My Devils Husband

My Devils Husband
Season 2. Menantu kurang ajar kau!



Mattea berjalan menuju ruang makan, saat dia sudah selesai mandi dan juga berganti pakaian di dalam kamarnya. Dia menatap pada pria yang terlihat sedang berbicara serius dengan sang Daddy dan juga Mommy-nya.


“Hei Baby girl?” Thomas tersenyum manis pada gadis itu. Membuat Mattea juga ikut membalas dendam senyum manisnya. Mattea duduk di sofa disamping Thomas, lalu menatap pada Mommy-nya, dan juga sang Daddy.


“Apa masih pusing sayang?” tanya Stef lembut. Mattea menggelengkan kepalanya.


“No Mom. Sudah tidak lagi!” Mattea menjawab dengan senyuman. Stef mengangguk mendengar hal itu.


“Oh iya, Mommy juga mau bilang, kalau kalian tidak akan bertemu sampai pada hari pernikahan!” Stef mengatakan dengan sangat serius. Dia menatap pada Mattea yang tampak terkejut mendengar penuturan Mommy-nya itu.


“Hah? No Mom! Bagaimana bisa? Aku kan sudah menikah?!” saat mengucapkan kata-kata terakhir itu Mattea menundukkan kepalanya malu. Wajahnya memerah, dia tidak akan menyangka kalau tragedi penculikan ini membuat dia dan Thomas menikah lebih awal.


“Iya, karena itulah kau dan laki-laki menyebalkan ini tidak bertemu terlebih dahulu! Kalian bertemu tiga Minggu lagi!”


“Mom.....”


“Stef..?”


“Diam kau mantu durhaka! Aku ibu mertuamu sekarang, jadi panggil aku dengan sopan!” Max hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat Thomas menatapnya dengan kesal.


“Tapi kan, tetap saja, aku masih lebih tua darimu!” Thomas sepertinya sangat enggan untuk memanggil wanita yang masih sangat cantik itu untuk sebutan Mommy mertua.


“Kau mau, aku tidak merestuimu?” Thomas berdecak kesal saat mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu.


“Tapi aku dan anak gadismu ini sekarang sudah menikah! Jadi, mau tidak mau kau harus merestui kami!”


“Cih, menantu macam apa kau ini!”


“Apa kalian akan terus memperdebatkan masalah panggilan ini terus?” David yang baru tiba dari arah dapur menyela pembicaraan mereka.


“Diam kau!” ketus Stef yang membuat Max menahan tawanya.


Kini sang istri masih dalam moda menjadi singa. Dia tidak mau menjadi korban lagi. Cukup sudah baginya untuk tidur di kamar tamu bersama dengan Thomas kemarin, dan tentu saja untuk beberapa hari kedepan karena sang ibu ratu menghukumnya karena menyembunyikan masalah penculikan Mattea dari dirinya. Tersiksa lah kanguru nya beberapa hari kedepan ini, kerena hukuman itu. Menyedihkan sekali dirinya.


“Hei ... hei?! Kenapa kau jadi kesal padaku? Harusnya kau berterimakasih padaku Nyonya besar!” Stef memalingkan wajahnya kesal mendengar perkataan David. Ya, harusnya dia berterimakasih karena David sudah membawanya pada gereja itu, kalau tidak? Habislah suami dan menantunya itu, kena amuk oleh singa betina yang lapar itu.


“Hemm!” ujar Stef membuat laki-laki itu terkekeh.


“Mommy, kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Uncle? Kan kami sudah menikah?” Mattea yang duduk di dekat suaminya itu, menatap sang Mommy dengan cemberut. Dia memeluk lengan Thomas, seakan enggan melepaskannya.


“No sayang, itu hukuman untuknya karena dengan lancang, langsung menikahimu saat itu!” Mattea menghembuskan nafas kasar. Ingatannya melayang lagi, pada saat-saat menegangkan itu.


.


.


.


Flashback On!


Thomas hendak membawa Mattea untuk masuk kedalam gereja, tapi sebelum itu, ada sebuah mobil yang berhenti di depan gereja itu. Dan Max mengenal mobil itu, dia berkeringat dingin saat orang yang berada didalam mobil itu turun dan menatap tajam pada dirinya.


Tampaklah Stef keluar bersama dengan David dan juga Ana dari sana. Stef berjalan mendekat pada Mattea dan langsung memeluk putrinya itu dengan raut wajah cemas.


“Mommy?” tanya Mattea saat dalam pelukan sang Mommy.


