saja. Dia sangat menikmati spaghetti yang di masak oleh kekasihnya itu.


Setelah acara makan malam yang larut itu selesai, Arthur pamit dari rumah Stella.


“Besok pagi aku akan menjemputmu. Kita pergi ke gedung tempat pernikahan tuan Matt bersama-sama.” Stella mengangguk saja.


“Baiklah, aku pulang dulu. Terimakasih makan malamnya. Sungguh itu enak sekali.”


“Sudah jangan lebay, sana pulang!” Arthur mendengus.


“Baiklah, kau hati-hati. Aku pulang dulu.”


“Baiklah, kau juga hati-hati. Aku mencintaimu!” langkah Arthur terhenti. Dia berbalik membuat Stella was-was.


“Aku juga mencintaimu.”


Cup.


“Night kiss!”


“Cih, mengambil kesempatan dalam kesempatan kau!”


.......


.......


.......


...*****...


*Aku tuh sekarang bingung, karena ada yang minta Stella-Arthur, ada yang minta Mattea-Thomas. Dan juga ada yang minta, buat Matteo-Ana ga di tamatin dulu.


Baiklah, karena ada yang minta seperti itu, maka inshaAllah, bakal aku usahakan. Mungkin part-nya beda-beda, ya. Aku tuh sangat menghargai komentar kalian, meskipun ada yang ga aku bales, tapi liat ada yang nyemangatin gitu, benar-benar buat aku semangat*^_^