“Kamu tidak apa-apa sayang? Apa dia menyakitimu? Katakan pada Mommy sayang?” mendengar raut khawatir Mommy-nya itu, membuat Mattea tersenyum.


“No Mom, aku baik-baik saja, aku tidak terluka sedikitpun!” Stef melepaskan pelukannya, lalu memeriksa seluruh tubuh anak gadisnya itu, dan syukurlah memang tidak ada yang terluka dari tubuh anak gadisnya itu.


“Syukurlah sayang, Mommy sangat khawatir padamu!” Mattea menggenggam tangan Mommy-nya dengan erat. Setelah itu, Stef melirik pada Max yang terlihat pucat, di sampingnya.


“Bisa kau jelaskan sayang?” Stef menatap tajam pada Max, membuat laki-laki itu menelan ludah kasar. Istrinya tampak sangat murka saat ini.


“Maaf sayang, aku tidak bisa memberitahumu lebih dulu, karena aku takut kau akan panik nantinya!” Max menatap Stef yang terlihat marah itu, lalu dia beralih pada laki-laki yang berdiri di samping Max.


“Bisa kau jelaskan calon menantu durhaka?” Thomas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menatap pada David, seakan bertanya, ‘Kenapa kau bawa ibu negara kesini?’


Kedikan bahu dari David, membuat Thomas kesal. Dan menatap pada Stef dengan senyuman termanisnya.


“Itu karena Max yang melarang Stef!” laki-laki yang akan menjadi calon mertuanya itu, langsung melayangkan tatapan mematikan pada sang calon menantu.


‘Kau cari mati, Thomas?’ matanya yang tajam, seakan menyiratkan kata-kata itu. Max menatap pada Stef, yang menatap dirinya dengan tatapan mematikan.


“Kau tidur di kamar tamu selama satu Minggu!” Max langsung melotot mendengar perkataan istrinya itu.


“No sayang, aku tidak mau. Hukuman lain saja!” Max langsung mendekat pada istrinya itu, dan mencoba untuk memeluknya, tapi sia-sia karena Stef langsung melayangkan tatapan penuh peringatan pada Max, membuat laki-laki itu menghentikan gerakannya.


“Hemm, apa pernikahannya bisa dimulai?” Pastor yang tiba-tiba sudah berdiri didekat mereka membuat semua orang itu kaget.


“Ayo kita mulai!” tanpa melihat reaksi orang-orang itu, sang pemuka agama itu berjalan masuk kembali, untuk melaksanakan tugas sucinya.


“Apa kau mau menikah denganku sekarang Mattea?” pertanyaan Thomas itu membuat Mattea bingung. Dia baru saja, batal melakukan pernikahan dadakan dengan laki-laki yang menculiknya itu, membuatnya ragu untuk menjawab.


“Ayo sayang?!” Mattea melirik pada tangan Stef yang membawanya masuk kedalam Gereja. Dia menatap pada wanita paruh baya itu, senyuman manis tercipta disudut bibirnya.


“Kami akan mengantarmu ke altar!” kini tangan Mattea sudah berada dalam genggaman Daddy-nya. Thomas tampak berjalan menuju altar untuk bisa menunggunya disana.


Mattea menitikkan air mata, setelah janji sakral itu telah dia, dan Thomas ucapkan di depan pastor. Max dan Stef menatap anak mereka yang tampak sangat bahagia didepan sana. Mengucap janji dengan laki-laki yang sangat gadis itu cintai.


“Apa?" tanya Matteo kesal. Gadis itu tampak tersenyum pada laki-laki yang menjadi kembaran Mattea itu, membuat Matteo sedikit mengangkat alisnya tanda bertanya.


“Kapan kita berada disana kak? Mengucap janji suci bergandeng tangan, lalu berciuman di depan pastor dan semua orang, seperti kak Atea dan Uncle Thomas itu?” Ana menatap pada Mattea dan Thomas yang sedang berciuman, untuk benar-benar mengesahkan diri mereka menjadi suami istri.


Ana tidak melirik Matteo sedikitpun. Dia tampak serius dengan pertanyaannya, tapi pandangan matanya fokus pada kedua orang yang kini sedang berciuman itu.


‘Apa ini, gadis kecil ini sedang mengajakku untuk menikah?’ Matteo membatin, dia sedikit mengangkat sudut bibirnya, lalu menatap kembali kedepan.


“Jangan mimpi gadis kecil!” tanpa melihat reaksi Ana, Matteo mengucapkan itu dengan nada ketus, tapi ada sedikit senyuman samar disana.


“Kak Matt, tidak baik bicara seperti itu! Karena walau bagaimanapun aku ini calon istrinya kak Matt!” dengan percaya dirinya Ana bicara seperti itu. Remaja yang baru saja menyelesaikan Ujian nasionalnya itu, menatap Matteo dengan seringainya.


“Calon istri dalam mimpimu! Besarkan dulu dada mu itu, setidaknya sampai ukuran 36D, baru aku bisa melirik padamu! Dan kau bisa mengatakan kalau kau pantas menjadi calon istriku!”


Setelah mengatakan itu, Matteo langsung saja meninggalkan Ana yang terdiam di tempatnya. Laki-laki itu menghampiri Mattea yang tampak menangis bahagia karena kini dirinya sudah menikah dengan laki-laki yang dia cintai.


“Apa katanya? Besarkan dadaku?” Ana melirik pada dadanya yang ada di ukuran——, bagaimana ya menjelaskan? Author pun tak tau😐


“Dasar kak Matt mesuuuummmm....” Matteo terkekeh mendengar gadis bar-bar itu menjeritkan namanya sembari berkata mesum. Ana berlari pada Matt, dan menarik tangan laki-laki itu!


“Apa kak Matt yakin, ini masih kecil?” nada menggoda terdengar jelas saat Ana mengatakan hal itu, membuat Matt mengalihkan pandangannya pada dua benda yang tampak menggoda didalam kaus kebesaran yang di pakai Ana.


“Sialan kau bocah!” desis Matteo menyentil kening Ana dengan sedikit keras membuat gadis itu mengaduh. Tapi fokus keduanya terpecah saat suara Stef yang berteriak setelah Mattea jatuh pingsan dalam pelukan sang suami.


Matteo langsung berlari kedepan, dia menatap pada Thomas yang sangat panik melihat gadis yang baru beberapa menit yang lalu sah menjadi istrinya, kini tergeletak tak berdaya di dalam pelukannya. Thomas langsung membawa Mattea dengan cara menggendongnya kedalam mobil, tanpa menghiraukan orang-orang yang ada disana.


Matteo menyusul Thomas.


“Biar aku yang menyetir Uncle?" Thomas menganggukkan kepalanya, lalu duduk di kursi belakang bersama dengan Mattea. Sedangkan Max, Stef, David, Ana, dan Stella masuk kedalam mobil yang tadi di bawa David. Mereka mengikuti mobil yang membawa Mattea ke mansion itu.


Di dalam perjalanan, Thomas menelpon dokter pribadi keluarga Alexander untuk mengatakan kalau dia harus segera datang ke mansion Max, untuk memeriksa kondisi Mattea.


Flashback Off.


.


.


.


.


____


.


.


“Mom, bukannya Mommy yang membawa aku masuk kedalam dan berjalan ke altar bersama Daddy?” tanya Mattea menatap pada sang Mommy yang terdiam. Dia mengingatnya, saat sang Mommy dan Daddy yang mengantarkan dirinya ke altar.


“Iya itu benar. Tapi tetap saja kau tidak boleh bertemu dengannya beberapa Minggu kedepan, sebelum semua persiapan pesta pernikahan kalian selesai!”


“Stef, kau benar-benar menyiksaku! Apa kau tidak iba padaku Mommy mertua?”


“Cih, tidak akan. Lebih baik kau pulang ke apartemenmu sekarang! Jangan ganggu putriku!”


“Heii, tapi aku ingin tidur bersama dengan istriku! Kenapa kau jadi menguasainya?”


“Apa kau mau pernikahan kalian di tunda hingga tahun depan!”


“Kami sudah menikah Mommy mertua!”


“Aihh, maksudku pesta pernikahan dadakan kalian!” ralat Stef. “Apa kau mau berpuasa sampai tahun depan?!” sambung ibu negara dengan nada mengancam.


Sedangkan Max dan David tampak menahan tawa, saat melihat wajah nelangsa Thomas, saat di paksa berpisah dengan istrinya, yang menginginkan malam pertama.


“Sial sekali nasibku memiliki Mommy mertua sekejam dirinya!” Thomas menggerutu dengan pelan.


“Apa kau bilang?”


“Hehe, tidak Stef!”


“Menantu kurang ajar! Panggil aku Mommy!”


“Astaga, dia sungguh seperti singa betina yang sedang ingin kawin!”


.


.


______


Utututu,😂


kejamnya aku😌